The Spectre And The Pandora Love

The Spectre And The Pandora Love
The Rabbit that Smell Like a Wolf (1)



Setelah tiga hari berlalu, aku berencana mengawasi targetku yang bernama Angelyn Elizabeth. Berdasarkan data yang dikumpulkan Macaron perempuan itu suka berjalan-jalan di Plaza Breeze untuk membeli makanan dan buku. Lalu aku mulai berjalan di plaza itu untuk mencari keberadaannya dan mengawasinya. Untuk pencarian ini aku mengenakan baju biasa seperti kemeja kotak-kotak dengan celana jeans hitam serta sepatu lari. Selain itu aku juga mengenakan jaket kulit dengan topi snapback hitam.


Plaza Breeze merupakan tempat yang dikenal dengan toko-toko yang terkenal. Mulai dari makanan, pakaian, hingga aksesoris. Salah satu ikon terkenal di tempat itu adalah menara yang terdapat tempat untuk melihat-lihat kota dengan menggunakan teropong. Biasanya aku menggunakan teropong yang ada di menara itu untuk mengawasi kota dan juga targetku. Selain harganya murah, tempat ini merupakan tempat yang cukup ramai sehingga tidak ada yang mencurigaiku.


Ketika aku tiba di menara, aku berjalan menuju tempat pemandangan dimana teropong-teropong itu ada. Disaat aku sudah tiba di salah satu pos teropong, aku memasukan uang koin seribu rupiah ke dalam teropong tersebut untuk menggunakannya teropong tersebut. Setelah teropong itu menyala, aku mulai melihat-lihat seluruh Plaza untuk mencari keberadaan perempuan itu.


Dua jam telah berlalu namun aku belum keberadaanya. Aku hendak memasukan uang koinku kembali akan tetapi koinku telah habis sehingga aku perlu menukarkannya terlebih dahulu. Setelah aku berjalan turun dan keluar dari lift, aku mendengar suara keributan yang berada pada gang dekat lift yang akan kugunakan. Lalu aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi disana, dan aku menemukan dua orang pria yang sedang mencoba untuk menggoda seorang perempuan. Kedua orang itu terlihat seperti preman jalanan yang mengenakan pakaian yang serba denim. Salah satu dari mereka menggunakan jaket denim dengan dalaman hitam sedangkan yang lainnya menggunakan kaos tank top putih.


"Ayolah cewe manis. Main sama abang yuk" kata laki-laki yang menggunakan tank top.


"Iya... kita ga gigit kok, ngejilat mungkin" kekeh laki-laki yang mengenakan jaket denim dengan muka genit.


Aku mencoba melihat perempuan yang digoda itu. Perempuan itu mengenakan sweater putih dengan rok dan sepatu boots warna hitam. Selain itu dia juga mengenakan topi berwarna putih yang membuatku tidak dapat melihat matanya dan dia juga membawa tas slempang di bahunya. Perempuan itu membawa buku-buku yang tebal di kedua tangannya dan terlihat dia sangat terganggu ketika kedua pria itu menggodanya.


Disaat aku melihat situasi tersebut, aku berencana untuk tidak ikut campur. Akan tetapi perempuan itu memberikan respon yang tidak aku duga sehingga membuatku tertarik untuk melihatnya.


"Bisa tidak bajingan seperti kalian minggir? Kalian cuma menghalangi jalanku saja" kata perempuan bertubuh kecil itu.


Reaksi perempuan itu membuatku terkejut. Tidak aku sangka perempuan seperti itu dapat memberikan respon yang kuat terhadap orang yang menjadi ancaman bagi dia. Ketika perempuan itu berkata seperti itu, kedua pria yang menggoda dia menjadi kesal dan marah dan hendak melakukan kekerasan kepada perempuan itu.


"Apa kamu bilang perempuan ******?! Berani juga kamu berkata seperti itu kepada kami? Tidakkah kamu lihat kami berdua sedangkan kamu sendiri?" kata laki-laki yang mengenakan tank top.


"Justru itu yang membuat kalian lebih bajingan" balas perempuan itu dengan jutek, "Dua orang laki-laki genit yang mengerumuni seorang perempuan dan menggodanya. Bukankah hal itu hanya dilakukan oleh laki-laki bajingan?"


Wajah kedua laki-laki tersebut memperlihatkan ekspresi yang menyeramkan. Laki-laki yang memakai baju tank top memegang pundak perempuan itu dan membantingnya ke arah dinding serta menahannya. Lalu temannya satu lagi mengeluarkan stun gun dan menodongkannya ke arah perempuan itu.


"Mulutmu bisa kasar juga ya lacur?" kata laki-laki yang berpakaian tank top sambil meraba-raba pinggannya dengan wajah genit, "Tapi meskipun mulutmu kotor kamu punya tubuh yang bagus indah juga..."


Perempuan itu hanya diam saja meskipun digerombol oleh kedua laki-laki genit itu. Tanpa basa-basi perempuan itu menendang ************ laki-laki berbaju tank top dan berusaha lari dari cengkraman kedua laki-laki genit itu. Akan tetapi laki-laki berjaket denim itu segera menyetrum perempuan itu sehingga membuat dia terjatuh dan tidak bisa bergerak.


