
Aku dan David terdiam saat melihat Dante berdiri di depan pintu keluar menuju lantai bawah. Aku melihat David kebingungan saat aku menahan dia.
"Aura, siapa dia?" tanya David.
"Dia merupakan pembunuh keluargaku," jawabku.
"Apa?!" kejut David.
"Ayolah jangan seperti itu," kata Dante berjalan menuju ke arahku, "gara-gara kau, aku kehilangan sebagian besar uangku."
"Sampai aku membunuhmu maka uangku tidak akan kuterima sepenuhnya. Kau perlu tahu bahwa membunuh juga perlu modal" kata Dante mengeluarkan sebuah pisau.
Dengan spontan, aku menarik David mundur. Namun David sedikit tertahan dan dengan suara lantang dia bertanya, "Siapa yang mengirimmu?... Dante."
Suasana menjadi hening. Aku pun terdiam saat David bertanya seperti itu seakan dia kenal dengan Dante. Padahal aku belum menyebut namanya sama sekali.
"David, bagaimana kau-"
"Itu bukan urusanmu bocah. Namun cukup menarik, bagaimana kau bisa tahu namaku?" tanya Dante.
"Aku cukup kenal dengan dunia gelap, namamu cukup terkenal disana. Ketika aku melihatmu, namamu langsung terpikirkan olehku" kata David.
"Hmm, hanya orang-orang yang mengetahui namaku cuma ada dua jenis orang. Targetku atau tidak orang yang menyewa jasaku. Dari yang kulihat kau bukan orang yang pernah menyewaku, apakah aku pernah membunuh orang dekatmu mungkin?" tanya Dante.
"Bagaimana menurutmu?" tanya David.
"Tidak penting buatku, karena kalian berdua akan mati."
Dante mulai berjalan lebih cepat. Aku dan David terus mundur ke belakang, tanpa kami sadari kami sudah dekat dengan pinggir pagar gedung yang setinggi 20 lantai. Kemudian David berbisik kepadaku, "Hei kau masih ingat ilmu beladiri yang diajarkan ketika SMA? Aku akan menyerang bagian pisau dan kau bagian kakinya. Kemudian kita tendang bagian belakang dan lari,"
Ketika mendengar itu, aku merasa tidak yakin. Kami cuma orang biasa melawan pembunuh bayaran mantan pasukan elit, apakah kami bisa lolos? Namun waktu semakin tipis, apabila kami tidak melakukan sesuatu maka kami berdua akan mati. Dengan memberanikan diri aku menjawab, "Aku mengerti."
Kami menunggu beberapa saat. Di saat kami sudah berada di beberapa meter dekat pagar, David mengisyaratkan untuk segera bertindak, "Sekarang!"
Kami berdua maju bersama. Dante yang melihat tindakan kami segera menyerang salah satu dari kami. David menendang tangan Dante yang memegang pisau sehingga membuat pisau tersebut terbang ke arah belakang Dante dan aku memukul bagian perut Dante dan menendang bagian tulang kering kakinya. Kemudian kami berlari membelakangi Dante dan menendang Dante secara bersama sehingga membuat dia terjatuh melewati pagar. Tanpa basa-basi kami segera berlari dengan cepat ke arah pintu keluar. Namun tiba-tiba aku mendengar David berteriak dari belakang, "AWAS!"
Aku melihat ke arah belakangku. Dante mengangkat pistolnya yang sudah dipasang peredam dan mengarahkannya kepadaku. Aku terlalu lambat untuk menghindar karena termakan oleh rasa takut. Ketika Dante menekan pelatuknya, David melompat ke depanku dan terkena tembakan peluru dari pistol Dante. David pun terjatuh dan kepalanya membentur tanah.
"DAVID!" teriakku sambil mendekati David dan memeriksa lukanya.
David mengalami luka tembak di bagian perut dan dada. Terlihat juga adanya luka di kepalanya akibat terjatuh. Dengan nafas yang terengah David mencoba untuk berbicara sambil berdiri, "Cepatlah lari, aku akan menahan dia."
"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini!"
Dante berlari sambil menodongkan senjatanya. David segera berdiri menghadap ke arahku dan memelukku dengan erat. Terdengar enam letusan dari pistol Dante dan mengenai punggung David. David berusaha menahan rasa sakit yang diterimanya, namun beberapa saat kemudian dia mulai terjatuh ke tanah.
Aku berusaha menangkap David agar tidak memperparah lukanya. Kemudian aku melihat tanganku yang berlumur darahnya David. Darahnya membangkitkan trauma yang ada dalam diriku. Lalu aku melihat ke arah Dante dengan rasa takut. Akan tetapi dalam beberapa detik aku mendengar satu kata dengan suara kecil, "Bunuh..."
