The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Sembilan Belas



Don tersenyum getir melihat papan-papan yang memajang hasil karya dari Alyna dan dirinya. Dari Alyna, semua tangkapan itu mengibaratkan isi hatinya yang seolah ingin bicara. Dia tahu kenapa ada banyak foto laut yang diambilnya. Dia tahu kenapa Alyna sangat menyukai warna biru samudera.


Alasan itu yang kini berdiri disamping gadis itu, menemani Alyna kemana saja gadis itu ingin pergi. Yang bisa membuat Alyna jauh lebih bersinar dari pada saat dia ada disisinya.


‘aku menyukainya’


Hal yang dia sadari jauh sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Bali. Gadis itu benar-benar tipe orang yang penuh semangat. Orang yang sama sekali tidak pernah berfikir lama untuk mengambil sebuah keputusan, bahkan untuk keputusan yang paling sulit. Orang yang sama sekali tidak akan menceritakan masalahnya sebelum orang lain menerkanya, dan meminta kejelasan.


Alyna memang jarang tertawa, tapi dia selalu membuat seseorang merasa beruntung dalam hidupnya. Alyna menginspirasinya untuk menemukan dan mengikuti mimpinya sendiri. Pada akhirnya juga, Alyna-lah yang membuat Don  berani mengambil keputusan dalam hidupnya.


Semenjak hal-hal yang selalu Alyna lakukan untuknya tanpa dia sadari sendiri itu, Don tahu kalau ternyata hidup Alyna sendiri tidak beruntung.


‘penuh sial,' begitu Alyna sendiri memanggil kehidupannya.


Harus terpisah dari keluarga, juga kakak kandungnya. Memilih untuk berhenti terhubung dengan mereka.


‘aku sendirian,' sebut Alyna dalam suatu pengakuannya.


Awalnya Don hanya melihat Alyna seperti sosok gadis lain yang berambisi pada cita-cita mereka, lalu pulang ke keluarganya dengan penuh cerita mengenai keberhasilan yang telah diraihnya, dan mendapat apresiasi yang setimpal. Tapi Alyna, dia benar-benar berkelana sendiri. Tidak memiliki wadah untuk menampung semua cerita mengenai jurnal dihidupnya.


Don mengenalnya jauh setelah dia menawarkan pada Alyna hal yang tidak pernah dia tawarkan pada orang lain karena rasa iba. Don membawanya bekerjasama meski dia hanya ingin berada di sisi Alyna dan memastikan kalau Alyna selalu baik-baik saja. Don sama sekali tidak memiliki kebijakan untuk memasukkan Alyna di perusahaan milik ayahnya. Don melakukan semuanya secara spontan tanpa pikir panjang sebab dia tahu setelah acara wisuda, mereka berdua akan terpisah.


Alyna sudah siap untuk pergi tanpa arah setelah itu. Berkata kalau dia tidak akan mungkin pulang ke rumah ibu atau ayahnya.


Lantas apa yang bisa Don lakukan selain membawa Alyna bersamanya. Toh prestasi gadis itu cukup memuaskan. Meski otaknya cerdas, ketertarikan gadis itu pada seni sangat tinggi. Alyna menyukai sketsa, menyukai musik, menyukai dunia fotografi. Hal-hal yang membuat Don berfikir seribu kali untuk melepasnya begitu saja.


Laki-laki itu berjalan menyisiri tiap petak-petak ruangan dimana ada banyak foto yang terpajang disana. Nafasnya yang dihela cukup panjang menggambarkan dia sedang dalam keadaan bimbang. Dia sadar dia telah lama mencintai Alyna, gadis yang sudah lama diabantu dan membantunya. Dia berdiri di salah satu bingkai foto paling besar.


Disana, terpampang foto dimana seorang perempuan yang tersenyum dengan mulut yang sedikit terbuka dan memejamkan mata lentiknya dari samping. Rambutnya tergerai tertiup angin dengan poni yang hampir menutupi matanya, sama gelapnya dengan senja yang sebentar lagi akan mengantar malam.


Alyna-nya tertawa bahagia.


~


“Kamu tahu, ini permintaan yang gila!”


Ghea menekankan pada semua kata itu, dan tetap berpegang teguh pada penolakkannya. Dia sama sekali tidak memerhatikan Sam yang berusaha meyakinkannya.


“Tidak ada yang gila sama sekali. Ini cara yang tepat jika kamu mau aku cepat-cepat mengatakannya pada Alyna.”


