The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
The Rabbit that Smell Like a Wolf (4)



"ANGELYN!"


Aku berlari ke arah Angelyn dan menangkapnya sebelum kepalanya membentur ke tanah. Dengan awas aku melihat sekitarku untuk mencari dimana posisi penembak Angelyn. Ketika aku mendengar suara senapan kembali, secara reflek aku menghindar sambil melindungi Angelyn. Namun tembakan yang terjadi secara berurutan sehingga aku tidak sempat untuk menghindar. Akan tetapi Albert tiba-tiba muncul dan menangkis peluru tersebut dengan pisau miliknya.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Albert.


Aku melihat Albert dan menjawab, "Ya, aku tidak apa-apa."


"Boss!"


"Kak Leo!"


Aku menoleh ke belakang dan melihat Aaron dan Macaron berlari ke arahku. Terlihat Macaron membawa kota medis untuk pertolongan pertama dan Aaron membawa perisai dan dua senjata. Dengan cepat Aaron menancapkan perisai yang dia bawa dan perisai tersebut membuka sayapnya dan melindungi kami. Sedangkan Macaron segera memeriksa Angelyn dan berusaha menghentikan pendarahan di dadanya. Angelyn mulai kehilangan kesadaran dan perlahan melihat ke arahku.


"Leo..."


Aku masih terus menekan lukanya, akan tetapi beberapa saat kemudian Angelyn kehilangan kesadarannya.


"Lukanya cukup parah, kita harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat!" seru Macaron yang berusaha menolong Angeyln.


Terdengar suara pantulan peluru yang terus terpantul dari perisai Aaron. Si penembak terus menembakan peluru-pelurunya seakan memastikan targetnya harus terbunuh dan mencegah kami untuk bergerak. Tanpa membunuh si penembak maka kami tidak akan bisa menyelamatkan Angelyn. Kemudian Aaron melemparkan senjata yang dia bawa kepadaku dan Albert.


"Ini adalah prototype dari senjata terbaru yang aku buat! Senjata ini dilengkapi teknologi nano yang baru kita peroleh dari misi terakhir jadi mereka akan melindungi kalian dari tembakan yang diluncurkan oleh si keparat itu!" seru Aaron.


Aku melihat senjata tersebut. Bentuknya seperti pistol dan perisai. Larasnya pistolnya cukup pendek namun cukup untuk menghadapi musuh jarak dekat. Perisainya cukup lebar untukmenghalangi kepala sehingga dapat menghalangi titik vital kepala dan panjangnya cukup melindungi pergelengan hingga siku. Di salah satu sisi senjata tersebut terdapat layar yang menunjukkan berbagai menu aplikasi dan sistem, sepertinya senjata ini merupakan senjata multi fungsi yang dapat diaplikasi dalam berbagai bentuk. Sekilas aku melihat opsi perisai pada layar menu dan menekannya, lalu perisai lengan yang ada di pistol tersebut terbuka membentuk perisai lingkaran.


Aku pun melihat Albert dan memberikan kode untuk maju dan Albert mengankap perintahku. Kemudian kami maju menghadapi penembak itu. Aku berada di depan Albert sambil menggunakan perisai dari senjata baru tersebut. Beberapa kali peluru terlontar ketika mengenai perisai sehingga membuat perisai tersebut retak, meskipun begitu retakan perisai tersebut langsung segera tertutup seakan menjadi baru kembali. Albert yang mengikuti dari belakang melontarkan kait pengikat dan mengejar penembak yang berada di atap gedung dengan cara menarik kait tersebut dan melontarkan dirinya. Ketika dia sudah sampai penembak tersebut mengeluarkan senjata laras pendeknya namun Albert melemparkan beberapa pisau sehingga melukai tangan penembak tersebut. Dengan segera Albert mengikat penembak tersebut dengan tali yang dia gunakan untuk naik dan menghentikan pergerakannya.


