The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Sebelas



Samudera duduk di bangku berwarna putih sendirian pada salah satu cafe yang ada di Bali setelah memesan kopi, serta santapan khas berupa sate lilit. Sam mencoba mencari inspirasi. Ternyata sulit juga mencari bahan untuk membuat satu film dokumenter.


“Ah!” gerutunya kesal.


Laki-laki itu mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, menggigit bibirnya, lalu menghela nafas frustasi.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan pesanannya. Sam meletakkan handycame-nya, lalu mulai mengisi penuh perutnya yang lapar.


~


Alyna berjalan-jalan menelusuri rak-rak minimarket yang dia datangi. Stok makanan dan cemilan di apartementnya hampir habis. Alyna sudah mengisi keranjang belanjaannya yang hampir penuh, namun rasanya itu belum cukup.


Dia pergi tanpa memberitahu Don. Dia juga tidak berniat mengecek handphone-nya meski dia tahu Don akan membombardir ponselnya lantaran khawatir atau alasan apa.


Dia kesal dengan sikap Ghea yang dengan mudahnya meminta maaf tanpa memikirkan betapa sakitnya hati Alyna saat itu. Rasanya seperti tidak ada orang yang mempercayainya, atau menganggap bahwa Alyna hanya mengada-ada, dan memperburuk suasana.


Gadis itu melirik jam tangannya. Sudah hampir petang, dan dia sama sekali belum mengisi perutnya kecuali dengan sebotol minuman dingin yang dibelinya tadi. Dia kembali mengoreksi isi keranjang belanjaannya. Terdapat tiga bungkus roti disana, dan Alyna cukup yakin jika tiga bungkus roti itu akan mampu mengisi perutnya yang lapar karena dia malas untuk mampir ke sebuah restoran di depan minimarket hanya untuk membeli seporsi makanan untuknya.


Saat dirasa apa yang dia ambil telah cukup, gadis itu segera membawa belanjaannya menuju kasir.


~


“Aku sudah mencoba menghubunginya berulang kali, tapi dia tetap tidak mengangkat panggilanku.” gerutu Don, diiringi wajah cemas Ghea.


“Tenang, kemungkinan dia cuma pulang lebih dulu dari kita.”


“Maksudmu ke kantor kalian?”


“Bukan, ke apartementnya.”


“Bisa antar aku kesana?”


Don menggigit bibirnya, “Enggak, sorry. Alyna yang…”


“Iya-iya, okey. Dia pasti melarangmu.” tukas Ghea memotong. Don merasa seperti serba salah.


“Tapi kamu yakin kan kalo dia pasti aman?”


“Yakin. Seperti itulah dia biasanya. Menghilang begitu saja dengan hasil dari beberapa jepretannya.”


Ghea tertawa sekilas, “Oke, kalo begitu kita bisa pulang sekarang.”


Don mengangguk, lantas mereka berdua melangkah bersmaan menuju ke mobil.


~


“Ada hal yang lebih penting dari memikirkan perasaan oranglain, memikirkan perasaanmu sendiri.” Begitu kata Sam suatu ketika, saat dengan tidak sengaja Alyna mengadu padanya.


“Mungkin itu juga yang dilakuin sama ibu kamu.”


Dengan kedua mata sembabnya, Alyna memandang Sam, “Jadi, kamu percaya kan kalo dia egois? Iya kan, Sam?”


Tapi waktu itu wajah Sam tersenyum masam. Mengangguk-angguk, dan membuat perasaan Alyna begitu lega melihatnya.


“Aku ada dipihakmu, Lyn. Bukan karena alibi bodohmu yang terus-terusan bikin  kamu jadi cewek cengeng begini, tapi karena semua yang kamu ceritain masuk akal.”


Alyna meneteskan air matanya lagi, dan menutup wajahnya meski tangisnya yang kali ini karena bahagia.


“Aku nggak pernah niat cerita hal ini ke kamu. Mungkin nanti mengubah cara pandangmu ke Ghea.”


“Loh, terus gimana sama cara pandangku ke kamu?”


“Aku nggak peduli. Mau kamu mandang aku dari sudut yang terlanjur berantakkan pun aku nggak peduli.”


“Ghea cewek yang pintar buat nutupin semua masalah hidupnya. Dan tau nggak sih kalo hal itu sama sekali nggak asik. Maksudnya, kita harusnya saling berbagi duka juga. itu baru asik.”


Alyna, pada waktu itu hanya terpaku pada sosok Ghea yang baginya begitu munafik. Makin dia membayangkan sosok kakak kandungnya itu, makin deras air matanya mengalir. Bagaimana tidak? Hubungan yang awalnya begitu akrab dengan saudarinya itu harus berujung dengan rasa benci yang menggebu didadanya.


