The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
A Key to Eternal Hell (1)



Aku berdiri di depan kuburan David. Hanya berdiri saja membuatku sedikit pusing karena mengingatkanku pada kejadian setelah bertemu dengan Dante.


Satu bulan setelah kejadian penyerangan Dante terhadap aku dan David, David mengalami luka yang cukup parah sehingga dia mengalami koma dalam waktu yang cukup lama. Aku selalu mengunjungi dia setiap hari untuk memastikan keadaannya. Kemudian aku teringat dengan kejadian David yang mengenal Dante ketika kami diserang oleh pembunuh sialan itu. Seketika itu aku memutuskan untuk menyelidiki hubungan David dengan Dante. Langkah pertama yang aku lakukan adalah menggeledah rumah David untuk mencari apakah ada bukti petunjuk mengenai Dante. Mungkin terdengar kurang etis namun apabila aku tidak mencari tahu, aku tidak tahu bahaya apalagi yang akan datang kepadaku.


Aku segera berangkat ke rumah David yang berada pada tengah kota. Rumah David merupakan apartemen yang berada pada lantai lima. Untungnya David selalu menitipkan kunci rumahnya padaku dengan tujuan membantu dia apabila kehilangan kunci utama. Setelah aku masuk ke rumah dia, seperti biasa rumahnya cukup berantakan. Bento kosong berserakan dimana-mana, puntung rokok yang menumpuk di asbak, bahkan aku menemukan ****** yang belum terpakai di sofa. Meskipun aku berhadapan dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau aku harus mencari petunjuk di tempat ini.


Setelah satu jam, aku masih belum menemukan apa-apa. Pertama aku memeriksa ruang tamu, kemudian dapur, lalu terakhir kamar tidurnya. Pada ruang tamu aku tidak menemukan apa-apa kecuali ruangan yang penuh sampah, di dapur juga sama kondisinya namun aku menemukan brankas yang cukup aneh tapi aku tidak bisa membukanya. Ketika aku memeriksa kamarnya, aku melihat meja kerja David yang cukup rapi seakan ada pekerjaan yang sedangkan dikerjakan. Namun tidak ada petunjuk yang pasti dan lacinya terkunci dengan baik.


Aku begitu pasrah hingga aku merebahkan tubuhku di atas kasur miliknya. Suatu benda keras menekan punggungku hingga membuatku tersentak bangun kembali. Aku menemukan benda keras itu ada kunci kecil yang terlihat cocok dengan laci yang terkunci. Kemudian aku mencoba untuk membuka laci itu dengan kunci yang kutemukan dan ternyata terbuka. Aku menarik laci itu dan menemukan buku berukuran kecil beserta dengan batang besi kecil. Buku tersebut memiliki ukuran yang pas dengan kantong, pada sampulnya tertulis "Ini properti milik David". Aku mengambil buku itu dan memasukannya ke dalam kantongku untuk berjaga-jaga, namun aku penasaran untuk apa David menyimpan batang besi itu.


Kemudian aku meneliti laci meja tersebut dan menemukan lubang kecil di bawah laci yang cukup muat dengan batang besi kecil itu. Aku memasukan batang besi kecil itu hingga mengangkat salah satu bagian dari laci. Ketika aku melihat ke dalam laci meja itu kembali, aku menemukan berkas-berkas beserta kode brankas yang ada di dapur. Secara spontan aku mengambil berkas-berkas itu dan membuka brankas yang ada di dapur. Aku menemukan beberapa barang dalam brankas itu, berupa uang, dokumen, dan juga...senjata api.


Setelah aku mengumpulkan semua dokumen yang ada, aku mulai membaca dokumen-dokumen tersebut satu persatu untuk mengetahui identitas Dante. Berdasarkan dokumen yang dimiliki David, adanya konspirasi penjabat, perusahaan, hingga militer untuk memonopopli kekuasaan dan juga sumber daya negara. Semua konspirasi itu terhubung dengan satu nama yaitu PT Angkasa Gelap Indonesia. Hal yang aku tahu mengenai perusahaan itu adalah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi yang membantu di bidang kesehatan, agrikultur, dan juga militer. Namun ada beberapa skandal yang menuduh perusahaan itu telah melakukan tindak kejahatan seperti penculikan, perbudakan, hingga transaksi gelap dengan kelompok bersenjata ilegal.


