
“Kita hanya perlu diam sebentar dan duduk disini. Tidak mungkin kita masuk duluan sebelum Alyna dan Don datang.”
Sam melakukan persis seperti yang dia ucapkan, dan Ghea celingukkan resah kesana-kemari.
“Bukan salah mereka datang terlambat, kita yang terlalu awal.” Ghea mengomentari.
Mereka berdua sepakat duduk dan asal-asalan mengambil dua kursi yang menganggur di depan pintu masuk ruang galeri. Suasanya sudah begitu ramai. Banyak orang yang berjalan masuk ke dalam galeri, diantaranya ada banyak orang umum yang jatuh cinta pada seni.
“Kayaknya nggak begitu masalah kalau kita masuk sekarang.” Ghea mengajak Sam.
Laki-laki itu masih nyaman pada posisinya, dan memainkan jari-jemarinya lantaran bosan.
“Masuklah, siapa tahu kamu bisa menemukan fotomu didalam sana.” Sam menyuruh.
Ghea pun tersenyum.
“Aku tidak menjadi bagian dari perusahaan ini,”
Ghea menarik nafas panjang, “…asal kamu tahu, Alyna benar-benar beruntung bekerja disini.”
Sam mengerutkan keningnya, “Beruntung? Kenapa?”
“Soalnya dia dapat teman sekaligus rekan kerja sebaik dan perhatian seperti Don.” Jelas Ghea.
“Wow, jangan bilang diam-diam kamu mengangumi laki-laki itu.” Sam menerka, dan wajah Ghea memerah.
Wanita itu terlihat seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri sesuatu.
“Apa sih, bukan berarti begitu.” bela dirinya.
Tak lama kemudian mata Ghea menangkap dua orang yang sudah lama mereka tunggu.
“Alyna…?” gumamnya, tentu saja membuat Sam menoleh ke arah kemana mata Ghea memandang.
Alyna dengan wajah yang datar terlihat begitu anggun dengan sentuhan riasan tipis di mukanya, dan tentu saja gaun pilihan Don.
Laki-laki yang berdiri disampingnya hanya menggunakan kemeja elegan dan celana yang ujungnya dilipat. Benar-benar serasi bagi Ghea.
Alyna dan Don berjalan mendekati mereka.
Kedua mata Sam tertuju pada Alyna. Seumur hidup, baru sekarang dia melihat Alyna mengenakan gaun seperti ini. Keanggunan yang terkubur wajah suramnya selama ini.
“Aku berantakan sekali.” ucap Alyna.
Sam terkesiap dan mengerjapkan mata.
“Sisi tomboimu, hilang begitu saja?” ujarnya deselingi tawa.
Alyna menarik sudut bibirnya sekilas, lantas matanya beralih ke arah Ghea yang masih diam. Untuk sesaat, kakak beradik itu hanya saling pandang dalam kebisuan.
“Aku bersyukur kamu mau datang, Ghea. Ada beberapa fotomu didalam sana.”
“Apa? Aku? Tapi aku tidak bekerja untuk kalian.”
“Aku asal-asalan mengambilnya. Anggap saja ini sebagai suatu promosi untuk model sepertimu. Lagian, kamu dan Alyna memiliki wajah yang hampir sama.”
Ghea hanya mengangguk sekilas, lalu melihat lagi ke arah Alyna.
“Ayo masuk.” seru Don, dan mereka berempat mulai masuk ke dalam galeri.
‘Galeri yang cukup luas’ batin Ghea.
Kepalanya menoleh kesana-kemari seiring kedua matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ghea bahkan tidak menyangka hasil kerja keras adik dan rekan kerja adiknya akan seindah ini. Semua foto yang mereka ambil benar-benar memanjakan mata para pencinta seni. Untuk sesaat Ghea merasa cemburu.
Ya, Alyna benar-benar wanita yang pintar dan cerdas. Dia merasa tidak pernah bisa menandingi adik perempuannya itu. Lagi pula, meskipun dia sekarang adalah seorang model dia tetap merasa tidak pernah bisa menutupi kerapuhan yang selama ini dia sembunyikan. Tidak akan pernah.
“Alyna banyak mengambil foto alam dan souvenir yang dijual oleh para pedagang di pinggir jalan.”
“Tapi hasilnya tetap memukau.” Sam angkat bicara. Don mengamati laki-laki itu.
“Bukankah kamu seorang pembuat film? Pasti akan lebih berguna jika satu hari penuh kamu menghabiskan waktumu dengan Alyna.”
“Aku? Kenapa harus aku?” Alyna mengelak.
“Ayolah Honey, kamu mahir dalam mengambil gambar.”
Sam tersenyum sedikit, “Aku tahu itu. Aku mengenalnya cukup lama.” tuturnya.
