The Rise Of Rim

The Rise Of Rim
Bab 1 - Dunia lain



Di pagi hari yang cerah dimana kota seperti biasanya dipenuhi dengan orang-orang yang bekerja, bersekolah dan berjalan-jalan seperti hari-hari biasanya, membuat kota itu menjadi hidup dan ramai.


Gedung pencakar langit terbentang dari bawah ke atas menampilkan gaya arsitektur yang unik yang dipenuhi kaca-kaca mengkilap berwarna biru.


Di dalamnya, terdapat banyak orang yang bekerja di depan komputer, merevisi dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja seolah-olah tumpukan itu terus berdatangan tanpa henti.


Di pojokan ruangan, seorang pria duduk di atas kursi di depan meja, bekerja seperti orang-orang biasa lainnya. Layar komputer memantulkan cahaya yang mengenai matanya, namun ia tidak terganggu karena kacamatanya.


Wajahnya sendiri cukup rapi, ia tidak tampan namun jelek. Rambutnya hitam seperti orang asia, dengan warna mata yang sama.


"Seperti biasa, kau datang terlalu awal,"


Ketika ia sedang fokus di depan komputernya, seorang teman memanggilnya dari belakang, pria itu berbalik untuk melihatnya.


Nampak seorang pria dengan wajah tampan berambut hitam. Postur tubuhnya tinggi dengan wajah yang ramah, ia adalah temannya.


ia memandang rekan kerja yang memanggilnya dari belakang dengan tatapan datar seolah-olah tidak peduli.


"Tentu saja, karyawan terbaik harus datang lebih awal,"


"Darimana kau dengar itu? Ah.. Sudahlah, jadi bagaimana dengan wanita yang kukenal kan padamu kemarin,"


Wajah pria itu berangsur-angsur menjadi jelek karena tidak menyukai topik yang dibicarakan temannya.


"Entahlah, aku tidak terlalu menyukainya," ucap pria itu.


Temannya segera menampilkan senyum licik di wajahnya memandangi pria biasa di depannya.


"Ayolah, kau sudah berumur 27 tahun, namun belum juga menikah, apa kau senang hidup melajang?"


"Aku tidak senang, namun kau harusnya tidak mencampuri urusan pribadiku," pria itu berbalik lagi dan kembali mengotak-atik keyboard komputer di depannya.


Pria tampan segera mendekat, "aku bukan ibumu, bahkan ayahmu, tapi aku adalah sahabatmu, ingat, kita telah bersama sejak lahir, seperti seorang saudara!"


Pria tampan itu adalah sahabatnya, ia telah bersamanya sejak lahir karena orangtua mereka sangat dekat, bahkan tempat mereka dilahirkan adalah tempat yang sama.


Ketika umur mereka terus tumbuh, mereka selalu bersama dan bahkan menghadapi kesulitan bersama, walaupun mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, justru itu membuat mereka saling melengkapi.


"Uhm, aku tau,"


"Kau tau, aku hanya ingin membantumu menemukan pendamping hidupmu. Lihatlah aku, meski belum punya anak karena baru-baru ini aku menikah, aku memiliki istri cantik yang baik hati, lembut dan pengertian,"


Belum lama ini sahabatnya menikah dengan wanita yang sudah ia pacari selama 2 tahun, sedih? Pria itu tidak terlalu tertarik dengan wanita, bahkan ia enggan untuk berkontak dengan mereka.


"Jadi? Kau ingin aku bilang bahwa kau beruntung? Baiklah, kau punya wanita yang langka, kau beruntung kawan,"


"Bukankah sudah kubilang padamu, sifatmu yang dingin membuatmu sulit memiliki teman, tinggalkan itu! Sudah berapa kali kuingatkan itu padamu,"


"Baik,"


"Ingat itu!"


"Iya-iya."


Mereka berbicara seperti tidak terjadi apa-apa, namun, dibelakang mereka, suasana kantor yang tenang berangsur-angsur menjadi ribuk dan kacau.


Di balik kaca gedung tersebut, nampak bayangan gelap yang semakin membesar membuat orang-orang panik.


Suara yang sunyi menjadi ribut seketika.


"Apa yang terjadi?!" Pria tampan segara panik dan melihat ke belakang.


