
Jam weckernya yang berbunyi nyaring membangunkan Alyna dari tidurnya. Pukul sembilan lebih lima belas menit. Itu artinya dia telah terlambat satu jam lebih untuk berangkat ke kantor.
Pagi itu tanpa sarapan, Alyna cepat-cepat mandi dan bersiap berangkat kerja. Dia tidak bisa lagi mengabaikan kantornya karena Don sudah begitu baik memberinya hari libur khusus. Entah kenapa hari ini dia begitu semangat tidak seperti biasanya. Apakah karena baru saja semalam dia bermimpi bertemu lagi dengan Sam?
Tidak. Pertemuan semalam itu nyata, bukanlah suatu mimpi.
~
“Aku benar-benar kesiangan.”
Don mengamati Alyna yang begitu berenergik.
“Wow, apakah semangatmu kembali pulih? Tidak-tidak, ini bukan dirimu yang biasanya. Katakan, apa yang terjadi?”
Alyna hanya tersenyum dengan wajah yang memerah, “Tidak ada,” jawabnya, meski Don tetap saja penasaran.
“Tidak masalah apa yang telah terjadi padamu, tapi aku senang melihatmu begini.”
“Jadi, apa yang hari ini bisa aku kerjakan? Berburu foto? Atau memotret model-model berkaki jenjang milikmu?”
Don tertawa renyah, “Kamu bisa mengedit beberapa foto yang kuambil kemarin. Tolong kau siapkan sebagus mungkin. Mengingat sebentar lagi kita akan mengadakan pameran fotografi.”
Dengan antusias, Alyna mengangguk, dan segera mengerjakan tugasnya. Namun baru beberapa langkahnya menaiki anak tangga, Samudera muncul didepan pintu utama seraya tersenyum.
“Sam?”
Don segera menoleh ke arah laki-laki yang dipanggil Sam itu. Kini dia tahu apa yang benar-benar membuat Alyna berubah. Ya, Alyna telah menemukan kembali sinarnya.
“Don, ini Sam. Dialah orang yang pernah kuceritakan padamu.”
Sam tersenyum pada Don, dan Don tersenyum juga. Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan.
“Kantor yang indah Pak Don. Terimakasih karena selama ini telah menjaga Alyna.”
“Panggil saja Don, dan sama-sama. Alyna tidak begitu banyak merepotkan.”
Ketiganya tertawa.
“Maaf aku mengganggu waktu kerja kalian.”
“Sam hanya ingin mengetahui lebih jauh seperti apa kegiatanku selama ini, apa itu tidak masalah?”
Don menggelengkan kepala walau sedikitnya karena terpaksa.
“Tidak. Tidak masalah sama sekali.” ucap Don.
“Baiklah, aku harus mengurus beberapa pekerjaanku. Kalian jangan merasa sungkan, oke?”
‘Sial, kenapa aku ini?’ batinnya dalam hati.
~
“Wow, aku hampir tidak mengenalimu lagi. Kamu benar-benar beda.”
Begitulah komentar Sam saat melihat Alyna melakukan pekerjaannya.
“Apanya yang berbeda? Aku hanya duduk didepan computer ini. Setiap orang juga bisa melakukan itu.”
“Bukan begitu maksudku. Kamu lebih dewasa Lyn.”
“Tuntutan hidup. Jika tidak begini, aku bisa mati kelaparan.”
“…”
“Dan lagi, kerasnya problematika yang terjadi akan menuntut seseorang untuk berubah dari sebelumnya. Bisa perubahan baik atapun buruk. Aku bersyukur aku ada di bagian yang baik.”
Sam tersenyum. Sosok Alyna yang sekarang ini telah benar-benar berbeda di matanya. Alyna terlihat lebih cerdik dan cekatan, meski wajah tanpa ekspresinya itu masih mendominasi.
“Aneh rasanya, padahal dulu akulah yang lebih sering memberimu nasehat.”
Alyna diam. Lantas pikirannya kembali melayang ke beberapa tahun silam. Dia ingat satu kalimat yang dikatakan Sam seperti ini,
“Seseorang selalu memiliki alasan untuk mengakhiri hidupnya, tapi apa kamu benar-benar sudah tidak memiliki alasan buat hidup?”
Alyna yang saat itu berdiri di atas jembatan perlahan turun. Sam berhasil membuka cara pandang lain dari suatu hidup, bahwa semuanya tidak akan selesai begitu saja jika kita mati. Bahkan setelah kematian, masih ada amarah yang tertinggal lantaran kita belum menyelesaikan masalah kita.
"Pasti ada banyak. Kemarilah Lyn, kamu masih bisa mengukir beberapa cerita.”
“Hey…”
Alyna mengerjapkan matanya. Menyadari bahwa baru saja dia membayang sebuah kejadian bersama seseorang yang kini ada bersamanya.
“Apa yang kamu pikirkan.”
Alyna diam sesaat, lantas dengan tersenyum, dia berkata, “Seseorang selalu memiliki alasan untuk mengakhiri hidupnya, tapi, apakah kamu benar-benar sudah tidak memiliki alasan lagi buat hidup? Ya, tentu saja masih.”
“…”
“Alasanku hidup adalah kamu, Sam.” Ucap Alyna.
Wajah itu terlihat berbinar di mata Sam. Dan Sam, dia benar-benar menyukai apa yang barusan didengarnya.
~