
"Aku akan membantu Louis!"
Edgurt melompat keluar dari parit dan segera mendukung Louis di belakangnya.
Di tangannya dia memegang tombak dengan baju besi lengkap.
"Berusahalah kalian berdua," kata ertul di bawah parit.
Ketika serigala mulai menyerang, mereka berdua melawan dengan sekuat tenaga, menebas dengan pedang dan menusuk dengan tombak.
Setiap ayuanan meneteskan darah, memberikan luka di tubuh mereka masing-masing.
Louis yang tubuhnya masih diperban harus berusaha menahan sakit, namun itu tidak seberapa daripada mati di tempat itu.
Louis tidak ingin mati untuk yang kedua kalinya.
Sedangkan edgurt di sampingnya sedang terdesak, dia kesulitan mengalahkan serigala menggunakan tombaknya.
*SRINGG!!*
Louis menolongnya dengan menusuk serigala yang menyerang edgurt.
"Berikan aku dukungan dari belakang dan lindungi tuan ertul," kata Louis.
"Maaf jika aku tidak berguna, Louis,"
Louis tidak menanggapinya dan tetap fokus menyerang serigala di depannya.
*ROARRR!!!*
Puluhan serigala mendatanganinya, namun mereka hanya sekumpulan serangga di hadapan Louis.
Tapi serangga juga bisa jadi merepotkan.
*GRRR!!*
Salah satu serigala memancarkan aura kuat yang menganggu keseimbangan Louis.
*ROARRR!!*
Tangannya digigit oleh serigala.
"Arg!" Louis mengerang kesakitan.
Namun dengan sigap, Louis menusuk serigala itu lalu melemparnya.
Serigala-serigala yang lain segera datang.
Louis menusuk kepala serigala di depannya, lalu menendangnya ke depan.
Di sampingnya dia mengayunkan pedang dan membelah serigala menjadi dua.
Yang aman mungkin adalah bagian belakangnya yang dilindungi edgurt.
"Sampai kapan kita harus bertarung seperti ini?" Tanya edgurt.
"Aku tidak tau, kita harus bersabar dan menunggu bala bantuan," jawab Louis.
Tak hanya mereka yang bertarung di area itu, para rim yang terjebak di parit mulai keluar dan bertempur.
Mereka dengan marah mengeluarkan emosi dan menjadikannya kekuatan.
"Bala bantuan datang!!" Tiba-tiba, seorang rim datang entah dari mana mengatakan bala bantuan.
"Siapa itu?" Ertul di bawah parit segera menampakkan wajahnya.
Dari kejauhan, datang dari arah utara, banyak rim dengan baju besi lengkap dan pedang baja mulai bermunculan.
"Ini prajurit oirat, itu pargia!" Kata ertul.
Pargia datang memberikan bantuan pada rim di area ini.
Dengan kemunculan infanteri berat rim, para serigala didorong mundur, rim yang bertarung tanpa henti akhirnya bisa menghela nafas lelah.
"Tuan ertul! Maaf membuatmu menunggu,"
Pargia datang dengan beberapa bawahan di sampingnya.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang adalah mengusir serigala itu,"
Pargia lalu memandangi Louis yang ada di depannya.
"Kau yang disana, apa kau masih bisa bertarung?" Tanya pargia.
"Aku masih bisa,"
"Ikutlah denganku, masih banyak serigala yang belum kita kalahkan,"
"Tentu saja!"
Mereka segera bergegas ke arah Medan perang.
Serigala yang tadinya mendominasi harus kehilangan semangat mereka, mereka tidak bisa menahan prajurit rim yang terampil.
Prajurit yang dikembangkan oleh militer berbeda dengan prajurit yang hanya bisa mengayunkan senjata.
Prajurit militer sudah dilatih, bahkan untuk bertahan hidup di area yang ekstrim, mereka diberikan teknik bertarung dan kemampuan untuk beradaptasi.
Kehebatan mereka untuk bekerjasama, kompak dan mampu mengikuti momentum dan mobilisasi yang cepat mendorong serigala dengan cepat yang bertarung tanpa memikirkan taktik dan strategi.
Segera, serigala di area itu mulai kehilangan dominasi dan harus mundur untuk memulihkan diri.
"Prajurit, kita harus bergegas ke garis depan!" Teriak pargia.
Karena situasi disini bisa diamankan dengan cepat, mereka harus bergegas ke garis depan dimana pertempuran yang sebenarnya terjadi.
Prajurit yang terlatih itu tidak bergerak sendiri, mereka menunggu rekan mereka untuk kembali ke posisi dan bergerak bersama.
"Louis! Ikutlah dengan kami, kekuatanmu dibutuhkan," kata pargia.
