The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
Under the Full Moon



Seminggu setelah kejadian pembunuhan keluargaku, aku terus mengurung diriku di dalam kafe tempat aku bekerja dan menutup kafe untuk beberapa saat. Polisi mengatakan bahwa pelaku pembunuhan keluargaku merupakan psikopat yang dikenal sebagai Dante. Psikopat itu merupakan mantan pasukan khusus yang membelot dan mengincar orang-orang demi uang. Namun ada rumor bahwa Dante juga membunuh orang demi kesenengan pribadinya juga. Sudah banyak korban yang jatuh di tangannya danĀ  berakhir mengenaskan. Setelah kejadian malam itu, aku diminta untuk mencari tempat perlindungan selain rumah lamaku. Sehingga aku memakai kafe ibuku yang memiliki kamar khusus apabila aku ada kerja lembur.


Ketika aku hendak menguburkan keluargaku, banyak orang yang bersimpati atas kehilanganku di rumah duka. Namun aku juga terus mendengar banyak orang bertanya-tanya mengenai nasibku, terlebih lagi aku akan masuk kuliah di jurusan ilmu hayati. Setelah acara pemakaman selesai, seseorang yang mengaku pengacara ayahku menghampiriku untuk berdiskusi mengenai surat wasiat ayah. Dalam surat itu mengatakan bahwa apabila ayahku meninggal akibat satu lain hal maka perusahaan yang didirikan ayah akan tutup dan semua kekayaan akan diwariskan ke aku. Nominal yang diwariskan cukup besar namun hal tersebut tidak bisa menutupi kehilangan keluargaku. Aku hanya bisa pasrah menerima dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ini.


Pada sore hari itu aku hendak pergi keluar mencari makan karena terlalu lelah untuk bersedih. Di depan kafe, aku bertemu dengan laki-laki yang ternyata adalah sahabatku sejak kecil, David. Kami telah bersahabat cukup lama, lebih tepatnya sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Dia merupakan salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku meskipun dia seorang yatim piatu. Ketika aku sedang kesusahan, pasti dia juga yang menolongku. Bahkan ketika aku kehilangan keluargaku, David terus berusaha menghiburku dengan candaan garingnya. Meskipun begitu aku sangat menghargai usahanya itu sebagai sahabat.


"Hei, Aura!" kata David.


"Bukankah aku sudah bilang jangan memanggilku dengan nama itu?" balas aku dengan lemas.


"Maaf-maaf, habis aku lihat kau terus murung," canda David dengan sedikit senyum, "apa kau sedang ingin mencari makan?"


"Ya begitulah, bersedih membuat perut lapar juga kan?"


"Kalau begitu ayo kita makan bersama, kebetulan ada restoran enak yang banyak perempuan seksinya lagi," kata David dengan pipi merona hampir mimisan.


"Jangan samakan aku dengan kamu, dasar genit."


David medendekati dan merangkul bahuku. "Sudah tidak usah banyak ngomong, ayo kita ke sana lalu ke tempat biasa kita nongkrong."


Kami pun pergi ke restoran barbeque yang direkomendasikan David itu dan memang banyak perempuan seksinya. Kemudian kami pergi ke tempat biasa kami nongkrong di salah satu mall di kota dan duduk bersantai di taman tepatnya di lantai paling atas mall. Taman itu sangat sepi bahkan tidak ada orang, sehingga menjadi tempat nyaman untuk bersantai dengan duduk di atas couch empuk di sana sambil memandang kota dan bulan serta bintang di langit yang gelap. Bulan yang muncul hari itu adalah bulan purnama. Bulan tersebut membuat rasa bir dan cemilan yang kami beli lebih enak dari biasanya. David bercerita apa yang terjadi dengan kehidupannya saat itu sambil mengeluarkan lelucon-lelucon garingnya. Kami berdua pun bersenang-senang dan tertawa di bawah bulan purnama yang indah ini.


