
Setelah semua penyiksaan yang aku lakukan kepada Quetzalcoatl, aku menutup semua luka tusuk milik wanita itu dengan perban dan meletakkan dia di atas sofa yang hampir hancur akibat ledakan tadi. Setelah aku membereskan ruangan yang berantak dan beristirahat, aku hendak meninggalkan tempat itu hingga Quetzalcoatl mulai memperoleh kesadaran dan memanggilku.
"Hei... kau sudah ingin pergi...? Apa kau yakin tidak ingin membunuhku?" tanya Quetzalcoatl dengan lirih.
"Setelah menyiksamu dengan sadis tadi? Aku tidak sudi..." kataku dengan tegas berjalan ke depan pintu.
Quetzalcoatl pun bangkit dan duduk di sofa, "Sebelum kau pergi, boleh aku tahu namamu?"
Aku pun menoleh kebelakang menghadap ke arah Quetzalcoatl, "Apa perlu aku memberitahu namaku kepada orang yang ingin membunuhku barusan?"
Quetzalcoatl hanya tersenyum, "Begitu cara kamu bermain ya... kalau begitu aku pastikan kau mengingat namaku..."
"Orang-orang mengenalku sebagai Quetzalcoatl, tapi untukmu, kamu bisa memanggilku dengan nama Queen. Kalau kamu mau kamu bisa menambahkan kata "sayang" atau tidak kata "cinta" di belakangnya" kata Quetzalcoatl dengan sedikit tersenyum.
Setelah mendegar namanya, aku sudah mulai tidak peduli dan membuka pintu apartemen. Lalu wanita itu memanggilku sekali lagi sambil memberikan peringatan
"Oh aku sarankan kamu segera ke rumah sakit, mungkin temanmu sedang dalam bahaya," kata Quetzalcoatl.
Ketika aku mendengar perkataan Quetzalcoatl, aku terdiam mematung. Secara spontan aku menoleh ke arah Quetzalcoatl, dengan mata tajam dan bertanya sambil mendekati dia, "Apa maksudmu?"
Quetzalcoatl kemudian duduk di sofa, dia mengambil sebatang rokok dari kantongnya dan menyalakannya. Setelah menarik hisapan pertama, Quetzalcoatl menjelaskan perkataanya kepadaku, "Temanmu sedang dalam bahaya besar. Ketika dia mengenal identitas Dante, bos kami menduga bahwa temanmu terlibat dalam rencana kami dan hendak membunuhnya. Aku tidak tahu secara pasti namun kelihatannya temanmu merupakan penghalang besar untuk bos kami."
Setelah mendengar perkataan itu telingaku menjadi panas. Aku mengambil pisau yang ada di dekatku dan menodongnya ke arah mata Quetzalcoatl, "Aku sudah cukup muak dengan permainanmu, jangan kamu coba-coba membohongiku!"
"Aku memang masokis... tapi aku bukan pembohong" kata wanita itu.
Aku melihat tatapan mata Quetzalcoatl beberapa saat. Tidak ada tanda dia memang berbohong. Lalu aku meletakan pisau yang ada di tanganku dan berjalan ke luar.
"Apa kamu tidak takut, bocah tampan?" tanya Quetzalcoatl.
Aku berhenti di depan pintu dan menengok sedikit ke arah wanita itu, "Entahlah aku sendiri juga tidak tahu..."
Aku pun pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah aku pergi meninggalkan apartemen David, aku segera bergegas ke tempat David dirawat. Ketika aku berjalan ke sana, terlihat dari jauh ada asap tebal yang berasal dari rumah sakit itu. Dengan panik aku mempercepat pergerakanku meskipun harus menahan rasa sakit. Disaat aku tiba terlihat gedung tersebut terbakar besar. Orang-orang sekitar rumah sakit berlarian panik, para dokter dan tenaga medis berusaha menyelamatkan para pasien serta para polisi dan pemadam kebakaran berusaha mengamankan tempat itu sambil memadamkan api.
Aku berusaha mencari David di antara kerumunan tapi aku tidak menemukannya. Kemudian aku melihat salah seorang perawat yang diangkut menuju ambulans mengalami luka yang mirip dengan luka tusuk berbicara, "Di dalam masih ada satu pasien lagi bernama David tolong selamatkan dia."
Setelah mendengar ucapan perawat tersebut aku langsung tersentak. Api yang berkobar begitu besar melahap setengah rumah sakit. Aku berusaha mencari cara agar aku bisa menyelamatkan David. Lalu aku melihat helm motor full face dan orang-orang yang saling memadamkan dengan ember berisikan air. Tanpa berpikir panjang aku mengambil dan mengenakan helm tersebut serta menyiram diriku dengan air yang ada di salah satu ember. Kemudian aku masuk menerobos barikade pemadam kebakaran dan menerobos masuk rumah sakit yang terbakar itu. Disaat aku sudah di dalam, aku melihat lorong-lorong rumah sakit dipenuhi asap dengan api yang menyala. Aku mengalami kesulitan bernafas namun aku tetap berjalan mencari David. Sambil berjalan aku menemukan kotak P3K yang masih utuh dan aku mengambil dua tabung oksigen kecil untuk membantuku bernafas didalam. Tanpa basa-basi aku segera berjalan menuju kamar David.
