The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
The Contract



Aaron masuk ke dalam ruangan rapat sambil membawa dua jenis kopi, satu long black dan satu *caramel*macchiato.


Dalam ruangan aku dan klienku sedang duduk berhadap-hadapan. Klien tersebut bernama Tuan Jin, seorang pria tua yang menggunakan setelan beserta topi fedora abu-abu. Saking tuanya orang tersebut, dia menggunakan tongkat untuk berjalan. Terlihat tatapan orang itu cukup tajam, namun pembawaanya yang tenang membuat orang yang di sekitarnya tidak merasakan bahaya dari dia. Aku menduga tongkat yang dibawanya merupakan pedang kecil yang dapat disembunyikan sebagai tongkat penopang untuk menyerang siapa saja yang menjadi ancaman dia. Tuan Jin merupakan seorang konglomerat yang memiliki perusahaan yang bergerak pertambangan. Namun diketahui dia terlibat dengan perusahaan gelap yang bergerak di bidang senjata terutama perusahaan yang menyediakan persenjataan kepada mafia-mafia yang ada di negeri ini. Untuk menjaga nama bersih perusahaannya dia selalu melakukan kegiatan sosial untuk mempermanis muka perusahaan, akan tetapi di sisi lain dia merupakan seseorang yang tidak segan untuk menyingkirkan orang-orang yang mungkin menjadi pesaingnya.


Aku menyeruput kopiku. Rasa karamel dalam kopi membawa pikiranku menjadi lebih tenang dan terlihat Tuan Jin cukup menikmati kopinya. Setelah tegukan pertama, aku mencoba berbasa-basi untuk mencoba menggali informasi mengenai klienku ini.


"Jadi anda menyukai long black buatan kafe ini?" tanyaku dengan senyum yang hangat.


Tuan Jin meletakan cangkir kopinya ke atas meja. Setelah membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, dia menjawab, "Untuk kafe yang didirikan oleh pembunuh, saya rasa tidak terlalu buruk."


"Hahaha, anda ini bisa saja" kataku sedikit tertawa.


Aku mulai menjadi sedikit lebih serius dan bertanya, "Jadi apa yang anda ingin saya kerjakan?"


Pria tua itu mengeluarkan dokumen dari tasnya dan membukanya. Lalu dia menunjukkan isi dokumen yang berisi data diri dari target beserta dengan fotonya. Target tersebut merupakan seorang perempuan dengan perkiraan umur 23 tahun. Dia memiliki tinggi tubuh sekitar 150 cm dengan berat badan 48 kg. Perawakannya merupakan orang asia dengan rambut lurus hitam yang diikat belakang model ekor dan porsi tubuh kurus.


"Aku ingin kamu mengawasi dia dan membunuhnya apabila dia menjadi ancaman bagiku" kata Tuan Jin.


Aku cukup bingung dengan perkataan Tuan Jin, lalu aku melihat profil target itu lebih dalam. Perempuan itu bernama Angelyn Elizabeth. Dia merupakan mahasiswi yang saat ini berkuliah di jurusan sastra. Perempuan ini memiliki rekor dalam meliput berita dan juga ahli dalam menciptakan karya tulis. Perempuan ini cukup jenius dimana dia sanggup menyelesaikan pendidikan dasar ketika berumur 15 tahun dan menyelesaikan sarjana berusia ketika berumur 18 tahun. Saat ini dia mengambil kuliah S2 di jurusan sastra sambil bekerja di salah satu siaran televisi.


"Kenapa anda ingin saya mengawasi dia? Saya rasa tidak ada ancaman yang cukup berbahaya dari perempuan ini" tanyaku kepada Tuan Jin.


Tuan Jin terbatuk sedikit, lalu dia menjawab, "Beberapa waktu lalu, perusahaanku dan perusahaan lain melakukan suatu proyek. Proyek ini adalah menciptakan manusia super yang rencananya digunakan sebagai senjata para mafia. Akan tetapi proyek kami gagal dikarenakan polisi menemukan persembunyian proyek ini sehingga proyek ini gagal total."


Aku menegakkan posisi dudukku dan meletakan sikutku ke atas meja sambil melipat kedua telapak tanganku, "Lalu apa hubungannya dengan perempuan ini?"


"Perempuan ini merupakan salah satu subjek percobaan yang diselamatkan oleh para polisi. Tentu perempuan ini tidak tahu bahwa dia diculik karena kami memastikan dia tidak mengingat apa yang terjadi. Akan tetapi dia merupakan salah satu subjek yang menunjukkan keberhasilan sehingga akan menjadi ancaman kalau dia jatuh di tangan yang salah," jelas Tuan Jin.


Penjelasan Tuan Jin membuatku semakin penasaran, lalu aku mulai menanyakan lebih dalam, "Lantas apa kemampuan perempuan ini?"


"Aku sendiri tidak tahu" jawab Tuan Jin.


"Tidak tahu?" tanyaku dengan menaikan sebelah alis.


"Dia hanya menunjukkan potensi berhasil karena adanya mutasi yang muncul. Namun kami tidak tahu kemampuan apa yang dimiliki dia" jawab Tuan Jin.


Aku terdiam untuk beberapa saat dan berpikir. Selama ini targetku adalah penjabat, reporter, sampai polisi. Tapi untuk kali ini aku berhadapan dengan sesuatu yang hampir bukan manusia. Apakah mungkin aku bisa melakukannya?