Sebelum pergi, dia berbalik untuk melihat edgurt dan ertul yang berkumpul bersama rim yang lainnya.
Edgurt menyadari hal itu, lalu berkata, "Mereka lebih membutuhkanmu, pergilah!" Katanya.
Louis mengangguk lalu mengikuti pasukan yang bergerak di depannya.
Hampir setengah dari pasukan oirat berkumpul disini, mereka berjumlah 300 rim yang semuanya adalah infanteri berat, dengan senjata umum adalah longsword dan tombak.
Ketika area ini berhasil diamankan, mereka dengan cepat bergegas ke garis depan.
"Louis, kau bertarung dengan baik,"
Louis berjalan dengan pargia di sampingnya, ketika dia mendengar pargia berbicara, Louis langsung menoleh.
"Terimakasih,"
"Tapi ini belum berakhir, bertahanlah." Kata pargia.
***
Di garis depan, para rim yang dipimpin oleh Ethan bertarung tanpa memikirkan rasa lelah.
Di area ini adalah faktor penentu, siapa yang berhasil mendominasi adalah pemenang dari perang ini.
Semua prajurit rim hendak bergegas ke area ini, begitu pula dengan para serigala.
Bahkan serigala alpha harus turun tangan.
Depric yang melihat situasi perang hanya bisa merenung.
"Ini buruk," katanya.
Banyak laporan yang menyebutkan kekalahan serigala di beberapa area.
Jika dia mengalami kekalahan, raja serigala pasti akan memarahi dan menghukumnya di sarang.
Karena itu dia tidak bisa kalah disini.
*ROARRR!!!* Depric mengaum seperti serigala.
"Aku sendiri yang akan membunuh kalian!"
Depric segera bergegas ke garis depan dan bertarung bersama serigala lainnya.
*BUKK!!*
Tubuhnya yang besar menghantam barisan rim dan merusak formasi mereka.
Auranya yang besar dan menakutkan membuat para rim gemetaran, bahkan serigala di dekatnya.
"Jangan gentar, terus lawan!" Teriak Ethan.
Meski Ethan juga gemetaran setelah merasakan aura kuat yang dimiliki depric, dia tetap percaya diri dan yakin dengan kemenangan.
Dia memiliki keterampilan pedang yang sempurna, terbukti dari caranya bertarung di garis depan.
Semua itu ia dapatkan dari banyak pertempuran yang sudah ia lalui, meski dia baru berumur 28 tahun, pengalamannya setara dengan jendral perang yang berusia 30 tahun keatas.
"Dorong para serigala itu untuk mundur!" Teriak Ethan.
Garis pertempuran dilapisi dengan darah, pada area yang saling berlawanan, rim di kanan dan serigala di kiri.
Barisan rim lebih teratur, mereka membentuk formasi dan saling membahu sesama rekan mereka di samping dan belakang.
Sedangkan lawan mereka di depan menyerang tanpa memperdulikan formasi, mereka berfikir bahwa membunuh adalah cara terbaik untuk menang.
Namun, situasi akan berbalik saat ini.
*ROARR!!*
*ROARRR!!!*
*RAORR!!*
Bala bantuan serigala sudah tiba.
Depric melihat ke belakang pasukan serigala, dari kejauhan dia mendengar suara keras dan beberapa saat setelah itu dia melihat banyak serigala berlari dalam gelap.
Jumlah mereka sangat banyak dan beberapa dari mereka adalah serigala alpha, dan raja serigala.
"Bala bantuan sudah datang, bunuh para rim itu!"
*ROARRR!!*
Serigala-serigala yang baru datang mendobrak barisan rim dan mengacaukan formasi mereka.
Rim hanya bisa terkejut melihat banyaknya serigala yang bermunculan, meski mereka lebih unggul dalam taktic dan formasi, jumlah mereka sudah melebihi apa yang bisa dihadapi 500 rim.
Jika rim adalah makhluk tanpa rasa lelah, mungkin mereka bisa menang, tapi Ethan melihat kondisi prajuritnya, jika dilanjutkan, area ini hanya akan menjadi neraka.
Dia merenung dan menatap tajam ke arah serigala-serigala yang datang ke arahnya.
Ethan berlumuran darah, menutup mata dan enggan berbicara.
"T-tuan Ethan!"
"Kita tidak bisa menahan ini!"
Para bawahannya hanya bisa mendesak ethan, meski tidak ada kata mundur dalam ucapan mereka, Ethan tau apa yang mereka inginkan.
Dia ingin membuka mulut, kata yang paling tidak ingin dia ucapkan selama hidupnya.
"Semua prajurit, mundur!" Teriak Ethan.
To be continued...