
Langit sore menghiasi suasana kafe. Terlihat kafe sudah mulai ramai kembali dengan orang-orang yang mencari makan malam setelah mereka kembali dari aktivitas mereka. Aku dan Angelyn duduk berhadapan-hadapan di meja tempat aku bekerja tadi. Sebelum duduk aku pastikan semua dokumen yang berhubungan dengan kontrak pembunuhan telah aku singkirkan sehingga Angelyn tidak melihat isi dokumen tersebut. Setelah kami duduk Macaron membawa dua cappucino dengan dua cheesecake. Aku melihat Macaron karena aku ingat aku tidak memesan makanan, namun Macaron hanya mengedipkan mata dan meninggalkan kami.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini, Leo" kata Angelyn dengan halus.
Aku sedikit tidak tenang melihat Angelyn. Wajahnya yang begitu merona membuatku jantungku sedikit berdebar. Sambil mengangkat cangkir kopiku aku menjawab, "Begitu juga denganku. Ngomong-ngomong apa yang membawamu ke tempat seperti ini?"
Pertanyaan yang aku lontarkan bukanlah pertanyaan basa-basi biasa. Hal ini untuk memastikan apakah orang yang kutemui memiliki niatan buruk terhadapku dan juga tempat ini. Beberapa kali aku menemukan banyak orang yang mengetahui keberadaan tempat ini sehingga mau tidak mau aku harus 'membersihkan' mereka.
Angelyn menyeruput kopi yang dipesannya. Lalu dia menjawab, "Aku baru saja pindah sekitar daerah sini. Disaat aku bertemu denganmu, aku sedang membeli perlengkapan dan referensi bacaan untuk pekerjaanku. Lalu hari ini aku baru saja memulai pekerjaanku di perusahaan media baru dan ketika aku pulang aku menemukan kafe ini dan memutuskan untuk mencoba kopi sekaligus makanan disini. Ya lumayanlah untuk makan malam hari ini."
"Oh begitu kah rupanya" kataku.
Kemudian Angelyn mengambil garpu dan mengambil potongan cheesecake. Setelah dia memakannya ekspresi mukanya menunjukkan rasa bahagia dan kenikmatan.
"Hmm! Enak sekali! Rasa keju dan berinya sangat terasa sekali dan manis di mulut!" kata Angelyn bahagia.
Aku yang melihat wajah Angelyn hanya bisa tersenyum. Cheesecake ini memang salah satu menu yang baru dibentuk oleh Aaron. Aaron selalu makanan manis meskipun dia seorang barista. Sejak kecil Aaron selalu mendambakan makanan manis untuk dia bisa makan. Setelah Aaron bebas dan bekerja di Mother Rosario, dia selalu bereksperimen makanan manis dan pelanggan suka atas makanan yang dia ciptakan. Aku pun mengambil potongan cheesecake dan memakannya. Benar yang dikatakan Angelyn, rasanya sungguh manis dan cocok dengan kopi yang sedang aku minum.
"Rupanya kamu bisa tersenyum juga ya" kata Angelyn.
Aku sedikit bingung dan bertanya, "Maksudmu?"
"Aku pikir kamu ini orang yang menyeramkan dan cukup judes. Lihat saja alismu saja sangat turun ke bawah seakan ingin membunuh orang" jelas Angelyn sambil meragakan alis yang turun.
Aku mulai tersenyum melihat tingkah laku Angelyn, begitu juga dengan Angelyn tersenyum melihatku. Tawa pun tidak terbendung dari mulut kami. Entah bagaimana keceriaan Angelyn menenangkan hatiku. Setelah tawa kami reda aku pun mulai mengobrol dengan dia.
"Lalu bagaimana denganmu Leo? Apa yang membawamu ke kafe ini?" tanya Angelyn sambil melapan cheesecakenya.
Aku sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan Angelyn karena aku sendiri tidak mau membuat Angelyn terlalu terkejut. Lalu dengan memberanikan diri aku menjawah, "Sebenarnya... aku pemilik kafe ini."