Aku merasa cukup senang pada hari itu, namun dalam hatiku masih merasakan kegundahan yang mendalam. Dengan memberanikan diri aku bertanya pada David.


"Vid, andaikata kamu kehilangan orang yang kamu sayangi akibat dibunuh, apa yang kamu lakukan?" tanyaku sambil memandang langit.


David yang mendengar pertanyaan itu sambil merenung dengan rokoknya, ketika dia menghembuskan asap rokok rasa stroberinya itu dia menjawab, "Mungkin aku akan berjalan terus ke depannya, namun di sisi lain aku ingin membalaskan dendam terhadap orang yang merengut nyawa orang yang kusayang."


Aku agak tersentak saat itu. Aku tidak menyangka temanku, David, bisa berpikir seperti itu.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanyaku.


"Ya... aku ambil contoh seperti dirimu," kata David menegak minumnya, "aku akan marah dan menyesal apabila aku tidak bisa melindungi dirimu, karena buatku kamu merupakan orang yang kusayangi sebagai sahabat, maka aku akan sangat sedih apabila kehilangan dirimu."


"Begitu ya..." kataku sambil menenggak minuman.


"Tapi aku harap kau tidak melakukan balas dendam," kata David.


"Hei aku telah berteman lama denganmu. Emosimu masih sangat labil meski pembawaanmu tenang, dan kamu mudah terbawa suasana. Apa kau lupa kalau kau suka menangis ketika menonton drama anime?" kata David.


Aku sedikit tersipu malu ketika mendengar perkataan David.


"Aku tahu kau sangat sedih, tapi kumohon, jangan lakukan hal nekat terlebih lagi seperti balas dendam," kata David memukul pundakku.


Aku pun cuma mengangguk sambil memandang kota di malam hari. "Jujur aku tidak tahu harus apa... kehilangan keluargaku seperti kehilangan masa depan."


"Ya... terkadang kita tidak tahu bagaimana jalan hidup yang kita jalani. Hal yang kita bisa lakukan cuma berjalan maju dan menciptakan takdir kita sendiri," kata David.


David berdiri di meninggalkan couch. "Hei ayo kita latihan sebentar, sudah lama kita tidak sparring juga bukan? Aku ingin lihat apakah kamu masih ahli seperti sebelumnya."


Aku melihat David dengan sedikit haru. "David..."


"Ayolah Tuan Jenius! Tunjukkan kemampuanmu!" seru David.


Aku pun berdiri dan berhadapan dengan David. Kami berdua memang sering latihan bela diri karena kami sering dibully oleh senior-senior kamu. Kami terus berlatih berbagai bela diri sampai kami bisa menghadapi musuh yang mengganggu kami. Setelah beberapa saat kemudian, aku melihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 11.30 malam. Sudah saatnya aku kembali dan bersiap-siap membuka kafe besok karena aku tidak bisa menutup kafe terus menerus.


"Sudah saatnya aku harus kembali, besok aku sudah harus buka kafe soalnya" kataku ke David.


"Haaaah?! Ayolah sebentar lagi!" kata David memohon.


"Jangan samakan aku dengan pengangguran sepertimu" kataku sambil bersiap-siap pergi.


"Ya sudahlah kalau begitu, besok aku akan mengunjungimu lagi," kata David berdiri, "tapi pastikan kau menyiapkan kopi yang enak buatku."


"Hahaha tentu saja kawan," kataku sambil tersenyum.


David meraih tanganku dan membantuku berdiri. Kami pun berjalan menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba ada seseorang keluar dari pintu. Seorang pria serba merah dengan topeng joker. Aku segera berhenti dan menahan David.


"Hei, ada apa?" tanya David menatapku dan kemudian melihat ke pintu keluar.


"Dia..."


Pria serba merah dengan pakaian jas formal dan topi tinggi. Benar, pria tersebut merupakan pembunuh keluargaku, Dante.