The Rise Of Rim

The Rise Of Rim
Bab 4 - Berburu



*BUZZ* Sebelum Louis mulai berfikir menggunakan batang pohon, perutnya yang keroncongan berbunyi keras.


Lapar adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu.


"Rasa lapar ini...? Aku belum memakan apapun dari tadi." Ucap Louis.


Rim memiliki ketahanan yang kuat terhadap dingin, begitu juga dengan rasa lapar mereka. Sekali mereka makan, mereka bisa menahan rasa lapar berikutnya hingga tiga hari.


Selera makan mereka juga tak jauh berbeda dengan manusia. Daging mentah atau yang dipanggang dengan api dan buah-buahan segar hingga bermacam-macam jenis makanan lainnya.


"Sistem, aktifkan craft!" Ucap Louis.


Sistem mengaktifkan craft dan memunculkan layar kosong seperti sebelumnya.


Sebelumnya, ia membuat kapak, namun saat ini ia berfikir membuat senjata untuk berburu hewan, contohnya seperti busur, pedang, hingga senjata-senjata lainnya.


Louis menutup matanya dan membayangkan sebuah pedang kayu panjang yang dapat ia gunakan untuk berburu di alam liar.


Awalnya ia memikirkan busur, namun ia ingat bahwa ia hanya memiliki kayu, ia tidak punya tali untuk menarik anak panah, itu akan menjadi sia-sia jika ia membuatnya.


Ia pun akhirnya memutuskan membuat pedang tajam yang bisa membunuh monster-monster di hutan ini.


Setelah ia membayangkan pedang tersebut, diperlukan sekitar 40 ranting kayu. Ia langsung memasukkan 40 ranting kayu ke dalam layar sistem dan secara otomatis, sistem membuat pedang kayu itu.


Setelah beberapa menit kemudian, pedang kayu terbentuk di depan layar sistem.


Louis mengambilnya. Ia mencoba mengayunkan pedang tersebut ke kiri, kanan dan atas untuk mencoba keringanannya.


Begitu ia mencobanya, pedang tersebut tidak berat namun terlihat kuat, sepertinya ia dapat memotong beberapa perut serigala atau beruang dengan pedang itu.


"Ini pedang yang bagus, sekarang mari berburu."


\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian, Louis tiba di tengah hutan yang dekat dengan titik awal dimana ia menebang pohon.


Area hutan itu lebih dingin dari yang lain, meski monster nya belum terlihat, namun ia pasti didekat sini, Louis bergerak lebih jauh ke dalam hutan.


Di tangan kanannya, ia membawa pedang kayu panjang yang kuat, tanpa alat pelindung dada dan kepala, ia bahkan lupa membuat perisai.


"Aku terlihat seperti manusia purba yang berburu bermodalkan benda tajam." Ucap Louis.


Ketika angin mulai tenang, badai salju yang menerjang sudah berhenti beberapa saat yang lalu. Louis dapat bergerak dengan tenang, langkahnya menginjak salju dengan kondisi tubuh yang sedikit gemetar karena ini pertama kalinya ia berburu di alam liar.


Langkah... Langkah... Langkah...


Langkah-langkahnya yang tenang dan tidak bersuara.


Ketika ia melangkah lebih jauh, sesuatu muncul di semak-semak, terlihat besar dan panjang, ia berusaha menyembunyikan langkahnya yang tenang, namun itu tidak berguna bagi sosok monster yang muncul di semak-semak.


Sosok monster itu berkaki empat dengan tubuh seperti sapi namun lebih gemuk dan tanduk di kepalanya ada tiga serta memiliki warna merah kehitaman seperti iblis.


'Apakah itu sapi iblis? Ingatan tentang monster itu cukup samar, aku hanya mengetahui ciri-ciri dan beberapa hal tidak penting lainnya.'


Informasi yang ia dapat di dunia itu terbatas pada pengetahuan umum.


Monster mirip sapi bertanduk tiga itu memandangi Louis setibanya ia di depannya. Matanya biru cerah dengan nafas yang keluar dari mulutnya menghembuskan nya berkali-kali.


