
Tiga puluh menit berlalu.
Menghadapi dua monster bukanlah hal mudah, terlebih lagi mereka adalah hasil mutasi. Mereka yang bermutasi cenderung memiliki kekuatan layaknya puluhan orang. Namun karena mutasi merubah struktural tubuh, banyak hasil mutasi yang mengalami degenerasi otak yang menurunkan daya pikir dan kewarasan seseorang. Akan tetapi Sodom dan Gomora tidak seperti hasil mutasi pada umumnya. Mereka masih memiliki kesadaran dan koordinasi yang baik. Setiap kali salah satu dari mereka akan diserang, maka lainnya akan melindungi rekannya bagaikan pedang dan perisai. Di sela aku menghadapi mereka, aku melihat Lao Mei terduduk manis di atas meja kerjanya, melihatku melawan Sodom dan Gomora.
"Aku tidak bisa berlama-lama menghadapi mereka," pikirku. Aku mengambil tiga granat kejut dan melemparkannya ke arah wajah Sodom dan Gomora. Granat itu membuat mereka kehilangan keseimbangan dan aku memanfaatkan momen itu untuk menebas leher Sodom dan meledakan sendi-sendi Gomora dengan melempar pisau ledak hingga kedua lengan dan kaki Gomora hancur. Setelah mereka berdua jatuh, aku mengambil salah satu pistolku dan mengarahkannya ke arah Lao Mei.
"Apa kamu sudah puas?"
Lao Mei hanya tersenyum. Tampak ada rencana jahat di balik senyum wanita psikopat itu. Tiba-tiba sensorku mendeteksi pergerakan dari belakang sehingga membuatku aku menoleh dengan cepat. Tampak ada bagian Gomora yang bisa terbang dan hendak menembakkan meriam yang dari mulutnya. Pergerakannya yang begitu cepat membuatku tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tiba-tiba terdengar suara tembak dari belakang Gomora, beberapa saat kemudian punggung Gomora meledak hingga menjadi berkeping-keping. Tampak John berhasil menyusulku dan menembak punggung Gomora dengan peluru meriam.
"Beraninya... kamu... menendangku seperti tadi?" ucap John dengan nafas terengah.
"Aku tidak menyangka kamu bisa menyusul secepat itu, sepertinya aku yang memenangkan taruhan kali ini" ucapku kepada John.
"Jangan berharap lebih, kamu belum menangkapnya dan membawanya pergi" balas John.
Aku dan John melihat ke arah Lao Mei. Lao Mei masih terduduk manis melihat kami berdua. John mengarahkkan senjatanya ke arah Lao Mei dan berjalan ke arah sampingku.
"Menyerahlah kalau kamu masih ingin hidup" ucap John dengan serius.
Lao Mei tersenyum, ia pun tertawa sambil bertepuk tangan. Setelah tawanya mereda Lao Mei mulai memprovokasi kami dengan senyum sadisnya, "Tidak kusangka seorang pembunuh bayaran dan seorang pimpinan pasukan khusus akan bekerja sama untuk menangkapku. Apakah kepolisian sekarang benar-benar tidak becus sampai membutuhkan bantuan dari pembunuh bayaran?"
"Tutup mulutmu atau aku akan-" kata John namun terpotong.
"Akan apa? Membunuhku?... Kamu pikir dengan membunuhku akan membuat kekasihmu bangkit kembali?"
"Apa kamu bilang?!" teriak John.
Wajah John memanas, ekspresi murka tampak dari wajahnya. John hendak menembak Lao Mei. Namun secara spontan aku melemparkan pisauku ke arah Lao Mei dan menggores salah satu sisi wajahnya. Hal itu membuat John dan Lao Mei terkejut melihat tindakanku.
"Kamu..." ucap John terkejut.
Apa yang diucapkan Lao Mei cukup membuatku terpancing, dia mengingatkanku pada Dante ketika dia membunuh keluargaku.
