
Oh iya Ririn lupa, dia sudah berjanji untuk jalan berdua dengan Ilham. Saat Ririn mengatakan jika ia akan mengganti uangnya, pria itu langsung menolak.
Pria itu hanya meminta Ririn menemaninya makan sebagai ganti dari uang biaya rumah sakit. Awalnya Ririn sempat menolak namun Ilham tetap memaksanya untuk mengatakan 'iya'. Jika tidak Ilham tidak akan mau menerima ucapan terima kasih Ririn. Terdengar sangat aneh ditelinga cewek itu tapi kenyataannya memang begitulah yang diinginkan oleh Ilham.
"Eh iya sampe lupa aku." Ririn menepuk jidatnya dengan sangat lucu.
"Pacar kamu yang kemarin..." Belum sempat melanjutkan perkataannya, Ririn langsung menyelanya.
"Udah Mah, aku gak mau bahas dia."
"Jadi ini pacar baru kamu? " Tanya ibu Ririn lagi.
"Iiih bukan Mah. Ini cuman teman sekolah aku."
"Yakin teman sekolah doang?" Mata Ibu Ririn menatap dengan tatapan tidak percaya.
"Iya Mama sayang, yakin seratus persen."
"Tapi Mama liat kemarin dari tatapannya..." Lagi-lagi Ririn memotong perkataan ibunya.
"Udah ya Mama sayang, aku mau mandi. Muahh. " Jawabnya setelah mencium pipi ibunya. Ririn langsung berlari ke dalam kamar mandi, dia tahu ibunya akan memarahinya.
"Ririn! Kamu tuh ya bener-bener. Mama belum selesai ngomong."
Selesai mandi, Ririn segera bersiap untuk bertemu dengan Ilham. Dia memakai dress panjang yang sangat cantik dikenakannya. Dia memoleskan sedikit bedak ke wajahnya dan memakai pelembab bibir agar tidak kelihatan pucat.
Ririn berjalan menghampiri ibunya.
"Wah anak mama, cantik banget." Puji sang ibu
"Iya dong, anak mama gitu loh. " Balas Ririn dengan bercanda. Diikuti ibunya yang tertawa kecil.
"Kamu mau berangkat sekarang? " Tanya ibunya.
"Iya mah, katanya dia mau jemput aku. Tapi kok belum datang ya. "
"Ya udah kamu tungguin dia aja, mama mau ke dapur dulu. "
"Siap macan. " Mengatakan 'macan' yang kepanjangannya mama cantik.
Beberapa menit kemudian terdengar suara motor dari luar rumahnya. 'Itu pasti dia' pikir Ririn. Setelah melihat dari jendela Ririn segera membuka pintu rumahnya.
"Mau jalan sekarang?" tanya Ririn.
"Aku boleh minta izin dulu sama mama kamu? "
Ririn yang mendengar itu berpamitan dengan Ilham dan menemui ibunya di dapur.
"Mah, ada teman aku. Dia mau ketemu sama mama katanya mau izin. "
Anak dan ibu itu kini berjalan kearah ruang tamu rumah, disana terlihat seorang pemuda dengan memakai kaos putih didalamnya dan mengenakan kemeja diluar baju kaosnya. Dia tampak keren dengan penampilan seperti itu.
"Assalamualaikum tante." Ilham mengambil tangan ibunya Ririn dan menyaliminya.
"Wa'alaikumussalam. Jadi kamu yang namanya Ilham?"
Ibunya Ririn memang tidak mengetahui wajah Ilham karena pada saat mengantarkan Ririn pulang dari rumah sakit, dia sedang tidak ada di rumah melainkan di toko buket miliknya. Ibunya Ririn sangat berterima kasih kepada pemuda ini karena telah menyelamatkan nyawa anaknya.
"Makasih ya nak. Kalo gak ada kamu, tante gak tau kondisi Ririn saat itu."
