
‘Merelakan seseorang yang dicintai membuka kehidupan baru dengan orang lain adalah bagian tersulit dari kehidupan romansa.’
-Ayah-
Alyna menghela nafas berkali-kali sambil meyakinkan diri dengan semua ini. Tangan kanannya menggenggam ponsel yang telah dia dekatkan ke arah telinganya. Setelah nada tunggu berubah menjadi nada suara seseorang diseberang, dia benar-benar telah memantapkan semua ini.
“Alyna?”
“Halo Ayah, apa kabar?”
“Baik. Ayah senang kamu mau menghubungi Ayah.”
Alyna menarik nafas. “Ya. Kupikir juga demikian.”
“Jadi…ada apa?”
“Ayah, aku telah memikirkan ini. Aku…akan pulang.”
“Benarkah? Kamu yakin? Syukurlah kalau begitu. Tapi ayah tidak akan memaksamu datang ke acara…”
“Tidak Yah, aku akan datang kesana dengan Ayah. Aku akan menemani Ayah sepanjang acara pernikahan ibu.”
“Kamu yakin dengan semua ini, Nak?”
Alyna mendengus, “Ayah butuh seorang teman.”
Dia dapat mendengar suara tawa Ayahnya yang sedikit membangkitkan semangat hidupnya.
“Ayah sangat membutuhkan teman Alyna. Ayah sangat bersyukur kamu mau menemani Ayah.”
Alyna tersenyum lebar, “Ayah, aku harap Ayah baik-baik saja.”
“Ayah baik-baik saja. Karena Ayah punya kalian.”
Semilir angin segar menerpa Alyna dari kejauhan. Dia merasa setelah ini kehidupannya akan membaik.
“Aku minta maaf untuk semua hal yang telah aku lakukan selama ini.”
“Kamu membuat Ayah cemas siang dan malam setiap harinya. Tapi tidak apa-apa. Ayah percaya pada kalian. Kalian hanya melakukan yang menurut kalian benar. Kalian terlalu kecewa dengan hancurnya keluarga kecil kita.”
“Aku mau memperbaiki semuanya. Tapi maaf, aku tidak bisa menahan ibu untuk Ayah.”
“Ayah yang minta maaf Nak. Ayah tidak bisa mempertahankannya lagi.”
Alyna tersenyum kecut, “Tidak apa-apa Yah. Aku ingin Ayah menerima ini dengan ikhlas.”
“Ayah telah mengikhlaskannya Nak, tapi untuk kehilangan kalian, Ayah rasa Ayah tidak sanggup.”
“Aku akan segera pulang. Aku akan hidup dengan Ayah. Aku janji.”
“Terimakasih. Pulanglah Alyna. Cepat-cepat.”
Alyna tersenyum bahagia, “Iya. Segera. Bye Yah.”
Sambungan telfonnya terhenti, meskipun demikian Alyna yakin Ayahnya menutupnya dengan segaris senyuman.
Disebelahnya, Ghea tersenyum ke arahnya. Mereka berdua sama-sama saling menukar senyuman.
“Kamu melakukan hal yang tepat, Alyna.”
Alyna tersenyum, “Kita,” ucapnya.
Ghea menarik kedua sudut bibirnya. Dia meraih kedua tangan saudara kandungnya itu.
“Aku menyayangimu. Sangat.”
“Aku juga. Sangat.”
Ghea dan Alyna bersatu dalam pelukan hangat. Saling memberikan kenyamanan satu sama lain. Tapi tak lama kemudian, rengkuhan itu terganggu lantaran Sam tiba-tiba memutusnya dengan hadir begitu saja diantara mereka.
“Samudera!” pekik Ghea emosi. Sam tertawa dan berlagak bodoh dengan tampang yang jahil.
“Ih, masih belom!” giliran Alyna berdalih. Mereka pun tertawa. Dan dari arah belakang, Don menyahut,
“Wah-wah, rumit ya. Diantara kalian Cuma aku yang bukan siapa-siapa.”
Baik Sam, Ghea, dan Alyna menertawai Don yang nampak memelas. Sementara Don juga menertawai dirinya sendiri.
