The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Delapan Belas



Don memandang Alyna seperti tidak biasa. Dia tahu mungkin ada beberapa masalah pribadi yang terjadi pada gadis itu. Don memandanginya, memandangi setiap gerak-gerik Alyna yang sibuk meneliti foto-foto tangkapan mereka.


“Aku bingung denganmu.” tukas Alyna, kali ini berkacak pinggang di hadapan Don.


Don terkesiap, mengerjapkan mata berulang kali.


“Bagus, sekarang kamu menganggapku aneh.” gerutu Alyna.


“Ada apa sih?” lanjutnya dengan nada yang kesal sekaligus penasaran.


“Oh, enggak kok. Nggak ada yang salah denganmu Honey.”


“Bukan aku, kamu.” tukas Alyna. Tapi Don malah tertawa. Menertawai kebodohannya.


“Aku memandangimu.”


“Ya, buat apa?”


“Aku rasa kamu juga cocok menjadi seorang model seperti Ghea.”


Alyna memutar bola matanya dengan ekspresi yang merendahkan dirinya sendiri.


“Aku? Nggak mungkin. Apa kamu mau melihatku seperti orang aneh dengan beberapa polesan bedak dan make-up itu? Mengerikan.” ucap Alyna sembari bergidik sendiri membayangkannya.


Tapi hal itu justru membuat Don semakin enggan memalingkan pandangannya dari Alyna.


“Matamu bengkak lagi Honey.”


Alyna diam. Dia sudah tahu kalau Don akan curiga.


“Dan aku rasa kamu sudah tahu alasannya kenapa.” ucap Alyna, masih sibuk dengan apa yang dia kerjakan.


“Ada apa Alyna?”


Alyna diam. Dia hanya mengangkat bola matanya, dan mengedarkannya menerawang entah kemana. Namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum.


“Aku bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kami.” Begitu ungkapnya. Gadis itu kembali terdiam.


“Ghea sama sekali tidak menghubungiku pagi ini. Biasanya diam-diam dia akan menyuruhku mengawasimu, menjagamu, atau menitipkan salamnya untukmu, dan menyuruhku untuk memastikanmu tidak lupa makan.”


Alyna memejamkan matanya. Beberapa kali gadis itu menghela nafas.


“Kemarin kami berdua bertengkar.” ungkapnya. Menjelaskan. Berharap kalimat itu mampu membuat Don cukup mengerti.


“Aku kira memang selama ini kalian bertengkar.”


“Bukan-bukan…” Alyna menyergah, diselingi tawa lelah,


“Ini pertengkaran yang beda. Kami langsung bertatap muka. Di apartementku.”


Don menautkan kedua alisnya, “Apartementmu? Alyna, aku bersumpah aku tidak memberitahukan alamatmu padanya…”


“Iya aku percaya. Dia dapat dari Sam.”


“Temanmu itu?”


Alyna menganggukkan kepalanya.


“Lalu apa yang terjadi?”


“Sudah aku katakan, kami berdua bertengkar.”


“Apa yang membuat kalian berdua bertengkar?”


Alyna menghela nafas, “Dia memintaku pulang.”


Don terkekeh, “Hanya itu? Untuk apa kamu bertengkar dengannya karena permintaan itu?”


“Kamu tidak tahu Don, aku sama sekali tidak ingin pulang.”


“Kenapa?”


Alyna mengerutkan keningnya, “Apa sekarang aku mulai merepotkanmu?”


Don menggedekkan kepalanya cepat-cepat, “Tidak-tidak, bukan begitu. Kamu sama sekali tidak merepotkan kok. Tapi apa yang membuatmu bersikeras menolak permintaannya?” tanya Don lebih dalam. Dan wajah gadis itu mulai lesu.


“Karena dia memintaku pulang untuk menghadiri acara pernikahan ibuku bersama pria itu.” jawab Alyna dengan sorot mata yang redup.


Don diam. Dia tahu ini memang sulit untuk Alyna. Tapi dia pikir dia tidak bisa lagi membantu Alyna lebih selain memberinya rasa aman disini bersamanya.


