
"Badai salju ini sangat menggangu,"
"Bertahanlah, terus berjalan."
Di tengah-tengah hutan salju pada malam hari, beberapa rim berjalan dengan lemas.
Malam yang gelap tidak menunjukkan bulan karena ditutupi badai salju. Badai salju yang besar menghancurkan pohon-pohon dan menutupi area sekitar hingga nampak kabur.
Segerombolan orang-orang berjalan dengan lemas, dengan tubuh yang terluka dan penuh dengan darah.
Beberapa dari mereka kehilangan kaki hingga harus berjalan dengan bantuan rekannya, sedangkan yang lain mengalami luka-luka yang cukup parah.
Luka-luka itu disebabkan karena pertarungan mereka dengan serigala.
"Kuharap, kita dapat keluar dari hutan ini,"
Suara mereka yang lemas tidak menunjukkan semangat, mereka tidak mengangkat senjata, namun menyeretnya di atas salju untuk mengurangi beban.
"Sulit untuk keluar dari badai salju ini, sebaiknya membangun parit terlebih dahulu untuk memulihkan diri,"
"Jangan! Para serigala masih mengikuti kita, mereka dapat mencium bau dengan tajam, bahkan badai salju ini bukan halangan untuk mereka,"
"Lalu bagaimana? Kau ingin kita mati sambil mencari jalan keluar?"
Suasana menjadi sunyi, semua rim berfikir, bagaimana cara mereka untuk keluar di tengah-tengah badai salju ini.
Berjalan saja tidak akan menghasilkan apa-apa, ada kemungkinan mereka hanya berputar-putar di hutan.
"Untuk sekarang, berdoa saja pada dewa Hector, agar kita diselamatkan,"
Para rim memegang dada mereka dengan tangan kanan, sambil menutup mata, ini menunjukkan cara mereka berdoa pada dewa Hector.
Dewa adalah cara terbaik untuk lepas dari rasa takut, karena mereka percaya dengan kekuatan dewa.
*Grrr...*
Suara hewan buas muncul entah dari mana.
Segerombolan rim yang berjalan dengan lemas terkejut.
"Jangan ada yang bergerak," ucap salah satu rim.
Mereka hanya bisa terdiam dan takut, ketakutan yang tertanam mulai tumbuh dan membuat tubuh mereka gemetaran.
*Grrr...*
Suara-suara serigala itu datang dari berbagai arah, jumlah mereka lebih dari 10.
Para rim yang tidak berdaya hanya bisa gemetar, ketakutan mereka yang besar mengalahkan rasa sakit di tubuh mereka.
Mereka melihat sekeliling, nampak, banyak bayangan serigala muncul di antara pepohonan. Jarak mereka yang jauh membuat mereka nampak kabur dan menghitam.
Namun, bahkan dari jarak yang jauh itu, para rim tau siapa yang mengintai mereka.
"Bersiaplah untuk bertarung," ucap salah satu rim.
Beberapa rim memegang senjata dengan erat, yang lain merasa bahwa hidup mereka berakhir di sana, jika ada keajaiban, itu adalah kekuatan dewa.
*ROARR!!*
Serigala menunjukkan taringnya, berlari ke arah para rim dengan cepat.
"Bunuh mereka!"
Segera, para rim yang masih bisa bertarung melangkah maju, dan menyerang para serigala yang berlari ke arah mereka.
Pertarungan terjadi di tengah-tengah hutan salju.
Bentrokan pedang dan cakar serigala menghasilkan suara dan percikan-percikan api.
Para rim yang membawa tombak menusuk dan mengenai bagian dada dan kepala serigala.
Namun, beberapa dari mereka mampu menghindari tombak dan melangkah maju.
Para serigala dengan jumlah yang unggul mengepung mereka sembari mengarahkan cakar-cakar dan gigi mereka yang tajam.
Para rim hanya bisa bertahan, mereka terdorong ke belakang, berkumpul di satu titik yang membuat mereka terdesak.
"Kita akan mati!"
"Bertahan dan cari celah untuk kabur!"
Dua pendapat yang saling berseteru muncul.
Ketakutan yang besar sering kali mengalahkan keberanian, orang-orang hanya bisa berharap mereka tidak bertemu dengan apa yang mereka takuti.
Seperti rim yang terkepung, kehilangan semangat hidup, yakin bahwa ini adalah akhir hidup mereka.
*ROARR!!*
Serigala tak lepas dari rasa lapar, kebrutalan mereka akan semakin meningkat ketika mereka lapar, bahkan mereka bisa membunuh sesama rekan bila makanan sudah tidak ada lagi.
