The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
Hunting the Snake (4)



Kantor Lao Mei terletak di lantai dua, untuk mencapainya harus melewati jalan yang cukup panjang memutar di sekeliling gudang. Biasanya para mafia membuat jalur seperti itu untuk mencegah seseorang yang kabur dari mereka apabila mereka disekap di tempat yang tinggi. Apabila orang tersebut melompat maka pilihannya hanya dua, antara orang tersebut makin terluka, atau mati. Aku telah bersebunyi di salah satu jalan yang berada di sisi gudang untuk menyergap Lao Mei. Ketika Lao Mei tiba di salah satu ruang terbuka dan berada dalam jangkauanku, aku menembakan beberapa tembakan ke jalan depannya dan membuat dia dan kedua penjaganya berhenti. Lalu aku melompat turun di hadapan Lao Mei sehingga membuat kedua penjaganya menjadi waspada.


Lao Mei yang melihatku memberikan tatapan yang dingin, "Siapa kamu?"


Aku berdiri di hadapannya secara perlahan, "Aku? Aku adalah iblis kematian yang akan mencabut nyawamu malam ini. Kamu bisa memilih,antara kamu menyerahkan dirimu dan kamu memperoleh kematian yang tenang, atau kamu mati dengan penuh penderitaan."


Dengan spontan, kedua penjaga Lao Mei menyerangku dengan cepat menggunakan pisau belati panjang. Gerakan mereka cukup terkoordinasi, namun aku bisa menangkis setiap serangan mereka dengan pedang yang masih terlipat di senjataku. Ketika aku melihat celah aku menendang mundur salah satu dari mereka dan memukul serta menembak perut penjaga lainnya hingga terlempar ke arah Lao Mei. Akan tetapi pejaga itu tidak mengalami kesakitan dan dia mampu berdiri dengan normal.


Lao Mei melihat ke arahku dengan serius. Dia melihat dan menganalisa semua gerakan dan serangan yang aku lancarkan.


"Topeng dan seragam taktikal hitam, jubah bagaikan malaikat maut, dan keahlian bertarung jarak dekat. Rupanya kamu adalah iblis kematian, Valdis" ucap Lao Mei dengan dingin, "Untuk apa seorang pembunuh bayaran datang ke tempat ini? Apakah ada seseorang yang mengirimmu untuk membunuhku?"


Lao Mei sedang mengujiku. Untuk seseorang yang memiliki reputasi yang cukup tinggi di dunia gelap, cukup wajar dia diincar oleh banyak orang terutama pesaing dan juga aparat negara. Hal tersebut membuat dia harus waspada akan siapa yang dia hadapi, termasuk saat dimana seorang pembunuh bayaran yang berada di hadapannya sekarang.


Aku menurunkan senjataku dan mulai memprovokasi dia, "Entahlah... tidak ada yang mengirimku kesini. Aku menemukanmu sebagai pengganggu di kota ini. Jadi aku akan menangkapmu dan membuat mengatakan semua yang kamu tahu termasuk soal Taisen."


Lao Mei tidak bergeming, seakan dia sadar bahwa aku sedang memancingnya.  Beberapa saat kemudian, banyak X-borg yang sudah berada di jembatan mengelilingi kami berempat. Mereka bertingkah layaknya hewan buas, memberikan aura yang mengintimidasi dan siap menyerang kapan saja.


"Aku tidak ada waktu untuk mengurusmu, jadi aku biarkan mereka yang membunuhmu. Lagipula kapan lagi aku bisa membunuh salah satu pembunuh bayaran hebat di negara ini~" ucap Lao Mei dengan senyum sadisnya.


Setelah para X-borg maju ke depan Lao Mei, Lao Mei dan kedua penjaganya pergi meninggalkanku di tempat itu.


Aku mengamati pergerakan para X-borg. Mereka mengelilingiku layaknya serigala yang mengepung mangsa mereka. Salah satu dari mereka maju, dengan cepat aku mengaktifkan mode pedang pada senjataku dan menebas cyborg itu. Ketika X-borg lain menerjang, aku melompat tinggi dan menembak X-borg itu dengan pistolku hingga menghancurkan kepalanya. Setelah dua serangan itu, tanpa menunggu lama mereka maju menyerangku bersamaan, dan aku menghalau dan membunuh mereka setiap salah satu dari mereka menyerangku.