Ketika aku menyusur lorong, aku melihat bayang-bayang di balik asap. Seperti ada dua org yang berdiri di tengah lorong. Aku terus berjalan maju sampai aku dapat melihat dengan jelas dan aku menemukan seorang pria berukuran besar mencekik seorang pasien. Orang yang mencekik itu merupakan pria tinggi dengan setelan cokelat panjang seperti detektif di film-film dan mengenakan topi fedora cokelat. Dia menggunakan sepatu boots sehingga ia terlihat tinggi. Wajahnya ditutupi perban putih dan matanya ditutupi kacamata hitam. Kemudian dia melihat ke arahku sambil berkata, "Masih ada yang tersisa rupanya."
Aku tertegun melihat orang tersebut. Api yang panas dan asap yang tebal menambah rasa takutku. Ketika aku melihat orang itu aku merasa kalau aku mungkin tidak akan selamat. Aku melihat pasien yang dicekik pria tersebut. Ternyata orang yang dicekik adalah David. David terlihat sangat berusaha untuk lepas, namun cekikan pria tersebut terlihat sangat kuat sehingga David sulit melepaskan dirinya. Tanpa pikir panjang aku maju menyerang pria tersebut dengan cara menendangnya, namun kakiku ditangkap dan tubuhku dibanting ke arah tembok. Hal tersebut membuatku kehilangan kesadaran, aku melihat David berusaha mengucapkan sesuatu sambil memukul pria tersebut. Akan tetapi pria tersebut langsung mematahkan lehernya David dan mejatuhkan tubuhnya ke lantai. Ketika aku melihat hal itu, aku berusaha merangkan meraih David, akan tetapi rasa sakit yang aku terima membuatku kehilangan kesadaran. Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat pria tersebut mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Ia berkata, "Disini Belial, aku sudah menyelesaikan misiku."
Lalu semuanya menjadi gelap sampai 5 jam kemudian.
Aku terbangun di salah satu fasilitas kesehatan. Semuanya masih terlihat samar-samar sehingga aku tidak bisa mengenali tempat dimana aku berada. Aku mendengar orang-orang berlalu lalang sibuk seakan ada sesuatu yang terjadi. Lalu aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi, hal pertama yang muncul di benakku adalah kematian sahabatku di dalam kebakaran yang hebat itu. Seketika itu aku langsung panik dan memaksakan diriku bangun untuk mencari David. Namun disaat aku berusaha beranjak dari tempat tidur, rasa nyeri yang ada di kakiku menusuk dengan keras sehingga aku langsung terjatuh dari tempat tidur dan menimbulkan suara yang keras. Beberapa saat kemudian beberapa perawat dan polisi masuk ke dalam ruangan. Para perawat membantuku berdiri dan menempatkan aku kembali ke tempat tidur. Disaat sudah di tempat tidurpun aku masih meronta mencoba agar aku bisa mencari sahabatku itu. Lalu seorang polisi dengan jaket denim masuk ke ruangan menghampiriku dan berkata, " Tenang kamu aman disini."
Aku melihat polisi itu. Polisi tersebut menggunakan seragam dengan jaket denim berwarna biru tua. Rambutnya dicat warna merah velvet dan mengenakan penutup mata di mata sebelah kirinya. Terdapat lencana di dada kirinya dan pistol yang terikat di pinggangnya. Tingginya sekitar 176 cm dan tubuhnya cukup berotot. Kemudian aku bertanya pada polisi itu, " Dimana aku?"
" Perkenalkan, namaku agen William. Kamu berada di kantor polisi cabang" jawab polisi itu, "Kami menemukanmu dan-
"Tolong beritahu aku dimana David!" teriakku memotong jawaban polisi yang bernama William itu.
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. William melihatku dengan serius namun matanya menunjukkan rasa iba yang mendalam. William menghela nafas dan berkata, " Apa kamu masih bisa berjalan?"
Aku berusaha berdiri lagi meskipun dengan susah payah. William yang melihatku segera meminta perawat memberikanku tongkat untuk membantuku berjalan. Setelah diberikan tongkat William mengajakku ke suatu ruangan. Ketika kami sampai aku melihat tulisan yang ada di pintu ruangan tersebut yang bertuliskan 'Kamar Mayat'.
Jantungku berdetuk dengan kencang. Rasa pusing, mual, dan takut menyatu membuatku kehilangan keseimbangan kembali. William berdiri di depanku dan memegang kedua bahuku untuk memastikan aku tetap sadar. Aku menatap mukanya seakan aku tahu apa yang ingin dia ucapkan. Tanpa panjang lebar aku berkata, "Aku siap..."
William mengangguk dan membuka pintu kamar mayat. Disaat pintu terbuka aku melihat sahabatku tertidur di atas meja jenazah dan aku menyadari bahwa sahabatku sudah tiada di dunia ini lagi sekarang.