Don berdehem, “Kalau begitu, kalian bebas mau melihat-lihat kemana saja.”
Ketiganya mengangguk. Sementara Alyna sendiri mulai sibuk mengeluarkan kamera, dan memotret para pengunjung yang hadir disana. tanpa dia sadari, Ghea mengikutinya dari arah belakang.
“Kerja yang sangat bagus.” ucap Ghea.
“Aku tahu.” jawab Alyna sambil sibuk mengatur fokus lensa kameranya.
“Kau tahu aku selalu cemburu pada kecerdasanmu dari kita kecil dulu. Jadi ketika kamu berfikir kalau ibu lebih menyayangiku aku kira kamu salah. Dia bahkan lebih mengagumi diam-diam.”
“Bagaimana kamu berharap aku tahu kalau dia mengagumi secara diam-diam.”
Ghea mendengus.
“Aku minta maaf jika kata-kataku waktu itu menyakiti perasaanmu.”
Alyna menghentikan aktifitasnya. Dia memutar badan dan menatap Ghea.
“Aku juga minta maaf. Enggak seharusnya aku bicara begitu padamu. Kita bisa berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi, okay? Setelah ini kita bisa menjalani hidup kita masing-masing. Aku dengan pekerjaanku, dan kamu dengan pekerjaanmu.”
“Alyna aku masih ingin kamu ikut pulang bersamaku sebentar saja. Aku tahu kamu pasti akan marah kalau aku mengungkit hal ini lagi.”
Alyna diam sesaat. Gadis itu memandang ke bawah. Memandang betapa cantiknya high heels milik Ghea.
“Aku tidak yakin…”
“Tidak yakin kenapa?”
“Bertahun-tahun aku meninggalkan tempat itu.”
“Alyna dengar, tempat itu masih sama seperti yang dulu. Itu akan tetap menjadi rumahmu, rumah kita sama seperti ketika kita masih kecil.”
“Tidak lagi setelah ibu akan menikahi pria itu.”
Ghea terbungkam.
“Aku mohon padamu Alyna.” ucapnya lalu.
Alyna sempat menghela nafas sejenak, “Oke. Aku ikut,” katanya, dan kedua mata Ghea berbinar bahagia,
“Tapi aku tidak akan tinggal lama disana. aku harus segera kembali lagi kesini.” sambung Alyna. Ghea mengerti dan paham.
“Terimakasih.” ucapnya lembut.
Alyna mengangguk dengan antusias. Gadis itu kembali fokus pada lensa kameranya.
Ghea menggigit bibir bawahnya dengan terus memikirkan sesuatu. Satu hal yang harus Alyna tahu.
“Apa kamu…menyukai Sam?”
Mendadak Alyna tak tahu harus menjawab apa. Dia bungkam sesaat. Dia membuang mukanya dengan berpura-pura mengatur fokus lensa kamera.
“Enggak. Sam cuma sahabatku.”
Ghea tersenyum. Dia tahu adiknya tengah berbohong.
“Kamu bisa jujur padaku. Bahkan jika meskipun kamu mengira dia kekasihku, itu salah besar Alyna.”
“Aku tidak peduli dengan hubungan kalian.”
Terdengar sedikit ketus, namun Alyna tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana.
“Kamu tidak bisa sepenuhnya berbohong kepadaku. Aku tahu persis seperti apa kamu.”
“Wow, sekarang kamu jadi seorang cenayang?”
Ghea mendengus kesal, “Bisa tidak kamu sedikit serius?”
“Aku serius. Aku tidak menyukai Sam. Dia milikmu, dan dia sahabatku.”
Ghea menggeleng pelan, “Kamu hanya belum tahu yang sebenarnya.” ucapnya lalu.
Kedua mata Alyna memicing. Dia kembali menoleh ke belakang.
“Itulah kenapa aku memintamu pulang bersamaku.” Sambung Ghea.
“Dia selingkuh darimu?”
Ghea tertawa kecil, “Bahkan kita berdua belum pernah pacaran.” jelasnya.
Lantas Alyna teringat bila apa yang dikatakan Ghea sama persis seperti pengakuan Sam waktu itu.
Alyna berdecak kesal. Semua ini membuatnya bingung.
“Ghe.” Sam memanggil dari kejauhan. Lambat laun laki-laki itu berjalan dan mendekati mereka berdua.
“Kamu harus melihat-lihat, semuanya indah sekali.” pinta Sam. Ghea mengangguk kecil,
“Ya, itu sebabnya kita mendatangi tempat ini. Ngomong-ngomong, aku akan mencari Don.”
Ghea melangkah pergi setelah dia tersenyum kecil ke arah Alyna.
Dengan canggung Sam menatap Alyna.
