The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
A Key to Eternal Hell (2)



Nafas wanita itu terengah-engah. Secara perlahan dia membuka restleting bajunya sehingga aku bisa melihat pakaian dalam wanita itu yang berupa sport bra. Kemudian tangannya meraih ke arah bajuku dan merobek bajuku sehingga membuat aku bertelanjang dada. Lalu secara halus, wanita itu memegang tubuhku dan meraba tubuhku secara halus. Tubuhku mulai memanas dan pandanganku mulai tidak fokus ketika melihat ekspresi genit wanita itu dengan rambut ombre pirangnya.


"Oh kau memiliki badan yang bagus sekali. Aku akan menikmatinya setelah aku menggores lehermu yang penuh dengan bau keringat ketakutanmu dan menikmati darah yang mengucur ke tubuhmu ini" kata wanita itu secara seduktif.


Disaat wanita itu meraba-raba tubuhku, aku berpikir keras untuk terbebas dari cengkraman wanita itu. Lalu aku mulai meraba-raba kantongku untuk mencari sesuatu. Kemudian aku memegang tepung terigu yang kuambil beberapa saat lalu. Secara spontan aku melempar tepung terigu ke arah wajah wanita itu dan membuat wanita itu mundur beberapa langkah sambil terbatuk-batuk sehingga aku bisa bernafas dengan tenang.


"Uhuk, beraninya kau menyakiti wajah wanita" kata wanita itu sambil terbatuk, "sayang sekali tapi aku akan menyelesaikanmu dengan segera."


Wanita itu mengambil sesuatu di belakangnya dan terlihat sebuah pisau army dipegang oleh wanita itu. Lalu wanita itu memainkan pisau itu di tangannya dan bergerak cepat ke arahku. Aku berusaha menahannya namun aku kalah cepat sehingga aku harus menahan pisaunya hingga menusuk tanganku. Tampak ekspresi wanita itu sangat nafsu seakan dia sangat menikmati usahanya untuk membunuhku.


"Ayolah sayang... biarkan aku menusuk dadamu yang indah itu!" kata wanita itu dengan nafsu yang besar itu.


Aku berusaha menahan tusukan wanita itu sambil menahan rasa sakit di tanganku. Aku melihat sekelilingku dengan cermat dan melihat pojokan meja yang berada di dekatku. Dengan sekuat tenaga aku mendorong wanita itu agar terlepas dari cengkramannya akan tetapi wanita itu tetap mendorongku hingga hampir mendekati dinding. Lalu aku memutar otak dengan cara menendang kakinya dan membanting badannya ke arah meja hingga meja itu hancur.


Wanita itu bergeliat menahan rasa sakit dan aku berusaha menjauh dari wanita itu sambil menarik nafas. Lalu aku mencoba untuk berdiri tegak agar aku bisa menghadapi wanita itu, namun rasa sakit di pahaku sangat menusuk sehingga aku tidak bisa berdiri dengan tegak. Beberapa saat kemudian wanita itu bangkit berdiri dengan raut wajah yang menyeramkan. Raut wajah yang tampak dari wanita itu penuh dengan kenafsuan. Sepertinya bantingan tadi membuat libidonya naik dan membuat dia semakin terangsang. "Sial, wanita ini masokis rupanya," begitu pikirku. Akupun segera memasang kuda-kuda yang cukup kuat dan berjaga-jaga apabila wanita itu hendak melakukan serangan gilanya kembali.


"Oh... kau suka main kasar juga rupanya... tidak ada pria yang bisa memainkanku seperti itu tadi... sepertinya kamu punya talenta dalam hal ini..." kata wanita itu dengan nafas terengah-engah, "kalau begitu biarkan Quetzalcoatl ini akan memberikan rasa kenikmatan yang belum pernah pria lain rasakan sebelumnya!"


