The Rise Of Rim

The Rise Of Rim
Bab 19 - Pesta darah



Pembantaian terjadi di mana-mana, para rim yang tidak punya waktu untuk bersiap harus dibunuh oleh serigala.


"Bangun! Semuanya bangun! Para serigala datang!" Teriak salah satu rim.


Beberapa rim yang menyadari ada yang aneh keluar dari parit memeriksa permukaan.


Mereka terkejut, para serigala berkeliaran di permukaan membawa mayat-mayat rim di mulut mereka dan mencabik-cabik mereka dengan cakar.


Rim yang menyadari adanya penyerang segera mengambil senjata dan memasang baju besi di tubuh mereka.


Beberapa rim yang menyadarinya terlambat untuk bersiap namun malah dibunuh di paritnya sendiri.


*RAORRR!!*


Seorang rim berusaha menahan kayu yang didobrak oleh serigala dari atas.


"Ambil pedang kalian dan tusuk dari bawah!"


Dia memberikan instruksi kepada rim lain.


Segera, para rim mengambil pedang dan menusuk kayu yang berada di atas mereka untuk membunuh serigala.


Pedang-pedang yang tajam muncul dari parit dan menghalangi serigala untuk menghancurkan kayu.


Kaki-kaki mereka ditusuk, beberapa serigala terlambat untuk menghindar dan malah menjadi bahan tusukan dari rim di bawah parit.


Di tempat lain, rim yang kesulitan untuk keluar menggunakan trik ini untuk membunuh serigala.


Mereka menusuk kayu di atas parit untuk menyulitkan serigala.


"Jangan biarkan serigala masuk! Terus tusuk kayu di atas kalian!"


"YEAHH!!" Para rim berteriak, memberikan segala bentuk dukungan untuk bertahan hidup.


Dari kejauhan, depric melihat situasi pertempuran yang ribut.


"Mereka menusuk kayu di atas parit menggunakan pedang? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya serigala alpha di samping depric.


"Jika mereka terus menusuknya, kayu akan semakin melemah dan rusak dengan sendirinya, mereka hanya memberikan kita jalan yang lebih mudah," jawab depric.


"Kau benar, maka kita hanya harus terus menyerang dan bersabar,"


"Tapi semakin lama kita menunggu mereka, rim yang lain akan bersiap, segera perintahkan alpha yang lain untuk menghancurkan parit!" Teriak depric.


Serigala alpha di samping depric mengangguk dan segera pergi untuk mengirimkan perintah itu.


Di dalam parit, para rim sekarang bisa bernafas lega, namun pertarungan belum berakhir, mereka memasang baju besi, mempersiapkan senjata dan berbagai perlengkapan lainnya.


Ketika mereka sudah siap, beberapa dari mereka berniat untuk keluar.


"Kita harus keluar dan membunuh mereka!"


"Tunggu, bersabarlah!"


"Apa?! Buka paritnya dan biarkan mereka masuk!"


"Apa kau tidak bisa-"


*BUKK!!*


Sebelum rim itu menyelesaikan kata-katanya, kayu yang menutupi parit di atasnya ambruk dan membunuhnya yang ada di bawah.


"Serigala alpha?!" Para rim terkejut, namun dengan senjata di tangan mereka, mereka segera menyerang.


*RAORRR!!* Serigala alpha mengaum dan memancarkan aura yang kuat untuk bisa menghempaskan rim yang ada di dalam parit.


Di tempat lain, karena serigala mengalami kebuntuan, serigala alpha harus turun tangan dan menghancurkan parit dengan kekuatan mereka sendiri.


*BUKKK!!*


Parit-parit dihancurkan, rim yang ada di dalamnya dibantai, organ dalam meraka ditarik, darah-darah mereka muncrat di tanah mewarnai salju.


Bagian tubuh meraka dipisahkan, kulit mereka dikupas hingga mengeluarkan suara yang khas.


Ini adalah pesta malam yang sebenarnya, pesta darah.


"Ugh! Kita tidak bisa bertahan, paritnya akan dihancurkan!"


Para rim berusaha untuk bertahan bahkan di situasi yang sulit itu.


Namun bahkan jika mereka mengharapkan keajaiban, hanya dewa yang bisa memberikannya.


"Dewa Hector! Tolong bantu kami!"


Mereka menaruh tangan di dada mereka, memberikan ucapan doa, berharap untuk selamat dari pesta darah ini.


Namun, para rim dibantai tanpa bisa melawan.


"BANGUN KALIAN SEMUA!!"