Lao Mei berdiri meninggalkan tempat duduknya dan berdiri di depan mejanya. Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyum lebar, "Berapa yang kamu mau? 200 juta? 500 juta? Aku akan membayar berapapun yang kamu mau."
Tanpa basa-basi, aku mengambil pistolku dan menembak bahu kanan Lao Mei hingga membuat dia terpukul mundur.
"Aku tidak butuh uangmu. Jadi diam..." ucapku.
Lao Mei menekan lukanya, ia melihatku terkekeh serta berkata, "Kamu kasar juga rupanya..."
Kemudian Lao Mei membuka lukanya kembali. Luka tembak yang aku berikan telah kembali seperti semula. Lao Mei menggerakan bahunya seperti dia baik-baik saja. "Namun sayang sekali, kamu membutuhkan lebih dari peluru untuk membunuhku."
Tampaknya John terlihat kebingungan melihat apa yang terjadi dengan Lao Mei. Aku memperhatikan Lao Mei dengan kedua bawahannya dengan seksama. Perubahan bentuk fisik seperti monster dan regenerasi sel, hanya satu benda yang terlintas dipikiranku yang membuat seseorang menjadi seperti itu.
"Serum Orthros... obat itu telah sampai disini?" ucapku.
"Apa yang terjadi?" tanya John.
"Perempuan ini menggunakan serum berbahaya yang bisa meningkatkan kemampuan manusia secara bertahap. Namun serum sangat berbahaya karena bisa membuat penggunannya kehilangan kesadaran sebagai manusia dan mesin pembunuh liar" jelasku.
Lao melihat kami dengan mata sadisnya dengan tersenyum. "Benar sekali~ Aku tidak menyangka serum ini terdengar sampai ke telinga yang mulia Valdis. Benar apa yang kamu katakan serum ini adalah serum penambah kekuatan, dengan modifikasi sel maka penggunanya bisa memakainya dengan aman dan tanpa efek samping."
Kemudian Lao Mei melepaskan jas lab dan kemeja miliknya hingga menyisakan bagian atas bikini hitamnya. Secara perlahan kulit putih miliknya berubah menjadi hijau bersisik yang memenuhi seluruh kujur tubuhnya. Mata Lao Mei berubah menjadi mata reptil dan dari mulutnya keluar gas berwarna ungu.
"Kalian lihat ini? Ini adalah hasil pengembangan terbaru serum Orthros, dengan menggunakan data organisme lain, pengguna dapat memperoleh kekuatan dari organisme tersebut" jelas Lao Mei.
Aku melempar dua pisau ke kepala Lao Mei dan Lao Mei menepis dua pisau itu hanya dengan tangan bersisiknya yang keras seperti baja. Lalu Lao Mei meranggangkan tangannya ke arah kami berdua. Dari ujung jari-jari miliknya tumbuh tulang-tulang kecil seperti peluru dan meluncur ke arah kami. Aku dan John menghindar dari tulang yang melesat, akan tetapi Lao Mei dengan cepat muncul di depanku dan memukul perutku hingga menghempaskanku ke dinding ruangan. John melepaskan beberapa tembakan dari senjatanya, namun tembakan itu tidak memberikan dampak kepada tubuh Lao Mei. Lao Mei melihat ke arah John dan berdesis, "Oh... geli sekali~"
Kemudian Lao Mei berlari mendekati John. John mengubah senjatanya menjadi tonfa berlistrik dan memukul Lao Mei. Lao Mei menahan pukulan tonfa itu dengan kulitnya, tampak aliran listrik yang kuat di kulit Lao Mei. Namun Lao Mei tidak bergeming, ia pun membalas John dengan tusukan menggunakan cakar yang memanjang hingga menembus seragam tebal milik John.
Lao Mei melempar John ke lantai dan mengibaskan tangannya, cipratan darah menghiasi lantai dan dinding ruangan. Sambil tersenyum dingin, dia melihat ke arahku dan berkata, "Berikutnya adalah giliranmu."