Ketika aku telah menyusul Albert, aku menemukan penembak tersebut telah duduk bersila di dekat Albert. Orang tersebut mengenakan celana panjang hitam dan sepatu kets. Pada bagian atasnya terlihat ia mengenakan hoddie dan jaket berwarna hitam hingga membuat wajahnya tidak terlihat. Aku mendekati penembak tersebut dan menemukan keanehan dari orang itu. Sambil berjalan aku menemukan tidak ada darah yang tercecer padahal pisau Albert sudah terlempar mengenai orang itu. Aku melihat tubuh penembak itu dengan detil dan aku menemukan percikan listrik yang muncul dari lengan penembak itu. Disaat aku membuka penutup kepalanya rupanya orang tersebut bukan manusia namun android.


"Tuan ini..." kata Albert sedikit terkejut.


Aku melihat seksama android tersebut. Model android tersebut seperti dari generasi 3 dari 6 generasi andorid yang ada. Generasi tersebut merupakan titik awal dari andorid dalam wujud manusia. Andorid generasi tersebut memiliki wajah dan kepala yang cenderung berkotak-kotak. Terdapat lubang speaker pada bagian mulut dan terdapat kamera bebentuk lingkaran besar yang menutup setengah wajahnya sehingga memberikan kesan cyclpos dari andorid tersebut.


"Sial! Aku tidak menyangka akan tertangkap seperti ini" kata android tersebut.


Mataku terbuka lebar. Tingkah android tersebut berlaku seperti manusia umumnya. "Jangan-jangan, soul hybridization ya?"


Soul hybridization atau yang dikenal sebagai S.H adalah teknik memindahkan kesadaran manusia ke dalam mesin. Teknik ini dugunakan untuk orang-orang yang ingin melanjutkan kehidupan untuk waktu yang cukup panjang. Akan tetapi teknik ini dilarang digunakan karena prosedurnya dilakukan dengan memindahkan otak manusia ke dalam mesin dan banyak penjahat yang memanfaatkannya untuk menciptakan pasukan khusus.


Albert dengan ekspresi dingin mengeluarkan pisau panjangnya dan menodong leher android tersebut. "Kalau kau ingin bersama dengan badanmu, beritahu siapa yang mengirimmu?"


"Huh?! Kamu pikir aku akan memberi tahumu?!" teriak android itu.


Setelah provokasi andorid itu, Albert menusuk leher android tersebut hingga leher tersebut mengeluarkan percikan listrik.


Android itu merintih kesakitan. Suatu keanehan untuk seorang andorid bisa merasakan rasa sakit. Berdasarkan tipe-tipe yang ada tidak ada andorid yang bisa merasakan sakit dari lingkungan sekitar seperti serangan fisik, namun mereka masih bisa merasakan sekeliling mereka menggunakan sensor yang ada. Bahkan untuk S.H sekalipun belum ada yang mampu memberikan rasa layaknya manusia umumnya.


"Albert hentikan" perintahku.


Albert melihatku dan mencabut kembali pisaunya dari leher andorid itu. Aku mendekati andorid itu dan menarik kepalanya sehingga matanya dapat melihat ke arahku.


"Percuma kamu melawan. Setelah kamu melihat kami, mustahil untuk membiarkanmu hidup. Kamu bisa memberi tahu informasi siapa yang mengirimmu dan mendapatkan kematian yang cepat atau kamu bisa memilih kematian yang lama dan menyakitkan" kataku dengan dingin.


Android itu masih bersikap angkuh. "Hah?! Kamu pasti cuma membual!"


Aku melihat senjata baruku dan melihat menu 'setruman listrik'. Ketika aku menekannya, senjata itu berubah menjadi stun gun dan aku menekan bagian lengan android itu dan menyetrumnya sehingga Andorid itu berteriak kesakitan. Mengingat andorid tersebut bisa merasakan kesakitan maka pasti ada sensor yang mengatur impuls menuju sistem android yang mengolahnya menjadi rasa sakit.