"Untuk bayarannya, aku akan membayar 500 Juta dollar apabila kamu mau mengambil pekerjaan ini," kata Tuan Jin.


"500 Juta?!" tanyaku sambil sedikit terkejut.


"Benar 500 Juta. Angka ini cukup sangat tinggi untuk harga seorang perempuan bukan?" tanya Tuan Jin sambil menyeruput kopinya kembali.


500 Juta?! Itu angka yang sangat besar untuk kepala seorang perempuan. Aku berusaha menjaga imageku agar tidak terlalu heboh dan norak. Namun tetap saja aku cukup terkejut dengan bayaran sebesar itu. Hal ini cukup menjadi pertimbangan besar karena dengan uang sebesar itu dapat mempercepat rencanaku untuk balas dendam.


"Jadi apakah kau akan menerimanya?" tanya Tuan Jin.


Pria tua itu mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetik sesuatu, lalu beberapa saat kemudian beberapa orang dengan setelan jas hitam masuk ke dalam ruang rapat sambil membawa 5 buah koper besar. Kemudian Tuan Jin membuka salah satu koper dan memperlihat koper yang berisi uang. Hal yang dilakukan Tuan Jin cukup meyakinkan sehingga tawarannya dapat dipercaya.


"Apakah ini cukup membuktikan?" tanya Tuan Jin.


Uangnya ada disitu. Ya, disitu.


"Hmm... baiklah aku akan terima. Berapa batasan waktu yang aku punya untuk menyelesaikan pekerjaan ini?" tanyaku kembali.


"Tidak ada batasan waktu, karena pekerjaan ini hanya untuk memastikan bahwa perusahaanku tidak terlibat dengan skandal-skandal tertentu saja" jelas Tuan Jin.


"Kalau begitu dengan ini kontrak pembunuhan telah terbentuk. Untuk pembayaran anda bisa mengirimkannya setelah kami selesai melakukan pekerjaan kami. Apabila kami tidak segera menyelesaikan pekerjaan kami, anda berhak mencabut kontrak dan mengalihkan kepada yang lain" kataku sambil berdiri.


"Saya mengharapkan yang terbaik dari anda" kata Tuan Jin sambil berdiri.


Kami pun berjabat tangan. Lalu aku mengantarkan Tuan Jin keluar kafe hingga beliau menaiki mobil limosin hitamnya. Setelah Tuan Jin pergi, aku masuk ke dalam menuju bagian pos barista. Pada saat itu kafe cukup ramai, orang-orang yang melihat Tuan Jin bertanya-tanya ada urusan apa Tuan Jin datang ke kafe ini. Ketika seorang pelanggan bertanya kepadaku, aku hanya berdalil untuk menyediakan kopi khusus untuk Tuan Jin.


Setelah kafe tutup, aku duduk di tempat biasa aku bersantai sambil menikmati teh lemon madu dengan brownies cokelat dan memeriksa profil targetku kembali. Perempuan bernama Angelyn ini tidak menujukkan suatu kecurigaan yang cukup besar. Dia seperti perempuan biasa yang hidup dengan normal. Disaat aku sedang melihat-lihat, Macaron datang sambil membawa tumpukan dokumen dengan kedua tangannya.


"Kak Leo, ini dokumen-dokumen yang kakak minta" kata Macaron.


"Baik Macaron. Terima kasih ya," kataku sambil mengusap kepala Macaron.


Macaron mengintip dokumen target yang sedang aku lihat, lalu dia mendekati kepalanya ke dokumen hingga menutup pandanganku, "Hee... jadi ini target kakak berikutnya? Cantik sekali perempuan ini."


"Hei, awas kepalamu menghalangiku" kataku sambil menyingkirkan kepala Macaron dengan pelan.


"Sayang sekali ya kak, padahal menurutku dia cocok jadi pacar kakak" kata Macaron sambil tersenyum ceria.


Aku sedikit geli ketika mendengar perkataan Macaron, "Huh?... pacar? Kamu ini bisa saja. Mana mungkin bisa terjadi?"


"Hati-hati loh kak, biasanya orang yang berbicara seperti itu beneran jadian loh" kata Macaron sambil bercanda.


"Ah kamu bisa saja" kataku sedikit kesal.


Kemudian aku melihat ke arah luar kafe. Waktu yang telah menunjukkan pukul tujuh malam memperlihatkan suasana jalanan yang cukup ramai karena saatnya jam pulang kantor. Aku menyeruput kopiku kembali sambil berpikir apa yang terjadi berikutnya. Disaat aku sedang berpikir kemungkinan yang terjadi, Albert datang untuk memberi tahu waktunya latihan.


"Tuan sudah saatnya latihan," kata Albert.


Ketika Albert mengingatkan waktu latihan, aku langsung menutup dokumen-dokumen itu dan berdiri, "Baik! Saatnya latihan. Terima kasih telah mengingatkan Albert."


"Sama-sama tuan" kata Albert.


Lalu aku berjalan menuju basement yang dimana tempat itu merupakan tempat operasi kami dan juga tempat latihan. Sambil berjalan aku juga berpikir, tentang bagaimana operasi ini akan berjalan. Tapi untuk saat ini rasanya aku akan mengawasinya terlebih dahulu.