The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
The Night Where It All Began



Hujan di malam hari pada bulan Desember, memang hari yang nyaman untuk melakukan pekerjaan kotor ini.


Sebenarnya aku sangat senang dengan kondisi ini karena tidak akan ada bekas darah yang akan tertinggal dan polisi akan kesulitan melacak keberadaanku. Namun di sisi lain , kondisi ini membuatku benci dengan hujan karena mengingatkanku tentang kejadian pahit yang menjerumusku untuk menjadi pembunuh bayaran. Sampai hari ini, aku tidak bisa melupakan kejadian yang merengut keluarga dan sahabatku waktu itu. Sambil memandang langit yang abu, aku membayangkan dan mengingat kembali masa-masa ketika keluargaku masih hidup.


Aku dan keluargaku merupakan keluarga yang bahagia. Ayahku seorang pengusaha kaya yang memiliki perusahaan otomotif  terbesar negara, ibuku merupakan pemilik kafe pinggir kota, dan adikku merupakan mahasiswi yang berkuliah di jurusan psikologi. Bagaimana denganku pada saat itu? Pada saat itu, aku adalah seorang barista yang bekerja di kafe ibuku.


Ayahku berharap aku bisa menjadi pewaris perusahaannya, akan tetapi bagiku kopi merupakan salah satu bagian hidupku sehingga aku sangat cinta dengan kopi. Pada awalnya ayahku menolak keputusanku menjadi seorang barista, namun ia mendukungku ketika ia mencicipi original blend ciptaanku. Sejak saat itu ayahku tidak mempermasalahkan tentang keputusanku menjadi seorang barista. Meskipun begitu, ayahku selalu datang ke kafe ibuku untuk memastikan bahwa aku menjadi barista yang handal. Padahal sebenarnya ia ingin bertemu dengan ibuku dan menikmati kopi buatannya, lucu bukan? Meskipun begitu, aku sangat mencintai mereka berdua.


Lalu bagaimana adik perempuanku? Dia merupakan seseorang yang ceria meski dia suka menggangguku ketika aku melakukan hobi menulis puisi dan novel. Meskipun begitu, ia memiliki hati yang ingin menolong orang lain dan ia sangat cinta dengan anak-anak. Ketika adikku masih sekolah, ia memperoleh banyak penghargaan dan prestasi. Selain itu, ia juga memiliki banyak teman dan juga banyak penggemar terutama yang laki-laki. Sudah banyak sekali laki-laki yang mencoba mendekati adik perempuanku, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil pacarnya. Kenapa? Mungkin mereka ketakutan melihat ayahku yang menyeramkan dan aku yang terlihat sangar.


Kami berempat hidup bahagia sampai insiden tersebut terjadi.


Waktu itu merupakan malam natal, dan banyak sekali pelanggan yang datang . Pada saat itu, aku masih berada di kafe untuk melayani pelanggan karena pada hari itu banyak orang yang sedang berlibur bersama orang yang mereka sayangi. Hari itu merupakan hari yang melelahkan, namun rasa lelah itu berubah menjadi rasa senang ketika aku melihat banyak senyuman yang menikmati kopi buatanku.


Rencananya aku akan pulang sambil membawa kue natal yang telah kubeli di Tous Le Jour. Ketika aku sampai di rumah, ada hal yang aneh dengan suasana rumahku itu. Biasanya rumah akan selalu terang dan terdengar lagu natal yang dimainkan lewat speaker. Akan tetapi rumah kali ini rumah sangat gelap sekali dan hiasan lampu natal tidak menyala.


"Ah mungkin mereka sedang jalan-jalan," pikirku.


Aku pun berjalan ke pintu rumah. Namun ketika aku sudah di depan pintu, aku mendengar suara letusan dari dalam rumah. Suara itu mirip dengan petasan, namun ketika aku mendengarkan lebih baik lagi, letusan itu merupakan letusan senjata api. Seketika itu juga aku langsung membuka pintu dan berlari mencari kedua orang tua dan adikku.


Aku terus berlari ke setiap ruangan, dari ruang tamu, ruang makan, bahkan sampai kamar mandi. Di saat aku berlari hendak memeriksa kamar orang tuaku, aku membuka pintu kamar tersebut. Lalu aku melihat seseorang yang tidak kukenal yang berdiri di atas kubangan darah di teras kamar tersebut. Ketika aku melihat kubangan darah itu, aku melihat kedua orang tua dan adikku tergeletak tidak bernyawa.