"Tolong... jangan lakukan itu..." rintih andorid itu.


Mendengar permohonan andorid itu, aku langsung menyetrumnya lagi hingga badan android tersebut mulai mengeluarkan asap. Alasan kenapa aku melakukannya ialah untuk memastikan bahwa orang yang diinterogasi menjawabnya lebih serius dan tidak berbohong. Apabila aku menemukan sedikit kebohongan maka aku akan melakukan penyiksaan kembali sampai dia menyerah dan menjawab. Teknik ini juga sering digunakan Albert dalam masanya dan terbukti cukup efektif hingga sekarang.


Setelah aku menyetrumnya sebanyak empat kali, android mulai membuka semua informasi yang dia tahu.


"Baik-baik aku akan memberi tahu kalian! Aku memperoleh perintah dari atasanku bahwa aku harus membunuh seorang gadis dan sebagai bayarannya aku akan dikembalikan ke tubuh manusia kembali! Dia berkata bahwa gadis itu harus segera dibunuh dikarenakan mengancam klien kami!" jelas android itu.


Rupanya andorid tersebut bergerak dalam perintah seseorang terutama orang tersebut merupakan pihak ketiga. Maka ada seseorang yang menarik benang merah dengan cara menyewa para pemburu bayaran.


"Siapa atasanmu? Di bawah organisasi apa kalian?" tanyaku kembali.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu dia memiliki kode nama 'Silent Viper'. Organisasi kami merupakan organisasi misterius yang bernama Taisen. Kami para anggota bawah tidak tahu siapa atasan kami dan hanya berkomunikasi melalui kode nama" jelas android itu kembali.


Taisen. Salah satu organisasi gelap yang menguasai daerah timur dan benua Asia. Organisasi tersebut dikenal dengan pengembangan obat-obatan terlarang dan menjadi banda narkotika terbesar di Asia. Selain narkotika mereka juga menyediakan jasa pembunuh bayaran dan racun mereka dikenal sangat kuat, berbahaya, dan kompleks. Aku pernah berurusan dengan mereka ketika salah satu anggota mereka melakukan transaksi gelap di pelabuhan timur. Sejak saat itu aku dijadikan salah satu buronan oleh organisasi mereka dan banyak dari mereka mengirimkan anggota mereka untuk membunuhku, akan tetapi semua itu berhenti ketika tidak ada yang berhasil sehingga mereka menganggap aku cukup berbahaya untuk berurusan dengan mereka.


"Pertanyaan terakhir... Siapa klienmu?" tanyaku dengan nada sadis.


Andorid itu terdiam. Sepertinya dia diancam untuk tidak membeberkan informasinya.


"Haah..." hela android itu, "nama klien kami ada-da-dalah..."


Android itu bertingkah aneh. Perlahan-lahan tubuhnya memerah dan banyak percikan listrik yang muncul dari tubuhnya. Secara refleks, aku dan Albert melompat mundur dan memasang perisai kami. Beberapa saat kemudian android itu menghancurkan diri menjadi partikel-partikel debu dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Aku melihat sekelilingku, tidak ada tanda-tanda ada yang mengawasi atau mungkin mereka sudah kabur.


"Albert, segera periksa daerah ini dan pastikan apakah ada yang mengawasi kita barusan" perintahku kepada Albert.


Albert membungkukan dan berkata, "Baik Tuan."


Aku berjalan ke sisi gedung dan melihat Mother Rosario. Aaron dan Macaron sudah tidak ada di tempat kami ditembak, sepertinya mereka telah pergi untuk menyelamatkan Angelyn. Lalu melihat ke langit malam sdan menarik nafas yang cukup dalam. Hari yang cukup berat, itulah yang muncul di pikiranku. Tidak ada bintang yang muncul dan hanya bulan yang terlihat malam itu.


"Sepertinya pekerjaan kali ini lebih rumit dari yang aku perkirakan sebelumnya."