The Story Of Miss Buket

The Story Of Miss Buket
Bab 21 Misbuk



"Rin, mata kamu kenapa? " Tanya Rianti.


"Ah gapapa An. Semalam aku nonton drakor trus ending nya si cowok nya tuh meninggal jadi aku nangis karena sedih banget hehe. " Jawab Ririn berbohong


"Iih Ririn, jangan terlalu dihayati, tuh mata kamu bengkak banget."


"Keliatan banget ya, An?" Tanya Ririn sambil bercermin di kamera ponselnya.


"Iya Rin, tuh liat sendiri kan. " Jawab Rianti memperhatikan Ririn yang sedang bercermin.


"Hufft... Gapapa deh An, udah gini juga kan. " Ririn tertawa kecil.


"Iya deh Rin. Oh iya kamu tau ga?"


"Gak tau An," Ririn langsung memotong pembicaraan Rianti.


"Iihh Ririn aku belum selesai ngomong. "


"Hahahhah... Iya maaf maaf. Apa yang mau kamu omongin?"


"Kemarin aku jalan lagi sama pacar aku. Seru banget Rin. Dia ngajakin aku beli baju trus abis itu kita makan deh."


"Wah seru banget ya. Dia baik banget ya."


"Iya Rin. Dia juga romantis banget tau, dia bilang kalo udah selesai kuliah trus dapat kerja dia bakal lamar aku."


"Wah semoga aja ya An. Bahagia selalu Ana ku sayang."


"Aaaaa makasih Rin. Kamu baik Rin pasti bakal dapat yang baik juga." Kata Rianti membuat Ririn mengerutkan dahinya.


"Ah ngga Rin. Trus kemarin kan aku lagi asik makan berdua tapi kakak aku nelfon katanya di suruh pulang sama mama. Kan kesel." Katanya dengan cemberut.


Bercerita tentang kesehariannya dengan pacar, Ririn setia mendengarkan cerita sahabatnya. Pandangannya memang mengarah ke Rianti tapj pikirannya bercabang kemana-mana. Dia masih sakit.


Bel masuk sudah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai. Semua siswa siswa SMA 3 tamanria memasuki kelasnya masing-masing. Saat ini Ririn dan Mikaila ditugaskan untuk mengambil buku di perpustakaan.


"Rin, kamu masuk duluan aja. Aku mau pipis ini gak tahan"


"Iya Mik. Ya udah sana."


Setelah kepergian Mikaila, Ririn segera memasuki perpustakaan. Tidak ada siswa disini hanya ada penjaga perpustakaan yang sedang berjaga.


"Permisi Bu, saya mau mengambil buku seni budaya. Rak nyaada di bagian mana ya Bu?" Tanya Ririn dengan sopan.


Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, dia menuju rak yang dimaksud.


"Mana ya?" Ririn berdialog sendiri.


"Mana sih, seni budaya seni budaya." Dia berjalan menyusuri rak tersebut. Dia belum menemukan buku seni budaya yang dicarinya.


"Apa mungkin... " Ririn menengok ke atas.


"Nah itu yang aku cari. Ish tinggi banget. "


Ririn mencari cara agar dia bisa menggapai buku tersebut. Tingginya yang hanya 157, tidak dapat mencapai rak paling atas. Dia menjinjitkan kakinya dan mulai berusaha menggapai buku tersebut.


"Ya dikit lagi Rin. Ayo kamu bisa." Katanya menyemangati dirinya sendiri.


Sebuah tangan terulur mangambil buku tersebut. Ririn yang kaget langsung menoleh ke sampingnya.


"Makanya olahraga biar tinggi."


"Kamu ngatain aku pendek?" Kesal Ririn.


"Iya." Dengan santainya Ilham menjawab 'iya'.


"Aku ga pendek ya, cuman rak nya aja yang tinggi. " Kata Ririn dengan memelankan kata terakhir.


Ilham yang gemas dengan tingkah Ririn langsung mengacak lembut rambutnya.


"Iih jadi berantakan Ham." Omel Ririn sambil memperbaiki tatanan rambutnya.


"Bolos mungkin." Untuk kedua kalinya Ilham menjawab santai yang membuat Ririn cukup terkejut.


"Hah? Bolos? Bukannya kamu gak pernah bolos? Kan kamu anak pintar. Biasanya kan anak pintar, ga pernah bolos." Ucap Ririn panjang lebar.


"Lagi males aja."


"Dih kamu jawabnya santai banget. Lagi males. Emangnya ini sekolah punya kamu seenaknya bisa masuk atau mau bolos kapan aja." Ririn jadi kesal sendiri dibuatnya.


"Gapapa sesekali. Lagian bosen pelajarannya pak botak." Guru yang dimaksud adalah guru mata pelajaran fisika. Dia dijuluki 'botak' karena tidak mempunyai rambut.


"Ga boleh gitu, Ham. Nanti kalo kamu ketinggalan pelajaran gimana? Kan kamu juga yang rugi." Jelas Ririn.


"Iya iya, aku bakal masuk kelas. Tapi kalo kamu udah selesai ngumpulin bukunya."


"Iya, tapi aku nungguin teman aku dulu. Lama banget sih tadi katanya mau ke toilet. "


Tak lama suara getaran ponsel Ririn terdengar, ternyata pesan dari Mikaila.


Mikaila :


Rin, aduhh maaf banget. Aku lupa kalo aku nemenin kamu ke perpus sekarang aku udah di kelas. Hehe maaf ya Ririn sayang.


Ririn menghela napas, Mikaila selalu saja seperti ini. Dia bahkan pernah meninggalkan Ririn di dalam kelas sendirian katanya mau ke kantin bersama tapi Mikaila malah bolos.


"Ayo." Ajak Ririn.


"Bukannya kamu mau nunggu teman kamu? Mana dia? " Tanya Ilham.


"Dia udah ke kelas duluan. Ya udah ayo."


Ilham membantu Ririn membawa buku-buku yang dibawa. Mereka berjalan melewati koridor sekolah dengan topik yang tidak pernah habis. Ilham senang bisa berduaan dengan Ririn.


"Ya udah makasih ya Ham udah bantuin aku angkatin buku-buku ini."


"Iya ga masalah. Senang bisa membantu. " Ilham memperhatikan Ririn memasuki kelas Mipa 5.


Tak terasa Bel pulang sudah berbunyi, Ririn dan Mikaila berada di depan gerbang menunggu jemputan masing-masing.


"Ayo Rin, kita pulang bareng aja."


"Ngga Mik, makasih."


Ririn pulang setelah Mikaila di jemput oleh ibunya. Ririn memutuskan untuk mampir di slah satu warung dekat sekolah, dia merasa haus.


"Pak, air botolnya satu ya. "


"Iya, ini neng jadi 4 ribu. "


"Makasih ya pak." Kata Ririn setelah membayar.


Tak lama kemudian sebuah motor berhenti tepat di depan Ririn. Dia seperti mengenali motor itu. Saat membuka helm, Ririn langsung membuang muka dia tidak mau melihat wajah kekasihnya saat ini.


"Hai Rin." Sapanya ramah.


"Rin? Kamu kenapa?" Karena tidak mendapat balasan akhirnya Yusuf berkata lagi.


"Gapapa kak. "


"Rin, kenapa sih?" Yusuf mulai bertanya karena melihat raut wajah Ririn yang sepertinya tidak mau melihatnya.


"Gapapa kak."


⭐⭐⭐


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