Nafasku tertahan seketika aku mendengar kata tersebut. Rasa takutku berubah menjadi rasa amarah dan kemurkaan. Seketika itu juga nafasku yang tadinya tergesa-gesa menjadi tenang. Dengan spontan aku berlari mengambil pisau yang terlempar dari tangan Dante dan mendekati Dante dengan cepat. Dante yang melihatku mendekat menjadi panik dan berusaha mengisi pistolnya dengan peluru. Namun dengan pisau yang ditanganku aku memotong jari Dante yang memegang pistol dan menusuk perutnya. Lalu aku mengitari Dante ke belakangnya, menebas pahanya dan menusuk sisi kiri lehernya hingga aku meninggalkan pisau tersebut menancap di lehernya. Dante pun terjatuh dengan darah yang mengalir. Beberapa saat kemudian aku tersadar dengan apa yang telah aku lakukan dan mengambil nafas dengan cepat, rasanya ada yang merasuk dalam diriku sehingga bisa melakukan hal tersebut kepada Dante. Setelah aku memastikan Dante tidak bergerak, aku segera mendekati David yang sekarat.
Aku melihat David kehilangan banyak darah. Aku berlutut untuk memastikan keadaan David, "David! Hei David! Sadarlah David!"
David terbatuk dan berusaha untuk menyadarkan diri. Secara spontan aku mengambil handphoneku dan menelepon nomor darurat sambil memastikan keadaan David agar tetap sadar. Setelah aku menelepon mereka, aku terus memastikan David tetap sadar. Akan tetapi tiba-tiba aku mendengar suara Dante mulai sadar. Aku segera melihat Dante yang sedang berusaha berdiri sambil memegang lehernya. Terlihat dari ekspresinya, dia sangat tidak senang bahkan amat sangat marah.
"Dasar bajingan! Beraninya kau membuatku seperti ini!" teriak Dante, "jangan kira dengan melukaiku seperti ini kau bisa hidup dengan tenang!"
Dante berjalan mundur melewati pagar pinggir gedung, kemudian dia berteriak kembali untuk terakhir kalinya dengan nada yang megutuk, "Aku akan ingat kejadian ini! Aku, Dante, satu dari sembilan iblis terjahat, akan memburumu hingga ke neraka!"
Lalu Dante menjatuhkan diri dari atas gedung dan menghilang. Suasana menjadi sangat sepi. Terdengar suara sirine ambulans dan polisi telah mendekati gedung. Ketika aku hendak melihat David kembali, aku mendengar suara David berusaha berbicara.
"Jangan dengarkan dia..." kata David dengan suara lirih.
Ketika mendengar suara David, aku menjadi sedikit lega. Namun tidak merubah rasa panikku terhadap ancaman nyawa dia.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu, lukamu cukup parah," kataku sambil berusaha menekan pendarahan David, "kenapa kau menyelamatkan aku? Kalau kamu tidak menerima tembakan itu, kamu tidak akan terluka seperti ini."
David bernafas dengan terengah-engah. David mengangkat tangannya dan memukul dadaku, "Maaf aku ini agak serahkah. Aku sudah bilang kan kalau kau sahabat yang paling berharga..."
"Jadi wajar kalau akan akan menolong dan melindungimu..." lanjut David, "kumohon jangan... salahkan dirimu... Mi..."
Tangan David terjatuh dan David pingsan kembali dengan senyuman. Aku kembali terkejut lagi. Kali ini bukan rasa sedih yang menyelimutiku namun rasa marah dan dendam. Aku marah akan kelemahanku atas kejadian, aku salahkan ketidaksanggupanku melindungi temanku. Dengan suara geram aku pun bersumpah, "David, aku bersumpah di atas darahku dan darah keluargaku bahwa aku akan membalaskan ke semua orang yang telah membuatmu dan keluargaku seperti ini. Aku tidak akan menyerah meskipun surga dan neraka menjadi musuhku. Aku akan membawa keadilan kepada mereka meskipun aku harus menjadi iblis yang ditolak oleh surga dan neraka!" Lalu hujan pun mulai turun dengan deras. Membasahi aku dengan David yang terkapar.
Keputusan ini lah yang membuatku menjadi pembunuh bayaran untuk balas dendam. Keputusan ini aku buat atas kemuakan terhadap kelemahanku dalam melindungi orang-orang terdekatku. Andaikata tidak ada orang jahat di dunia ini mungkin tidak akan ada penderitaan yang terjadi.
Beberapa saat kemudian paramedis datang. Ketika mereka melihatku memegang David, dengan segera menghampiri menangani David untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Ketika aku hendak menyusul David, seorang polisi menahanku untuk dimintai keterangan, "Permisi apakah kau berada di sini dari tadi?"
Dengan nada dingin aku menjawab, "Iya benar, aku berada di sini dari tadi."
"Baik, kami dari kepolisian akan meminta beberapa keterangan darimu atas kejadian ini. Boleh saya tahu siapa nama anda?"
Ketika polisi menanyakan namaku, aku memutuskan untuk membuat identitas baru. Diriku yang lemah sudah mati, yang ada sekarang adalah diriku yang penuh dengan rasa dingin akan dendam. Dengan begitu, mereka yang mengicarkan nyawaku tidak akan menyangka akan badai yang mereka akan peroleh. Lalu aku menjawab pertanyaan polisi itu,
"Namaku Leo. Leonardo Aura."