The Rise Of Rim

The Rise Of Rim
Bab 8 - Memulai hidup baru



Apa yang dibutuhkan makhluk hidup untuk tetap hidup? Itu makan. Bagi hewan buas, mereka bisa berburu, makanan ada dimana-mana, mereka hanya perlu mencari dan menangkap mereka.


Namun untuk manusia, entah di dunia manapun, mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup, tidak terkecuali rim.


Rim adalah keturunan manusia, secara biologis, mereka mewarisi kecerdasan dan kemampuan manusia untuk beradaptasi dan berfikir.


Bagi rim dan manusia, uang tetap menjadi yang utama, entah di zaman manapun mereka berada, walau dalam bentuk yang berbeda-beda.


Di dunia ini, masing-masing ras memiliki alat tukarnya tersendiri, seperti rim dengan koin perunggu, perak dan emas. Uang rim hampir sama dengan manusia, ribuan tahun terpisah tidak mudah melepaskan budaya mereka.


Untuk makan sehari, biasanya seseorang membutuhkan 5 koin perunggu, itu lengkap dengan daging, roti dan air putih.


Seorang buruh biasanya digaji 7 koin perunggu sehari, jumlah yang sedikit, tapi, apa yang diharapkan dari zaman ini? Peradaban rim hanya sebatas negara-kota.


Setelah Louis bekerja di pandai besi borgeus, Louis mendapat banyak perhatian dari borgeus yang tidak diharapkan Louis.


Untuk sehari, dia digaji 10 koin perunggu, bahkan borgeus berjanji untuk memberikan bonus jika penjualannya meningkat.


Louis dan borgeus membagi waktu kerja, pada pagi hingga sore, Louis akan menjaga toko dan melayani pelanggan serta membuat senjata. Untuk siang dan malam, borgeus akan mengambil alih.


Itulah kesepakatannya, Louis cukup terkejut karena borgeus dengan cepat memberikan kepercayaan, tapi itu mungkin berhubungan dengan bangsawan.


Satu hari setelah pertemuan mereka, Louis memulai hidupnya di dunia baru sebagai pandai besi.


***


"Untuk yang pertama kalinya, saya mendapatkan tidur yang nyenyak." Kata Louis.


Dia duduk di atas kasur yang sedikit keras, meski tidak sebagus di bumi, tapi lebih baik daripada tidur di atas kayu yang dingin di tengah hutan.


Borgeus memberinya izin untuk tinggal di toko pandai besi, dia mengatakan bahwa ada satu kamar yang selalu dia pakai, tapi karena sekarang ada Louis, dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumahnya.


Louis bangkit dari kasur dan berjalan ke arah cermin yang berada tak jauh dari tempatnya. Sesaat setelah ia sampai, dia melihat tubuhnya secara keseluruhan.


Kulit dan rambutnya berwarna putih, bola matanya menyala biru, dan garis-garis biru seperti urat mengalir di tangannya. Dari wajahnya, dia bisa dibilang tampan, tapi Louis tidak tau tentang selera rim, jadi dia tidak bisa memutuskan apakah dia tampan atau tidak.


"Apakah ini rim? Lumayan, otot-otot ku terlihat sangat kekar, saya yakin wanita rim akan terpesona melihat ini. Tapi saya tidak bisa keluar tanpa pakaian, seharusnya ada pakaian disini." Louis memandangi tubuhnya tanpa pakaian.


Dia ingat malam itu, borgeus mengatakan bahwa Louis bisa menggunakan pakaiannya yang berada di lemari.


Louis membuka lemari yang berada di samping cermin, disana dia melihat banyak pakaian, meski lusuh, tapi masih layak digunakan.


"Saya harus berterimakasih pada borgeus nanti, dia banyak membantuku." Kata Louis.


Selanjutnya, dia harus mandi dan membersihkan tubuhnya.


***


Beberapa saat kemudian.


Pandai besi borgeus memiliki 2 lantai, ketika Louis turun dari lantai 2 untuk mulai bekerja, dia merasakan suasana baru, pagi hari yang cerah dan menyegarkan memenuhi tubuhnya.


Berbeda dengan suasana pagi hari sebelumnya, itu penuh dengan tantangan.


Dia melihat ke luar jendela, tidak ada salju yang turun, matahari menembus jendela dan membuat seisi ruangan menjadi terang.


"Mari bekerja." Senyum manis terlihat di wajah Louis.


Louis berjalan ke arah jendela di samping pintu, disana dia melihat gantungan papan yang bertuliskan buka di depan dan tutup di belakang.


Louis segera membalik papan itu hingga orang-orang di luar bisa melihat bahwa toko pandai besi borgeus, dibuka.


Setelah itu, dia kembali ke meja resepsionis untuk duduk dan menunggu pelanggan datang.


Meski rim terkenal karena kehidupan yang barbar, budaya dan desain kotanya hampir menyerupai peradaban manusia, karena mereka pernah hidup bersama ribuan tahun.


Manusia banyak mengajarkan rim pengetahuan, mulai dari membuat senjata, bangunan dan kerja sama antar kelompok.


Hingga membuatnya tumbuh menjadi ras yang maju. Hanya saja, karena para naga, para rim tersingkir ke pedalaman Utara.


Para rim di abad ini tidak tau apa-apa tentang nenek moyang mereka hingga hubungan dengan manusia di masa lalu, karena mereka terbiasa untuk bertahan hidup daripada mengejar pengetahuan yang tidak dibutuhkan.


Disini, tak berbeda dengan hutan, wilayah rim mungkin aman, tapi tidak dengan bagian luarnya.