"Iya tan, sama-sama. Aku senang bisa bantu Ririn saat itu. "
Setelah mengobrol sebentar dengan ibu Ririn, Ilham kini mengajak Ririn ke sebuah taman bermain. Ririn melihat sekitar, hampir semua isi taman terdapat anak-anak yang sedang bermain. Mereka semua menikmati aktifitas yang dikerjakan. Ada yang bermain bola, main masak-masakan, petak umpet, piknik dengan keluarga dan masih banyak lagi kegiatan yang anak-anak di taman ini lakukan. Ririn senang melihatnya, dia menyukai anak-anak.
"Kamu kenapa bawa aku kesini? " Tanya Ririn menatap Ilham.
"Iya suka banget." Jawab Ririn kini penglihatannya mengarah ke anak-anak yang sedang bermain dengan raut wajah bahagianya.
Ilham yang melihat itu pun tersenyum senang, dia pikir Ririn akan meminta untuk pulang karena terlalu ramai dan banyak anak-anak. Tapi tebakannya salah, gadis di sampingnya itu ternyata sangat menyukai tempat ini.
Saat menikmati pemandangan didepannya, Ririn tiba-tiba dihampiri oleh gadis kecil yang sangat menggemaskan.
"Hai cantik," sapa Ririn dengan wajah yang nampak sangat bahagia.
"Halo kakak cantik." balas anak itu dengan wajah yang sama bahagianya. Mendengar suara anak itu, Ririn tertawa kecil.
Menggemaskan sekali anak ini. bisik hatinya.
"Kamu kenapa kesini? Itu teman kamu ngajakin main."
"Nda mau, dia jahat kakak cantik. Gamau ngasih mainannya ke aku. " Raut wajah kesal yang ditunjukkan anak itu membuat Ririn semakin gemas ketika melihatnya.
"Gak boleh gitu sayang. Itu kan punya teman kamu, harusnya minta dengan cara baik-baik." Jelas Ririn.
Mengerti ekspresi dari gadis kecil didepannya, Ririn pun melanjutkan ucapannya.
"Jadi gini kalo kamu mau main sama teman, kamu harus baik. Gak boleh maksa buat ngasih bonekanya ke kamu. Main berdua ya, gak boleh berantem." Ya, tadi Ririn sempat melihat kedua anak kecil sedang saling menarik boneka.
"Jadi aku gak boleh ngambil bonekanya?" Kata anak itu dengan raut wajah sedih.
"Iya cantik. Udah jangan sedih, kamu mau beli es krim gak? Kakak beliin."
"Mauu yeyy es klim es klim. " Menggemaskan sekali, apalagi anak cantik ini tidak bisa menyebutkan huruf 'r'. Lucu pikir Ririn.
"Ya udah ayo kita kesana." Kata Ririn sambil menunjuk penjual es krim.
Dia menggenggam tangan anak kecil itu dan mulai melangkah. Tapi tunggu, dia seperti melupakan sesuatu.
"Astaga Ham, maaf aku lupa kalo kamu yang ngajakin aku. Aku pikir kamu gak ada disini. Hehe maaf ya."
"Iya gapapa Rin. Aku senang kok liat kamu bahagia. Apalagi pas kamu ngomong sama anak kecil itu." Ilham menunjuk anak kecil yang berpegangan tangan pada Ririn. Ilham sangat senang melihat interaksi Ririn dengan anak kecil, dia semakin menyukainya.
"Kak, itu siapa?"
"Ini teman kakak, namanya kak Ilham."
"Kak Ilham mau es klim juga ya?" Tanya anak kecil itu.
Ilham mengangguk lalu mensejajarkan tingginya dengan anak itu.
"Mau es klim kan?" Anak kecil itu mengangguk lucu.
Ririn yang melihat itu tersenyum, Ilham terlihat sangat menyayangi anak itu.
"Ayo kita beli."
Kini kedua tangan anak kecil itu digenggam oleh Ririn dan juga Ilham. Mereka terlihat sangat cocok untuk menjadi orang tua dari anak kecil itu. Menuju salah satu penjual es krim, mereka ditatap oleh orang-orang. Semua orang berpikir jika keduanya sudah menikah dan memiliki anak, keluarga yang sangat bahagia.
⭐⭐⭐
*Bersambung.
Kisah ini hanya kisah hidup yang sangat sederhana dari seorang gadis remaja. Gak ada anunya hehehehe 🤭
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