“Dan kamu tidak akan melakukannya karena kamu tidak menginginkan hal itu terjadi kan?”


Alyna mengangguk lemah.


“Begini Alyna, jika sudah tidak ada hal yang bisa kamu lakukan lagi, bagaimana jika kamu menerimanya?”


Cepat-cepat Alyna menegakkan wajahnya. Sorot matanya berubah tajam.


“Karena kamu pun tahu jika ibumu hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna seperti makhluk lain.” timpal Don, tapi gadis itu tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Lantas, kenapa malah ayahku yang setia sampai saat ini?” koreksi Alyna dalam pertanyaannya. Wajah Don berubah seperti orang yang kebingungan.


“Maksudmu?”


“Ayahku memang yang memulai perceraian itu, tapi dia melakukannya atas permintaan ibuku.” Jelas Alyna. Kali ini Don semakin tak percaya dengan apa yang didengranya.


“Ah, lupakan. Intinya begitulah.”


Alyna kembali menyibukkan diri pada pekerjaannya. Don kembali menyandarkan dirinya pada kursi yang didudukinya.


“Jika kamu berubah pikiran, maka aku akan pergi menemanimu Alyna.” ujar Don.


Alyna menolehkan kepala, “Aku…masih belum yakin.”


“Itu artinya setengah dari dirimu telah merelakan hal ini terjadi.” jelas Don.


Gadis itu pun tertunduk, lalu membuang pandangannya jauh-jauh. Entah kenapa kalimat yang diucapkan Don tadi justru membuatnya merasa lebih ikhlas menerima kenyataan pahit ini.


Alyna mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Dia tidak ingin memperdulikan hal ini lagi. Gadis itu kembali sibuk pada pekerjaannya.


~


“Kapan kamu akan memberitahunya?”


Tanya Ghea dengan wajah yang mengharap kepastian dari Sam yang saat ini terduduk di hadapannya. Wajah lembut wanita itu masih menantikan jawaban.


“Sam?” panggilnya lagi. Sam mendongakkan wajahnya. Laki-laki itu menghela nafas kecewa.


“Aku belum tahu.”


“Cepat atau lambat, Alyna harus tahu.”


Sam memandang Ghea dengan wajah yang meminta belas kasihan. Tentunya Ghea tidak tega melihat hal itu.


“Tolong beri kami sedikit waktu lagi.”


“Aku mengerti. Kamu mencintainya. Entah dia mencintaimu atau tidak seperti aku dulu. Tapi jika waktunya untuk tahu sudah terlambat, itu malah akan menyakitinya lebih dari apa pun.”


“Kami berdua lama bersahabat, kau pasti tahu bagaimana rasanya.”


“Aku tahu Sam. Selama ini aku selalu bersandiwara didepannya untuk membuatnya tidak curiga dengan keadaan ini. Tapi dia berhak untuk tahu sekarang juga.”


Sam diam. Menghirup nafas berulang kali sambil sesekali memandangi pesisir pantai yang mulai sewarna dengan senja.


“Dan jika ternyata dia mencintaimu, berarti selama ini dia telah berkorban demi aku.” Lanjut Ghea. Sam mengerutkan dahinya.


“Apa maksdunya?”


“Aku kakak kandungnya. Aku tahu seperti apa perasaannya padamu selama ini hanya dari caranya memandangmu. Dia terlihat lebih hidup saat bersamamu, apa kamu tidak pernah merasakannya selama ini?”


Sam diam, lalu menggeleng pelan.


“Dia hanya selalu terbuka padaku.”


“Bagus kalau begitu, karena dia tidak pernah terbuka padaku.”


Laki-laki berkemeja pantai itu kembali menatap pesisir pantai. Ghea pun melakukan hal yang sama. Untuk sesaat mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Aku tidak ingin setelah ini dia marah besar padaku.” ungkap Sam tiba-tiba. Wajah Ghea berubah sedih.


“Akulah yang selama ini mengenalnya jauh, yang selama ini menjadi tempatnya menumpahkan segala masalah dihidupnya, bahkan mungkin hal-hal yang tidak kamu ketahui, aku mengetahuinya, Ghe.”


Ghea mengangguk mengerti.