Dengan cepat wanita yang bernama Quetzalcoatl itu menerjang ke arahku dengan memegang dua pisau di kedua tangannya. Aku berusaha menghindari akan tetapi kakiku tidak bisa bergerak cepat karena terluka. Ketika kedua pisau tersebut hendak menancap ke leherku, entah bagaimana pandanganku mengabur sesaat. Lalu aku mendapatkan sesuatu seperti penglihatan yang menunjukkan bagaimana pisau-pisau itu menancap ke tubuhku. Setelah penglihatan itu lewat, penglihatanku kembali normal secara refleks badanku bergerak menangkis serangan pisau tersebut dan memukul bagian perut Quetzalcoatl dengan keras hingga membuat dia berlutut dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku yang melihat wanita itu tersungkur cukup terkejut, tidak aku sangka bahwa aku bisa melakukan hal seperti itu.


"Bagaimana bisa....? Bagaimana bisa kau melihat arah pisauku...?" tanya Quetzalcoatl dengan terbata-bata.


Aku pun terdiam, lalu aku melihat sekujur tubuhku. Tidak ada yang berubah dan lukaku tetap sama. Tiba-tiba rasa sakit kepala menyerangku dan membuatku kehilangan keseimbangan. Dengan segera aku mencari pegangan agar tidak terjatuh ke lantai. Aku melihat Quetzalcoatl secara perlahan mencari sandaran. Dari mulutnya keluar darah dan terlihat memar yang membiru di perutnya.


"Kau merupakan anak yang luar biasa juga rupanya... mungkin kau bisa menjadi nomor tujuh... tidak bahkan nomor sembilan" kata Quetzalcoatl.


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan nafas yang berat.


"Dalam organisasi kami, terdapat sembilan pembunuh bayaran yang dinilai berdasarkan angka. Semakin besar angka maka semakin tinggi derajatnya" kata Quetzalcoatl.


"Organisasi... organisasi apa yang kau maksud?" tanyaku dengan tatapan yang cukup tajam.


"Apa aku perlu memberi tahu kepada orang yang akan membunuhku?" tanya Quetzalcoatl dengan senyum dinginnya.


Aku terdiam beberapa saat. Apa aku perlu membunuh wanita panas ini? Karena apabila aku membunuhnya sekarang maka akan mengurangi jumlah orang yang mungkin akan membunuhku. Akan tetapi aku sangat minim informasi mengenai musuhku, jadi bisa saja wanita ini menjadi aset yang berharga untukku. Pertimbangan ini cukup sulit karena akan berdampak pada rencanaku ke depan. Lalu aku memutuskan untuk menguji wanita ini dulu.


"Hahaha... membunuhmu? Apa kamu bercanda?" candaku kepada Quetzalcoatl dengan senyum sinting.


Quetzalcoatl yang melihatku sedikit meremehkanku namun berusaha tidak tertawa karena dia masih menahan rasa sakit. "Memang kamu bisa apa sehingga membuatku memberikan apa yang kamu mau?"


Aku berpikir sesaat dan aku ingat mengenai teknik penyiksaan yang pernah di lakukan pada zaman kuno. Dengan spontan aku mengambil tali tambang yang ada di tempat itu dan mengikat tangan dan kaki Quetzalcoatl dan menggantung dia di dinding. Tidak ada banyak perlawanan yang dilakukan wanita itu. Setelah wanita itu tergantung wanita itu mulai sedikit tertawa.


"Heee... apa kita akan main BDSM sekarang?" tanya Quetzalcoatl dengan ekspresi vulgarnya.


Lalu aku menutup mulut wanita itu dengan kain basah, aku juga mengambil salah satu pisau yang tertancap di dinding. Lalu dengan tanpa basa-basi aku menancapkan pisau tersebut di paha kanan Quetzalcoatl. Wanita itu berteriak menahan rasa sakit, akan tetapi dari wajahnya terlihat dia sangat menikmati rasa sakit tersebut. Tanpa banyak berpikir lagi, aku menancapkan sembilan pisau lainnya ke tubuh wanita itu tanpa mengenai bagian vital yang ada di tubuhnya.