Namun rim juga adalah manusia, ketika mereka terdesak, mereka akan semakin kuat.
"Ada celah!" Salah satu rim menemukan celah untuk kabur.
"Ikuti aku!"
Dia berteriak dengan gembira, tapi pertarungan belum berakhir. Kakinya yang masih normal berlari ke arah celah dengan cepat.
Serigala-serigala itu berusaha menghentikannya, namun dengan pedang yang ia miliki, dia membunuh mereka semua.
Menusuk, menebas dan menendang, serigala tak dapat menghentikan pria yang berlari hanya bermodalkan tekad.
Ketika pria itu keluar dari kerumunan, dia tidak melihat ke belakang, dia terus berlari ke depan melewati kerumunan serigala.
Namun, serigala yang lain mengejarnya.
Serigala itu menggigitnya, namun baju besinya mampu menahan gigitan serigala dengan baik.
*ROARR!!*
Tiba-tiba, ketika pria itu hendak kabur dari kerumunan serigala, suara serigala yang lebih keras tiba-tiba terdengar di depannya.
Suara itu lebih keras dari pada suara serigala yang pernah dia dengar, pria itu bisa menebak siapa pemilik dari suara itu.
Memiliki tubuh yang besar, lebih dari serigala normal, 2 gigi seperti pedang yang membuatnya nampak mirip seperti hewan purba, smilodon.
Bulunya abu-abu, matanya berwarna biru, dan cakarnya terlihat seperti baja.
"R-raja serigala..." Pria itu mengucapkan dua kata yang membuat tubuhnya gemetaran.
Dia belum merasakan aura kuat yang dimiliki serigala itu, namun, bahkan tanpa aura itu, hanya mendengar namanya mungkin sudah cukup menakuti orang-orang.
"Sudah berakhir." Kata pria itu.
***
Di pagi hari yang cerah, Louis dapat merasakan tidur yang aman di tengah-tengah hutan salju.
Paritnya sedikit bocor, tapi untungnya Louis dapat bertahan tanpa terluka.
Sekarang, Louis berdiri di tengah-tengah hutan, menghirup udara pagi dan memandangi salju-salju yang putih.
Namun, ada yang aneh dengan tubuhnya, sekujur tubuhnya dipenuhi aura biru yang dashyat dan kuat.
Fisiknya tidak berubah, namun dia merasakan kekuatan yang meluap-luap di dalam tubuhnya hingga membuat tanah di sekitarnya bergetaran.
Ketika dia melihat kepalan tangannya, dia merasa bisa menghancurkan tubuh serigala dengan mudah.
"Kekuatan yang besar, jadi ini Decraith I," kata Louis.
Setelah mendapatkan evolusi Decraith I, kekuatan yang ada di tubuhnya meningkat drastis, Louis mencoba evolusi itu di pagi hari.
Sekarang, dia siap untuk melawan para serigala kapan saja.
"Hentikan evolusi,"
[Decraith I dihentikan].
Kekuatan yang dahsyat itu segera hilang pada tubuhnya bersamaan dengan aura biru yang mulai memudar dan masuk ke dalam tubuhnya.
"Decraith punya batas waktu, untuk Decraith I, maksimal 1 jam sehari, untuk tingkatan kedua, saya tidak tau, mungkin batas pemakaiannya akan meningkat,"
Louis menggunakan Decraith I hanya beberapa menit, jadi dia punya sisa hampir setengah jam batas pemakaian Decraith.
"Saya hanya akan menggunakan Decraith ini ketika berhadapan dengan serigala Alpha, atau raja serigala," ucap Louis.
Sebelum memulai aktivitas berburu, Louis melihat ke sekitar, ada banyak mayat-mayat serigala yang tergeletak di tanah.
Louis ingat bahwa untuk mendapatkan imbalan, dia harus memotong kepala mereka, tapi dengan banyaknya serigala ini, dia tidak bisa membawa mereka semua.
"Sepertinya saya harus menyimpan mereka di suatu tempat,"
Rencananya adalah memotong setiap kepala serigala lalu mengumpulkannya di suatu tempat pada hutan ini, dan ketika perburuan sudah berakhir, dia bisa mengambilnya kapan saja.
Louis merasa bahwa rencana itu sangat bagus dan layak digunakan.
*Srekk!*
Tiba-tiba, suara aneh datang dari belakang Louis.
Louis kaget dan reflek menghadap ke belakang.
Itu adalah suara semak-semak yang diinjak, pertanyaannya, siapa yang menginjaknya?
To be continued...