The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
Welcome to Mother Rosario



Aku membuka mataku dengan berat. Pekerjaan semalam membuatku sangat kelelahan sehingga aku tidur larut malam. Namun alarmku terus berbunyi tanpa henti sehingga aku harus bangun untuk mematikannya. Lalu aku berjalan menuju jendela dan membuka tirai yang tertutup serta membuka jendela ke arah keluar. Hembusan angin pagi menerpa wajahku, bau bunga rosemary tercium dari seberang jalan yang telah dipenuhi dengan orang-orang sibuk. Setelah aku melakukan pemanasan dan olahraga kecil, aku langsung pergi mandi dan mengganti baju tidurku dengan seragam kafe yang biasa kugunakan. Kemudian aku berjalan turun dari kamar tidurku menuju area kafe. Terlihat tiga orang pegawai kafeku telah bersiap-siap untuk membuka kafe.


Kafe ini bernama Mother Rosario. Kafe ini aku urus bersama tiga orang pegawai. Ketiga orang ini membantuku dalam mengurus kafe ini dan juga dalam pekerjaan pembunuh bayaran ini. Setiap pegawaiku memiliki latar belakang yang cukup berbeda-beda dan mereka kutemui ketika aku sedang berlatih selama tiga tahun dan ketika aku melakukan pekerjaan kotor ini. Setelah kejadian malam itu, aku terus berlatih semua ilmu bela diri dan senjata. Selain itu aku berguru pada seseorang.


"Selamat pagi Bos, apa perlu kusiapkan seperti biasa?" tanya seorang laki-laki berambut pirang dengan suara halus itu.


"Ya seperti biasa Aaron, jangan lupa dengan roti yang seperti biasa" kataku menuju meja santaiku yang berada dekat jendela.


Laki-laki itu bernama Aaron. Aaron merupakan seorang imigran dari Eropa. Ayahnya merupakan politikus yang berada di dewan perwakilan rakyat dan ibunya merupakan wanita simpanan politikus tersebut. Ketika Aaron lahir, ibunya membuang dia ke panti asuhan dan sering mengalami kekerasan hingga berumur 14 tahun. Lalu dia dijual kepada pria hidung belang sebagai pemuas nafsu serta dijadikan budak untuk hiburan dalam ring gladiator. Aku menemukan dia ketika Aaron sedang ingin dipakai oleh pemiliknya bersama wanita simpanan lainnya. Ketika aku telah selesai membunuh pemilik Aaron dan hendak menyelesaikan Aaron, Aaron hanya bisa merebahkan dirinya. Dengan tatapan pasrah, dia melihatku seakan dia sudah siap untuk mati. Hal tersebut membuatku enggan membunuhnya dan membiarkannya untuk hidup. Kemudian Aaron memutuskan untuk mengikut aku sebagai pelayan baru. Awalnya aku menolak namun dia memaksa sehingga membuatku harus menerima dia sebagai pegawai dan tinggal di basement kafe. Aaron memiliki kemampaun cukup handal dalam senjata dan bertarung sehingga dia menjadi seseorang yang mengurus semua peralatan dan perlengkapanku serta menjadi penjaga kafe. Meskipun dia ahli bertarung, dia memiliki sensitivitas panas yang tinggi. Hal tersebut membuat dia cocok dalam roasting bean dan membuat kopi house blend khas kafe ini.


"Jadi kapan Bos melakukan misi berikutnya?" tanya Aaron.


"Mungkin dalam dua minggu lagi dan aku membutuhkan peralatan yang cocok di siang hari, tepatnya di area hutan. Karena kemungkinan area terpencil aku akan menggunakan perlengkapan jarak dekat. Namun untuk berjaga-jaga aku akan membutuhkan pistol dan senapan shotgun kaliber 0.3 mm" kataku memotong roti.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menanjamkan beberapa pisau, pedang katana, dan menyiapkan alat lainnya" kata Aaron, "Saya permisi dulu Bos."


Setelah Aaron pergi, aku menyeruput kopi panas dan menyantap roti dagingku. Kemudian seorang perempuan dengan tubuh seperti anak kecil menghampiriku sambil membawa dokumen-dokumen.


"Selamat pagi Kak Leo, aku ingin melaporkan mengenai keuangan kafe untuk bulan ini" kata perempuan itu dengan suara seperti anak kecil sambil menyerahkan dokumen keuangan.


"Selamat pagi Macaron, sini biar aku lihat," kataku sambil mengambil dokumen itu.


Aku melihat dokumen tersebut dengan seksama dimana dokumen-dokumen tersebut berisi keuangan yang ada di kafe ini, "Ok, keuangan kita stabil ya... cuma ada pengeluaran lebih di bagian makanan, namun masih aman."


Lalu aku menyerahkan dokumen keuangannya kembali dan Macaron menyerahkan satu dokumen lagi, "Ini merupakan data terbaru mengenai area kota beserta dengan orang-orang penting yang di dalamnya."


"Terima kasih, apakah kau sudah memeriksa semua akses dan aliran data yang masuk ke mereka?" tanyaku sambil memeriksa dokumen satu lagi.


"Oke! Kerja bagus Macaron, kamu bisa kembali ke kasir sekarang" kataku sambil mengusap kepalanya Macaron.


"Hehe... baik Kak aku akan kembali" kata Macaron sambil berlari ke kasir.