Apakah itu karnivora atau herbivora? Monster di depan louis terlihat marah dan dia punya kebiasaan untuk menyerang orang yang baru ia temui.


*BUKK*


Kakinya menghantam tanah, sapi itu berlari ke depan ke arah Louis.


Kakinya yang pendek dan berbulu namun kuat membuatnya bergerak cukup cepat di atas salju.


Ia tidak memperdulikan sekitar dan mengabaikan apapun yang ia lewati.


Louis langsung mempersiapkan pedangnya dan menghadapkannya ke depan.


Dibalik wajahnya yang tenang, ia memikirkan setiap cara yang bisa ia lakukan untuk menang. "... Ini buruk, seharusnya aku membuat tombak, bukan pedang." Ucap Louis.


Sapi bertanduk tiga itu menerjang ke depan, Louis langsung menghindar ke kiri membiarkan sapi tersebut melewatinya.


Tak bisa berhenti karena terlalu cepat, sapi itu menabrak batang pohon di belakang Louis.


*BUKK!!*


Tiga tanduknya menancap di batang pohon, Louis tidak ingin melewatkan kesempatan ini, ia langsung mengarahkannya pedang kayunya ke punggung sapi dan secara langsung menusuknya.


Darah merah muncrat dari tubuh sapi, pedang yang terbuat dari kayu itu menembus ke dalam kulitnya hingga membuatnya menggeliat kesakitan.


Sapi itu berusaha melepas diri dari pedang kayu Louis dan tanduknya yang menancap di batang pohon, namun semakin ia bergerak, darah semakin keluar dan membuat staminanya habis terkuras.


"Sapi iblis ini sangat kuat."


Semakin lama, ia semakin lemas lalu jatuh di atas salju. Matanya yang biru mulai menutup namun di akhir-akhir hidupnya tersebut, ia tetap berusaha untuk melepas diri sampai akhirnya ia menutup mata dengan nafas yang berhenti.


Louis menghela nafas lega dan ia segera menarik pedang kayunya dari kulit sapi iblis tersebut.


"Ini berakhir." Ucap Louis.


Sapi tersebut sudah mati, sekarang yang harus ia lakukan hanyalah membawanya ke tempat ia mengumpulkan batang pohon.


Louis mengangkat sapi tersebut, ia cukup terkejut karena ia dengan mudah mengangkat sapi yang besar itu. Kekuatannya saat ini mungkin setara dengan manusia dewasa yang kuat, atau bahkan lebih.


Mungkin itu berhubungan dengan ras nya yang berbeda, yaitu rim.


Rim, punya darah naga dalam dirinya, meski secara fisik mereka sama dengan manusia, kekuatan mereka mungkin setara naga es.


Naga es adalah kata lain untuk menyebutkan naga yang tinggal di pegunungan naga, bagian selatan dari pedalaman utara.


Mereka menyemburkan es dan membekukan apa yang ada di hadapan mereka, fisik mereka sangat kuat dan mampu mengangkat beban yang sangat berat.


Untuk ukuran mereka, normalnya mereka setinggi 10 meter dengan sayap yang lebar dan tubuh yang besar, bahkan, ada naga dengan ukuran yang jauh lebih besar dari ukuran normalnya.


Dulu rim tinggal di shadow forest, karena para naga, mereka menggunakan jalur laut untuk melewati wilayah naga dan sampai di pedalaman utara.


Kenapa mereka tidak pergi ke selatan dimana sekutu mereka, manusia mungkin bisa menerima mereka? Louis tidak tau bahkan ketika ia mencoba mengingatnya.


Ingatan yang masuk ke otaknya adalah informasi umum yang diketahui semua orang, ia tidak tau apapun tentang rahasia-rahasia besar atau organisasi rahasia bahkan artefak-artefak langka yang tersembunyi dalam labirin.


sesuatu membatasinya untuk menangkap semua informasi di dalam dunia ini.


"Jika saya tau banyak hal..." Kata Louis singkat.


To be continued...