
Dari balik tirai pintu yang sedikit terbuka, Don mengamati dua sosok yang kini duduk berduaan di tepi pantai. Don menyandarkan sebelah badannya. Tangan kanannya memegangi gelas kecil berisi minuman.
Dari arah belakang, Ghea datang dan berdiri di sebelahnya. Laki-laki itu sedikit terkejut, lalu menegakkan tubuhnya.
“Oh, Ghe...”
“Aku tahu gimana perasaanmu.” Ghea telah lebih dulu berucap.
Don tertawa pasrah pada kebenaran yang mudah ditebak itu.
“Aku tidak pernah memiliki keberanian buat mengakuinya.”
“Itulah sebabnya kamu kehilangan kesempatan. Sampai pada akhirnya orang yang dia nanti hadir kembali didepannya.”
Don terkekeh sinis pada dirinya sendiri.
“Sam laki-laki yang baik. Dia setia. Kami bertiga menjadi sahabat saat Alyna berhasil menyamai tingkatannya berkat kelas akselerasi.”
“Apa semuanya berjalan sempurna?”
Ghea menghela nafas, “Hampir. Kalau saja tidak pernah ada masalah yang mengubah suasana hati Alyna.”
“Kapan dia mulai menyukai Sam?”
“Saat Sam lebih sering meluangkan waktunya untuk Alyna dibanding denganku dan keluarga kami. Bahkan setelah itu pun Alyna lebih terbuka kepadanya.”
Don berubah suram. Meratapi kedua mata Ghea yang ternyata lebih kelam dari gelapnya malam.
“Padahal, aku lebih dulu menyukainya.” Ghea menundukkan kepala sambil tersenyum penuh luka.
“Kamu tidak pernah jujur?”
“Pada Sam? Tentu saja pernah. Sam bahkan pernah ingin menerimaku karena rasa tidak enak. Tapi aku tahu bila cintanya yang tulus hanya milik Alyna.”
Don mengangguk pelan.
“Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk mengambil Sam dari Alyna. Mengakui perasaanku pada Sam adalah kebodohan terbesarku. Alyna, sejak saat dia melihat ibu kami dengan laki-laki itu, juga mungkin mengetahui aku menyukai Sam, sejak saat itulah dia mulai memusuhi semuanya dalam hidup. Aku tahu aku salah. Kami semua bersalah.”
“Hey, bukan berarti begitu. Alyna berusaha memaafkan semuanya. Dia sudah berjanji padaku.”
Ghea melirik Don, “Itu sebabnya dia ikut denganmu. Terimakasih telah menjaganya selama ini.”
Don mengangguk lagi, “Tidak masalah.”
“Tapi aku ingin Alyna-ku kembali. Aku harus membawanya pulang.”
“Akan kubujuk untuk itu.”
Ghea menatap Don seketika, “Apa kamu tidak keberatan sama sekali?”
“Aku menyukainya, dan aku akan lebih bahagia jika dia mau kembali bersama keluarganya lagi.”
Ghea tersenyum. Senyum yang hampir sama seperti yang dimiliki adiknya.
“Tapi satu hal yang harus kamu tahu, bahwa mereka tidak akan pernah bersama.”
Don mengerutkan alisnya, “Maksudmu?” tanyanya bingung.
“Sam dan Alyna.”
“Kenapa?”
Ghea memejamkan matanya, dan membukanya lagi beberapa saat.
“Sam akan menjadi saudara tiri kami. Dia anak dari pria yang akan dinikahi ibu kami.”
Mendadak Don seperti ingin menyelamatkan gadis itu dari kenyataan pahit ini.
~
Alyna sesenggukkan. Ibarat sebuah petir memekakan telinga, dia harus menerima satu hal lagi yang membuat hidupnya hancur.
“Aku tidak pernah ingin membencimu. Manamungkin?” ungkapnya dengan hati yang hancur.
Sam memalingkan wajahnya sebab dia tak mampu melihat Alyna sehancur ini karenanya.
“Kamu ingin aku memahami semuanya, oke, akan aku coba, tapi hal ini? Ini menyakitkan, Sam!”
Suaranya yang parau benar-benar menyakiti hati Sam. Dia lantas memberanikan diri memandang Alyna.
Tubuh gadis itu berguncang dengan wajah yang terbenam di antara tangannya.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku harus mengatakan semuanya, cepat atau lambat. Bertahun-tahun kenyataan ini menyiksaku Alyna.”
