The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Dua Puluh : Sudut Pandang Lain



'Bagaimana jika nanti mereka akan membenci kita?’


‘Atau hidup harmonis dengan keadaan baru ini.’


‘Tapi sepertinya tidak dengan putri keduamu.’


Audy terdiam seolah kata-kata itu mengingatkannya pada luka lama. Sudah lama dia tidak melihat wajah dari gadis itu. Semua pertimbangan yang selalu dia bahas berdua bersama Doni itu selalu membuatnya menarik ulur waktu. Doni tidak pernah memaksanya untuk mempercepat. Keduanya benar-benar menikmati keadaan ini. Keegoisan ini.


Ya, egois. Satu kata yang menusuk hatinya setelah diucapkan oleh Ardi, suaminya. Mantan suami. Ayah dari kedua putri tercintanya. Pria yang selama belasan tahun hidup bersamanya dengan kasih sayang palsunya. Belakangan ini dia menyadari kalau apa yang dia lakukan memanglah egois. Dia ingin mengejar hal yang seharusnya tidak dikejarnya lantaran keadaannya telah benar-benar berbeda. Dia adalah ibu dari dua orang anak perempuan, istri dari seorang suami, penghuni dari sebuah keluarga, yang memilih untuk melepas semua itu demi mengejar cinta lamanya.


‘Aku tidak akan mengatakan alasan dibalik semua ini kepada mereka, biar mereka tahu sendiri.’


Hal yang dikatakan Ardi, seolah alasan di balik perceraian diantara mereka benar-benar tidak perlu dijelaskan kepada kedua putri mereka. Saat itu, Audy benar-benar telah mantap dengan apa yang di putuskan, dan dia tahu betul suaminya kecewa dengan hal ini. Mengetahui hubungan gelap antaranya dan Doni, merupakan awal mula keretakan dalam rumah tangga mereka.


‘Aku tidak pernah mengatakan ‘iya’ pada pertunangan kita.’


Dia membela dirinya, seolah kejadian yang terlanjur membuat mereka bersatu menjadi sebuah keluarga selama belasan tahun lamanya adalah kesalahan Ardi. Dalam keadaan yang masih berlutut dan berlinang air mata, Audy memohon kepada suaminya. Permintaan tersalah yang pernah dia minta.


Itulah hal terakhir yang dia dengar dari Ardi. Setelahnya, laki-laki itu tidak pernah mengunjunginya lagi, atau bahkan menghubunginya. Surat perceraian pun datang dari kiriman oranglain. Setelah itu, hubungannya dengan Alyna makin merenggang, terlebih ketika Alyna melihat kejadian dimana dia melakuaknnya dengan kekasihnya. Audy mulai kehilangan satu pelitanya. Alyna, putrinya yang selama ini juga mengisi kekosongan hatinya.


Tapi dia mendapatkan Doni, lantas apa artinya sebuah penyesalan? Kecuali jika naluri keibuannya baru hadir saat ini, ketika mereka berdua telah memutuskan untuk menikah. Dengan perasaan bimbang itu Audy setiap malam berdiri di depan kaca jendela kamar, menantikan pesan dari Ghea dan janji dari gadis itu bahwa dia akan membawa Alyna pulang bersamanya. Dengan tanpa merasa bersalah Audy tetap mengundang Alyna datang ke acara permikahannya bersama Doni, ayah barunya. Dengan perasaan yang sangat menyesal, Audy melakukan segalanya.


Kini di kamar gelap inilah dia menangis tersedu-sedu. Selimut dan seprai berhamburan entah kemana. Dia marah sebab semua kenangan akan keharmonisan rumah tangganya hadir dalam ingatannya, selalu, bahkan sosok Alyna juga ikut hadir, sebelum pada akhirnya semuanya rusak oleh keegoisan itu. Benar-benar tak tahu malu. Bahkan air mata yang mengalir deras itu tidak akan bisa memperbaiki semua yang telah di rusak.


Sebagai seorang laki-laki, Doni benar-benar baik. Laki-laki penyabar yang telah menjatuhkan hatinya semenjak dia duduk di kelas satu SMA. Audy tidak pernah mengatakan perasaannya sampai Doni yang memulainya saat dia telah dituangnakn dengan Ardi. Hal yang benar-benar menyakitkan.


Dan apa yang dia dapat setelah dia mengacaukan segalanya? Tidak ada. Dia kehilangan kebahagiaannya, seperti dia kehilangan putrinya Alyna. Wanita itu benar-benar menyesal. Lambat laun yang bisa dia rasakan adalah rengkuhan hangat mantan suaminya yang selalu bisa memahami kesibukkannya sebagai seorang model. Ardi bukanlah laki-laki yang romantis, tapi dia penuh dengan perhatian diam-diam.


Kini semua yang terjadi harus tetap diteruskan karena telah mengorbankan apa pun di kehidupannya. Dengan tangisan putus asa itu, dia tetap menanti kedua putrinya pulang ke rumah.


~