“Aku…hanya tidak ingin dia kembali menyakiti dirinya lagi setelah mengetahui kalau ternyata akulah anak dari laki-laki yang akan menikahi ibu kalian.”


Sam merasa hatinya sakit setelah mengucapkan hal itu. Tangan lembut Ghea mengusap bahu laki-laki itu.


“Tapi jika kamu tidak mengakuinya, itu akan lebih memperburuk keadaan.” jelas Ghea.


Sam memainkan layar kecil handycame yang digenggamnya. Membuka lalu melipatnya, seperti itu terus menerus sambil memikirkan hal buruk yang terjadi setelahnya jika dia mengatakan kebenaran ini pada Alyna.


“Jika aku tidak bisa memilikinya sebagai pasangan hidup, itu tidak apa-apa, tapi, jangan biarkan aku memilikinya sebagai saudariku sendiri, karena itu akan menyiksaku.”


Ghea merasa iba mendengar hal itu. Wanita itu tersenyum pahit. Sepahit kenyataan kalau ternyata Sam benar-benar mencintai Alyna. Sepahit kenyataan kalau ternyata mereka bertiga akan menjadi saudara. Sepahit kenyataan kalau ternyata selama ini Alyna telah berkorban banyak untuknya.


Dua orang itu sama-sama meringkuk di bawah sinar matahri yang terik, pada hempasan angin laut yang membelai tubuh mereka. Andai saja hempasan angin itu sanggup membawa penderitaan ini. Andai saja.


~


“Kamu mau pulang sekarang Honey?”


Tanya Don pada Alyna yang telah selesai mengemasi barang-barangnya. Alyna mengangguk pelan, “Ya, aku mau ke pantai sebentar.” jawabnya.


“Kamu ingin aku ikut?”


“Aku mau waktu sendiriku. Tolong.” Pinta Alyna. Don mengiyakan.


“Tunggu dulu, kamu nggak pulang?”


Don menggeleng, “Tidak. Aku mau menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan di pameran galeri foto.”


Alyna menepuk dahinya, “Oh, sorry, aku lupa. Mau aku bantu?”


Don mencegah cepat-cepat, “Tidak perlu kok. Sudah hampir beres. Pergilah ke pantai dan bawakan aku satu foto langit senja yang indah.”


Alyna tersenyum mengiyakan.


“Siap Bos! Bye, Don.”


Alyna menghilang setelah melambaikan tangannya. Namun Don masih belum mengalihkan pandangannya meskipun gadis itu sudah tidak lagi berada di hadapannya.


~


Gadis itu menyisiri pesisir pantai berpasir putih sendirian, dengan tangannya yang memegang sepasang selop berwarna putih yang dilepas dari kakinya. Hembusan angin dengan lembut membelai helai-helai rambut halusnya. Untuk sesaat Alyna menyadari kalau apa yang diucapkannya pada Ghea keterlaluan. Dia bahkan menyesal karena telah membuat kakaknya menangis dengan kalimat yang telah dia lontarkan begitu saja. Bahkan masih bisa dia mengingat wajah Ghea yang berlinang air mata.


Alyna pun duduk meringkuk di atas pasir di pinggir pantai. Dia menghela nafas, lalu mengusap wajahnya yang akhir-akhir ini terlalu lelah dengan semua pikirannya.


Apa yang dikatakan Ghea memang ada benarnya. Dia pergi menghilang begitu saja ketika kakak perempuannya membuthkannya untuk saling menguatkan, dan membangun suatu kebijakan bersama-sama. Namun disisi lain Alyna merasa dirinya juga tidak bersalah. Dia hanya melakukan apa yang Ghea minta.


“Apa melamun juga menjadi bagian dari pekerjaanmu?”


Suara seseorang yang begitu familiar membuatnya terkejut. Alyna mendongakkan kepalanya menuju ke sumber suara. Senyum tulus itu menyambutnya, begitu menenangkan.


“Sam? Kamu disini?”


“Ya, kebetulan bukan.” Sam ikut duduk disebelahnya.


“Tapi bagaimana bisa?”


Sam tertawa, “Aku mengikutimu.” Jawabnya asal, tapi cukup untuk membuat Alyna percaya.