Hal yang dilakukan kedua laki-laki itu membuatku cukup geram, namun aku tidak mau mencampuri urusan mereka agar identitasku dapat terjaga. Aku kembali melihat ke arah perempuan berbaju putih itu, perempuan itu berusaha kabur dengan cara merangkak. Lalu perempuan itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah depannya. Entah bagaimana mata kami bertemu, aku melihat mata perempuan itu menujukkan keinginan yang kuat untuk hidup sehingga aku ingin menolong perempuan itu.


Ketika kedua laki-laki tersebut hendak menghampiri perempuan itu, tanpa banyak bicara aku berlari maju ke arah mereka dan menendang kedua bajingan itu sehingga mereka menabrak tong sampah dekat situ. Setelah mereka terkapar, aku mendekati perempuan itu untuk menanyakan keadaanya sambil menyerahkan tanganku untuk membangun dia berdiri, "Kamu tidak apa-apa?"


Perempuan itu melihat ke arahku. Wajahnya sangat cantik, kulitnya yang berwarna putih dengan bibir merah muda. Penampilannya dengan kacamata menambah kecantikannya dan memperlihatkan sosoknya sebagai wanita dewasa. Akan tetapi wajahnya mengingatkanku akan seseorang, namun aku lupa siapa orang tersebut.


"Aku tidak apa-apa" kata perempuan itu meraih tanganku.


Perempuan itu berusaha untuk berdiri meskipun terkena setruman dari stun gun milik salah satu dari kedua laki-laki itu. Setelah dia berhasil berdiri dan bersandar ke tembok aku menanyakan kembali kondisinya, "Apakah ada rasa sakit? Luka ? Atau apapun itu?"


"Tidak ada, hanya lecet dan kesemutan sedikit" jawab perempuan itu.


Perempuan itu agak ragu ketika aku mengajaknya. Namun setelah dia melihat kedua laki-laki itu, dia tidak banyak bicara dan mengikuti aku. Setelah kami cukup menjauh, kami berhenti di taman dekat Plaza dan duduk di kursi taman. Terlihat perempuan itu cukup terengah-engah dan kelelahan. Mungkin karena dia tidak terbiasa dengan lari seperti itu. Aku ingin mengobrol lebih banyak dengan dia, akan tetapi aku tidak bisa menemaninya karena apabila aku terlalu lama berinteraksi dengan orang dalam misiku aku bisa dikenali begitu saja.


"Sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita lagi" kataku berdiri sambil meregangkan tubuh, "berhati-hatilah ketika berjalan, kota ini tidak seindah seperti yang diberitakan."


Perempuan itu masih berusaha mengejar nafasnya, namun dia berdiri seakan dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.


"Uhm... terima kasih ya telah menolong aku..."


Aku menoleh dan berkata, "Bukan masalah besar, aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan saja."


Aku berjalan meninggalkan perempuan itu, namun dia mengejar dan menarik lengan jaketku.


"Tu-tunggu dulu!" kata perempuan itu sedikit terbata.


Aku berhenti dan melihat perempuan itu kembali. Ketika dia mengangkat kepalanya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya bewarna biru dengan poni hitam berkilau. Pipinya agak berisi dan bibirnya merona. Kacamata berbingkai hitamnya membuat matanya sedikit membesar namun menunjukkan pesona seorang perempuan yang cantik jelita. Namun ada sesuatu yang menjanggalku, seakan aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat.


Dengan penjagaan aku bertanya kepada perempuan itu, "Ada apa?"


Perempuan itu terdiam beberapa saat. Lalu dengan penuh wajah penasaran dia bertanya, "Aku pikir tidak sopan kalau aku tidak mengetahui seseorang yang telah menolongku. Boleh aku tahu namamu?"


Pandanganku menjadi tidak fokus. Aku merasa ada sesuatu yang menjanggal dalam hati meskipun aku sudah sering bertemu dengan banyak target wanita dan menggoda mereka. Namun sangat berbeda dengan perempuan ini. Instingku mengatakan ada sesuatu yang menarik dari perempuan ini. Dengan tenang aku menjawab, "Leo... namaku Leo."


Kemudian perempuan itu melepaskan lengan jaketku dan mundur dua langkah. Dengan tersenyum ia berkata, "Leo... ya? Sekali lagi terima kasih ya telah menolongku."


"Namaku Angelyn , salam kenal ya" kata perempuan yang bernama Angelyn itu.


Aku pun terdiam mematung. Aku baru sadar bahwa perempuan itu mirip dengan perempuan di foto target yang diberikan Tuan Jin. Akan tetapi aku tidak bisa memastikan apakah benar dia merupakan targetku atau bukan. Aku berencana untuk mencoba mendekati dia, namun Angelyn terlihat harus pergi ketika dia melihat jam tangannya.


"Maaf ya Leo sepertinya aku harus segera pergi. Aku ada janji untuk bertemu seseorang sekitar 1 jam lagi" kata Conny dengan sedikit panik melihat jam tangannya.


"Janji?" tanyaku dengan sedikit serius.


"Betul, aku berencana mewawancarai seorang pemilik kafe. Kebetulan aku sudah janjian dengan temanku yang mereservasi tempat di kafe tersebut," kata Angelyn.


Angelyn pun mengangguk sambil berkata, "Sekali lagi terima kasih telah menolongku, tapi maaf aku harus pergi dulu. Sampai jumpa!"


Lalu ia pun pergi meninggalkanku sendiri disini.