
Ponsel Alyna berbunyi kala dia hendak membuka kunci pintu kamarnya.
Ayah
Alyna mendengus kesal. Ingin rasanya dia membanting ponsel miliknya, namun sudah cukup lama dia tidak mengangkat panggilan dari ayahnya, ataupun membalas pesan laki-laki paruh baya itu.
Kali ini, dengan ragu, dia menerima panggilan itu.
Beberapa saat sunyi. Hanya ada udara yang bersuara.
“Halo Alyna, ini Ayah…”
“Ya, aku tahu.”
“Ayah senang akhirnya kamu mau ngomong sama ayah.”
“…”
“Alyna, dimana kamu sekarang?”
“Apa peduli ayah?”
“Tolong jawab Nak. Ayah setengah mati nunggu kamu pulang.”
“Ditempat dimana ada banyak orang yang peduli denganku.”
“Kamu masih marah…”
“Tentu saja, setelah semua yang Ayah lakukan untuk mengacau hidup kami.”
“Ayah minta maaf. Benar-benar minta maaf.”
“Apa itu bisa mengubah kembali semua yang sudah terjadi?’
“Dengar Alyna, kamu belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi ibumu dan Ayah sudah tidak pernah bisa bersatu lagi. Ayah harap kamu mengerti sekarang.”
“Bagaimana aku bisa mengerti? Kalian tidak menceritakan hal apapun pada kami. Yang kalian lakukan hanyalah mengambil keputusan itu tanpa bertanya bagaimana pendapat kami.”
“Semua ini bukanlah sepenuhnya salah Ayah. Ayah yakin keputusanmu pergi tidak lain adalah karena kemarahanmu pada ibumu.”
Alyna mendadak diam. Tidak bisa dipungkiri adanya kebenaran dari kalimat itu.
“Apa yang ibumu lakukan setelah perceraiannya dengan Ayah? Tiba-tiba dia mengumumkan rencananya untuk membangun keluarga baru bersama laki-laki lain.”
Suara laki-laki paruh baya itu terdengar parau. Alyna menelan kepahitan sama seperti apa yang dirasakan ayahnya.
“Ayah tidak pernah menginginkan ini terjadi. Tapi apa pernah kamu ketahui kalau Ayah sengaja melepas ibumu atas keinginannya sendiri?”
Alyna kini dapat membayangkan seperti apa perasaan ayahnya diseberang sana.
“Kembalilah Alyna, ayah mohon. Kamu satu-satunya yang Ayah punya.”
“Ayah tidak pernah memperhatikanku.”
“Ya, Ayah salah selama ini. Maaf karena keterpurukan ini membuat Ayah mengabaikanmu.”
Alyna merasa tenggorokkannya tercekat. Gadis itu mulai menangis.
“Jika ibumu akan segera menikah nantinya, datanglah bersama Ayah, dan menetaplah disni.”
“Aku tidak pernah ingin kembali. Tidak akan.”
“Alyna…”
“Ayah, aku lelah.”
“Alyna tunggu sebentar…”
Alyna memutuskan sambungannya. Gadis itu menangis tepat di balik pintu kamarnya setelah dia membuka pintu kamar itu. Rasa amarah dan menyesal bercampur setelah dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mendadak dia teringat akan wajah ibunya yang selama ini dibanggakannya. Alyna membenci wanita itu. Begitu membenci wanita itu sampai-sampai dia tidak bisa lagi mengingat kenangan indah yang pernah terukir bersama ibunya dan kedua anak gadis wanita itu.
~
Alyna berjalan mondar-mandir di dekat jendela kamarnya. Sesekali menggigit gemas bibirnya. Rasa keingintahuannya mengenai Sam muncul secara teus-menerus, membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Ini mungkin berlebihan, namun jujur saja dia merasa waktunya bersama Sam belumlah cukup. Dia benar-benar merindukan laki-laki itu.
Dengan ragu dia memegang ponsel miliknya, namun hanya mampu memandangi benda itu, tidak berani untuk menghubungi Sam terlebih dulu. Apalagi jika nanti dia hanya akan mengganggu Sam yang sedang mencari inspirasi sesuai dengan apa yang dikatakan laki-laki itu tadi.
Tapi tak selang lama waktu, ponselnya berbunyi. Berharap setengah mati bila orang itu Sam. Dan benar saja, nama itu muncul di layar ponselnya. Cepat-cepat, Alyna menerima panggilan itu.
“Sam?”
“Wow, apa kau menanti panggilanku?”
Alyna tersipu malu, dan dia mengalihkan pembicaraan.
“Dimana kamu?”
“Di pantai. Hari ini cerah banget.”
“Jika kamu berada disana dari jam dua siang, mungkin kulitmu akan berubah menjadi coklat.”
“Memang itu tujuanku.”
Alyna tertawa.
“Mau kesini?”
“Sekarang?”
“Ya. Kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu kan?”
“Ini sudah hampir petang.”
“Kalau begitu jangan sampai kita melewatkan sunsetnya.”
Alyna menimang-nimang, “Oke, aku kesana.” putusnya cepat-cepat. Alyna segera mengganti pakaiannya menjadi lebih sederhana, lalu menyaut tas selempang dan ponselnya. Ia berjalan keluar apartementnya menuju pantai tempat Sam menantinya.
