
Setelah bertemu dengan Angelyn, aku memutuskan untuk segera kembali ke kafe untuk beristirahat. Aku pikir apabila aku segera mengikuti dia saat itu hanya akan menambah kecurigaan dia kepadaku, maka dari itu aku akan menjaga jarak terlebih dahulu dengan Angelyn agar dia tidak curiga denganku. Disaat dia pergi meninggalkan ku, aku memasang alat pelacak untuk memastikan posisinya sambil menggali informasi mengenai dia.
Tiga hari berlalu.
Hari ini aku telah selesai melakukan patroli keliling kota memastikan keamanan kota dari tindak kejahatan. Aku belum menemukan informasi terbaru dari Angelyn. Dalam tiga hari tersebut dia hanya melakukan kegiatannya seperti biasa seperti kuliah dan bekerja. Setelah patroli aku segera kembali ke kafe untuk kembali bekerja sambil mengawasi bagaimana bisnis berjalan. Ketika aku masuk, Albert menyambutku di depan pintu dan membantuku melepaskan jaket. Ia pu menyerahkan handuk dingin untuk mengelap keringat mengingat udara di luar yang cukup panas. Sambil berjalan ke dalam kami berdua berbincang membicarakan kegiatan hari ini.
"Bagaimana perjalanan hari ini Tuan?" tanya Albert sambil melipat jaketku.
"Cukup melelahkan, aku belum bisa menemukan petunjuk pasti mengenai target kita kali ini," kataku sedikit menghela nafas sambil mengelap keringat
"Ada ingin sesuatu untuk meringankan lelah anda Tuan?" tanya Albert padaku.
Aku berpikir sesaat, mungkin kopi yang pahit bisa membantuku berpikir untuk pekerjaan kali ini, "Satu long black dan sesuatu yang manis dengan rasa susu."
"Baik Tuan" kata Albert sambil sedikit membungkuk.
Sambil berjalan ke dalam kafe aku bertanya kepada Albert yang mengikutiku dari belakang, "Bagaimana jadwalku untuk sore hari ini?"
"Sore hari ini anda ada jadwal untuk kalibrasi kopi dan latihan untuk misi selanjutnya," jawab Albert.
"Begitu ya, sepertinya aku akan melakukan kalibrasi kopi sekarang. Tolong kamu siapkan makanan dan dokumenku di tempat biasa aku bekerja, untuk kopi aku yang akan menyiapkannya sendiri," kataku kepada Albert.
Ketika aku sampai di bar, aku segera melakukan kalibrasi kopi sambil membuat satu long black untuk aku nikmati sambil bekerja. Lalu aku membawa kopi tersebut ke tempat yang telah disiapkan Albert. Setelah aku duduk aku membuka dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kafe dan juga pekerjaan gelapku. Mother Rosario mungkin terlihat seperti kafe biasa yang menyediakan kopi dan makanan kepada pelanggan, namun kafe ini juga benteng pertahanan dan juga markas utama untuk operasi misi. Untuk memastikan pekerjaan kami berjalan dengan baik, aku selalu memonitor kondisi kafe untuk menutup kemungkinan kebocoran data dan memastikan keamanan kafe.
Satu jam telah berlalu. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku telah selesai memeriksa semua dokumen penting dan memyerahkannya kepada Albert untuk diteruskan kepada Macaron dan Aaron. Aku melihat keluar jendela, terlihat langit sudah mulai gelap dan orang-orang sudah mulai berangkat pulang dari tempat kerja. Disaat aku melihat pemandangan kota, aku mendengar suara yang begitu familiar.
"Terima kasih ya. Mungkin untuk pertama aku ingin mencoba sesuatu yang manis. Apa kalian punya rekomendasi?"
Aku menoleh ke arah suarah itu. Terlihat Angelyn sedang duduk melihat menu dan Macaron berdiri sebelah Angelyn. Aku cukup terkejut melihat Angelyn di sini karena aku tidak menyangka akan bertemu dia kembali dalam waktu dekat. Macaron yang melayani Angelyn tidak menyadari bahwa Angelyn adalah target kita dalam misi yang diberikan oleh Tuan Jin.
"Sesuatu yang manis ya? Mungkin Kakak bisa mencoba cheesecake berry. Kebetulan makanan ini cocok dengan kopi susu seperti cappuccino dan latte," jawab Macaron dengan ramah.
"Hmm..." kata Angelyn melihat buku menu, "kalau begitu aku pesan cheesecakenya dengan satu cappuccino panas."
"Baik! Satu cheesecake berry dan satu cappuccino panas, mohon ditunggu ya" kata Macaron sambil mencatat pesanan Angelyn.
Disaat aku berlarut dalam mengawasi, tiba-tiba Macaron muncul dari belakangku dan bertanya, "Kak Leo sedang apa?"
Aku sedikit tersentak mendengar panggilan Macaron. Sambil melihat dia aku berkata, "Bukan apa-apa Macaron..."
Macaron melihat ke arahku, lalu dia melihat ke arah Angelyn. Dia melakukan hal tersebut sampai tiga kali dan sampai dia tersenyum geli, "Kak Leo... Jangan-jangan... Kakak tertarik dengan dia ya?"
Tiba-tiba mukaku terasa panas. Panas yang aku rasakan bukan panas akan amarah melainkan rasa gugup yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun berusaha menyembunyikan ekspresiku dari Macaron.
"Macaron, tolong jangan berpikiran aneh-aneh," kataku membuang muka.
Macaron dengan tersenyum terus mendorongku sambil mulai mecolek bahuku, "Ayolah Kak. Aku tahu kalau Kakak menyembunyikan sesuatu pasti akan membuang muka."
"Macaron, kamu tahu kalau kita tidak boleh bergantung pada perasaan sesaat ketika bekerja bukan?" tanyaku sedikit serius.
"Tapi bukan berarti kita mengabaikan perasaan kita juga dong Kak," balas Macaron dengan senyum usilnya, "aku sempat dengar kalau kita mengabaikan perasaan kita maka akan sesuatu buruk yang terjadi."
Aku sedikit mengernyitkan jidat dan bertanya, "Seperti apa?"
"Entahlah, mungkin dia diambil oleh seseorang sebelum kita bisa menyatakan cinta kita," jawab Macaron.
Aku menghela nafas cukup panjang, "Tidak mungkin hal seperti itu bisa terjadi begitu saja bukan? Lebih baik kita fokuskan apa yang ada di depan kita sekarang daripada terlibat dalam konflik yang tidak perlu. Sekarang tolong kamu bawa dokumen-dokumen ini, semuanya telah aku periksa dan sudah cukup baik. Nanti akan ada beberapa hal yang perlu kamu dan Aaron lakukan nantinya."
"Baik Kak Leo," jawab Macaron.
Kemudian aku berdiri meninggalkan meja dan menyerahkan dokumen itu kepada Macaron. Setelah itu aku memeriksa bagian bar untuk memastikan apakah semua bekerja dengan baik. Aku meminta Aaron membuat satuĀ cappucinno dan membawa ke meja yang aku gunakan untuk bekerja tadi. Sambil menunggu aku berjalan kembali ke meja kerjaku. Setiba disana aku mendengar suara yang familiar memanggilku.
"Leo?"
Mataku terbuka lebar. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Terlihat Angelyn berdiri di depan sambil membawa tasnya. Ketika melihat wajahnya aku sedikit tertegun. Tidak menyangka Angelyn akan menghampiriku begitu saja ketika kita baru bertemu tiga hari lalu.
Dengan tenang aku membalas panggilan Angelyn, "Halo Angelyn."