
Sam duduk di pinggir trotoar jalan setelah seharian dia puas merekam, juga mengambil gambar beberapa objek yang akan dijadikannya bahan untuk membuat film dokumenternya. Sial, ternyata beberapa objek yang diambilnya tadi sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan tema film yang akan dia buat. Laki-laki itu menghela nafas berat.
Tiba-tiba ponsel didalam saku celananya bergetar. Cepat-cepat dia mengambil, lalu mengangkat panggilan itu.
“Ghea, ada apa?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau memastikan kamu nggak kesesat. Aku dah pulang ke vila, dan kamu nggak ada dikamarmu.”
“I’m fine, Ghe. Sama kaya kamu, aku disini juga berburu inspirasi.”
“Wowooo, kita beda, okey? Aku bekerja sebagai model, itu artinya akulah inspirasi.”
Tawa Sam pecah, “Oke-oke, terserah apa katamu.”
Mendadak sunyi. Ghea seperti mengatur nafas untuk mengatakan sesuatu.
“Sam, aku ketemu sama dia lagi.”
“Alyna?”
“Ya.”
“Lalu?”
Ghea diam sesaat.
“Dia…dia masih tidak menginginkanku.”
“Owh, aku turut prihatin. Dia masih marah, mungkin.” Komentar Sam.
“Ya, aku tahu. Cukup jelas dari semua kalimat yang dia ucapkan padaku.”
“Apa mukanya merah?”
Ghea tertawa, “Hey, kurang ajar mengatakan itu didepan kakaknya sendiri. By the way, kamu masih inget gimana dia biasanya.”
“Ya. Aku teman karibnya. Dulu.”
“Kamu nggak mau mencoba temui dia?”
Sam diam. Memainkan pasir yang dia injak.
“Aku ragu. Dia pasti marah.”
“Tidak semarah padaku. Mungkin kamu bisa mengubah cara pikirnya.”
“Aku mau Ghea, cuma nggak berani.”
“Why not? Denger, aku butuh kamu bantu aku. Alyna dah terlalu lama sendirian. Dan kamu satu-satunya teman karibnya yang selalu berhasil bikin dia nurut.”
“Kamu bilang dia sama sekali nggak mau kasih alamat tempat tinggalnya kan?”
“Ya, tapi aku tau kantor dimana dia kerja.So? Gimana?”
Sam tersenyum. Hatinya benar-benar girang.
“Oke deh.”
“Thanks, dan aku bakal ngabarin kamu lagi nanti. Bye Sam.”
“Bye.”
Diputusnya panggilan itu. Sam masih duduk dipinggir trotoar di bawah lampu berwarna kuning keemasan diantara orang-orang yang masih berlalu lalang hingga malam ini.
Wajahnya menengadah, menatap sebuah gedung bertingkat yang cukup megah, elegan, dan bagus. Gedung bertingkat enam dengan warna putih laguna yang mendominasi. Sesaat Sam teringat akan rumahnya. Tapi bedanya, gedung ini ramai akan orang-orang, sementara rumahnya tidak. Hanya berisikan antara dia dan ayahnya, juga beberapa orang yang bekerja untuk mereka. Sam hendak ingin pergi, namun melihat penjaja makanan kaki lima disebelahnya membuatnya tergiur dan memutuskan untuk memesan dua bungkus kebab. Sambil menikmati suasana malam disini, Sam rasa hal ini cukup untuk menenangkan pikirannya.
~
Alyna mengusap lengannya yang dibalut dengan cardigan rajut berwarna biru tua. Ketika dia hendak menutup jendela kamarnya, dilihatnya suasa malam yang ramai dari atas yang selama ini dia lewatkan. Gadis itu tersenyum. Betapa bodohnya dia yang sudah lama tinggal disini baru menyadari bahwa alangkah ruginya tidak pernah keluar malam untuk menikmati atau barangkali mencicipi kuliner kaki lima yang berdiri disepanjang trotoar.
Alyna memutuskan utuk keluar malam ini. Cepat-cepat dia mengambil dompet dan ponselnya, keluar kamar lalu mengunci pintunya. Sesaat dia ingin menghubungi Don, meminta laki-laki itu menemaninya malam ini, namun dia urungkan. Tidak ada salahnya menikmati suasana malam di Bali sendirian.
~
‘Sial, apa yang akan aku beli?’
pikirnya, saat telah menjejakkan kakinya di luar apartement.
Alyna menoleh kesana kemari. Beberapa wisatawan mancanegara pun masih banyak yang berlalu lalang. Dan, selalu ada banyak keluarga kecil maupun besar menghabiskan waktu bersama. Alyna tersenyum getir. Namun, disinilah dia sekarang. Sendirian. Hanya mampu menyaksikan hangatnya tawa kerbersamaan beberapa keluarga yang menghabiskan waktu bersama itu.
Pada akhirnya dia tertarik pada salah satu jajanan kaki lima yang berada tak jauh darinya. Dengan hati-hati, ia menyebrang jalan sambil sesekali membenarkan kardigannya.
‘Bli Bli’s Kebab’
Alyna membaca menu yang tertera di kaca etalase kecil kaki lima itu.
“Medium kebabnya satu.” Ujar Alyna.
“Medium kebab satu, ada lagi?”
Alyna menggedek, diiringi anggukan penjual kebab yang kemudian menyuruhnya untuk menunggu pesanan. Seorang pelayan yang lain memberikan pesanan kepada seorang pria di sebelahnya.
“Dua medium kebab dengan tambahan mozzarella.” Ujar pelayan itu. Laki-laki disebelahnya menyodorkan uang kepada si pelayan.
“Terimakasih.” ucap si pelayan.
Alyna terdiam cukup lama. Dunia seakan berhenti, seperti penantiannya selama ini. Entah benar atau tidak, tapi dia yakin kedua matanya tidak pernah salah. Lagi pula, laki-laki itu tidak banyak berubah. Sama sekali.
“Samudera…” panggilnya lirih, namun cukup untuk membuat Samudera menoleh.
Dan…
Laki-laki itu terkejut bukan main. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Lyn?” bahkan sapaan khas itu masih dia gunakan. Alyna hampir meneteskan air mata. Benar. Dia benar Samudera sahabatnya yang dulu.
“Alyna? Ya Tuhan, ini benar-benar kamu?” ulang Samudera dengan nada yang girang. Alyna mengangguk pelan.
“Kamu apa kabar. Lyn?” tanya Sam. Alyna hanya mampu menjawabnya di dalam hati.
Ya, kini dia baik-baik saja.
~