“Karya yang indah Alyna, kerja bagus. Kamu sangat berbakat.”
Alyna merasa tersanjung. Sam selalu bisa mengapresiasi hal-hal yang dilakukan Alyna, bahkan hal yang kecil dan tak bernilai sekalipun.
“Ini semua masih permulaan.”
“Jangan besar kepala dulu.”
Alyna tertawa renyah, “Kamu dan filmmu bagaimana?”
Sam menggaruk-garuk kepalanya, “Ya begitulah.” jawabnya.
Sam bahkan tidak benar-benar menggarapnya. Tanpa mereka sadari, mereka berdua berjalan berkeliling seirama dengan langkah yang perlahan. Tidak tahu pasti ingin kemana. Tidak tahu pasti ingin melihat-lihat apa.
“Aku bertaruh selama mengasingkan diri, kamu nggak pernah merindukan tempat tinggal kita dulu.”
“Kata siapa? Ada beberapa titik tempat yang kurindukan.”
“Contohnya?”
“Gedung sekolah.”
Sam menyeringai, “Muird berprestasi.” ujarnya meledek. Alyna menanggapinya dengan sedikit tawa.
“Kita bisa kembali kesana lagi kalo kamu mau mengambil beberapa kenangan. Hanya sebentar.” Sam membujuk, Alyna tahu pasti Ghea meminta laki-laki ini untuk membantunya.
“Akan ‘ku atur waktunya.” kata Alyna.
“Kita bisa mengunjungi semua tempat kita pernah menghabiskan waktu bersama.”
“Kamu mengingat semuanya dengan jelas?”
“Tentu saja!” Sam bersikeras. Alyna menatapnya takjub.
Mereka berdua berdiri di depan pintu yang menghadap langsung ke arah laut malam dengan deburan ombak yang bergemuruh. Bau air asin tercium dengan jelas. Alyna menyukai irama laut yang membuat suasana hatinya tak kesepian.
“Aku hampir melupakan segalanya.” gadis itu berucap.
Sam menatapnya heran. Mana mungkin Alyna telah melupakan semuanya. Dia pasti berbohong.
“Semua yang terjadi di sana adalah luka.” lanjutnya kemudian.
“Ini pertama kalinya aku melihatmu sebagai sosokmu yang dulu,” Sam melihat sorot mata Alyna yang meredup, sama seperti dulu.
“Ternyata kamu tidak pernah berubah. Meskipun ditempat ini selama bertahun-tahun.” sambung Sam.
Gadis di depannya tersenyum sinis. Memang benar apa yang Sam katakan, bahwa pada kenyataannya selama ini dia hanya berusaha mengubur dalam-dalam lukanya yang tidak pernah bisa diobati.
Alyna mengusap lengannya yang dingin.
“Aku harap kamu masih menganggapku sama seperti sahabatmu dulu Alyna.”
Alyna terkekeh pelan, “Bodoh! Tentu saja iya!” tukasnya.
“Meskipun kamu berhenti memberi kabar dan aku kehabisan cara untuk membuatmu tetap mengabariku.”
Sam tak berkomentar. Disisi lain, dia ingin mengatakan perasaannya pada Alyna. Kepalanya dipenuhi dengan dialog-dialog yang berargumen masing-masing. ‘Sial!’, dia memekik dalam batinnya.
“Tentang Ghea, apa kalian benar-benar tidak pernah menjalin hubungan?” Alyna menanyakannya dengan sedikit ragu, terlihat jelas dari mukanya. Sam menjatuhkan pandangannya,
“Tidak pernah.” jawabnya.
“Kamu tidak mempermainkannya ‘kan?”
Sam tertawa kecil, “Aku bukan laki-laki yang mudah mendekati semua wanita.” belanya. Alyna menghela nafas lega.
Gadis itu meyakinkan dirinya dan pikirannya untuk mengakui perasaannya. Malam ini juga. Atau tidak akan pernah. Sama sekali. Ah, Alyna menjadi tersudut dengan semua pilihan-pilihan sialan itu.
Ketika dia mendongakkan kepalanya, disaat itulah Sam juga mengangkat wajahnya. Mereka berdua bertemu dalam tatapan yang sama-sama bisu. Alyna akan merekam dengan jelas rambut Sam yang bergerak-gerak tertiup angin malam yang semakin mendingin. Dia akan mengingat scene ini seumur hidupnya.
Alyna menggenggam erat tangannya yang terkepal. Wajahnya memerah. Sementara Sam masih menatap wajahnya dalam diam. Menunggu-nunggu apa yang hendak dikatakan Alyna.
“Aku mencintaimu Sam.”
Don yang awalnya ingin mendekat, menarik mundur langkahnya dengan hati yang hancur.
~