Angelyn sedikit terkaget mendengar jawabanku dan hampir tersedak. Setelah dia meminum kopi miliknya dan menenangkan diri, terlihat matanya cukup bersinar-sinar melihat ke arahku.
"Pemilik kafe ini?! Wow, suatu kehormatan bisa berbicara dengan anda" kata Angelyn mulai berkata dengan sopan.
"Hei... kamu tidak perlu tiba-tiba menjadi sopan seperti itu. Kamu bisa sedikit bersantai denganku" jawabku menenangkan Angelyn.
"Ah maaf... sebab aku juga bekerja sebagai seorang wartawan jadi aku rasa kurang sopan kalau terlalu santai seperti itu" jelas Angelyn.
"Sudah tidak apa-apa, justru aku yang merasa kurang enak kalau membuatmu kurang nyaman di kafeku sendiri" kataku yang lalu menyeruput kopiku yang ada meja, "Mungkin kalau kamu ada pertanyaan seputar kafe atau mungkin makanan dan minuman, kamu bisa tanyakan kepadaku. Aku akan mencoba menjawab sebisaku."
Setelah mendengar perkataanku, Angelyn pun mengangguk. Ia mulai mengeluarkan catatan dan recorder dan menaruhnya di atas meja. Setelah Angelyn mengambil pulpen dan menyalakan recorder dengan antusias Angelyn memulai wawancara kecil kita dengan pertanyaan sederhana, "Jadi apa yang membuatmu membangun kafe ini?"
Aku tersenyum. Suasana antara aku dan Angelyn menjadi lebih tenang. Aku menjawab seluruh pertanyaan sederhana Angelyn seputar Mother Rosario dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Antusiasme Angelyn membuat wawancara ini cukup panjang hingga pukul setengah delapan malam. Kafe sudah mulai sepi dikarenakan kafe kami akan tutup pukul delapan malam. Ketika Angelyn melihat waktu di jam tangannya, ia memutuskan untuk pulang.
"Oh iya Leo, tidak terasa sudah pukul setengah delapan. Sepertinya aku harus segera kembali ke apartemenku" kata Angelyn.
"Baiklah kalau begitu, kebetulan kafe akan tutup sebentar lagi. Aku juga harus membereskan beberapa hal" kataku kepada Angelyn.
Sambil kami bersiap-siap, tiba-tiba terdengar suara mobil ambulans melewati kafe kami. Ambulans tersebut terlihat sedang terburu-buru, mungkin sedang ada yang sakit atau mungkin ada yang sekarat. Sudah terlalu sering ambulans tersebut lewat dan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di daerah ini.
Aku melihat ke arah Angeyln. Apa yang dikatakan Angekyn menarik perhatianku. Lalu aku bertanya kepada dia, "Penembakan?"
"Iya betul ada penembakan. Akhir-akhir ini banyak korban penembakan dari orang tidak dikenal dan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak" kata Angelyn.
Terlihat wajah Angelyn cukup serius ketika menjelaskan hal tersebut. Ekspresi yang cukup aneh untuk seorang wartawan apalagi untuk seorang perempuan. Matanya menunjukkan bahwa dia sedang mencari seseorang, dari hawanya ia cukup serius untuk menemukannya. Karena penasaran aku mulai bertanya kepadanya dengan santai, "Ada apa Angelyn? Kenapa mukamu cukup serius seperti itu?"
Angelyn cukup terkejut mendengar suaraku, iapun menjawab, "Tidak apa-apa? Aku hanya cukup kesal dengan tindakan seperti itu. Kenapa orang dengan teganya melakukan kejahatan seperti itu? Bagaimana menurutmu Leo?"
Bagaimana menurutku? Tentu aku memiliki banyak jawaban karena aku juga seorang pembunuh bayaran. Kebanyakan pembunuh bayaran yang bekerja demi uang dan harta, ada juga yang bekerja untuk nilai prinsip yang dia hidupi, namun lebih parah bagi mereka terjun ke dalam pekerjaan itu demi kesenangan mereka layaknya psikopat seperti Dante.