“Dia tidak ingin melihatku lagi setelah pertengkaran itu.”


“Ayolah Ghe, jadilah lebih dewasa dari padanya.”


“Aku tahu, tapi kata-kata itu seperti sebuah permintaan.”


“Dia masih menyayangimu.”


Ghea diam. Air mukanya berubah luluh.


“Kemarin aku sempat bertemu dengannya dan dia mengundangku, itu artinya dia juga berharap kamu ikut hadir.”


“Apa yang kamu bilang padanya?”


“Aku bilang kalau aku tahu dia menyayangimu, dan dia berkata bila dia sangat menyayangimu. Adikmu tidak pernah tidak terbuka padaku.”


Ghea mengulur pikirannya. Setengah mencerna kalimat yang baru saja laki-laki itu katakan. Wanita itu berjalan membawa cangkir berisi teh hangat ke meja makan.


“Aku tidak yakin…”


Sam mengelus dahinya, “Apalagi yang bisa meyakinkanmu?” tanyanya setengah putus asa.


“Don memang mengundangku, tapi aku tidak yakin kalau Alyna menginginkanku disana.”


“Bukankah perusahaan itu milik Don? Jika iya, apa kamu mau menolak undangan dari laki-laki yang telah menolong adikmu selama ini? Lagi pula jika kamu menolak, itu nggak sopan, Ghe.”


Ghea melirik ke arah Sam, “Bagus, kamu selalu bisa membujukku.” gerutunya.


“Aku melakukan hal apa yang kamu minta. Kamu benar, Alyna harus cepat-cepat tahu tentang semuanya.”


“Apa yang membuatmu begitu yakin kini?”


Sam menghela nafas sedikit panjang.


“Aku muak dengan hal yang selalu menghantuiku.”


Ghea bergeming dalam hati. Kalimat itu membuatnya merasa seolah dia juga bersalah. Tapi posisinya diantara mereka benar-benar sulit. Ghea benar-benar menyayangi ibunya, meski sebenarnya dia tidak begitu setuju dengan pernikahan itu, tapi dia tidak pernah memiliki keberanian seperti yang Alyna punya untuk memberontak.


Sam lalu menatap Ghea dengan senyum yang antusias, “Lagi pula, setiap kali aku bertemu dengannya, aku semakin terjerat dalam perasaanku.”


Ghea menyibakkan rambutnya. Hal yang selalu dia lakukan ketika ingin memulai kata-kata.


“Behenti untuk membuatku terus-menerus merasa seolah aku ini pembatas diantara kalian. Aku benar-benar muak dengan hal ini juga.”


“Aku tidak pernah menyalahkanmu. Kamu melakukan hal yang benar. Hanya saja, ada yang salah antara aku dan Alyna.”


“Tidak ada yang salah diantara kalian karena Alyna belum tahu kalau selama ini kamu suka padanya.”


“Itu karena aku belum pernah mengatakannya.”


“Apa kamu punya niat untuk itu?”


“Ya.” terdengar sungguh-sungguh dari mulut Sam. Ghea sudah menduganya selama ini. betapa beruntungnya Alyna.


“Itulah kenapa aku tidak bisa menerimamu. Aku telah lebih dulu menyukai adikmu. Maaf Ghe.”


Wanita itu tertawa seolah dia tidak pernah benar-benar mempermasalahkan hal itu.


“Dasar bodoh! Buat apa minta maaf? Aku nggak pernah marah buat hal itu. Setiap orang bebas menentukan pilihannya masing-masing.”


“Bebas? Apanya yang bebas?”


Ghea mengusap-usap wajahnya memikirkan hal itu. Terasa pening.


“Sialan, ini semakin sulit.” gerutunya.


Sam yang sedari tadi berdiri disisi tirai pintu tersenyum sinis.


“Lupakan semua itu, yang penting sekarang apa kamu mau datang nanti?”


Ghea menimang sesaat, “Ya. Aku mau,” jawabnya, membuat Sam tersenyum puas.


“Aku jemput nanti disini. Terimakasih Ghe.”


Sam melesat keluar begitu saja. Melewatkan Ghea yang tersenyum tulus padanya.


~


“Kamu akan membuatku jadi orang bodoh mengenakan pakaian itu.”


Don memicingkan matanya. Meniti gaun yang dipegangnya seolah itu benda teraneh yang pernah Alyna lihat.