Alyna menatap Sam dengan wajahnya yang membasah, “Aku tahu. Kamu mengalami hal yang sama sepertiku. Tapi hal ini benar-benar diluar nalarku.”
“Ghea pun juga demikian.”
Alyna tertegun sejenak. Air matanya kembali mengalir. Sam memandangnya iba.
“Bukan salahmu. Ataupun Ghea. Ini semua tentang keegoisan mereka. Aku tidak pernah menyangka satu-satunya hal yang…masih bisa memberiku semangat harus direnggut juga oleh ketamakkannya.”
“Aku menyukaimu dari lama, dan itu kenyataan yang selama ini Ghea ketahui juga.”
Alyna memandang Sam. Kedua mata berairnya meluluhkan hati Sam. Sungguh ironis.
“Aku mencintaimu dengan sangat Lyn.”
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?”
“Aku tidak ingin membebani pikiranmu dengan pengakuanku. Kukira selama ini kamu menganggap aku hanya sahabatmu dan aku kekasih Ghea?”
Ya, memang seperti itu yang dia kira selama ini. Tapi bukan berarti Sam tidak mengakui perasaannya untuk membuat semuanya lebih jelas dari awal.
Alyna menggelengkan kepalanya berkali-kali, mengusir semua gambaran buruk yang akan dan telah dia lalui.
“Jadi, kumohon jangan menyakiti dirimu lagi dan terimalah keadaan ini apa adanya. Aku mohon Alyna, jangan memusuhi kami.”
Alyna diam termenung.
“Pulanglah bersama kami…”
“Tapi aku terlanjur menganggapmu berbeda. Lain dari yang lain. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa kamu akan mejadi saudara tiriku? Ini sangat aneh.”
“Aku tahu. Aku juga akan mengalami hal yang sama sepertimu. Butuh waktu untuk menerima kenyataan ini, dan berbaur didalamnya.”
Alyna tak tahu harus berbuat apa lagi. Dia hanya mampu merasakan betapa dinginnya angin yang menusuk kulitnya saat ini, betapa menyakitkan.
“Jadi, ini maksud dari apa yang kamu katakan waktu itu. Kamu ingin pulang karena kamu bilang ayahmu akan menikah, pada saat ibuku juga akan melangsungkan pernikahan pula. Mengapa aku tidak curiga dari awal?” ujar Alyna sendiri.
“Inilah alasan mengapa aku berhenti mengabarimu karena pada saat aku sendiri mengetahui siapa wanita yang akan dinikahinya, saat itulah gambaranku tentangmu hancur Lyn. Aku berantakan. Aku terlanjur menganggapmu lebih dari teman.”
Alyna menatap Sam dengan kedua mata yang mengalirkan air mata dengan deras. Kenyataan yang begitu pahit sekali, bahwa jika saja diantara orangtua mereka tidak terjadi apa-apa, mungkin dia akan bahagia bersama Sam. Saat-saat yang paling menyakitkan adalah ketika dia tahu bahwa ternyata Sam juga mencintainya selama ini.
Kedua mata gadis itu mulai membengkak. Sam tidak tega melihatnya, namun dia juga tidak mampu memalingkan wajahnya dari Alyna. Detik itu juga dia berharap Alyna segera menghentikan tangisnya, karena hal itu menyakiti hatinya lebih dari apapun.
“Alyna, aku benar-benar minta maaf. Jujur, Ghea telah lama menyuruhku untuk memberitahumu tentang hal ini, tapi…aku selalu tidak bisa. Aku takut kamu akan membenciku. Dan hal yang lebih parah adalah bahwa kemungkinan besar kamu akan melukai dirimu sendiri.”
Alyna menatapnya nanar, “Kenapa kamu begitu takut saat aku melukai diriku sendiri?”
“Jelas karena aku nggak akan pernah bisa kehilanganmu.”
Alyna sesenggukkan, “Semua hal yang aku lakukan selalu menyusahkan semua orang. Maaf jika tidak pernah bisa berhenti membuatmu khawatir.”
Sam menatapnya iba, “Aku tidak akan pernah melepasmu begitu saja, tadinya kupikir akan begitu. Bahkan setelah Ghea berani mengungkapkan perasaannya, tapi setelah hal itu terjadi, saat dimana pertama kali ibumu datang ke rumahku, barulah aku menyadari bila ada baiknya aku tidak pernah mengatakan perasaanku padamu, meskipun aku selalu ingin kamu tahu suatu saat nanti.”
Alyna memejamkan matanya sekilas. Pengakuan itu benar-benar terdengar sangat menyakitkan.
