The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Lima Belas



Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Alyna dan Sam turun kebawah untuk memastikan apakah Don sudah selesai dengan pekerjaannya. Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bila Don duduk bersama Ghea di sofa.


“Alyna, kakakmu mau bertemu katanya.”


Alyna diam tak tahu harus mengatakan apa. Sementara Sam terlihat biasa saja. Dia takut Ghea marah.


“Alyna, syukurlah akhirnya kalian sudah saling bertemu lagi.” ucap Ghea dengan suaranya yang terdengar getir. Alyna tetap diam, meskipun kepalanya sedikit mengangguk, merasa tidak enak.


“Semalam aku belum cerita ke kamu. Aku lelah, dan langsung tidur.” Sam menyahut. Membuat Alyna sedikit mengerutkan dahinya. Apa maksud dari perkataan Sam?


“It’s okey Brother, hari ini aku akan mengadakan sesi pemotretan. Dan kamu tahu? Alyna yang akan memotretku. Don bilang hasil tangkapan gambarnya selalu bagus.” ujar Ghea bangga. Kali ini Alyna tidak bisa mengelak karena hal ini merupakan salah satu dari pekerjaannya. Dan lagi, dia tidak ingin mengecewakan Don.


“Kalo gitu, biar aku keluar sendiri berburu inspirasi buat film pendek yang mau aku buat.”


Sam segera melangkah pergi, meninggalkan senyum sekilas untuk Alyna. Alyna memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Don dapat membaca apa yang terjadi padanya lewat wajah Alyna. Don tahu perasaan itu.


“Alyna, aku mencoba memperbaiki hubungan saudara kita lagi. Tolong jangan usir aku.”


Alyna menghela nafas, “Tidak akan. Apa yang kau ingin aku kerjakan?”


“Dia mendapat tawaran menjadi model salah satu brand fashion dan make-up artis. Sebentar lagi tim-nya akan datang. Kamu diminta untuk menjadi fotografernya honey.”


Mendengar apa yang baru saja dikatakan Don, Alyna paham. Dia segera menyiapkan beberapa alat fotografi yang diperlukannya. Alyna harap hasilnya benar-benar bagus, karena pikirannya saat ini penuh dengan Sam yang kini entah pergi kemana.


~


“Melelahkan bukan?”


Don datang membawakan secangkir kopi untuk Alyna yang sedang istirahat.


“Mataku terlalu banyak menangkap cahaya.” ujar gadis itu.


“Kalau begitu, angka berapa ini?’


Don ikut tertawa, diiringi pandangan matanya yang memandangi Alyna yang sedang meminum kopinya. Perlahan Don tersenyum. Dia benar-benar mengagumi gadis itu. Andai saja Alyna tahu seperti apa perasannya selama ini.


“Aku mau memberitahumu satu hal. Meskipun penampilan Ghea seperti itu, namun sikapmu jauh lebih dewasa darinya.”


Alyna menelan cairan kopi yang ada di dalam multunya,


“Ghea itu orang yang menyenangkan jika kamu sudah mengenalnya jauh.”


“Ya. Dia orang yang mudah bersahabat.”


“Kalau begitu, peluangmu untuk mendekatinya besar. Kamu dan dia punya kesamaan.”


Don diam. Bukan itu yang dia inginkan.


“Alyna, apa kamu pernah…jatuh cinta?”


Seketika juga gadis itu diam cukup lama. Dia menelan beberapa kepahitan dari kalimat itu. Tidak mungkin dia berkata tidak, karena pada kenyataannya sudah lama dia mencintai Sam.


“Semua orang pasti pernah kan?” elak Alyna.


“Iya aku tahu, tapi kamu?”


“Hm, ya. Aku juga sama seperti kalian. Aku pernah jatuh cinta.” jawabnya.


Alyna memandangi cangkir kopi yang digenngamnya.


Don masih ingin melontarkan pertanyaan kepada siapa gadis itu jatuh cinta. Dia sebenernya benar-benar ingin tahu. Namun dia menahannya karena lebih baik tidak mencampuri masalah Alyna terlalu jauh. Walaupun dia dapat menerka kepada Sam lah Alyna jatuh cinta.


~