Berdasarkan dokumen yang dikumpulkan David, Angkasa Gelap memiliki konspirasi gelap dalam negara ini. Konspirasi-konspirasi ini sangat berikatan dengan insiden-insiden yang sering terjadi seperti kegiatan teror maupun pemberontakan. Ketika aku meneliti lebih dalam rupanya ada perusahaan ayahku yang ikut terkait dalam konspirasi ini.


Disaat aku hendak melihat lebih dalam tiba-tiba aku mendengar suara kaca pecah dari ruang tamu. Aku segera melihat ke dalam ruang tamu dan menemukan sebuah bola hitam yang berkedip. Pertama kedipan bola itu sangat pelan namun secara perlahan semakin cepat dan terus cepat. Secara spontan aku mencari tempat perlindungan dan tiba-tiba bola yang terlempar itu meledak dan menghancurkan ruang tamu di apartemen David.


Aku berlindung di balik rak dapur sambil mengamankan dokumen yang tersisa. Aku mengintip keadaan ruang tamu yang cukup berantakan dan terbakar. Lalu seorang wanita dengan pakaian loreng tentara masuk ke dalam apartemen sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Haaah... Dante benar-benar merepotkan. Tidak aku sangka bahwa ada seseorang yang mengetahui identitas dia sebagai satu dari sembilan iblis. Mungkin berikutnya aku akan menyingkirkan dia dari posisi dia sebagai 'sieste' karena dia tidak pantas dengan posisi itu" kata wanita itu.


Pertama-tama aku melihat yang ada di sekelilingku. Di dapur, aku menemukan banyak benda yang memungkinkan menjadi senjata mengingat aku menghadapi seorang pembunuh juga. Aku mengambil pisau dapur, merica, satu kemasan tepung terigu, dan korek api. Lalu aku melihat kembali keadaan di ruang tamu. Wanita dengan baju loreng itu terlihat sudah memeriksa ruang tamu dan hendak memasuki kamar David. Aku melihat pintu ke arah luar tertutup rapat sehingga agak sulit untuk keluar begitu saja. Akupun menunggu kesempatan untuk wanita itu masuk ke dalam kamar agar aku bisa kabur keluar.


Setelah wanita itu masuk ke kamar David, dengan segera aku berjalan ke pintu keluar secara cepat namun diam. Ketika aku hendak membuka pintu, tiba-tiba ada pisau yang terlempar dan menancap di pintu. Aku segera membalikkan badanku dan melihat wanita itu hendak melempar pisau lainnya. Disaat wanita itu melempar pisau lainnya, secara spontan aku menghindar ke arah samping dan mendengar tancapan pisau lainnya di dinding. Sedetikpun aku tidak melepaskan pandanganku darinya. Bukan karena pakaiannya yang seksi dan tubuh serta wajahnya yang indah, namun aku takut dia akan melakukan tindakan yang tidak seharusnya seperti membunuhku.


"Hebat juga kau bisa menghindar pisau-pisauku" kata wanita itu.


"Terima kasih atas pujiannya, cara masukmu tadi membuat aku sadar akan kecantikanmu" kataku berusaha memikirkan rencana.


"Kamu ini pandai berbicara juga untuk seorang laki-laki tampan," kata wanita itu menyiapkan pisau lainnya, "namun sayangnya aku harus membunuh saat ini juga. Mungkin aku bisa menikmati tubuhmu yang dibalur oleh darah."


Ekspressi wanita itu seperti wanita yang sedang "panas". Mukanya memerah sambil memainkan pisaunya di tangan kanannya. Entah bagaimana hal itu mempengaruhi diriku, apakah mungkin kondisi normal untuk para pria? Aku sendiri tidak tahu.


Wanita itu melemparkan pisaunya kembali. Aku berusaha menghindar namun aku terjebak di pojok ruangan. Lalu aku mengambil pisau yang menancap pada dinding dan menangkis pisau yang terlempar ke arah ku.


"Lumayan juga kemampuanmu, bagaimana dengan ini!" teriak wanita itu sambil melempar tiga pisau sekaligus.


Aku berusaha menghindar sambil menangkis pisau-pisau tersebut, akan tetapi satu pisau menggores pahaku. Hal itu membuatku terjatuh menahan rasa sakit. Kemudian wanita itu berjalan mendekatiku dan mendorongku ke dinding serta menodongkan pisaunya ke leherku.


"Diam atau mati" bisik wanita itu dengan halus di telingaku.