The Sibling'S Problem

The Sibling'S Problem
Dua Puluh Enam



Seorang wanita yang hadir di muka pintu merasa langsung ingin memeluk kedua gadis didepannya yang telah menunggu kehadirannya cukup lama. Tapi pada akhirnya, dia harus menahan keinginan itu. Dia merasa tidak pantas meski dia tahu kedua gadis itu adalah putrinya sendiri.


“Masuklah, Bu.” Ghea mempersilahkan.


Kini, ketiganya telah duduk di ruang tamu mereka dulu. Audy mengitari pandangannya ke seluruh bagian rumah ini. Sama sekali tidak berubah. Semua kenangan itu, Ardi dapat menjaganya baik-baik.


Kemudian, tatapannya memandang penuh sosok Alyna yang duduk didepannya. Putri kecilnya telah banyak berubah. Dia hampir tidak mengenalinya lagi. Kedua mata Audy bahkan berkaca.


“Akan aku tinggal kalian berdua,” Ghea lalu melesat masuk ke dalam.


Alyna yang mengamatinya sesaat, kembali lagi terpaku memandang ibunya yang juga memandangnya.


“Alyna, kamu banyak berubah. Kamu cantik sekali.”


“Makasih.”


Audy menghela nafas, “Kamu…baik-baik saja ‘kan selama ini?”


Alyna menganggukkan kepala, “Ya.” jawabnya.


“Ibu sangat merindukanmu, Alyna.”


“Aku lupa kapan terakhir kali aku bertemu denganmu, Bu.”


“Apa kamu juga merindukan Ibu?”


Alyna menggeser sedikit posisinya, “Sedikit.” jawabnya jujur.


“Itu tidak masalah. Ibu tahu kamu marah.”


“Tanpa pernah ibu berusaha mencegahnya. Dan semua ini terjadi.”


“Alyna, sayang, andai kamu paham seperti apa rasanya…”


“Bersatu dengan orang yang tidak Ibu cintai? Aku paham. Ibu menyiratkannya padaku.”


Audy mengangguk pelan, “Ibu minta maaf, tapi semuanya sudah terlanjur.”


“Aku tahu. Tidak masalah. Ibu tidak perlu minta maaf padaku, karena bukan aku yang sepenuhnya terluka, tapi ayah.”


Audy tersentak.


“Bu, aku tidak pernah menyimpan dendam padamu. Aku menghormati keputusanmu. Jika ini hal yang membuatmu bahagia, maka aku juga bahagia.”


“Sayang, tolong jangan membuat Ibu merasa bersalah…”


Alyna tersenyum sedikit, “Kalau begitu maaf. Tidak seharusnya aku membuat ibu merasa bersalah.”


“Aku akan tinggal bersama ayah.”


Audy terkejut mendengarnya.


“Kamu tidak ingin tinggal bersama Ibu?”


“Maaf, aku tidak bisa. Ibu menikahi seorang pria yang anaknya…”


“...adalah sahabat karibmu dan Ghea, ibu paham jika kamu malu.”


Alyna menatapnya nanar, “Bukan hanya itu saja, aku mencintai dia Bu. Tadinya. Dan jika saja Ibu tahu betapa hancurnya perasaanku saat aku tahu bahwa dia akan segara menjadi saudara tiriku, oh, aku bahkan tidak bisa mengutarakannya.”


Audy terkejut untuk kesekian kalinya. mulutnya sedikit terbuka.


“Alyna, Ibu…”


“Tidak apa-apa Ibu. Sam dan Ghea telah membuatku berusaha untuk menerima kenyataan ini. Tidak mungkin juga Ibu membatalkan pernikahannya.”


“…”


“Aku sama sekali tidak marah. Sungguh.”


Alyna menyelingi dengan senyuman.


“Dan tolong jangan menyesal setelah mendengar hal ini, karena itu akan membuatku merasa bersalah.”


Audy menggigit bibirnya.


“Ibu sangat-sangat ingin memelukmu, apa boleh?” pinta Audy dengan kedua mata yang sudah membasah. Alyna tak tega melihatnya. Maka gadis itu segera mendekat ke samping Audy.


Dengan sigap Audy memeluk erat tubuh Alyna, putri kecilnya. Dia mengusap kepala Alyna dengan lembut, juga mengecupnya.


“Maaf.”


Alyna terisak dalam tangisannya, “Jangan minta maaf Bu, tidak apa-apa. Aku mengerti.” Alyna mempererat pelukannya.


Sementara disisi lain, Ghea menangis di balik dinding menyaksikan betapa menyakitkannya kenyataan ini.


“Besok, aku dan ayah akan hadir. Aku harap disaat itu, Ibu sudah menghapus semua air mata Ibu,”


Alyna membenamkan wajahnya dalam-dalam dalam pelukan itu.


~