“Apa salahnya? Ini masih wajar? Kamu lihat bentuknya?”


Gaun berwarna putih, biru laut dengan model yang sangat sederhana, berkerah v-neck, berenda di bagian lengan dan lutut itu benar-benar sangat sederhana, Alyna menyadarinya.


“Iya memang masih terlihat biasa, tapi aku tidak biasa memakai pakaian seperti itu.”


Alyna tetap bersikeras menolak.


“Lalu apa yang akan kamu pakai? Celana jeans pendek dan kaos? Seragam yang selalu kamu kenakan setiap kali kita memburu objek foto.”


Alyna tertawa mendengarnya.


“Ayolah Don, jangan menyiksaku seperti ini.”


“Aku tidak menyiksamu. Kamu yang berlebihan menganggap ini sebuah siksaan. Aku hanya memintamu mengenakan gaun ini di acara kita.”


Alyna diam. Membayangkan betapa memalukannya dia jika terlihat mengenakan pakaian itu.


“Tapi aku benar-benar tidak ingin terlihat bodoh.”


“Ayolah Honey, semua orang justru akan memandangmu karena keanggunanmu. Aku bisa membayangkannya.”


“Berhenti merayuku.”


“Tidak akan, sampai kamu setuju mengenakakan ini.”


“…”


“Percayalah Alyna, kamu pasti terlihat cantik.”


Alyna menggigit kuku-kuku jarinya, “Oke. Aku pakai.” ucapnya.


Don tersenyum girang.


“Yes!” serunya menang, “Aku akan menjemputmu jika belum ada yang menjemput.”


Don berharap bahwa Alyna sama sekali belum memilki seseorang yang akan menjemputnya.


“Baiklah, jemput aku jam tujuh tepat.” ucap Alyna sambil mengambil gaun yang ada di tangan Don.


Gadis itu mengamati gaun yang kini sudah ada di tangannya. Terlihat sederhana dan cantik. Gaun yang diam-diam telah Don sesuaikan dengan seseorang yang akan mengenakannya.


“Kenapa melamun?”


Alyna membuyarkannya. Don menggelengkan kepala.


“Jangan membayangkan tentang aku yang aneh-aneh.” tukas Alyna bergurau.


Don menunduk seraya tersenyum. Pada kenyataannya gadis itu selalu memenuhi isi kepalanya.


Don kembali mendongak, memperhatikan Alyna yang kini sedang menggantungkan gaunnya di pintu lemari pakaiannya.


Dia ingin jujur tentang perasaanya saat ini juga, atau nanti. Ah, entah kenapa perasaan itu kian menggebu-gebu. Dia benar-benar sadar dia telah jatuh cinta pada Alyna-nya.


“Alyna…” panggilnya, dengan suara yang bergetar. Alyna menoleh, tanpa menjawab, hanya menanti kelanjutan dari Don. Untuk sesaat, mereka berdua saling bertatapan.


“Apa Don?” tanya gadis itu, saat Don tak juga meneruskan apa yang ingin dia katakan. Don merasa dia gugup. Jantungnya berdetak kencang. Bagaimana jika Alyna tidak mencintainya juga? Bagaimana setelah apa yang akan dia katakan, justru akan membuat Alyna menjauhinya?


Pikiran-pikiran itu kini memenuhi kepala Don. ‘Sial’ makinya pada diri sendiri.


“Don?”


Don terkesiap, “Um, aku…aku rasa aku akan pergi sekarang.” Dustanya. Don kian memaki dalam hatinya.


“Baiklah. Aku akan benar-benar siap jam tujuh nanti.”


Alyna mencoba mengingatkan Don. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.


“Sampai nanti Alyna.”


Don pun melangkah keluar dari apartement Alyna. Masih dengan caci makinya pada diri sendiri.


Sementara Alyna, setelah pintu kamar tertutup lagi, dia berdiri di depan kaca cermin besar di kamarnya. Menatap dirinya sendiri lekat-lekat. Dia memikirkan tentang sedikit polesan make-up di wajahnya. Riasan yang akan mengubah dirinya. Ini mungkin kesempatan baginya untuk mengatakan kepada Sam-nya. Dia sudah memikirkan hal ini semalaman. Ini adalah waktu yang tepat. Dia telah memutuskan. Sam-nya harus tahu kalau selama ini dia mencintainya.


Ya, Alyna harus mengatakan hal itu malam ini.


~