Ditengah-tengah aku sedang menghabisi mereka, aku merasakan hawa membunuh yang kuat, secara spontan aku mengayunkan pedangku dan menahan serangan itu, terlihat John Silver menyerangku menggunakan senjatanya yang berbentuk pedang juga.


"Iblis kematian, Valdis" ucap John, "Untuk apa seorang pembunuh bayaran ada di tempat ini?"


Lalu aku menangkis serangan John, menebas X-borg yang menyerang dari sisi kananku serta menjawab, "Anggap saja aku memiliki urusan dengan wanita itu."


Kemudian aku melancarkan beberapa tembakan ke arah John Gabriel, dia berhasil menghindar, peluru-peluru itu terbang mengenai X-borg lainnya. John pun berlari ke arahku sambil menembaki aku dan aku menahannya dengan perisai yang ada di senjataku. Tanpa aku sadari John berada di depanku, hendak memukulku dengan senjatanya. Aku segera menangkis dan menembak ke arah wajah John yang dia berhasil menghindar juga. Alhasil kami beradu serangan jarak dekat hingga beberapa saat, hingga aku menendang mundur John dan kami mengarahkan senjata kami satu sama lain. Tanpa kami sadari, X-borg yang ada di sekitar kami sudah mati akibat dari adu serangan yang kami lakukan.


"Karena tadi kamu bertanya kenapa aku mengejar Lao Mei, sekarang adalah giliranku bertanya kembali kepadamu. Kenapa kamu mengejarnya? Apakah ini berkaitan dengan obat-obat terlarang?" tanyaku sambil berusaha mengambil bom asap secara diam-diam.


"Tidak perlu aku memberitahumu secara detil. Lao Mei adalah seorang penjahat dan kamu seorang pembunuh bayaran, semuanya akan kuselesaikan malam ini juga" ucap John.


"Kalau begitu apakah kamu mau ikut taruhan? Siapa yang menangkap Lao Mei terlebih dahulu maka dia akan menuruti semua permintaan dari si pemenang" kataku yang telah memegang bom asap.


"Bertaruh dengan penjahat? Siapa yang melakukan hal konyol seperti itu?" tanya John.


"Kamu takut?" tanyaku kembali.


"Hmm baiklah... kalau aku menang maka kamu harus ikut denganku" jawab John.


Secara spontan aku melempar pisau bom asapku ke arah John, "Ok! Deal!"


Pisau itu meluncur dengan cepat ke arah John. John berniat untuk menahannya namun pisau itu seketika meledak dan asap yang cukup tebal menutup penglihatan John. Di antara asap tebal itu aku maju menendang John hingga dia terlempar jatuh dari ketinggian. Dengan muka kesal John berteriak, "VALDIS!!!"


Dengan menjauhnya John Gabriel, cukup memberikanku banyak waktu untuk mengejar Lao Mei. Setiba di pintu kantor, aku segera menendang dan masuk ke dalam kantor. Ruangan kantor tersebut sangat gelap, tercium bau bahan kimia dan darah disini. Tiba-tiba lampu kantor menyala, membuat apa yang ada di dalam kantor tersebut terlihat jelas. Terdapat banyak peralatan laboratorium seperti kabinet, preparat, hingga beberapa organ tubuh yang disimpan dalam tabung kaca. Lao Mei sendiri duduk di meja kerjanya bersama dengan kedua penjaga yang berdiri di sampingnya.


"Bagus sekali kamu bisa sampai disini. Tidak banyak orang yang bisa lolos dari kumpulan cyborg itu" ucap Lao Mei dengan senyum sadisnya.


"Sebenarnya aku sudah berada di atas gedung kantormu dari tadi. Jadi aku hanya kembali ke tempat semula untuk menghabisimu" ucapku memancing.


Ekspresi Lao Mei tidak berubah. "Akan tetapi cukup sampai disini perjalananmu. Sodom, Gomora, habisi dia."


Kedua penjaga Lao Mei berjalan maju. Secara perlahan tubuh mereka berubah jadi makhluk humanoid besar dengan lapisan kulit baja yang tebal. Salah satu dari mereka yang memiliki tubuh berwarna merah dengan nama Sodom di dadanya, satunya lagi memiliki warna biru dengan nama Gomora di dadanya juga. Dari kedua tangan Sodom, keluar gergaji yang berputar dengan cepat, sedangkan pada Gomora muncul meriam dari punggungnya.


Jantungku berdegup dengan cepat disaat melihat mereka berdua. Di balik topengku, aku tersenyum dan berkata, "Great."