
Tiga hari telah berlalu semenjak pengakuan itu, Alyna memilih mengurung diri di apartementnya untuk menenangkan pikirannya. Butuh waktu untuk memahami ini semua. Dia harus terbiasa dengan keluarga barunya kelak, atau dia bisa memilih untuk menetap disini selamanya. Sebenarnya, hal ini masih saja berat baginya, namun dia sudah berjanji akan berdamai dengan kenyataan. Ironisnya saat Sam yang dia sukai selama ini justru adalah anak dari laki-laki yang akan menikahi ibunya adalah hal yang diluar dugaan Alyna.
Mendadak dia memikirkan Don. Laki-laki itu selalu ada disaat-saat sulitnya seperti sekarang. Selama dia memilih untuk mengurung diri pula, Don tidak pernah absen datang ke apartementnya, bahkan selalu mengirim pesan kepada Alyna. Alyna menggelengkan kepalanya ketika benar-benar menyadari sahabatnya itu adalah orang terbaik didunia.
“Mau makan sesuatu? Aku bisa bawakan untukmu pulang kerja nanti.”
Alyna menarik sudut bibirnya ketika membaca pesan dari Don. Dia pun mengetik balasan untuknya.
“Aku masih punya cukup makanan. Kamu urus perutmu saja yang lebih membutuhkan perhatianmu. Terimakasih sebelumnya.”
“Ayolah honey, ini alasanku agar bisa datang kesana.”
Alyna terkekeh sendiri, “Datang saja kalau kamu mau.” balasnya.
Beberapa detik kemudian pesan Don masuk,
“Segera meluncur. Ada hal yang ingin kukatakan.”
Alyna mengerutkan alisnya. Namun tak lama kemudian Don berhenti online. Alyna memilih untuk mengabaikan pesannya. Dia memeluk tubuhnya sendiri diatas ranjang.
~
Suara ketukan pintu mau tidak mau membuat Alyna beranjak dari atas tempat tidurnya. Seperti dugaannya, senyum Don dari balik pintu dia sambut dengan senang hati.
“Masuklah,” dia mempersilahkan.
Laki-laki yang terlihat begitu antusias itu lantas masuk dan meletakkan kantong berisi makanan yang dia beli di atas meja makan Alyna.
“Aku membeli makanan di pinggir jalan tadi,” dia berbasa-basi.
Sementara Alyna berlalu ke arah lemari pendinginnya.
“Mau minum apa?” tawarnya pada Don.
“Apa saja.”
Lantas Alyna mengambilkan sekaleng minuman bersoda dan sekotak susu cair. Dia berjalan mendekati Don.
“Aku tidak tahu mana seleramu dimalam hari.”
Don hanya tersenyum menanggapinya. Dia sibuk memilah mana makanan yang harus disantap terlebih dulu.
“Ini, mumpung masih panas.” katanya.
Alyna tertegun memandangnya heran. Dia lantas menarik kursi dan duduk tepat didepan Don. Namun Don justru menatapnya aneh. Dia tahu bila Alyna masih sekacau yang dia duga.
“Terimakasih banyak,” ujar Alyna ditengah tatapan Don yang masih terarah padanya.
Alyna memutar bola matanya mencari celah lain untuk beralih sejenak meski bulir bening itu mulai keluar.
“…terimakasih.” lanjutnya setelah dia kembali fokus menatap Don.
Sementara Don merasakan tenggorokkannya yang tercekat karena hal ini. Sungguh, jika saja memiliki keberanian, mungkin disaat-saat berdua seperti ini akan lebih mudah mengatakannya pada gadis itu. Tapi dia tidak ingin memperburuk suasana hati Alyna lagi.
“Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Lagi pula dari awal jika aku membiarkan seorang gadis sendirian menentang dunia itu akan terlihat kejam ‘kan?”
Don sempat melenguh dalam nafasnya. Dia hanya membayangkan bagaimana awal mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan tempat kelahiran mereka.
“Aku tidak pernah menduga sampai saat ini kamu selalu memperlakukanku sebaik yang tak pernah aku bayangkan. Yang tidak pernah orang-orang lakukan sampai melampaui batas sejauh ini.”
Don sedikit tertawa, “Ini sudah menjadi mauku.” katanya singkat.
“Tapi kenapa?”
‘Oh, jelas saja karena aku menyukaimu,’ hampir saja batin itu mewakili suaranya, namun laki-laki itu hanya mengusap dahinya sekilas.
“Itu karena kamu telah menceritakan bagaimana kehidupanmu yang hancur, dan tentunya aku tidak bisa meninggalkanmu.”
Alyna mulai terisak, “Tapi aku tidak pernah melakukan hal yang lebih untukmu.”
Don terdiam. Jika saja Alyna mau mencintainya, maka semua itu sudahlah impas baginya. Tapi dia tidak akan pernah memaksa. Karena selama Alyna berada disisinya, itu sudahlah cukup.
“Kamu memberikan yang terbaik dari bakatmu. Kamu telah melakukan hal yang menurutku itu sudahlah cukup.”
Alyna sedikit tertawa, “Ternyata baru kali ini juga aku menyadari kalau kamu adalah orang yang paling baik di dunia. Tapi tidak ada yang sesederhana itu. Dan aku yakin pasti ada suatu hal dibalik kebaikan seseorang yang melampaui batas...”