~
“Lucu sekali, aku memandangi diriku sendiri.”
Alyna mengernyitkan dahinya, lantas tertawa saat dia mulai paham.
“Samudera yang ada disampingku jauh lebih indah daripada samudera yang ada di depanku.” ujar Alyna.
Seketika juga mukanya memerah. Dia tidak berani memandang Sam. Kalimat barusan muncul begitu saja. Alyna mengutuki kebodohannya itu.
“Terimakasih Lyn.” kemudian Sam berucap.
Hanya itu yang didengarnya. Entah kenapa perasaan Alyna selalu tenang jika berada disisi laki-laki ini, seolah dia bisa melupakan semua masalah dalam hidupnya begitu saja.
“Kalau suatu hari nanti aku harus pulang, apa kamu mau ikut?”
Alyna mengerutkan dahinya, “Pulang?” ulangnya heran. Sam mengangguk.
“Tapi kamu janji mau menemaniku disini.”
“Bukan buat pulang selamanya. Ayahku…dia akan menikahi seseorang.”
Kedua mata Alyna terbelalak mendengar kalimat itu.
“Ya Tuhan, Sam, maaf aku nggak tahu…”
“Nggak papa.”
“Kalau aku tahu, aku nggak mungkin nahan kamu disini. Hari ini kamu mau pulang pun boleh.”
Ucap Alyna berusaha merelakan. Meskipun ketakutannya kehilangan Sam masih ada dibenaknya.
“Bukan hari ini. Acaranya masih lama, aku juga nggak tahu. Aku nggak begitu peduli.”
Alyna pun terdiam. Dia memikirnya sosok ibunya, apakah wanita itu juga akan menikahi laki-laki yang menciumnya dulu?
“Lyn?”
“Hm?”
“Maaf baru cerita sekarang.”
“Apa?”
“Pengakuan kalau ternyata hidup aku juga menyedihkan.”
Alyna memandangi Sam.
“Kalau aku cerita dari awal, nggak akan ada yang bisa nguatin kamu. Waktu itu kamu masih terlalu rapuh.”
“Sejak kapan keluarga kamu…”
“Ibuku meninggal belum lama, waktu dia tahu kalau ternyata laki-laki sialan itu punya kekasih.”
Alyna diam mendengarkan. Dia sama sekali tidak akan menyangka bila Sam-nya akan serapuh ini juga. Benar-benar hal yang paling tidak diinginkan Alyna itu terjadi.
“Itulah alasan lain kenapa aku berhenti menghubungimu. Aku juga mencoba mengobati lukaku sendiri.”
Sam menghela nafas kecewa, “Tapi ternyata kehilanganmu juga malah memperburuk keadaan.” ucapnya diselingi tawa.
Gadis itu, Alyna, merasa bersyukur telah mengenal Sam. Membuatnya benar-benar merasa kalau ternyata dirinya tidak sendirian.
“Semenjak kenal sama aku, gimana sih sama Sam?”
Sam diam sejenak, lalu berkata,
“Semenjak kenal sama Alyna, aku jadi lebih dewasa. Itu pun karena aku nggak mau kalah sama anak pintar yang lebih muda, yang berhasil ikut kelas akselerasi.”
Alyna dan Sam tertawa bersamaan.
“Aku kira semenjak kenal sama aku, yang kamu dengar setiap harinya cuma cerita-cerita sedih yang membosankan, yang sekarang pun menular dikehidupanmu.” ujar Alyna.
Gadis itu menggigit bibirnya karena perasaan bersalah. Tapi Sam menggedekkan kepalanya cepat-cepat.
“Enggak Lyn, kamu nggak pernah bersalah atas apapun. Bukankah kamu pernah bilang kalo yang selalu salah itu orang dewasa, kita cuma korban.”
Lantas Alyna tersenyum kala mengetahui Sam masih mengingat dengan jelas kalimat yang pernah diucapkan Alyna.
“Tapi sekarang kita dah jadi dewasa.” ucap Alyna.
Mata sayunya meredup. Menyadari Alyna telah terlalu banyak menelan kepahitan, Sam tidak bisa berubuat apa-apa. Belum lagi dengan kebenaran yang sebentar lagi akan terungkap. Sam merasa hatinya akan diiris dengan sebilah pisau yang tajam. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa marahnya Alyna setelah itu.
“Semenjak kenal sama aku, kamu sendiri gimana?” Sam balik bertanya.
Alyna menimang-nimang sesaat. Bagaimana tidak, semenjak kenal dengan laki-laki itu, Alyna jatuh cinta. Alyna jatuh cinta pada setiap kebaikan dan ketulusannya. Hal yang tidak mungkin dikatakannya langsung dihadapan Sam.
“Semenjak kenal dengan Sam…”
Kalimat itu tidak dapat diteruskan lantaran ponsel Alyna yang tiba-tiba berdering.
Ghea
Sebuah pesan dikirmkan kepadanya.
‘Temui aku sekarang juga didepan kamar di apartementmu.’
Alyna mengernyitkan dahinya.
“Ada apa?”
“Maaf Sam, tapi aku harus pulang sekarang.”
“Sekarang juga? Mau aku antar?”
“Nggak usah. Ghea, dia nunngu aku di apartement.”
Sam diam seketika juga.
~