
Alyna memperlambat langkahnya ketika dia telah melihat punggung Ghea lambat laun makin dekat. Dengan kedua tangannya yang menggenggam tali tasnya, dia perlahan mendekat. Ghea pun menyadari kehadirannya. Wanita itu tersenyum ramah seperti biasa.
“Alyna, akhirnya. Jadi, disini kamu tinggal?”
Alyna tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.
“Kamu tau dari mana?”
Ghea tersenyum, “Bukan dari Don, jangan nyalahin dia. Sam yang bilang.”
“Nggak mungkin.”
“Percaya atau enggak, emang begitu kenyataannya.”
Alyna diam. Dia masih tidak percaya kalau Sam-lah yang memberitahu alamat tempat tinggalnya pada Ghea. Namun itu tidak begitu menjadi masalah kini.
Alyna dengan segera membuka kunci pintu kamarnya.
“Masuk.” Dia mempersilahkan Ghea, yang kemudian disusul langkahnya juga, lalu menutup kembali pintu itu.
Kedua kakak beradik itu duduk saling berhadapan di kursi di hadapan meja makan yang sering digunakan Alyna.
“Luas juga ya. Nggak kesepain apa sendirian disini.” Ucap Ghea basa-basi.
“Enggak, dah biasa kok.” Jawab Alyna menanggapi dengan serius. Ghea pun tediam.
“Jadi, mau ngapain kesini?”
Alyna meminta jawaban atas permintaan Ghea yang bersikeras ingin bertemu dengannya di apartementnya. Perlahan Ghea menghela nafas.
“Dengar Alyna…kita harus pulang.”
“Apa?!”
“Iya. Kita harus pulang.”
“Alasannya?”
Ghea mengatur nafasnya lagi.
“Ibu akan menikah…”
“Apa?!” Meski tidak begitu terkejut karena lambat laun dia tahu ini akan terjadi, namun Alyna tetap mengeraskan suaranya.
“Kau memintaku buat menghadiri acaranya? Mengetahuinya berkencan dengan laki-laki itu saja sudah membuatku cukup untuk memusuhinya, dan kini kau memintaku untuk hadir di acara pernikahannya? Kau ini sebenarnya gimana sih?!”
“Dengar Alyna aku tahu ini berat, tapi tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya. Ini keputusannya.”
“Kamu itu kurang bijaksana sebagai anak tertua!”
“Lalu bagaimana denganmu sendiri?! Ketika aku membutuhkanmu untuk bersamaan menasehatinya, dimana kamu?!” Ghea membentak, membuat Alyna terpaku dengan kebenaran yang diucapkannya barusan.
“Apa kamu sadar caramu ini salah? Aku sendirian Alyna! Aku benar-benar sendirian dan kamu selalu menuntutku untuk mengambil keputusan yang tepat bagimu.”
“Kamu lupa dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu mengusirku! Dengan tegas kamu bilang dihadapanku bahwa aku ini seorang pembohong yang memperburuk suasana. Kamu tidak pernah mempercayaiku!”
“Tapi itu bukan berarti kamu harus menuruti egomu. Aku mencarimu setelah itu, saat ayah bilang kalau kamu juga pergi meninggalkannya. Kamu tidak akan tinggal lagi bersamanya, itu kan yang kamu bilang padanya?”
“Aku pergi karena aku tidak suka dengan caramu, cara ibu, yang tetap tenang seolah kita baik-baik saja!”
“Siapa bilang kita baik-baik saja?! Aku tidak pernah mengatakan kalau keadaan kita baik-baik saja setelah apa yang terjadi!”
“Asal kau tahu, ayah menelfonku tadi. Dia menceritakan padaku yang yang sebenarnya terjadi, entah dia bercerita padamu juga atau tidak, tapi, ibu yang salah selama ini! Ibu egois. Ayah hanya melepasnya untuk membiarkannya mengejar cintanya. Permintaan macam apa itu?! Apa dia tidak pernah sadar dia telah memiliki keluarganya sendiri?”
Ghea diam. Ya, dia tahu tentang hal itu.
“Aku…tahu tentang hal ini. Ibu yang bilang padaku.”
Alyna tersenyum sinis.
“Oke, ibu selalu bisa terbuka padamu. Dan aku juga bisa menebak kalau setelah ibu jujur pun kamu tetap akan membelanya.”
“Ibu tidak pernah terbuka padamu karena dia tahu kamu akan marah. Kamu akan membencinya.”
