The Story Of Miss Buket

The Story Of Miss Buket
Bab 25 Misbuk



Hampir setengah jam Ririn berada di dalam kamar mandi, dia segera keluar dan mengeringkan rambutnya. Dia tidak boleh berlarut dengan kesedihannya, dia harus bisa melupakan kejadian tadi. Sewaktu melihat Yusuf berduaan dengan wanita lain, dia sudah berniat ingin memutuskan laki-laki itu. Dia tidak mau memberikan kesempatan lagi untuk laki-laki yang sifatnya seperti Yusuf. Dia memang berniat seperti itu, tapi kenapa rasanya sakit sekali? Tidak. Dia itu gadis kuat, dia tidak mau menangisi cowok yang sudah membuatnya sakit untuk kedua kalinya.


"Kamu pasti bisa Rin." Katanya menyemangati dirinya.


"Kamu pasti bisa lupain dia. Dia gak pantes buat kamu." Walaupun sudah bertekad, tapi air matanya tetap saja luruh di pipinya.


Dia segera menghapusnya dan berjalan keluar kamar. Sebentar lagi ibunya akan pulang, lebih baik dia mengerjakan pekerjaan rumah agar bisa mengalihkan pikirannya dari masalahnya saat ini.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Ririn tahu itu pasti ibunya yang sudah pulang dari toko buketnya.


"Assalamualaikum. "


"Wa'alaikumussalam mah" Jawab Ririn menghampiri ibunya dan menyaliminya.


"Mama mau minum? Aku ambilin ya." Kemudian berlalu dari hadapan ibunya untuk mengambilkan air minum.


"Makasih ya, sayang."


Ibunya memperhatikan anaknya, ada yang beda dari raut wajah anaknya. Muka murung, mata bengkak, dan jejak air mata yang masih terlihat.


"Kamu kenapa sayang? " Tanya ibunya langsung. Dia tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku gapapa mah. " Ririn tersenyum untuk mengalihkan.


"Jujur sama mama. Kamu kenapa?"


Setelah mengatakan itu, ibunya dibuat terkejut dengan Ririn yang tiba-tiba memeluknya. Anaknya itu langsung menangis dalam pelukannya. Dia sudah mengetahui jika anaknya sedang ada masalah.


"Mau cerita sama mama?"


Ririn berpikir akan menceritakan ini nanti, tapi dia tidak mau melihat ibunya sedih, jika dia tidak menceritakan semuanya sekarang. Mungkin ini waktu yang tepat untuk bercerita. Ririn mulai menceritakan kejadian awal hubungannya dengan Yusuf sampai masalah yang dihadapinya sekarang. Dia tidak mengurangi atau melebihkan ceritanya. Dia terisak saat menceritakan hal itu.


"Mama gak tau kalo hubungan kamu sama Yusuf seperti ini. Mama harap kamu belajar dari kejadian ini. Awalnya mama juga gak setuju kamu pacaran, tapi mama lihat kamu bahagia dengan pilihan kamu. Tapi untuk sekarang mama gak bolehin kamu buat pacaran. Kamu ngerti kan sayang? Mama sayang sama kamu."


***


Sebulan kemudian.


Terlihat seorang gadis dengan rambut yang di kucir satu sedang menaiki sepeda miliknya. Ada banyak bunga di dalam keranjang sepedanya. Dia terlihat senang menaiki sepedanya, menikmati dan sesekali memandangi langit yang berwarna biru cerah. Gadis itu mengendarai sepedanya menuju salah satu toko yang berada tak jauh dari tematnya sekarang. Tidak sampai lima menit gadis itu sampai. Dia memasuki toko tersebut dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum mah."


"Wa'alaikumussalam. Anak mama udah datang."


Gadis tersebut tersenyum, dia memeluk ibunya sebentar.


"Kenapa hm? " Tanya sang ibu.


"Ya udah sana makan, mama udah nyiapin makanan kesukaan kamu."


"Ohh jadi ini alasan mama nyuruh aku pulang ke toko. Makasih ya mama sayang."


"Sama-sama anak mama yang cantik."


Ririn mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, dia sangat menyukai masakan ibunya. Ya, gadis ini adalah Ririn.


"Oh iya mah, boleh gak aku jalan sama teman-teman aku?"


"Boleh sayang."


Setelah itu, Ririn melanjutkan makannya dan menghabiskan makanan tersebut. Dia sudah tidak sabar untuk menikmati waktu bersama dengan teman-temannya.


"Ya udah aku pulang dulu ya mah. Mau siap-siap."


"Iya kamu hati-hati ya. Pulangnya gak boleh telat."


"Iya mama sayang. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum."


"Iya, hati-hati. Wa'alaikumussalam." Jawab ibu Ririn sambil tersenyum.


Kini mereka bertiga saat ini sedang berada di toko baju. Semuanya memilih-milih baju yang diinginkan.


"Kayaknya ini cocok deh sama kamu Mik."


"Kok baju tidur sih?"


"Iya soalnya kan kamu suka tidur mulu. Di dalam kelas tidur, di perpustakaan tidur, di kamar mandi juga tidur hahahah."


"Heh gak gitu juga An."


"Kalian ini ada-ada saja." Ririn hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabtnya, Mikaila dan Rianti.


Jika kalian bertanya mengapa Ririn masih berteman dengan Rianti, jawabannya karena dia tidak mau melihat sahabatnya sakit hati.


⭐⭐⭐


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