“Setiap hari hal itu menghantuiku, Lyn. Tentang bagaimana cara mengatakannya padamu nantinya. Terlebih lagi saat aku tidak lagi mengetahui keberadaanmu dimana. Tapi itu cukup untuk mengulur waktuku.”
“Aku menyukaimu karena kamu selalu ada untukku. Hari dimana kamu selalu memahamiku, hari dimana kamu selalu mengerti bagaimana perasaanku, saat kamu selalu percaya dengan apa yang aku katakan, saat dimana kamu membuatku merasa bila aku ini layak buat didengarkan juga. Sedikitnya kamu bisa menghapus lukaku.”
Sam menatap mata gadis itu lekat. Semilir angin malam meniup rambut Sam dan Alyna secara bersamaan. Untuk sesaat mereka berdua terlihat begitu rapuh. Ironis. Benar-benar diluar jangkauan.
Sam bisa merasakan ketulusan cinta hanya dari kedua mata Alyna yang terluka oleh realita pahit yang selama ini dia saksikan. Kini, dia harus merasakan lagi kepahitan dari sebuah realita itu, bahkan lebih pahit dari sebelumnya.
“Aku akan kehilanganmu…” tangis Alyna pecah kala mengatakannya. Sam memeluk Alyna yang meringkuk diantara kedua tangan dan kakinya.
“Sssttt, Alyna, tolong berhenti menangis, ini menyakitiku. Aku tidak suka melihatmu seperti ini.” ucap Sam apa adanya, bahkan tanpa sadar kedua matanya pun ikut mengeluarkan air mata.
Bagaimana tidak? Adalah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya bahwa ternyata selama ini mereka berdua saling mencintai.
Sementara itu, Alyna masih terisak dalam tangisnya yang tidak dapat berhenti. Entah kenapa rasanya begitu sakit. Rasanya dia tidak bisa memiliki Sam dengan cara lain selain mencintai pria itu dengan tulus. Tapi menerima kenyataan bahwa kelak Sam akan menjadi saudara tirinya, itu bahkan lebih menyakitkan dari apapun. Alyna bahkan tidak bisa fokus kepada sosok lelaki yang telah merebut ibunya dari keluarga mereka, yang kelak akan menjadi musuh terbesar dalam hidupnya. Dia sudah tidak lagi memikirkan dendam atau hal semacamnya. Dia tidak ingin memusuhi hal yang tidak bisa diperbaiki lagi. Pada kenyataannya, tetap saja dia harus menerima kenyataan.
“Hey, jika nanti aku tinggal dirumahmu ataupun sebaliknya, aku ingin kita bisa akur dan saling berbagi kamar.” gurau Sam.
Alyna tertawa. Memukul kecil bahu Sam yang dengan tega memaksanya tertawa ditengah tangisnya ini. Dia segera melepaskan diri dari dekapan Sam.
“Aku mau kamu lebih sering mengalah dari aku.” balas Alyna dengan candanya.
Sam tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang tertata rapi, “Kalau begitu…” diraihnya kedua telapak tangan Alyna yang dingin, “…biarkan aku memilikimu dengan cara yang lain, cara yang lebih baik. Mungkin, inilah jalannya.”
Alyna diam memperhatikannya.
“Berhentilah sedih Alyna, jangan menjauh dari kami semua. Jangan menyakiti dirimu sendiri. Apapun masalahmu katakan padaku. Kamu memilikiku, meski kita harus menjadi saudara tiri.”
Alyna tersenyum, “Aku akan mencobanya. Kamu benar, aku tidak boleh terus menerus menyalahkan takdir. Ini semua hanya akan melukai hidupku sendiri.”
Alyna mengusap bahu Sam dengan perlahan, “Aku menerimamu sebagai saudaraku sendiri mulai sekarang.” ucapnya.
Entah harus bahagia atau sedih, Sam tidak tahu. Namun yang jelas ketika melihat Alyna telah menerima kenyataan dan perlahan mulai membuka diri, dia justru merasa lega. Dia tidak lagi bisa memalingkan wajahnya dari senyum seorang gadis yang duduk disampingnya yang tengah menatap ke arah gelapnya laut malam meskipun dia tahu Alyna masih menyelipkan sedikit kekecewaan. Dia tahu Alyna akan berusaha dengan kuat untuk menerima kenyataan ini.
Sam menghela nafas, berharap waktu akan berhenti sejenak saja agar dia bisa lebih lama lagi menikmati kerbersamaan mereka disini. Untuk sesaat dia sempat berfikir bila dunia itu memang kejam.
~