The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
The Rabbit that Smell Like a Wolf (Final)



Aku segera turun dari gedung dan menghubungi Aaron serta Macaron mengenai kondisi Angelyn. Mereka mengatakan kondisi Angelyn telah stabil dan mereka berada di rumah sakit yang biasa kami kunjungi untuk mengobati luka setelah misi. Ketika aku mendengar itu aku menjadi sedikit lega dan juga khawatir. Hal ini dikarenakan pemilik rumah sakit tersebut merupakan ilmuan dan dokter gila yang suka bereksperimen dengan manusia. Dokter tersebut merupakan orang kepercayaan kami yang telah membantu kami setiap saat kami butuh pengobatan, meskipun dia agak gila uang.


Setelah mengambil motorku, aku berangkat menuju rumah sakit dimana Angelyn, Aaron, dan Macaron berada. Letak rumah sakit tersebut berada tidak jauh dari kafe dan hanya dipisahkan beberapa blok dari kafe.  Rumah sakit itu bernama End Hospital yang merupakan rumah sakit terbesar dan pusat pengobatan serta riset medis negara yan telah membantu mengembangkan obat-obatan dan terapi medis terbaru. Atas jasanya rumah sakit tersebut memperoleh kekuasaan otonom layaknya pemerintahan daerah untuk mengatur daerah rumah sakit layaknya pemerintah daerah umumnya. Sehingga rumah sakit tersebut menjadi daerah netral yang dimana aparat negara tidak bisa melakukan tindakan tanpa seizin pihak rumah sakit. Hal ini dimanfaatkan oleh para penjahat dan mafia untuk bersembunyi dari aparat kepolisian dan aparat militer, akan tetapi rumah sakit ini cukup tegas dan keras akan penjahat sehingga tidak semua penjahat dilindungi begitu saja.


Beberapa saat kemudian aku tiba di rumah sakit itu. Aku melihat gedung-gedung rumah sakit itu megah seperti biasa. Daripada rumah sakit, gedung-gedung tersebut lebih terlihat seperti mal dan markas militer yang ada di dalam kota. Terdapat dua gedung rumah sakit yaitu gedung yang merawat pasien di bagian depan dan gedung riset di bagian belakang. Setelah aku memarkirkan motorku, aku segera pergi menuju lobi rumah sakit untuk menanyakan keberadaan Angelyn dan mereka mengarahkanku ke ruang gawat darurat. Ketika aku tiba di sana tampak Aaron dan Macaron telah menunggu kehadiranku.


"Kak Leo..." kata Macaron sedikit lemas.


Melihat ekspresi mereka berdua, terlihat mereka sangat kuatir dengan kondisi Angelyn. Dengan tenang aku bertanya kepada mereka, "Bagaimana kondisi Angelyn?"


"Kondisi perempuan itu sudah stabil, akan tetapi dia perlu diawasi dalam waktu yang lama dan saat ini kondisinya masih tidak sadarkan diri."


Aku mendengar suara yang familiar dari arah belakangku. Ketika aku menoleh aku melihat dokter yang biasa menangani kami berdiri sambil membawa tab medisnya. Penampilannya dokter tersebut cukup mencolok, ia mengenakan kemeja dan celana ungu dengan sepatu kulit cokelat. Wajah putihnya seperti perempuan meskipun dia memiliki bentuk tubuh pria. Rias wajahnya yang merona dan rambut ungu mengkilatnya dapat membuat orang jatuh hati ketika melihatnya.


"Dokter Finochio" panggilku ke dokter tersebut.


"Ah Leo. Aku tidak menyangka kamu akan membawa sipil ke rumah sakit ini terutama kepadaku. Apa kamu habis berbuat nakal?~ Ngomong-ngomong bagaimana kabar kesayanganku, Albert?~" tanya dokter yang bernama Finochio dengan genit itu.


Dokter Finochio Antoni adalah dokter yang selalu menangani kami ketika kami terluka ataupun sakit. Dia merupakan dokter ahli bedah dalam segala bidang sekaligus ketua dan pemiliki rumah sakit ini. Aku mengenal dia melalui Albert yang merupakan teman lamanya sekaligus mantan kekasihnya. Meskipun mereka tidak berhubungan romantis lagi, mereka tetap menjaga hubungan pertemanan mereka dan saling membantu ketika ada masalah. Selain itu aku sering membantunya dalam pekerjaan ilegal seperti membereskan mafia-mafia obat yang mengganggu pekerjaan kesehatan. Meskipun dia merupakan orang yang sadis dan suka memeras, kebanyakan hasil perasannya diarahkan untuk menolong anak-anak dan pasien yang kurang mampu.


"Kami habis diserang secara tiba-tiba dan aku telah memerintahkan Albert untuk melacak penyerang kami" jelasku kepada Finochio.


Finochio melihatku secara penasaran dan bertanya, "Siapa yang menyerang di daerah kalian? Setahuku jarang sekali orang-orang mencari ribut dengan kalian terlebih lagi reputasi kalian yang sangat terkenal.