“Aku tidak membyaramu untuk menjadi pengawal pribadiku.” ujar Alyna, diikuti tawa renyah Sam.


“Lagian, apa yang kamu lakukan disini?” tanya gadis itu.


Sam menunjukkan kepadanya handycame hitam yang di pegangnya, dan itu membuat Alyna paham.


“Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini?” Sam balik bertanya.


Gadis disebelahnya mempererat pelukannya pada kedua kakinya.


“Entahlah, aku sudah terlalu lama terdampar di pulau ini.”


“Kamu merindukan rumahmu.”


Cepat-cepat Alyna menoleh padanya, “Jangan sok tahu, bukan berarti aku merindukan rumah.” ungkapnya.


Sam bergeming dalam benaknya. Semua kalimat yang tadinya telah dia rangkai untuk diucapkan, kini saat berhadapan langsung dengan Alyna keberaniannya menghilang entah kemana, seperti lenyap dan menghilang di dalam samudera yang luas. Apalagi jika dia melihat wajah cerah Alyna dan tidak ingin merusak kebahagiaan sederhana itu.


“Kalau nanti kamu benar-benar harus menghadiri acara itu, apa yang akan kamu lakukan?”


Alyna diam sesaat.


Sam menghela nafas, “Aku tahu kamu benar-benar tidak menginginkannya.” lanjutnya.


“Aku akan kembali lagi kesini.” jawab Alyna.


Gadis itu pun memainkan resleting tas kecil kameranya seperti seorang anak kecil yang bimbang. Dan beberapa detik berikutnya, dia menatap Sam.


“Kalau kamu tidak mau berlama-lama lagi disini, pergilah. Aku tidak akan menahanmu lama-lama.”


Sam tertawa, “Bodoh. Siapa bilang aku disini karenamu? Aku suka pemandangannya. Aku suka melihat ada banyak gadis berlalu lalang di hadapanku dengan pakaian yang sangat mini.” Sam bergurau, dan Alyna tertawa.


Ini adalah kali pertama laki-laki itu bercanda di hadapannya setelah sekian lama.


“Tapi aku serius. Pergilah kalau kau ingin pergi.” ungkap Alyna mantap.


Kedua bola mata gadis itu memandang Sam dengan keteduhan walau bibirnya tersenyum pahit.


“Jika terjadi sesautu diantara kita, apa kau mau memaafkanku?”


Alyna mengerutkan dahi, “Apa maksdunya?”


Sam bungkam seketika. “Lupakan.” ocehnya. Membiarkan Alyna penasaran dengan kalimatnya tadi.


“Apa aku bukan sahabat karibmu lagi? Sampai-sampai kamu menutupi semua permasalahanmu.” Alyna terus mengejar.


“Lupakan Alyna. Maksduku hanya terjadi sesuatu seperti…aku rasa aku menyukaimu.”


“Apa?” suara Alyna terdengar keras.


“Bercanda.” Sam menegakkan dua jarinya.


Alyna tersenyum kecewa, “Sam…kamu membuatku hampir jantungan.” gerutu Alyna, sedikit memukul bahu laki-laki itu.


Tapi kalimat itu benar-benar menyakitkan. Dalam hatinya yang paling dalam, gadis itu sakit hati, namun tertutupi oleh sandiwaranya yang mumpuni.


“Oke-oke, maaf Nona Alyna.” Ucap Sam seraya menyeringai. Alyna mengerucutkan bibirnya.


“Aku benar-benar tidak suka candaanmu barusan.” tukasnya.


Ya, Alyna benar-benar tidak menyukainya.


Sam menggaruk-garuk kepalanya, “Baiklah kalau begitu aku minta maaf.”


“Lupakan. Aku mau pulang.”


“Sial, kamu marah.”


Alyna tertawa. Wajahnya yang cemberut berubah seperti semula.


“Enggak kok. Buat apa marah gara-gara candaan bodohmu itu?” ungkapnya berlagak meremehkan Sam.


Gadis itu berdiri lalu memakai selop putih yang dijinjingnya tadi.