Orang itu berdiri sambil memegang pistol di tangan kanannya. Pakaiannya terlihat sangat formal dengan jubah dan topi tinggi hitam setengah wajahnya ditutupi dengan topeng hitam, dan di tangan kirinya ia memegang tongkat berkepala gagak. Lalu orang itu melihat ke arahku dengan topeng yang teciprat darah dan mengarahkan pistolnya kepadaku.


"Oh, rupanya masih ada mangsa yang tertinggal..." kata orang itu dengan tersenyum.


Secara perlahan orang itu mendekatiku sambil terkekeh. Ia memainkan pistolnya. Di bawah sinar rembulan, aku melihat sosoknya secara keseluruhan. Orang itu merupakan pria tinggi dengan pakaian formal berjas serba merah dengan topeng drama putih dan topi tinggi. Ia memakai sarung tangan bergambarkan mawar merah berduri, pistol yang ia gunakan merupakan pistol perak dengan pisau yang tajam terpasang di bagian depan pistolnya.


Ketika dia sudah berada di dekatku, dia menodongkan senjatanya di depan kepalaku tepatnya di antara kedua mataku. Kakiku bergemetar tidak karuan dan aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Apakah ini akan menjadi akhir hidupku? Dibunuh oleh seseorang yang tidak aku kenal?


Di saat orang itu hendak menarik pelatuknya tiba-tiba terdengar suara tembakan dari belakangku dan menghacurkan sebagian dari topeng orang tersebut. Seketika orang itu mundur sambil memegang topengnya. Aku segera melihat ke belakang dan melihat seorang pria berseragam polisi memegang pistol yang mengeluarkan asap.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu sambil mendekatiku.


Aku tersungkur ketika pria itu mendekatiku. Aku tidak bisa mengatur nafasku dengan baik, bahkan setelah aku melihat mayat keluargaku sendiri aku berusaha untuk tidak muntah dan hilang kendali karena aku tahu apabila aku pingsan saat itu juga maka aku akan lebih mudah dibunuh ketika aku masih sadar. Setelah pria berseragam polisi itu berdiri di depan, aku melihat orang bertopeng badut itu berusaha menahan rasa sakit. Lalu orang bertopeng itu melihat ke arahku dan pria berseragam polisi itu. Matanya berwarna merah menyala bagaikan vampir di film-film dan terlihat sangat menyeramkan bahkan ketika kondisi langit sedang bulan purnama.


"Huh... tidak kusangka si anjing penjaga neraka akan tiba di tempat seperti ini!" kata orang bertopeng itu.


"Kau mungkin pembunuh handal, Dante, tapi kau tidak bisa menghindar ketika ada di jangkauanku" kata pria berseragam polisi itu.


"Diamlah Unchained. Jangan ganggu pestaku malam ini!" kata orang bertopeng bernama Dante.


"Langkahi dulu mayatku setan sialan. Atau kau ingin berdansa dengan peluruku?" seru pria bernama Unchained itu.


Beberapa saat kemudian terdengar sirine polisi dari dalam rumah. Dante yang mendengar itu tersigap dan menyiapkan diri untuk kabur. Sesaat Dante merongoh sesuatu dalam sakunya, ia menatapku dengan mata merahnya itu dan berkata, "Ini belum berakhir, aku akan tetap memburumu dan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri." Lalu Dante melemparkan bom asap dan menghilang tanpa jejak.


Setelah Dante menghilang, suasana kembali sunyi senyap, hanya ada suara sirine yang masih terus berbunyi. Aku secara perlahan mendekati keluargaku untuk memastikan apakah benar masih ada yang hidup. Namun yang kudapati hanyalah tubuh mereka yang dingin tidak bernyawa. Ketika aku melihat darah mereka menempel pada tanganku, rasa sedih dan amarah tidak terbendung lagi dari dalam diriku. Aku meraung-raung pada malam itu, bagaikan serigala yang kehilangan keluarganya. Hal apa yang membuatku pantas menerima hal seperti ini? Dosa apa yang membuatku layak menerima ini? Akan tetapi tidak ada yang menjawab selain angin dingin dalam malam natal.