"Sudahlah, mungkin cuma hal keci-" sebelum pria itu menyelesaikan kata-katanya, matanya melebar ketika ia berbalik untuk melihat situasi.


Di depannya di balik kaca gedung, pesawat dengan kecepatan yang tinggi terlihat menuju gedung tersebut.


Terbakar dan hancur di sayap kiri, pesawat itu menghancurkan gedung di depannya dengan mudah dan menewaskan orang-orang di hadapannya. Termasuk dua orang yang ada di gedung tersebut.


Cukup tidak terduga di akhir hidup pria itu, ia yang masih melajang tak tau kapan akhir hidupnya malah menemui ajalnya karena tertabrak pesawat yang jatuh, rusak di bagian sayap kiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di atas tumpukan salju, seseorang terbaring di tengah-tengah badai yang menutupi area sekitar.


"Dimana... Ini?" Gelap-gelap di matanya berangsur hilang ketika ia tersadar.


Ketika ia mulai mengendalikan kesadarannya, seluruh Indranya mulai membaik, matanya mulai melihat jernih ke atas langit.


Ia dengan cepat bangkit karena terkejut.


Hutan? Itu ditutupu badai salju yang ganas, pohon-pohon tumbang satu demi satu dan menutupi area sekitar. Matanya memandang, ia hanya bisa melihat bayangan-bayangan aneh yang perlahan mulai hilang.


Suasana salju yang gelap di sekitarnya pasti akan terasa sangat dingin, tapi apa ini? Tidak hanya tidak bisa merasakan dingin, tubuhnya terasa berbeda dari biasanya.


Ia setengah bangkit, duduk tenang di atas tumpukan salju, ketika ia memandang ke bawah, ke dada, lengan dan kakinya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Ia ingin berteriak keras dan keras untuk melampiaskan rasa terkejutnya, namun energinya yang menipis memaksanya untuk menahan itu.


Pada pandangannya, kulit putih? Hitam? Itu bukan sesuatu yang ia lihat, di matanya, tubuhnya dipenuhi kulit mati berwarna putih, namun yang membuatnya terkejut adalah sebagian besar tubuhnya dilengkapi dengan tulang-tulang manusia berwarna biru.


Lengannya hanya memiliki tulang dan tangannya hanya memiliki sedikit kulit, itupun kulit dengan warna putih. Di sisi lain, perutnya menampilkan tulang biru yang menonjol keluar, mirip dengan tulang manusia pada umumnya, namun lebih dari itu.


Tulang biru dan kulit putih membuatnya terkejut setengah mati, belum lagi ketika ia melihat garis biru bercahaya mengalir dari kepala, tangan hingga tubuh dan kakinya seperti urat-urat.


"Ya, pasti itu, aku telah mati." Beberapa saat setelah ia panik, pikirannya mulai tenang ketika ia mengatakan itu.


Mati? Itu kata yang tepat untuk menjelaskan hal ini. Ia tidak bisa tidak mengingat akhir hidupnya yang mengenaskan ketika gedung tempat ia bekerja dihancurkan oleh pesawat yang jatuh bahkan membuat ia dan sahabatnya mati.


"Benar-benar tidak terduga, aku tidak berfikir akan berakhir seperti itu ketika aku dan sahabatku mengobrol dengan santainya tanpa memikirkan kematian. Seperti kata orang, kematian bisa datang kapan saja."


"Jadi ini neraka? Atau surga? Sepertinya neraka karena tidak terlihat indah. Aneh sekali, aku yakin aku tidak pernah melakukan hal buruk semasa hidup."


Sepanjang hidupnya, ia menjalaninya dengan keras. Tidak seperti sahabatnya yang lahir di keluarga sederhana, ia lahir di keluarga miskin, namun itu tidak membuatnya patah semangat, ia terus berusaha untuk mendapatkan hidup yang layak demi bisa menghidupi keluarganya.


Karena itulah kenapa ia masih melajang, bukan karena ia tidak tertarik pada wanita, hanya saja ia tidak punya waktu untuk memikirkannya. Sampai pada titik hidupnya mulai keluar dari kemiskinan, ia bekerja di perusahaan yang sama dengan sahabatnya.