Ghea terkejut dengan apa yang didengarnya. Pengakuan Alyna begitu menyakitkan untuk didengar. Wanita itu menangis. Dihadapan adiknya langsung. Tapi Alyna membuang muka. Bukan karena tak peduli atau benar-benar telah membenci kakaknya, tapi hatinya juga pedih.
“Aku berusaha mencarimu selama ini. Memohon agar suatu saat kamu mau memaafkanku. Aku…menyayangimu Alyna.”
Ghea mulai sesenggukkan. Air matanya keluar dengan deras. Begitu pula Alyna. Dia berusaha menyembunyikan suara isakan tangisnya yang pecah.
“Kamu benar-benar mengacau hidupku dengan satu kalimat itu. Aku berharap kamu akan menyesal karena telah mengucapkannya. Ternyata kamu benar-benar menyesal. Dan kini aku tidak ingin melihatmu lagi. Ataupun ibu.”
Ghea membelalakkan matanya seolah tidak percaya. Dia tahu Alyna marah padanya dan ibu, namun dia tidak akan percaya adiknya akan mengatakn hal itu.
“Jangan menyesal sepertiku karena telah mengatakannya juga.” ujar Ghea. Wanita itu mengusap air matanya. Berdiri dan beranjak pergi dari hadapan Alyna.
“Aku harap kamu akan selalu baik-baik saja. Jangan sungkan untuk menghubungi kalau kamu perlu sesuatu, atau dalam keadaan yang sulit. Aku masih kakakmu.” Ucapnya.
Setelah itu, dia membuka pintu dan keluar beranjak pergi dari sana.
Dan Alyna…
Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Membenamkan wajah di atas meja yang kacanya mulai membasah karena titik-titik air mata yang menetes. Alyna menangis cukup keras. Dadanya mulai terasa sesak.
Dan pada saat itulah Sam berdiri diambang pintu kamarnya. Memperhatikannya dari jauh. Ingin segera berlari dan merengkuh tubuh gadis itu.
~
Kedua mata yang kini bersandar di di jendela kamarnya maish sembab. Dia hanya mampu merasakan terpaan angin malam yang masuk melewati jendela kamarnya yang terbuka lebar. Sesekali rambut lembutnya membelai wajahnya yang masih setengah memerah. Rasanya tenang. Begitu tenang sesaat.
Sam berdiri bersandar pada jendela lain bersebelahan dengan Alyna. Laki-laki itu tidak mengatakan sepatah katapun sebelum Alyna yang memulainya. Saat kedatangannya yang tiba-tiba tadi, setelah Sam mendengarkan pertengkaran antara Ghea dan Alyna dari awal, Alyna tidak mengatakan apapun kecuali hanya menangis di pelukan Sam. Sampai saat ini, gadis itu masih terdiam. Seperti kehilangan separuh kekuatannya untuk berbicara.
Sam sesekali mengusap-usap lengannya karena rasa dingin yang mulai menjalar. Sesekali pula dia melihat ke arah Alyna.
“Pulang Sam, aku baik-baik aja.” Ucap Alyna lirih.
Namun mata gadis itu masih memandang ke bawah, diantara orang-orang yang berlalu lalang.
Sam menggegedek menolak, “Nggak.” Ucapnya.
Alyna menghela nafas, menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya yang lelah, lalu memandang Sam.
“Aku baik-baik aja kok. Sungguh.” ujarnya tersenyum.
Sam memandang Alyna yang masih terlihat begitu menyedihkan. Gadis itu telah memalingkan wajahnya lagi.
“Lyn, aku dengar semuanya.”
Alyna menoleh dengan cepat.
“Pertengkaran tadi…aku dengar semuanya.”
Alyna tersenyum kecut, “Menyedihkan bukan?”
Sam diam.
“Aku nggak bermaksud buat mengatakan itu ke Ghea.”
“Aku tahu kamu menyayanginya.”
“Iya, aku sangat menyayanginya.”
Sam mengangguk pelan.
“Aku…kami berdua hancur.” Alyna tertawa getir. Tapi dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata lagi.
“Bahkan aku juga menyayangimu, Lyn.” Ucap Sam lembut. Alyna terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia mendongak menatap Sam. Laki-laki itu tersenyum kepadanya. Tulus sekali. Dan perasaan Alyna kembali tenang.
“Aku sangat-sangat menyayangimu.” Ulang Sam.
Kali ini gadis itu gagal untuk menahan air matanya. Dia menangis begitu saja. Menangis karena dua kalimat ajaib yang diucapkan Sam.
~