“Lagian, kemeja itu culun Sam.” komentarnya bergurau.


Senyum itu mengembang seperti adonan kue yang mekar di dalam oven. Sam bingung mengapa Alyna seolah melupakan semua masalahnya begitu saja, seperti tidak lagi mengenali Alyna yang waktu itu menangis setelah bertengkar hebat dengan Ghea. Tapi bukankah ini lebih baik dari pada harus melihat gadis itu murung dan larut dalam dunianya sendiri.


“Aku kehabisan baju ganti. Lagi pula bertemu denganmu tidak pernah direncanakan sebelumnya.”


“Semuanya terjadi begitu saja.” Alyna memotong.


Sam dengan tenang mengamatinya. Wajah gadis itu, masih sama seperti Alyna yang selalu menyelamatkannya dari hukuman sekolah dulu.


“Laki-laki itu, apa dia membuatmu sebahagia ini?”


Pertanyaan itu sedikit membuat Alyna berfikir lama, namun kepalanya seolah menjentikkan jari kala dia tahu siapa yang dimaksud Sam.


“Don?”


Sam mengangguk.


“Oh, dia laki-laki yang baik.”


Senyum Sam berubah, tapi masih memberi setitik ketegaran yang dipaksakan. Kenapa tidak pernah dia menemui celah untuknya mengatakan apa yang terjadi pada perasaannya untuk gadis yang kini berdiri tepat didepannya?


“Dia banyak membantuku.” lanjut Alyna.


Sam mengangguk mengerti bagaimana Alyna benar-benar menganggap Don adalah orang kedua yang selalu ada untuknya setelah perpisahannya dengan dirinya.


“Aku bertanya karena aku hampir saja tidak mengenalimu secerah ini Lyn.” Sam berkata apa adanya. Hal yang keluar begitu saja dari mulutnya.


“Aku senang aku bisa bertemu kamu. Disini. Saat ini.”


Senyum Sam mengembang dengan tulus, “Aku juga.”


“Tapi Ghea akan menantimu dengan cemas.”


Kalimat yang terlontar dari Alyna membuat Sam mengingat akan suatu hal yang seharusnya dia lakukan.


Bukan untuk melakukan percakapan bersama Alyna disini. Berlagak seolah mereka berdua sedang belibur mengasingkan diri di suatu tempat setelah terpisah sekian lama.


Tapi apa boleh buat? Sam benar-benar tidak bisa melakukannya. Dia tidak ingin kehilangan Alyna lagi. Tidak lagi, bahkan untuk alasan apa pun, terkecuali untuk alasan yang kuat ini.


Dengan menghela nafas panjang berkali-kali, Sam berkata, “Ghea tidak akan mencariku. Aku sudah cukup besar. Lagi pula jika dia tahu aku bersamamu itu tidak masalah bukan?”


“Aku kira selama ini kalian saling suka.” kalimat yang begitu pedih diucapkan, namun Alyna berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan.


Berdiri melakukan percakapan dan menatap laki-laki cukup untuk membuat perasaannya tenang dan bahagia.


Alyna tahu dia telah salah mengatakan hal itu. Sam tidak merespon apa yang diucapkannya. Gadis itu berpura-pura menepuk-nepuk celana jeans-nya seolah masih ada pasir yang menempel disana.


“By the way, kita sudah lama berdiri disini.”


Sam menyadari apa yang di katakan gadis itu benar. Sudah hampir lama mereka berdua berdiri bertatap muka namun apa yang seharusnya dia katakan tak kunjung keluar dari mulutnya.


“Kalau kamu mau, besok datang ya ke acara pameran galeri kami. Dimulai dari jam empat sore, tapi aku lebih suka datang jam tujuh malam. Semua lampunya sudah menyala saat itu.”


Sam mengangguk antusias.


Gadis itu, seperti biasa melangkah pergi meninggalkan Sam setelah dia melambaikan tangannya. Sam masih berdiri mematung di tempatnya.


“Lyn…”


Panggilnya tiba-tiba. Alyna yang menghentikan langkahnya sesaat pun menoleh kepadanya.


“…kami berdua tidak pernah menjadi sepasang kekasih.”


~