Setelah pisau-pisau itu tertancap aku membuka penutup mulut Quetzalcoatl. Wajah wanita itu terlihat sangat menikmati perlakuan yang aku berikan padanya.


"Apakah hanya segini yang bisa kamu lakukan? Apa perlu aku mengajarimu?" tanya Quetzalcoatl dengan remeh.


Aku sedikit tersenyum meskipun aku membenci untuk melakukan penyiksaan. Dengan santai aku berkata, "Ini masih babak pembukaan..."


Aku segera ke dapur dan mengambil banyak botol minuman beralkohol tinggi dan menuangkannya dalam satu baskom serta menutup baskom itu rapat-rapat, untuk berjaga-jaga aku menyipakan tiga baskom. Setelah itu aku membawa baskom itu di hadapan wanita itu. Quetzalcoatl yang melihat baskom itu semakin meremehkan aku.


"Hah? Apa ini? Kau ingin mandi atau bagaimana?" tanya Quetzalcoatl dengan remeh kembali.


Karena aku sudah sangat kesal dengan perendahan ini, akupun langsung menyiram wanita vulgar itu dengan alkohol yang ada di baskom dari kepala hingga seluruh badannya. Ketika alkohol-alkohol itu masuk ke dalam luka tusuk yang kuberikan entah bagaimana Quetzalcoatl berteriak-teriak kesakitan dengan penuh kenikmatan. Namun ada yang berbeda dari wanita itu sekarang, entah bagaimana dia tidak sanggup menahan rasa sakit itu. Dari wajahnya bukan rasa kenikmatan namun melebihi itu.


"Oh my god! Oooh my god! It's so great!" teriak Quetzalcoatl, "menyiram luka tusukan dengan alkohol! Kau ini memang jenius!"


Melihat reaksinya membuatku jijik. Karena aku tidak tahan melihatnya, aku berencana mencabut pisaunya dan menutup lukanya. Ketika semua pisau telah terlepas, Quetzalcoatl berteriak untuk memintaku menyiramnya kembali.


"Siram aku! Tolong siram aku dengan air tadi!" teriak Quetzalcoatl dengan memohon.


Dengan ekspresi kesal aku pun menjawab, "Tidak! Aku sudah muak dengan ekspresimu dan aku tidak akan melakukannya lagi!"


"Tolonglah aku mohon! Aku akan menjawab semuanya! Mulai dari organisasi kami Nine Satan hingga rencana penggulingan negara! Jadi tolong siram aku kembali! Aku mohon!" mohon Quetzalcoatl dengan air mata mengalir.


Aku terdiam sesaat, lalu aku mulai mengancam dan memberikan dia pertanyaan, "Kalau begitu mulai sekarang kamu adalah budakku, semua perintah semua permintaan harus kamu turuti! Kalau sedikit saja kamu melanggar atau berkhianat maka aku akan memburumu dan memastikan mayatmu kuberikan pada ikan-ikan di laut! Paham?! Sekarang jelaskan organisasimu beserta rencana mereka!"


"Baik-baik aku paham!" kata Quetzalcoatl, "Nine Satan merupakan organisasi pembunuh bayaran yang melakukan pekerjaan kotor seperti membunuh, mencuri, bahkan memperkosa. Organisasi ini bergerak di bawah seseorang yang hanya diketahui oleh tingkat tujuh, delapan, dan sembilan. Hal yang aku tahu soal rencana mereka adalah mereka hendak melakukan genosida besar-besaran untuk menciptakan utopia mereka sendiri dengan cara membunuh orang-orang tertentu."


Ketika aku mendengar perkataan Quetzalcoatl, hatiku menjadi panas. Tanpa segan aku melemparkan air alkohol dari baskom lainnya ke arah wanita itu dan melihat wanita itu menggeliat kesenangan hingga hampir pingsan.