
Samudera menghirup nafas segar dipagi hari yang begitu cerah ini. Ini benar-benar tempat yang tepat untuk melepas penat dari riuhnya hiruk pikuk perkotaan yang selalu padat dengan polusi, populasi, dan tentunya manusia yang sibuk. Sesekali laki-laki itu merengangkan otot-otonya yang kaku sehabis tidur pulas semalaman. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tidak tidur nyenyak.
Bali dengan semua keindahannya ini benar-benar memberinya inspirasi untuk mulai menciptakan beberapa film dokumenter. Setidaknya dia akan mencoba handycam barunya yang baru saja dia beli sebelum keberangkatannya kesini. Ada banyak objek yang bisa dijadikan sebagai pengisi layar handycam barunya, tentunya objek-objek yang bagi dia estetik dan memiliki kesan seni.
Tepat ketika dia memutuskan untuk duduk di tepian kolam di vila kecil itu, dia teringat dengan apa yang dikatakan Ghea, bila Lyn-nya yang dulu ada disini. Samudera memejamkan matanya, mencoba membayangkan bagaimana wajah perempuan itu sekarang. Pasti, sudah banyak berubah, meskipun dengan tambahan sedikit make up, Lyn-nya tetap berwajah dingin, datar, tapi menarik, bersih dan cantik.
“Aku bakal bikin film tentang kamu.”
Begitu yang pernah dia katakan kepada Alyna. Keinginannya untuk menjadi sutrada begitu menggebu-gebu tatkala dia melihat ada satu hal yang perlu diabadikan dari kehidupan seorang gadis pemurung yang selalu terlambat makan hingga sering jatuh sakit karena maagnya kambuh. Sam tertawa mengingatnya. Semua hal yang ada pada Alyna jelas masih begitu nyata dan menyangkut di kepalanya.
Tentang bagaimana Alyna membacakan beberapa potongan syair Victor Hugo di depannya, meskipun dengan cara pengucapan aksen Prancis yang salah. Dia senang melihat Alyna menggeleng-gelengkan kepalanya saat bercerita mengenai apa pun yang tidak dia sukai, dan kejadian buruk yang menimpanya, apa yang ingin dia lakukan hari ini, buku apa yang ingin dia baca malam nanti.
Meskipun terkadang semua yang disampaikan Alyna kepadanya sebagian besar tentang hal yang kurang baik, namun Sam tidak bisa berhenti untuk mencoba mendengarkan cerita itu. Alyna butuh seseorang yang memahaminya. Saat keluarganya sendiri bagi Alyna telah sirna, Sam mencoba menjadi pengganti mereka.
“Kamu perlu mengabadikan cerita lain. Cerita hidupku pait.”
Begitu komentar Alyna sebaliknya. Oh, benar-benar dia merindukan percakapan itu. Dan Samudera menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum. Tersenyum karena rindu.
~
“Aku rasa pakaianmu terlalu sederhana Alyna.” komentar Don saat Alyna telah sampai di kantornya. Alyna mengerutkan keningnya.
“Kenapa? Lagipula bukan aku modelnya.” Balasnya, sambil berlalu mengambil beberapa persiapannya dan menatanya ke dalam tasnya.
“Loh, siapa yang menyuruhku menikmati tugasku disini?”
Don menertawakan kebodohannya, “Oke-oke, kau benar. Asal kau merasa nyaman, itu semua tidak masalah. Tapi maksudku jika kau bersolek sedikit, dan memakai dress mungkin, kau pasti terlihat lebih cantik.”
“Aku hanya berdandan jika ada acara penting saja.”
Don menggeleng-gelengkan kepalanya, “Baiklah, kau sudah siap dengan bawaanmu?”
“Kita bertemu Ghea di pantai?”
Don mengiyakan dengan satu anggukan.
“Aku pikir seharusnya aku sudah siap.” gumam Alyna sendiri.
“Cobalah untuk kembali dekat dengannya, honey, seperti dia mencoba terbiasa denganmu kemarin.”
Alyna diam. Menggigit bibir bawahnya tanda ragu. Lalu gadis itu menghela nafas, “Baiklah, kalau begitu ayo.”
Kali ini Alyna-lah yang menarik tangan Don. Membuat laki-laki dibelakangnya itu tersenyum gembira.
~