Don tercekat lagi. Dia membuang pandangannya, menatap jemarinya yang menyentuh bungkusan sup yang sudah mulai mendingin. Alyna seakan dapat menerka apa yang terjadi pada perasaannya, ‘sial’, pekiknya dalam hati.
Tak lama kemudian dia kembali menatap wajah gadis didepannya. Sunyi. Keduanya hanya saling bertatap. Don merasa dia hanya akan menjadi seorang pengecut yang terus menerus menutupi perasaannya, meskipun sebenarnya dia merasa berhak membiarkan Alyna tahu dia mencintainya. Meskipun dia sangat ingin Alyna mengetahuinya sekali seumur hidup. Meskipun cukup Alyna mengetahuinya saja, tidak perlu membalas.
“Jika aku boleh meminta satu hal darimu…” Don menarik nafas panjang. Sedikit memejamkan matanya, dan membukanya lagi, kembali menatap wajah gadis itu.
“…aku rasa yang aku inginkan hanyalah cintamu, Alyna.”
Alyna membelalakkan matanya. Dan pada saat yang bersamaan air matanya tambah mengalir. Untuk sesaat apa yang dia dengar seperti halusinasinya saja, tapi ini nyata. Mereka berdua benar-benar ada disini. Duduk disini. Saling menatap satu sama lain meskipun dia masih mencerna semua kalimat itu.
“Aku…”
“Ya, Alyna. Aku menyukaimu. Sejak awal kita menjadi satu tim saat kuliah. Kupikir tadinya kamu sama seperti perempuan pada umunya yang terlalu ambisius mengejar mimpi untuk kelayakan hidup. Tapi ketika kamu mulai terbuka padaku tentang alasan mengapa demikian, barulah aku sadar bahwa kamu memang membutuhkan banyak materi untuk bertahan hidup, saat kamu telah memutuskan untuk lepas dari keluargamu.”
Alyna menyeka air matanya. Don benar-benar memahaminya dengan baik selama ini.
“Aku selalu ingin mengatakannya, tapi tidak punya kesempatan yang baik. Terlebih lagi saat aku tahu kamu masih terlalu fokus pada luka-lukamu. Dan pada akhirnya menjadi seseorang yang selalu menemanimu adalah jalan terbaik untuk selalu bisa berada disisimu. Itu saja sudah cukup.”
Don menertawai dirinya sendiri.
“Juga…aku tidak ingin membebani pikiranmu dengan pengakuanku. Jika saja dugaanku benar, mungkin kamu merasa telah begitu nyaman dengan persahabatan kita.”
Alyna membuang pandangannya dari arah mata Don. Dia tidak ingin Don menyaksikan lebih banyak air mata yang keluar dari matanya.
“Aku berharap suatu hari kamu menyadarinya Alyna, meskipun kemungkinan tipis. Sampai pada akhirnya kamu bertemu lagi dengan seseorang yang kamu suka.”
“Sam?”
Don mengangguk pelan, “Iya, aku tahu kamu menyukainya. Dia adalah seseorang yang kamu maksud selama ini.”
Tatapan Alyna pun nanar. Dia tidak menyangka Don akan menyukainya sampai sejauh itu.
“Tapi tidak masalah, buatku, jika semua hal membuatmu merasa nyaman, atau bahkan bahagia, aku akan menerima hal itu.”
“Kamu terlalu sempurna Don. Kamu memiliki semuanya dan hidupmu baik-baik saja. Jangan mencintaiku karena hal yang terlalu sederhana. Aku tidak pantas menerimanya.”
Don menggeleng-gelengkan kepalanya, “Dan itulah kelebihanmu selama ini. Kamu mandiri dan apa adanya. Kamu…rela berkorban demi orang-orang yang kamu cintai.”
Alyna tertegun, “Karena hanya itu hal yang bisa aku lakukan.” ucapnya.
“Kalau begitu, aku tidak peduli bagaimanapun tanggapanmu tentang perasaanku, aku harap kita tetap bisa menjadi partner seterusnya.”
“Kalau saja aku bisa mencintaimu, aku akan dengan senang hati menerimamu. Kalau saja orang itu kamu. Kalau saja…”
“Sssttt, jangan menangis Alyna.”
“Maaf Don, aku tidak menyadarinya selama ini, justru membuatmu selalu menunggu.”
Don melangkah mendekati Alyna, dan memeluk gadis itu, “Tidak apa-apa. It’s okay, jangan memaksakan hal ini. Jika kamu memaksanya, itu malah melukai perasaanku.”
Alyna mencengkram lengan Don kuat.
“Aku bukanlah orang yang pantas…”
“Kamu pantas atas apa pun Alyna. Bahkan dicintai dengan layak sekalipun.”
Don mengusap rambut gadis itu, “Setidaknya aku telah mengakuinya, dan pernah membuatmu tahu bahwa aku menyukaimu, itu saja yang aku inginkan. Itupun cukup. Aku tidak akan meminta lebih, bahkan aku tidak akan memintamu untuk membalasnya.”
“Tapi aku akan berusaha.”
“Tidak, jangan memaksakan…”
“Tapi aku mau. Ini sudah menjadi keputusanku.”
“Alyna…”
“Tolong biarkan aku mencoba.”
Don meluluh. Sejenak dia hanya memandang kosong udara yang hampa dengan perasaan yang begitu lega saat mendengarnya. Dia mempererat pelukan itu.
“Makasih, Alyna.”
~