Macaron merupakan perempuan keturunan Jepang yang cukup ceria meskipun dia memiliki tubuh seperti anak-anak, meskipun begitu dia merupakan wanita dewasa. Dia merupakan seorang hacker kelas kakap yang berhasil menjebol keamanan nasional seperti FBI dan CIA. Aku bertemu dengan dia ketika dia sedang kabur dari yakuza di kota Tokyo. Pada saat itu aku sedang bertugas membunuh seorang penjabat yang diduga melakukan korupsi dan bekerja sama dengan yakuza, hal itu membuatku mengalami kesulitan untuk menerobos keamanan yang sangat ketat. Kemudian aku mendengar keberadaan Macaron dan mencari dia untuk menawarkan kerjasama. Kerjasama yang kutawarkan adalah apabila dia membantuku maka aku akan menuruti semua permintaannya. Awalnya aku mengira Macaron akan menolaknya dikarenakan membantu orang yang tidak dia kenal, namun tidak kusangka dia mau membantuku dengan imbalan membagi sebagian hasil dari pembunuhan itu. Setelah misi kami berhasil aku membagi hasilnya sesuai dengan perjanjian kontrak, akan tetapi entah bagaimana Macaron ingin bekerja denganku sehingga membuat dia pindah negara dan mengganti kewarganegaraan. Sampai saat ini Macaron bekerja sebagai sekretaris dan tukang kasir di kafeku serta orang yang mengumpulkan informasi melalui dunia maya.


Aku segera menyelesaikan sarapanku dan berjalan menuju wastafel dan mencuci piring bekas aku makan. Kemudian aku segera menyiapkan diriku untuk bekerja di bagian bar. Disaat aku sedang mengecek perlengkapan dan ketersediaan kopi, seorang pria berpakaian baju seragam pegawai kafe dengan penutup mata menghampiriku.


"Selamat pagi Tuan Leonardo," sapa orang itu.


"Selamat pagi Albert," jawabku, "jadi bagaimana jadwal untuk aku hari ini?"


"Hari ini anda akan bertemu klien jam lima sore, dilanjutkan dengan latihan fisik jam tujuh malam, dan terakhir persiapan untuk pekerjaan betikutnya. Apakah siang ini akan anda ke tempat 'itu'?" tanya Albert.


"Benar aku akan kesana siang ini, hubungi aku apabila klien datang lebih awal" kataku sambil memeriksa botol cold brew.


"Baiklah kalau begitu tuan, saya akan kembali ke pos saya" kata Albert pergi meninggalkanku.


Albert merupakan orang yang cukup serius dan tidak menunjukkan banyak emosi. Aku bertemu dia ketika melatih diriku sebagai pembunuh bayaran. Pada saat itu Albert merupakan pembunuh bayaran yang dikenal sebagai Mad Hatter. Dia merupakan pembunuh yang dikenal meninggalkan korbannya dengan keadaan tidak jelas. Ada korbannya meninggal seperti bunuh diri dan ada juga korbannya meninggal dalam keadaan potongan abstrak. Ketika aku bertemu dia, Albert sedang duduk di bar sambil menikmati vodka dinginnya. Pandangannya begitu dingin dan tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan. Pada saat itu aku berencana bertemu klien dengan identitas rahasia sehingga membuatku harus mencari tahu siapa orangnya. Hal yang tidak kusangka adalah Albert merupakan klien yang memintaku untuk bertemu dia dan permintaan dia adalah untuk memperkerjakan dia sebagai pelayan pribadiku. Hal ini tentu membuatku terkejut dimana seorang pembunuh bayaran terkenal ingin bekerja di bawahku. Ketika aku menanyakan alasan, dia hanya menjawab bahwa itulah keinginan dia yang ingin dilakukan yaitu untuk mengikuti aku. Awalnya aku curiga dengan dia, namun aku tetap menerimanya. Setelah aku pelajari, Albert memiliki perjanjian dengan ayahku apabila ada sesuatu yang terjadi dengan dia maka dia harus menjadi pembantuku, sehingga hal itu membuat dia setia kepadaku.


Aku beserta karyawan kafeku mulai menjalankan bisnis seperti biasa. Aaron dan aku berada di bagian brewing, Macaron bagian kasir, dan Albert bagian pelayanan. Kegiatan kami dilakukan dari pukul delapan pagi hingga dua belas siang lalu kami istirahat dan dilanjut dari pukul satu siang hingga jam enam sore. Namun pada hari ini aku akan pergi ke suatu tempat pada pukul satu siang sehingga aku harus menyerahkan kafe ke bawahanku. Aku sangat memperayai mereka, kalaupun mereka mau mengkhianati aku maka aku akan memburu dan membunuh mereka.


Pada pukul setengah satu siang, aku pergi ke suatu tempat dengan mengendarai motor chopper milikku. Di perjalanan aku melihat jalanan cukup ramai dengan kendaraan. Di pinggir jalan terlihat orang-orang berlalu lalang dan juga banyak anak-anak jalanan yang berusaha menyambung hidup. Di dunia yang aku tinggal saat ini merupakan dunia yang busuk dimana banyaknya orang-orang serakah yang dingin ingin menguasai negara. Saat ini sudah banyak penjabat, mafia, ataupun penjahat lainnya yang sudah menguasai beberapa sektor di negara dan melakukan tindak kejahatan seperti prostitusi, narkoba, hingga membunuh. Apabila dilihat dari luar memang terlihat seperti kota yang bahagia dimana masyarakat hidup bahagia dan dapat menjalankan kehidupan dengan baik, akan tetapi dibalik semua senyum indah itu terdapat kebusukan yang terselubung di antara kebahagiaan itu.


Setelah setengah jam perjalanan aku tiba di tempat itu. Tempat tersebut cukup sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang dan batu-batu nisan tersusun sejajar dengan rapi. Ya, tempat yang aku datangi adalah kuburan. Aku berjalan menyusur di antara batu-batu nisan, sampai aku tiba dan berdiri di dekat salah satu kuburan seseorang. Kuburan itu berbentuk sepetak tanah dengan batu nisan tinggi. Tertulis di kuburan itu, "Disini telah beristirahat saudara kami yang terkasih, David Setiawan."