Aku melihat Angelyn, terlihat rasa penasaran muncul di wajahnya seakan menunggu jawaban dariku. Lalu aku pun menjawab, "Setiap orang memiliki motif dari tindakan mereka masing-masing, mungkin saja mereka tega melakukan itu demi uang dan harta yang mungkin mereka perlu dapatkan demi orang yang mereka cintai."
Angelyn terlihat mematung mendengar jawabanku. Sambil tersenyum dia menghelakan nafas dan berkata, "Wow aku tidak menyangka kamu akan menjawab seperti itu."
Aku pun hanya bisa tersenyum juga dan menjawab, "Aku hanya mencoba memahami kondisi setiap orang."
Suasana antara kami menjadi hening sesaat. Aku melihat Angelyn terlihat lega mendengar jawabanku. Apakah dia berencana untuk melakukan hal berbahaya? Aku sendiri tidak tahu. Beberapa saat kemudian Albert datang ketempat kami untuk memberikan peringatan kafe akan segera tutup.
"Permisi Tuan Leo dan Nona, kafe akan segera tutup sebentar lagi" kata Albert sedikit membungkuk.
Setelah Albert memberikan peringatan, aku memperkenalkan Albert kepada Angelyn, "Angelyn, perkenalkan ini Albert. Dia adalah salah satu staff yang bekerja di kafe ini dan juga salah satu asisten pribadiku."
Angelyn pun juga sedikit membungkuk dan berkata, "Halo Pak Albert, salam kenal saya Angelyn. Terima kasih atas peringatannya."
Albert melihat Angelyn. Dia sedikit tersenyum melihat Angelyn. Lalu ia melihat ke arahku seakan memberikan kode bahwa dia tahu siapa Angelyn. Kemudian Albert menjawab kembali, "Suatu kehormatan juga untuk berkenalan dengan anda, Nona."
Angelyn melihat ke arahku dan berkata, "Baiklah Leo, terima kasih atas waktunya dan terima kasih juga atas bantuanmu di tiga hari lalu."
Aku tersenyum dan berkata, "Sama-sama."
Kami berdua membereskan barang-barang kami, setelah berberes kami saling bertuka kontak agar bisa menghubungi satu sama lain. Angelyn pun langsung ke kasir untuk membayar makanan dan minumannya. Awalnya aku berencana membayarkan semua makanan dan minuman, namun Angelyn bersih keras untuk membayar semuanya. Kemudian aku dan Angelyn berjalan ke depan restoran untuk melepas kepergian Angelyn. Setiba kami tiba di luar kafe, terlihat jalanan sudah sangat sepi. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat dikarenakan sudah memasuki tengah malam. Aku sudah memeriksa daerah kafe hari ini, seharusnya tidak ada bahaya yang terjadi di beberapa blok dari kafe. Namun untuk memastikan aku menanyakan Angelyn apakah dia perlu ditemani pulang.
"Jalanan sudah cukup sepi, apa perlu aku menemanimu?" tanyaku.
"Tidak apa-apa Leo. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, aku bisa berjalan pulang sendiri" jawab Angelyn.
Angelyn mengambil beberapa langkah ke depan dan berputar menghadapku. Dia tersenyum dan berkata, "Berikutnya aku akan mengajakmu ke tempat-tempat makan yang bagus, semoga usahamu sukses selalu."
"Terima kasih Angelyn. Aku akan tunggu ajakanmu" kataku sambil tersenyum juga.
"Hehehe, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa Le-"
Tiba-tiba terdengar suara letupan senapan dan sebuah peluru melayang dan menembus bagian dada kiri Angelyn. Aku dan Angelyn terkejut melihat hal itu. Dengan pucat Angelyn mengusap bagian dada kirinya dan menemukan tangan yang berlumuran dengan darah.
"Eh..."