"Sejauh ini diperkirakan kelompok 'ular' dari timur yang menyerang kami. Tapi kami belum tahu pasti apakah benar atau tidak" jelasku kepada Finochio, "Bisakah anda memberikan informasi mengenai kondisi perempuan yang kami bawa barusan?"


Finochio menganggukkan kepalanya. Lalu dia menunjukkan layar tablet yang dia bawa kepada kami. Pada layar tablet tersebut muncul gambar jantung yang berdetak dengan informasi-informasi terkait.


"Seperti yang kalian lihat jantungnya berdetak sudah mulai berdetak dengan normal. Barusan kalian bilang dia ditembak di dada daerah jantung bukan?" tanya Finochio.


"Betul dia tertembak di daerah itu" jawab Macaron lugas.


"Akan tetapi aku tidak menemukan luka tembak di daerah yang kalian bilang" kata Finochio.


"Apa?" tanyaku sedikit terkejut.


Kemudian Finochio menggeser layar tabletnya dan menunjukkan luka tembak yang dialami Angelyn. "Berdasarkan laporan yang ada, memang benar terdapat pendarahan yang luar biasa pada bagian dada. Akan tetapi pendarahan tersebut terlalu cepat untuk berhenti terlebih lagi untuk bagian paling vital seperti jantung."


Finochio menutup tabletnya dan menyimpannya. "Apakah kalian tahu sesuatu tentang ini? Sebab kasus ini merupakan kejadian yang cukup luar biasa."


"Sepertinya kami tahu beberapa hal akan tetapi kami belum tahu secara pastinya bagaimana" jawabku.


"Apakah ini berhubungan dengan 'pekerjaan'?" tanya Finochio.


"Benar dan aku harap kamu tidak memberitahu siapa-siapa" jawabku dengan tatapan serius.


Finochio sedikit tersenyum melihatku dan berkata, "Tentu saja sayang. Aku tidak akan memberitahu ini ke siapapun terutama polisi. Sekarang apakah kamu ingin melihat kondisi kekasihmu itu?"


Wajahku sedikit memerah. Namun aku berusaha menjaga komposisiku agar tidak terlihat kikuk. "Dia bukan kekasihku, tapi tolong bawa kami ke tempat dia."


Tampak Finochio sedikit terkekeh melihatku dan dia berkata, "Baiklah ikuti aku."


Aku, Macaron, dan Aaron mengikuti Finochio menuju lantai ruang pasien kelas satu. Kamar pasien kelas tersebut memiliki kapasitas menampung dua pasien, akan tetapi kamar tersebut bisa diatur agar hanya satu pasien yang mengisi apabila kondisi rumah sakit sedang tidak penuh. Ketika kami tiba di salah satu kamar, terlihat Angelyn sedang tertidur dengan banyak perlengkapan medis. Pakaiannya diganti dengan pakaian rumah sakit dan terlihat lukanya telah ditutupi dengan perban.


"Saat ini dia belum sadarkan diri setelah operasi selesai. Dia sangat beruntung untuk bisa bertahan dari tembakan seperti itu" jelas Finochio.


Entah bagaimana melihat kondisi Angelyn membuatku cukup geram. Meksipun kami hanya baru bertemu kedua kalinya, aku melihat dia sebagai sosok yang baik dan berani. Terlebih lagi selama hidupnya, dia sudah cukup menderita akibat penculikan dan percobaan yang terjadi padanya hingga kehilangan sebagian ingatannya.


Setelah kami melihat keadaan Angelyn. Kami keluar dari kamar dan Finochio bertanya kepadaku, "Jadi apa yang akan kamu lakukan Leo?" tanya Finochio.


Melihat kejadian ini tentu aku tidak bisa diam begitu saja. Apalagi kejadian ini terjadi di daerahku yang memungkinkan mengancam pekerjaanku dan nyawa orang lain. Aku melihat ke arah Aaron dan Macaron yang telah siap menerima perintah dariku.


"Apa yang akan aku lakukan? Tentu aku akan memburu 'ular' yang sedang berkeliaran" kataku dengan tatapan serius.


Finochio sedikit tecengang mendengar jawabanku seakan dia bisa memperkirakan dengan siapa aku akan berurusan. Namun dia hanya bisa menghela nafas dan berkata, "Aku mengerti. Serahkan perempuan itu pada kami."


Tiba-tiba terdengar suara telepon dari smartphone milikku. Aku mengambil smartphone tersebut dan melihat Albert menghubungiku. Dengan segera aku mengangkat panggilan telepon dan menjawabnya.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Saya telah melacak mereka Tuan, mereka berada di salah satu gudang dekat pelabuhan" kata Albert.


"Berikan detil kondisinya Aku akan segera 'terbang' ke sana" perintahku.


"Baik Tuan" jawab Albert yang lalu menutup panggilan telpon tersebut.


Aku memberikan tanda kepada Aaron dan Macaron untuk mengikutiku. Tanpa pikir panjang mereka mengikutiku dengan ekspresi yang tajam. Sambil berjalan aku berkata kepada mereka, "Saatnya kita membunuh beberapa ular..."