“Tapi aku nggak bakal nyangka kalo dia tega ngomong begitu ke kamu…”


“Sam, tolong tetep bersikap biasa ke Ghea. Aku nggak mau hubungan kalian kenapa-napa karena aku barusan cerita tentang hal ini.”


“Lyn, kamu temen aku…”


“Sam, tolong.”


Alyna menertawai dirinya sendiri dalam hati. Rupanya, dirinya sendiri juga munafik.


“Jangan nangis lagi, Lyn. Aku ada disini.” Sam menghapus air mata itu langsung dari pipi Alyna. Saat itulah rasa sakit yang kedua muncul saat dia tahu dia begitu mencintai Samudera, namun tidak bisa memiliki laki-laki itu.


Secangkir teh hijau panas menemaninya bersama dengan lamunan masa lalu dan bayangan-bayangan dari beberapa scene di hidupnya. Alyna melamun cukup lama, bahkan dia sama sekali tidak menyentuh teh hijau miliknya.


Apa yang masih dia harapkan, ketika Sam benar-benar tak lagi muncul dalam hidupnya? Perpisahan terakhir itu benar-benar masih meninggalkan tanda tanya penuh atas apa yang dijanjikan Sam, namun tidak jua terbuktikan. Alyna benar-benar kecewa, meskipun jika dia tahu betul kalau Sam adalah milik Ghea. Dan kakak kandungnya itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Alyna telah jatuh cinta pada pria itu. Seakan tidak peduli, semua berjalan seolah benar-benar tidak ada masalah sama sekali.


Alyna menoleh cepat ketika mendengar suara pintu kamar apartement-nya diketuk. Dengan malas, dia beranjak dan membukakannya.


Don berdiri disana dengan tangan kiri yang menggegenggam kantong kresek berwarna putih.


“Oh, Don, ada apa?”


“Ada apa? Itukah pertanyaan yang pantas kau ucapkan saat kau meninggalkan aku dan Ghea begitu saja? Kami benar-benar khawatir.”


Alyna tersenyum masam, lalu mencibirnya, “Masuklah.” Ucapnya kemudian. Don masuk dan meletakkan bungkusan itu di atas meja makan Alyna.


“Aku takut kau kena busung lapar.”


“Padahal baru saja aku memborong makanan di minimarket waktu perjalanan kembali kesini.”


Don menghela nafas, “Maka biarkan makanan ini menambah stok makanan dikulkasmu.”


“Terimakasih Don.”


Don dan Alyna duduk saling berhadapan di meja makan.


“Matamu sembab.”


“Jangan berpikiran aku habis nangis. Aku cuma kurang tidur.”


“Bisa kamu ceritakan yang lain?”


“Apa?”


“Tentang kalian. Kamu belum menceritakan seluruhnya.”


“Apa Ghea yang memintamu? Bagus, kini sahabatku telah disetir oranglain.”


Don terkekeh, “Bukan. Justru karena setelah mendengar cerita dari Ghea, aku tertarik untuk mendengar sepenuhnya.”


Alyna terdiam. Gadis itu memalingkan wajahnya.


“Asal kamu tahu, Ghea benar-benar menyesal…”


“Aku tahu. Tapi itu salahnya. Selama ini aku yang mengalah.”


“Honey, yang kamu lakukan itu benar-benar hal yang baik. Kamu rela mengasingkan dirimu sendiri untuk melupakan, atau bahkan mencoba memaafkan semuanya. Tapi tanpa sadar kamu menyiksa dirimu sendiri.”


“Aku lebih suka menyiksa diriku sendiri dari pada harus melihat keluargaku berbagi kasih sayang bersama orang lain.”


Don menghela nafas, mencoba membiarkan Alyna beralibi.


“..dan itu sangat sulit. Aku harap kamu mengerti meskipun keluargamu selama ini baik-baik saja.” Tambah Alyna, dan Don mengangguk pelan.


“Aku paham.” ujarnya.


Sunyi. Hanya ada beberapa ******* angin mengisi ruangan itu. Don mencoba menebak ekspresi dari wajah Alyna yang datar, tapi sarat akan kesedihan.


“Oke, aku pulang sekarang. Sudah hampir sore. Kalau kamu mau, kamu bisa pergi ke kantor setelah ini Alyna.”


“Apa hari ini kau benar-benar dibutuhkan?”


Don tersenyum mengerti, “Kalau kamu butuh waktu sendiri, aku rasa aku bisa memberimu waktu untuk istirahat untuk hari ini.”


Alyna tersenyum girang, “Terimakasih” ucapnya seraya mengusap pipinya yang basah.


Don memandanginya. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali dia mengusap air mata di wajah gadis itu.


~