
Apa yang masih bisa Alyna harapkan ketika keputusan yang dibuat antara kedua orang tuanya itu begitu memekakan telinganya? Dunianya runtuh saat itu juga. Hatinya hancur. Hari-harinya setelah itu tidak akan pernah sama lagi. Alyna tidak tahu ketika diberi pilihan antara ikut ayah atau ibunya, dia harus memilih yang mana. Dia hanya tahu bila pada saat umurnya yang belum tujuh belas tahun itu, dia belum memiliki pilihannya sendiri. Atau jika boleh, dia ingin memilih untuk hidup sendiri. Namun semua keputusan itu pada akhirnya dibuat oleh ibunya, saat Ghea diharuskan untuk ikut bersamanya, sementara Alyna bersama dengan ayahnya. Sejak saat itu pula, hubungannya dengan kakak kandungnya sendiri tidak lagi akrab meski masih satu sekolahan.
Berangkat dari dua mobil yang berbeda, pulang ke arah yang berbeda pula menjadi gaya hidup baru mereka saat itu, hingga mereka terbiasa. Alyna dan Ghea saling berusaha menguatkan satu sama lain, bahkan berusaha menganggap semua kejadian ini benar-benar tidak pernah terjadi, walau kadang sering dirasa bagi Alyna bila keputusan ini tidaklah adil. Alyna sering merindukan ibunya.
Satu-satunya yang membuat Alyna bertahan hanyalah Sam, sahabatnya sekaligus kakak kelasnya. Entah bagaimana mereka menjadi begitu akrab karena sama-sama menyukai puisi, meski Sam adalah anak yang pandai dalam bidang Matematika dan Fisika, sementara Alyna begitu mahir dalam bidang seni dan sastra.
“Aku suka filsuf.” begitu tutur Sam suatu saat, kala membaca kumpulan puisi karya beberapa tokoh terkenal yang Alyna salin di buku hariannya.
“Keindahan tidak memerlukan pikiran tajam untuk perlu dipahami.” tukas Alyna.
“Isi yang tersurat benar-benar membosankan, Lyn. Tapi, aku rasa, padamu, semua itu bisa menjadi cukup bagus untuk dikenang.”
“…”
“Kamu pernah membuat catatan harian tentang apa yang terjadi dalam hidup kalian, dan itu menjelma menjadi sebuah puisi yang sampai saat ini masih terngiang di ingatanku.”
“Catatan cengeng.” kritik Alyna sendiri.
Sam tertawa sesaat.
“Ayolah, Lyn, hargai apa yang menjadi bagian dari hidupmu. Jika menulis adalah hal yang terbaik, mengapa tidak?”
“Aku suka seni.”
Sam diam mengoreksi.
“…semua hal yang berhubungan dengan seni. Aku suka sketsa, bentuk tiga dimensi, kumpulan puisi dari pujangga lama dan baru, pokoknya semuanya, aku sangat menyukainya.”
Sam tersenyum tak percaya. Dari balik kacamata beningnya, benar-benar dapat dilihat kalau Alyna benar-benar hidup. Sam harus sering-sering membahas tentang topik ini.
“Kamu beda, Alyna. Buat remaja seumuran kita saat ini, pikiran dan wawasanmu terbentang luas.”
“Mungkin itu dampak dari aku yang terlalu sering berdiam diri di perpustakaan.” ucap Alyna dengan nada yang geli. Gadis itu mengedikkan bahunya.
“Ghea dan kamu benar-benar beda.”
“Tentu saja. Jika aku seorang sutradara, maka pasti Ghea adalah aktrisnya, jika aku seorang penulis scenario, maka Ghea tetaplah yang menjadi aktrisnya, jika aku seorang cameramen, maka tetap Ghea-lah yang menjadi aktrisnya. Dia ada di bagian yang gemilang.”
“Maksudmu kau kalah dengannya?”
“Hm. Bisa dibilang begitu. Lagi pula, bukankah dia benar-benar sempurna?”
“Semuanya.”
“Dan kau lupa dengan kelas akselerasimu?”
Seketika Alyna diam. Kedua matanya melirik Sam.
“Kamu nggak pernah menilai diri kamu sendiri.” Lanjut Sam.
“Ayolah Sam, hanya kelas akselerasi. Toh siapa pun juga bisa melakukannya.” bantah Alyna, meremehkan.
“Kamu benar-benar mempunyai bakat yang lebih, Lyn. Hanya kurang percaya diri.”
“Makasih, Sam. Itu terdengar seperti sebuah pujian ditelingaku.”
Sam tertawa, “Aku serius.”
“Tadinya kupikir aku memiliki semangat untuk menjadi lebih dari Ghea, jika keadaan keluargaku tidak berantakan seperti sekarang.” pandangan mata Alyna mulai menerawang kedepan.
Dalam hal ini, Sam tidak lagi banyak memberi nasehat. Dia membiarkan perasaan Alyna mengalir terbawa suasana hatinya yang kadang membaik dan kadang memburuk.
“Rasanya sia-sia jika aku terus berusaha.”
“Kalau begitu lakukan semuanya untuk kamu sendiri.”
“Terus kamu mendukungku buat menjadi sosok yang egois?”
“Kalau begitu, lakukan semuanya demi aku.”
Alyna menoleh cepat. Memandangi Sam yang benar-benar serius dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“Terserah kamu mau nganggep aku berarti atau enggak buat kamu, yang penting buat aku, kamu bisa lebih dari Alyna yang sekarang.”
Gadis itu tersenyum tipis. Baginya, Sam benar-benar berarti.
“Oke. I’ll do it.”
“Gitu dong.” Sam mengacak-acak rambut Alyna, mambuat wajah gadis itu cemberut.
~