Sebuah suara yang keras tiba-tiba terdengar dari atas parit, ini suara rim dan tidak asing untuk mereka.


"Tuan Ethan sudah datang!"


Ethan nevilla datang ke medan perang dengan baju besi lengkap dan banyak prajurit rim di belakangnya.


"Prajuritku! Bunuh para serigala!" Teriak Ethan.


Ethan dan prajuritnya yang berdiri di tengah-tengah Medan perang menjadi sasaran utama para serigala.


Namun, prajurit rim yang dipimpin ethan dengan mudah membunuh serigala.


Prajurit rim itu menusuk, menebas dan menendang serigala dengan mudah.


Para serigala didorong mundur satu persatu dari berbagai arah dan memberikan kesempatan bagi rim lain yang terjebak di parit untuk keluar.


Para rim sekarang bisa menghirup permukaan, meski ada badai salju, itu tidak akan mengganggu peperangan ini.


"BUNUH PARA SERIGALA!!" Teriak Ethan berusaha memberikan semangat yang membara kepada prajuritnya.


Para rim yang baru keluar langsung bersemangat setelah mendengar teriakan itu, mereka tanpa sabar bergegas ke arah serigala dan membunuh mereka.


Kini giliran serigala yang terdesak.


Di tempat lain, Louis, edgurt dan ertul masih terjebak di dalam parit.


Serigala yang berada di atas mereka menahan mereka untuk keluar.


"Sialan, apakah kita harus menahan mereka terus menerus seperti ini?!" Kesal edgurt.


"Bertahanlah, Ethan dan pargia pasti sudah menyadari ini dan bergegas dengan pasukannya," kata ertul.


"Dimana pasukan anda?" Tanya Edgurt.


"Saya hanya perwakilan, edgurt, saya tidak memegang kekuasaan dalam militer, berbeda dengan sepupumu Ethan dan pargia,"


Ethan dan pargia adalah satu-satunya rim yang punya kekuasaan dalam militer.


Pantas saja ethan adalah pemimpin perang ini, itu Karana dia bangsawan, jika pargia adalah bangsawan, mungkin dia bisa jadi pemimpin perang, karena secara pengalaman, dia lebih tua dan lebih banyak mengalami pertempuran.


Tapi Ethan adalan sosok muda yang bersemangat dan berbakat, jadi tidak ada yang salah dengan itu.


"Mundur sedikit edgurt, aku akan menghancurkan parit ini," kata Louis.


"Apa?! Kita harus menunggu Ethan!"


*BUKKK!!!*


Tanpa mendengarkan perkataan ertul, Louis hanya dengan tangan kosong menghancurkan kayu yang menutupi parit.


Kayu pada parit itu dihancurkan dan berserekan di atas salju.


Segera, Louis melompat keluar dan berhadapan dengan para serigala.


"Akulah lawan kalian!" Kata Louis.


Louis menarik pedang di pinggangnya dan menodongkannya ke arah serigala.


Serigala melihat itu sebagai penghinaan, tanpa pikir panjang langsung bergegas ke arah Louis dan menyerangnya.


*SRINGG!!* Namun, hanya satu ayunan dari pedang Louis, kepala serigala itu terpisah dari tubuhnya.


Beberapa serigala datang dari berbagai arah dan memberikan segala jenis serangan.


Namun Louis dengan terampil menghindari mereka sambil menyerang.


Edgurt dan ertul yang masih berada di bawah parit melihat pertarungan mereka dengan kagum.


"Temanmu sangat hebat," puji ertul.


"Aku tau dia kuat, tapi kita juga harus membantunya," kata edgurt.


"Apa? Tapi Edgurt, aku tidak bisa bertarung,"


"Apa madsudmu? Bagaimana kau menjadi perwakilan jika bertarung saja tidak bisa?!" Tanya Edgurt.


"Roden kekurangan orang yang terampil, kau tau kan ada pemberontakan di Ediberl?" Kata ertul.


"Aku tau tentang pemberontakan itu," edgurt menyerah, dia mengakui fakta bahwa roden memang kekurangan orang saat ini.


Bahkan saat ini, pompey, roden dan oirat tidak mengeluarkan seluruh kekuatan mereka.


Setengah dari kekuatan militer mereka dipusatkan untuk perang yang lain.


Seperti oirat dengan perang timur bersama Orc salju, roden dengan pemberontakan kota hoenr dan pompey yang mengalami krisis keuangan harus memenangkan perang dengan serigala untuk mendapatkan uang.


*RAORRR!!!*


"Serigala memang lawan yang merepotkan." Kata Louis dengan senyum di wajahnya.


To be continued...