The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Enam



“Aku selalu ingin tahu tentang kabarmu, Alyna. Kata ibu, kau tidak membalas satu pun pesan darinya, mengapa? Dia sangat khawatir padamu.”


“Aku bahkan juga tidak membalas pesan dari ayah, adil bukan?”


Ghea menghela nafas, “Mengapa?”


Alyna bungkam. Gadis itu mengusap dahinya, “Akhir-akhir ini sibuk sekali…”


“Oh ya? Atau kau berusaha menghindari mereka?”


Alyna menatap Ghea. Mengamati perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ghea banyak berubah. Rasanya asing sekali sebagai saudara.


“Urus saja ibu, okey? Kau ikut dengannya. Sementara ayah menjadi bagianku.”


“Alyna, dengar…”


“Aku sedang berusaha mengejar mimpiku. Inilah tempatku. Aku tidak ingin kembali.”


“Bukan begitu maksudku. Kami tidak pernah mempermasalahkan hal itu…”


Mendadak hati Alyna serasa diiris-iris. Terasa seperti kepergiannya benar-benar tidak berarti bagi mereka.


“Kau memutuskan mengambil setiap tindakan tanpa pernah memberitahuku, juga ibu. Kami khawatir.”


“Ghea, aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagi pula, tidak membalas pesan, bukan berarti keadaanku buruk bukan? Aku benar-benar sibuk.”


“Oh ya, dengan pria tampan tadi? Aku rasa kau bersenang-senang disini.” ucap Ghea, diselingi tawa. Suasana sudah mulai mencair.


“Don hanya rekan kerjaku.”


“Sepertinya dia menyukaimu.”


“Tidak, dia menyanjungmu tadi. Katanya kau anggun.”


“Pasti ada alasan kenapa dia menyanjungku.”


Alyna diam. Entah kenapa dia merasa seperti rumahnya kembali.


“Aku tinggal di apartement yang lumayan jauh dari dari tempatmu bekerja. Kau mau mampir?”


“Mungkin lain waktu. Akhir-akhir ini aku sangat-sangat sibuk. Maaf.”


“Kalau begitu, beritahu aku alamat tempat tinggalmu.”


“Tidak. Aku belum ingin membiarkanmu mengetahui dimana aku menetap. Tolong, semua ini butuh waktu.”


“Tidak juga, Ghea. Aku bahkan senang saat mengetahui ternyata aku dan kakakku ada ditempat yang sama saat ini, sekarang.”


“Ya, selisih satu tahun lebih awal darimu membuatku merasa aku kurang dewasa untuk menjadi kakakmu.”


Alyna tersenyum tipis.


“Kau beruntung karena kecerdasanmu, kau bisa ikut program akselerasi. Jadi selama sekolah, kita bisa bersama-sama.”


“Kenapa kau terus mengingatnya?” Tak tahukan dia bila hal itu justru membuat Alyna mengingat tentang Sam? Tentang laki-laki itu lagi.


“Karena hanya hal itu yang paling banyak mengukir kenangan kita.”


Alyna diam. Wajahnya mulai memanas dan memerah.


“Baiklah, kalau begitu, aku bisa meninggalkanmu sekarang.”


“Kau sudah selesai dengan Don?”


“Iya. Aku sudah menjelaskan kepadanya mengenai konsep yang aku inginkan. Jangan khawatir katanya, sebab kau akan memberikan hasil yang terbaik untukku. Aku percaya padamu.” ucap Ghea, seraya tersenyum bangga.


“Aku akan pergi. Ada beberapa hal yang harus aku urus pula. Jaga dirimu baik-baik, Lyna.”


Alyna mengangguk tanpa berkata. Ketika Ghea berdiri dan baru melangkah beberapa jengkal, perempuan itu tiba-tiba berhenti.


“Oh iya, satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Untuk pertemuan kita yang selanjutnya, mungkin kau harus datang, Alyna. Sebab, Samudera ikut bersamaku.”


Deg!


Jantung Alyna terasa seperti hendak berhenti saat itu juga. dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun sampai Ghea melanjutkan langkahnya lagi, dan benar-benar menghilang dari pandangannya.


Alyna membungkam. Matanya nanar.


“Honey, kau baik-baik saja?”


Kedua mata Alyna terarah pada sosok Don yang kini berdiri disebelahnya. Cepat-cepat Alyna berdiri, seraya merengkuh laki-laki itu. Disanalah, Alyna menumpahkan air matanya.


“Hey…ada apa?”


Dengan sesenggukkan, Alyna perlahan-lahan menceritakannya.


~