*Ting!*


Sebuah lonceng berbunyi yang menempel di atas pintu masuk toko, disana, pintu itu terbuka karena didorong dari luar, seorang pelanggan baru saja masuk.


Louis dengan cepat berdiri dan berkata, "Selamat pagi," dia berusaha memberikan sapaan hangat.


"Ah! Tuan Louis?"


Ketika dia melihat lebih jelas ke arah pintu masuk, dia melihat seorang wanita dengan rambut merah kehitaman.


"Ashley, itu kau?"


"Tuan Louis, senang bisa bertemu denganmu lagi."


Itu Ashley, wanita yang memberi tau Louis arah ke pandai besi borgeus.


"Saya juga senang, saya tidak menduga kita akan bertemu lagi secepat ini," kata Louis.


"Haha.. saya biasanya keluar di pagi hari untuk berbelanja," sambil berbicara, ashley berjalan ke arah meja resepsionis dimana louis berdiri.


"Saya tidak bisa melupakan kebaikan anda yang membantu saya waktu itu, terimakasih," kata louis.


"Kau tidak perlu memikirkannya, itu hanya bantuan kecil." Kata ashley.


Ya, meski begitu, sangat langka untuk bertemu dengan orang-orang baik. Penampilan Louis kemarin membuat orang-orang di kota ini merasa jijik dan bahkan menjauhinya.


Itu karena louis terlihat seperti budak, dan majikan budak adalah bangsawan, artinya, mereka tidak takut pada budak, tapi takut jika mereka menolong seorang budak, seorang bangsawan akan menuduhnya mencuri barangnya.


"Jadi, anda bekerja disini tuan louis?" Tanya ashley.


"Borgeus menerimaku kemarin, dia bilang aku berbakat lalu merekrutku sebagai pekerjanya,"


"Benarkah? Itu hebat, sekarang kau bisa mulai mengumpulkan uang untuk kembali ke kota asalmu," kata ashley.


"Kau benar, aku harus mulai menabung saat ini. Ngomong-ngomong, apa yang kau butuhkan disini? Kau bisa bertanya padaku,"


Sebelum menjawab pertanyaan louis, ashley mulai berfikir sejenak, dia merasa ragu, karena itu dia berbalik untuk melihat ke sekitar dimana terpajang pedang, perisai, dan tombak di setiap dinding.


Ashley lalu berkata tanpa menatap louis, "Apakah ada pedang yang bagus?"


"Pedang? Yeah... Aku akan memilihkannya untukmu," kata louis.


Louis tidak bertanya kenapa dia membutuhkan pedang, mungkin ada yang mengancamnya sehingga dia berniat membeli pedang?


Tidak, seorang wanita tidak akan mampu mengangkat pedang, bahkan jika itu wanita rim. Bukan karena fisik, tapi wanita rim kebanyakan tidak menyukai kekerasan.


Mungkin karena rumahnya kehabisan senjata, karena di setiap kota atau desa, pasti ada pencuri.


Jika orang asing masuk ke rumahmu dan kau membiarkannya mengosongkan isi rumah, bahkan memberikan tubuhmu sendiri untuk memuaskan si pencuri? Tentu tidak.


Tapi, apapun itu, itu urusannya, ikut campur itu tidak baik, lebih baik diam dan berfikir positif.


"Ayahku sangat ingin mengikuti ekspedisi ke hutan barat, tapi karena pedang keluarga kami dibawa oleh saudaraku, kami harus membeli yang baru," kata ashley.


'Untuk ayahnya? Pantas saja,' pikir Louis.


"Ekspedisi ke hutan barat? Apa itu?" Tanya Louis.


"Baru-baru ini, para serigala muncul di hutan barat, bangsawan oirat takut akan kedatangan mereka, karena kota saat ini sedang kosong, prajurit muda dibawa ke timur oleh raja Thorin untuk berperang melawan Orc salju, karena itu, para bangsawan meminta bantuan ke kota thorin," jawab Ashley.


"Dan, mereka memberikan bantuan?" Tanya Louis.


"Tidak, mereka menolak karena thorin tidak memiliki prajurit yang tersisa. Karena itu, daripada membiarkan para serigala datang, para bangsawan lebih memilih membunuh mereka secara langsung di sarangnya,"


"Apa! Bukankah itu berbahaya? Lebih baik menunggu mereka datang dan membunuh mereka dari tembok kayu," kata Louis.


"Rencana awalnya memang begitu, tapi kota roden, pompey dan oirat kami akan membentuk koalisi melawan mereka, karena itu dilakukan ekspedisi," kata ashley.


"Kalau begitu, tingkat keberhasilannya akan meningkat drastis,"


"Begitulah, tapi... Tidak mungkin tidak ada yang mati," kata ashley.


Memikirkan kematian, Ashley menjadi murung, dia memikirkan ayahnya yang akan mengikuti ekspedisi itu.


Selain itu, saudaranya di timur sedang berperang, jika keduanya mati? Louis yakin Ashley akan sedih.


'Wajah Ashley terlihat sedih, haruskah saya membantunya, tapi bagaimana?' pikir Louis.


Louis mulai berfikir keras bagaimana dia akan membantu Ashley. Kata-kata saja tidak akan menenangkannya, Louis juga tidak pandai merangkai kata-kata manis dan menenangkan.


Pada akhirnya, dia tidak dapat memikirkannya.


'Tunggu, bukankah ekspedisi itu bagus? Saya bisa mencobanya,' pikir Louis.


Louis mulai tersenyum lebar.


To be continued...