
"Rin, kamu harus kuat. Aku mohon."
Saat ini Ririn dilarikan ke rumah sakit terdekat. Orang yang menyelamatkannya adalah pemuda yang berjalan di koridor sekolah tadi. Wajahnya terlihat sangat panik, dan juga khawatir melihat keadaan Ririn. Dia sangat terkejut saat membuka pintu Mipa 5 melihat seseorang yang disukainya terkapar tak berdaya.
"Aku mohon Rin, bertahan." Ucap pemuda itu lirih.
"Dok, tolong selamatkan teman saya. Saya mohon dok." Ucapnya memohon.
"Ham, kamu tenang ya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan teman kamu."
Ya, pemuda yang menolong Ririn adalah Ilham. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kejadian seperti ini. Saat melihat kondisi Ririn, dia langsung bergegas ke rumah sakit tanpa memikirkan apapun, dia hanya ingin Ririn selamat. Dokter yang berada di rumah sakit ini adalah saudara dari mamanya, karena itu dokter tersebut mengetahui namanya.
"Kamu tenang ya. Dia akan baik-baik saja."
Ilham duduk di kursi dengan keadaan cemas, dia berdoa dalam hati agar Ririn diberi keselamatan. Luka yang Ilham lihat tadi sangat parah apalagi di pipi sebelah kanan Ririn yang terlihat memerah. Dia tidak tahu siapa dalang dari semua ini. Tapi dia mencurigai satu orang yang sekelas dengannya. Bukan bermaksud menuduh, tapi selama ini orang itu lah yang sering membully Ririn saat di sekolah. Memikirkan hal tersebut membuat Ilham jadi geram sendiri. Dia tidak habis pikir dengan jalan otak Nisa. Ya, dia menuduh Nisa sebagai dalang dari semua ini.
Ceklek
Pintu ruang ICU terbuka menampilkan dokter yang berjalan ke arah Ilham. Ilham yang melihat itu pun langsung berlari menghampiri.
"Gimana dok? Apa Ririn baik-baik aja?" Tanya Ilham dengan cemas.
"Alhamdulillah lukanya gak terlalu parah, kondisinya saat ini baik-baik saja." Jawab dokter.
"Hufft... Alhamdulillah kalo gitu. Tapi dok Ririn kapan sadarnya? "
"Mungkin jambakan di rambutnya sangat kuat membuat kepalanya sakit makanya pada saat kamu temuin dia sudah pingsan. Tapi tenang dia akan segera membaik. " Jelas dokter.
Ilham sangat khawatir dengan keadaan Ririn. Dia tidak bisa tenang jika Ririn belum sadar. Dia ingin memastikan keadaan Ririn.
"Apa saya boleh masuk dok? " Tanya Ilham.
"Silahkan. Tapi jangan berisik ya, dia masih butuh istirahat. " Setelah itu dokter langsung berpamitan.
Perlahan Ilham membuka pintu ruang ICU yang ditempati Ririn. Dia berjalan menuju ranjang tidur itu, dia duduk disamping ranjang tersebut. Melihat Ririn yang menutup matanya dengan damai, Ilham semakin merasa sedih.
"Maaf Rin. "
"Maaf karena aku telat nolongin kamu. Maaf. " Dia merasa bersalah karena datang terlambat menolong Ririn. Dia merasa sangat bersalah, marah, kecewa bercampur menjadi satu. Dia gagal menjaga orang yang disukainya.
"Cepat sembuh, Rin"
Dengan berani Ilham mengambil tangan Ririn dan menggenggamnya, dia berharap Ririn cepat sadar. Gerakan jemari Ririn membuat Ilham menatapnya.
"Rin, Rin kamu sudah sadar."
Perlahan Ririn membuka kedua kelopak matanya. Dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Kepalanya terasa sakit, pusing.
"Alhamdulillah Rin kamu sudah Sadar. "
Mendengar ada suara disamping ranjangnya, Ririn menoleh dengan perlahan.
'Ilham?' Batin Ririn.
Ternyata yang menemaninya adalah Ilham. Tapi bagaimana bisa? Setahunya sebelum pingsan, dia tidak melihat satu orang pun di sekolah.
"Ha-haus. "
Mendengar lirihan Ririn, Ilham segera mengambil gelas yang berisi air lalu membantu Ririn untuk meminumnya.
"Makasih"
Ilham hanya membalas dengan senyuman. Dia bersyukur akhirnya Ririn sadar dari pingsannya. Keduanya sangat canggung dalam situasi seperti ini. Karena kelamaan diam, akhirnya Ilham memulai obrolan.
"Gimana keadaan kamu? "
"Alhamdulillah udah lumayan baikan. "
"Ham, kamu yang nolongin aku? " Tanya Ririn penasaran. Tadinya dia berpikir tidak akan ada yang menolongnya karena waktu itu semua orang sudah pulang dari sekolah.
"Iya Rin, aku yang nolongin kamu. Sebenarnya aku udah pulang, tapi pas inget ada yang tertinggal di kelas makanya aku balik lagi ke kelas. Pulangnya lewat depan kelas kamu. Trus dengar suara lirihan orang, aku kira itu cuman hayalan aku ternyata itu kamu. Kamu udah pingsan pas aku temuin."
Wah! Baru kali ini Ririn mendengar Ilham berbicara panjang dengannya. Biasanya dia hanya menjawab dengan seadanya. Ah kenapa dia memikirkan itu? 'Fokus Rin!' Batinnya kesal.
"Makasih Ham. Kalo gak ada kamu, aku gak tau gimana keadaan aku sekarang. Hmm pembayaran rumah sakitnya nanti aku ganti ya. Tapi ga sekarang, kasih aku waktu. "
Ilham tertawa kecil mendengarnya. Mengapa Ririn berpikiran seperti itu?
"Udah Rin. Kamu gak usah mikirin itu. Kamu juga gak perlu bayar biaya rumah sakit ini, aku ikhlas bantuin kamu."
" Ta-tapi kan... "
"Husst... Udah. Sekarang kamu mikirin kesehatan kamu dulu. Cepat sembuh ya! " Kata Ilham sambil mengacak-acak pelan rambut Ririn.
Kini pipi Ririn mulai memanas kedua pipinya memerah, bukan karena tamparan yang Nisa buat tapi karena perlakuan Ilham kepadanya. Bukan berniat menghianati kekasihnya tetapi dia tidak busa menahan rasa senangnya. Hey! Dia juga manusia biasa yang bisa baper kapan saja. Dia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Saat bersama kekasihnya saja, Yusuf dia tidak pernah sebahagia ini.
"Pipi kamu kok merah? Kamu kesakitan ya? Mau aku panggilin dokter? " Ternyata sedari tadi Ilham memperhatikannya.
"Eh ngga kok Ham. Ini..ini mungkin cuman kepanasan aja. Hehe iya aku kepanasan. " Alibi Ririn. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Ilham jika dirimya saat ini sedang salting.
"Kamu yakin Rin? Merah banget loh muka kamu. " Jawab Ilham yang salah sangka dengan wajah merah Ririn.
Aduh tolong siapa pun beritahu Ilham jika Ririn baper dibuatnya.
⭐⭐⭐
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