
“Hey Honey, bagaimana malammu disana?” suara Don terdengar seperti biasa.
“Jakarta masih panas rupanya.”
Alyna mendengar laki-laki itu tertawa spontan.
“Tentu saja. Tapi tidak beda jauh dengan Bali, bukan?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Dia sehat. Dia begitu senang melihat kami berdua.”
“Tentu saja. Dia ayahmu, dia menyayangimu dan Ghea.”
“Untuk sesaat kupikir aku telah begitu jahat membiarkannya sendirian selama ini.”
“Maka dari itu jangan pernah pergi lagi dari sisinya. Menetaplah disini.”
“Maksudmu? Apa kamu tidak ingin menetap?”
Don memberi jeda sesaat, “Entahlah, tapi aku pikir aku akan kembali lagi ke Bali.”
“Kenapa?” tanya Alyna tak menyangka.
Don mendengus, “Kamu pikir aku bisa dengan mudahnya meninggalkan cabang kantor yang harus ku kelola? Tidak bisa segampang itu Alyna.”
“Tapi bagaimana dengan aku? Kamu sendiri yang meminta kita tetap menjadi partner seterusnya.”
“Ya, tapi bukan berarti aku memintamu untuk jauh dari keluargamu. Ini hidupmu Alyna. Kamu seharusnya ada disini.”
“Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian.”
Don tertawa, “Apa aku keliatan masih seperti anak kecil?”
“Stop Don! Aku serius.”
“Begitu juga aku. Dengar, aku sudah berjanji kepada Ghea untuk membawamu pulang lagi ke kelaurgamu. Jadi, kita tetap bisa menjadi partner jarak jauh, bagaimana?”
“Tidak! Aku tidak mau!”
“Alyna dengar, mereka semua membutuhkanmu untuk merasa utuh. Tolong jangan pergi lagi. Lagi pula, kamu sudah berjanji pada ayahmu waktu itu.”
“Tapi kukira kamu juga akan menetap disini.”
“Kenapa memangnya?”
“Karena aku tidak mau kehilanganmu juga. Tolong, kamu banyak berperan dalam kehidupanku. Aku terbiasa dengan kehadiranmu selama ini.”
Don merasa bahagia mendengar pengakuan itu.
“Apa itu artinya…kamu sudah mencoba membuka hatimu?”
Alyna tersenyum. Dia mengangguk-angguk, “Ya. Aku sudah berjanji aku akan berusaha. Aku harap kamu mau sabar menunggu.”
“Untuk menunggumu membuka hati, meskipun itu membutuhkan waktu seribu tahun lamanya, aku selalu siap.”
“Jadi, kumohon jangan pergi.”
“Tidak bisa, Alyna. Aku tetap harus pergi. Setelah acara pernikahan ibumu, hari berikutnya aku akan kembali ke Bali.”
“Kamu tidak percaya padaku?”
“Bahwa kamu mau berusaha? Aku percaya. Dan tolong percaya juga padaku bahwa aku mau menunggumu selama disana, dan aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh.”
Alyna menghela nafas berat, “Aku tidak bisa melepas orang baik sepertimu. Jujur, ini berat rasanya. Setelah kita berdua tak lagi bersama aku rasa akan ada sesuatu yang hilang lagi dari hidupku.”
Don tersenyum untuk kesekian kalinya, dan Alyna bisa mendengar deru nafasnya dari telefon genggamnya.
“Aku sebenarnya tidak pernah bisa melepasmu, tapi kamu akan bahagia bersama keluargamu. Jadi, jika kamu bahagia, aku juga bahagia. Ini sangat sederhana. Tapi sayangnya aku begitu mencintaimu, tapi cinta tidak boleh egois.”
Don tercekat. Tidak bisa diutarakan lagi betapa bahagianya dia mendengar pengakuan itu.
“Apa yang kamu ucapkan itu, sama sekali tidak ada paksaan ‘kan?”
Alyna tertawa renyah, “Bodoh, jelas saja enggak. Aku jujur. Aku benar-benar menyayangimu semenjak kamu mengakui perasaanmu, dan semua gambaran tentang kebaikanmu padaku selama ini muncul dalam bayang-bayang dikepalaku. Membuatku merasa benar-benar dungu mengapa aku tidak menyadarinya selama ini.”
Don menatap ke bawah dari atas jendela kamarnya.
“Kalo begitu, ayo saling membuat janji. Tahun berikutnya, kita akan bersama selamanya.”
Alyna menggigit bibirnya. Rasanya dia akan benar-benar kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam kehidupannya selama ini.
“Berjanjilah untuk terus memikirkanku dan tidak ada oranglain dikepalamu. Kita hanya akan hidup ditempat yang berbeda, bukan berarti tidak bisa bersama-sama.”
“Aku janji. Aku akan segara menemuimu disana lagi.”
“Jangan terlalu cepat. Kamu butuh menyembuhkan luka ayahmu. Aku yang akan datang kesini dan menemuimu lagi.”
Alyna tersenyum lagi. Benar-benar bahagia, dan merasa kalau Don memanglah laki-laki terbaik yang pernah dia kenal setelah Sam.
“Terimakasih banyak Don.”
“Tidak masalah. Kapanpun.”
“Besok, ibuku akan datang.”
“Bicara padanya pelan-pelan, Honey. Kalau perlu, ungkapkan semua yang selama ini tidak pernah bisa kamu ungkapkan padanya.”
“Aku akan mencoba.”
“Bagus. Kalau begitu, sudah dulu ya. Selamat malam Alyna. Bye.”
“Bye.”
Alyna menutupnya dengan senyum optimis. Dia harus menghadapi semua ini, dan tidak lagi memusuhi segalanya. Terlebih saat ini, dia memiliki Don yang selalu setia menolongnya, juga mencintainya dengan tulus. Alyna mulai merasa kehidupannya perlahan akan membaik.
~
“Ayah harus berangkat kerja. Kalau kamu lapar, untuk sementara kamu dan Ghea bisa membeli makanan diluar. Atau masih ada beberapa makanan di kulkas jika mau.”
Alyna mengerutkan alisnya, “Ayah, ini hari Sabtu.”
Ardi tertegun. Dia hanya diam tanpa bisa menjawab.
“Ayah tidak harus menghindar.” Ghea berdalih.
Ardi memaksakan seulas senyuman, “Ayah harus mengecek data-data penting di kantor. Tidak akan lama. Jika ibumu datang nanti, tolong bilang ayah sedang ada tugas.”
Ghea dan Alyna mengangguk.
“Aku paham Yah. Hati-hati dijalan.” ujar Ghea.
Ardi tersenyum sekilas sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Ketika mobil yang dia naiki melesat begitu saja, Ghea dan Alyna kembali masuk ke dalam rumah.
“Alyna, jika ibu datang nanti…”
“Tenang saja. Aku tidak akan mengungkapkan kemarahanku. Aku bahkan mau menyelamatinya dengan baik-baik.”
Ghea tersenyum girang, “Terimakasih Alyna, kamu mau merubah segalanya.”
“Aku sadar bahwa inilah keluarga yang kita punya.”
Ghea mengusap lembut kepala adiknya itu. Mereka berdua saling bertatap satu sama lain dengan senyum yang merekah di wajah masing-maisng.
~