The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Sepuluh



Ghea benar-benar bersinar layaknya bintang. Dia berubah dari segi apa pun. Alyna memperhatikannya dari tepian bibir pantai tempat dia duduk memeluk kedua lututnya. Hembusan angin menerpa rambutnya yang di kuncir. Seharusnya dia yang mengambil gambar kakak kandungnya itu. Tapi dia mengurungkan niatnya. Alyna benar-benar belum mau membuka kembali hatinya, seperti dia menutup hidupnya untuk orang-orang di masa lalunya.


“Kenapa dia tidak memotretku?” tanya Ghea pada Don.


Don yang sedari tadi sibuk memilah foto mana yang layak untuk disimpan, mendadak melirik ke arah Ghea.


“Akhir-akhir ini dia kurang enak badan.”


“Oh ya? Atau hanya semenjak bertemu kembali denganku?”


Don diam. Laki-laki itu mengedikkan bahunya.


“Aku sudah mencoba banyak cara. Tapi…dia anak yang keras kepala.” ucap Ghea, seraya merapikan poni rambutnya.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku rasa masalah kalian sulit.”


“Sangat sulit sekali. Kupikir dia sudah banyak cerita denganmu. Apa betul?”


Don diam lagi, namun beberapa saat kemudian dia mengangguk pelan, “Hanya sebagian.” lanjutnya.


Ghea kembali menatap ke arah adiknya lagi.


“Dia masih marah. Mungkin karena merasa tidak mendapat keadilan.”


Don dan Ghea saling bertatapan, “Kau tahu? Kami sangat menyayangi ibu kami.” lanjut Ghea, dengan kedua matanya yang berbinar redup.


“Atau mungkin salahku. Aku tidak mempercayai apa yang dia ceritakan padaku jika ibu punya pacar lagi.” ujar Ghea sambil terkekeh sendiri.


“Sampai akhirnya ibu sendiri yang mengatakannya. Aneh bukan?”


“Apanya yang aneh?”


“Hidup kami. Semuanya yang sempurna harus berakhir seperti ini.” jawab Ghea, kali suaranya terdengar berat.


Don memperhatikan wanita itu dengan seksama. Sama dengan Alyna, dia bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam pada diri Ghea, tapi Ghea lebih bisa menutupi hal itu.


“Aku turut sedih apa yang terjadi pada kalian berdua.” ucap Don bersimpati.


Ghea tersenyum.


“Makasih kamu udah jagain dia semala ini. Makasih banyak.”


Don mengangguk pelan. Kali ini mereka berdua bersamaan memperhatikan Alyna yang sibuk memotret objek-objek di sekitar pantai.


~


Dengan modus menelusuri bibir pantai, Ghea mendekati Alyna yang masih sibuk dengan kameranya.


“Mana bagianku?”


“Bagian yang terbaik yang bisa kamu kasih ke aku, Alyna. Don bilang hasil jepretanmu selalu bagus.”


“Sayangnya, aku lebih suka objek alam, bukan manusia.”


Ghea menghela nafas, mencoba bersabar. Wanita itu duduk sambil terus memperhatikan Alyna. Alyna ingin menjauh darinya, tapi entah kenapa tidak bisa. Rasanya berat sekali untuk melangkah.


“Ibu mau kamu pulang, sekali saja.”


“Setelah itu dia benar-benar merelakanku pergi.”


“Bukan begitu juga. Syukur-syukur kamu mau menetap disana seterusnya.”


“Buat melihat dia mencium laki-laki itu lagi? Dan kedaan akan terus begini saat kau tidak perecaya dengan apa yang aku ceritakan. Kamu yang mengusirku.”


“Maaf, tapi sekarang aku percaya. Ibu yang cerita padaku kalau apa yang kamu bilang itu benar.”


Sontak Alyna membelalakkan matanya, “Apa?!”


Ghea mengangguk, “Ya, dia bilang begitu. Kamu tidak salah. Ibu yang membenarkan semuanya.”


Alyna menggeleng-gelengkan kepalanya, “Terus kamu masih saja terdengar begitu santai seperti ini? kamu bahkan nggak kabur dari rumah seperti aku yang mencoba memberontak biar dia tersadar atas kesalahannya, tapi sayangnya kalian berdua sama saja!”


“Alyna, mereka cuma punya kita. Kita masih anak kandung mereka.”


“Kalau mereka cuma punya kita, terus kenapa mereka mencari pasangan lain?! Kamu ini bodoh atau gimana sih?”


Ghea diam. Membenarkan tiap kalimat yang baru saja Alyna lontarkan.


“Aku hanya mau kamu pulang, Alyna. Kamu pikir aku juga tidak kesepian setelah kepergianmu?”


“Itu masalahmu, bukan masalahku! Kamu mendapat bagiannya. Jika menurutmu kehadiran laki-laki itu bukanlah suatu masalah, buat apa merasa kesepian? Harusnya kamu justru merasa lengkap!"


“Alyna…”


“Udahlah, aku nggak suka debat di jam kerjaku!”


“Tunggu dulu Alyna…”


“Jika dulu kamu mengusirku, kini biar aku yang memintamu untuk pergi sekarang juga!”


Ghea menundukkan kepalanya, “Oke, tapi aku bakal sering-sering dateng ke tempat kerjamu. Aku mencoba membuatmu memaafkan semua kebodohanku.”


Alyna diam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian terdengar suara langkah Ghea yang menjauh. Saat itu pula, Alyna memutuskan untuk pergi tanpa menoleh ke belakang.


~