“Eits, jangan sombong dulu kita. Kalo Don udah kumpul sama kerabatnya, bisa parah tuh satu lapangan penuh.” Alyna membela.
Don tertawa menanggapinya, “Bisa aja sih,” ucapnya.
Mereka berempat tertawa bersamaan di pinggiran pantai yang indah pada suasana sore menjelang malam yang penuh makna.
~
20 Juli 2018
Pesawat yang mereka berempat naiki akhirnya berangkat menju ke Jakarta, meninggalkan Bali yang sudah selama bertahun-tahun mengukir banyak cerita bagi Alyna.
Alyna menyandarkan kepalanya pada bahu Ghea yang tertidur. Dia mendekap jaket parkanya dan membuatnya merasa nyaman. Dia melamunkan banyak hal. Rasanya tak sabar ingin segera sampai ke rumah. Terlebih, kembali ke pelukan ayahnya yang ternyata selama ini mencintai merek dengan tulus.
Lambat laun Alyna memejamkan matanya. Dia mulai membayangkan semua hal menyenangkan yang dia harap akan terjadi setelah semua ini.
~
Suara gerbang yang terbuka membuat seorang pria setengah tua dengan kacamata beningnya yang tengah menyirami tanaman disore hari itu menoleh. Dia mencoba menajamkan penglihatannya, dan segera melepas selang yang dia pegang dengan tak percaya saat dia melihat dengan jelas apa yang berdiri disana. Dua orang gadis berjalan ke arahnya. Pria itu cepat-cepat berhambur ke arah mereka berdua.
“Ghea, Alyna…” suaranya terdengar serak dengan rindu yang dalam.
Ghea dan Alyna mempererat pelukan mereka. Mereka berdua memejamkan matanya. Terasa seperti mengulang masa anak-anak meraka saat mereka berdua masih sering mendapatkan pelukan hangat dari ayah.
Alyna membenamkan wajahnya dalam-dalam, mencoba menghayati rasa rindu ini yang membuat kedua matanya mulai membasah. Dia benar-benar merindukan ayahnya, dan kini rindu itu terbalas sudah.
“Ayah, aku senang melihat ayah baik-baik saja.” ujarnya.
Ardi melepas kerinduan itu dengan senyum yang mengembang, “Ayah benar-benar tak menyangka kalian berdua akan datang kesini lagi.”
“Kami tidak akan pernah pergi kemana-mana lagi,” ucap Ghea, yang lalu melirik ke arah Alyna.
Sementara Alyna mengiyakan dengan yakin.
“Aku dan Ghea, kami berdua ingin kita bersatu lagi, Yah. Meskipun kini keadaannya berbeda.”
“Ayah, aku tidak pernah bermaksud memihak kepada ibu. Saat aku tahu kebenarannya, aku rasa semua sudah begitu terlambat sehingga kupikir Ayah akan marah padaku.”
Ardi mengusap wajah Ghea dengan lembut, “Ayah tidak marah. Yah, walau awalnya Ayah kecewa, tapi setelah Ayah pikir lagi wajar jika kalian marah. Ini semua salah kami.”
“Jangan menyalahkan diri sendiri Ayah. Ayah harus benar-benar kuat. Lusa, pernikahan ibu akan berlangsung…”
Alyna menggenggam erat tangan ayahnya,
“…apa Ayah yakin mau hadir?”
Ardi mengangguk yakin, “Ya. Ayah kuat karena ada kalian.”
Alyna menatap ayahnya dengan penuh rasa simpati.
“Ini bagian tersulitnya, tapi Ayah harus bisa melewatinya. Ayah bersyukur kalian terlahir dari pernikahan Ayah dan ibumu.”
Ghea dan Alyna terdiam.
“Kalo begitu, ayo masuk. Kalian berdua pasti lelah. Kamar kalian sudah siap sejak lama. Setelah kalian istirahat, kita bisa makan diluar.”
“Asik!” seru Alyna kekanakan. Ghea menanggapainya dengan tawa, begitu juga dengan ayahnya.
Untuk sesaat Ardi merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja saat dia bisa melihat lagi kehadiran putri-putrinya. Dia bahagia. Kebahagiaannya penuh karena mereka berdua.
~