Saat itulah ia mulai memikirkan wanita karena ia tau itu penting, namun sahabatnya memaksanya terlalu berlebihan hingga ia cukup jengkel dengan itu.


Satu langkah ia memajukan kaki kanannya, lalu dilanjutkan dengan kaki kiri, keseimbangannya yang goyah berangsur-angsur hilang ketika ia mulai melangkah lebih jauh untuk beradaptasi dengan tubuh barunya.


Langkah... Langkah...


Ia mulai berjalan seperti biasa dan anehnya ia tidak terhempas oleh angin salju yang nampaknya kuat. Apakah ia memiliki ketahanan terhadap badai salju? Sama seperti ia tidak merasa kedinginan di tengah-tengah badai salju yang seharusnya super dingin.


Ia memandangi kakinya yang berjalan tanpa gangguan, "Aku berjalan seperti biasa, sepertinya sudah tidak masalah," katanya.


*DRING!!* Suara itu datang dari depan, sebuah tabel biru transparan muncul di depannya dan mengejutkannya kembali.


Pikirannya kembali dipenuhi kekosongan. Tabel biru transparan di depannya menampilkan kata-kata dengan huruf yang ia kenal.


"Tabel apa ini?"


Di dalam tabel itu, huruf-huruf yang ia kenal merangkai satu kata yang bisa ia baca, bertuliskan 'Mulai?' dengan tanda tanya di akhir kata.


Kata mulai berarti memulai suatu hal, kata itu mirip dengan video game di awal-awal, lalu dilanjutkan dengan berbagai pilihan yang berbeda.


Setelah beberapa saat, ia tidak ingin berfikir panjang, ia tidak takut dengan bahaya karena ia sendiri merasa bahwa dirinya sudah mati. Ia bebas melakukan apapun tanpa memikirkan beban hidup yang melelahkan saat ini.


Selain itu, di depan tabel tersebut, ia sangat penasaran dan mau tidak mau menekan 'mulai'.


Tampilannya segera berubah membentuk huruf-huruf lain yang merangkai 2 kata.


[Sebutkan namamu?].


"Nama? Bukankah ini mirip dengan video game?"


Pertama 'mulai' dan sekarang 'nama' mungkin ini hanya sekedar pendaftaran di neraka, "sialan! Aku tidak ingin masuk neraka, kenapa pula harus melewati pendaftaran rumit ini!" Katanya dengan kesal.


Kekesalannya mulai memudar dan ia berusaha menjernihkan pikirannya. Di otaknya, ia memikirkan sebuah nama, nama yang cocok untuknya.


'Namaku di bumi sangat jelek, aku bahkan tak ingin menyebutnya, karena itu aku akan menyamarkanya,'


"Louis! Itu namaku," Kata pemuda itu.


Tabel tranparan di depannya segera berubah.


"Eh?! Jadi aku memang bisa mengubah namaku?" Ia terkejut karena ia berfikir bahwa menyamarkan nama adalah tindakan yang salah.


Tabel yang berubah segera membentuk kepingan-kepingan pecah yang membentuk tabel baru dengan rangkaian kata yang berbeda.


Tabel tranparan itu bertuliskan.


[Pilih Rasmu?].


[Human].


[Elf].


[Rim].


[Dwarf].


[Orc].


[Goblin].


...


Louis yang berdiri di tengah-tengah badai salju segera dikejutkan dengan isi tabel tersebut, ia hanya bisa bingung. Ras adalah kelompok yang didalamnya terdapat individu yang memiliki ciri fisik dan biologis yang khas.


Seperti orc dengan tubuh besar hijau, goblin yang lincah, manusia yang cerdas, elf yang abadi dan iblis yang kejam. Namun rim adalah satu-satunya ras yang tidak diketahui Louis.


Tidak diperlihatkan gambar atau ciri-cirinya di dalam tabel tersebut, namun kata rim adalah kata yang asing. Terlebih lagi, semua ras di dalam tabel itu biasanya berada di dalam video game atau buku fantasi, kecuali rim. Mereka mungkin bisa ada karena tempat ini bukan bumi.


"Jadi saya harus memilih ras?"


Di bumi, ia sering memainkan video game dengan genre fantasi. Pengetahuannya tentang ras-ras di dalam tabel sangat banyak, bahkan tak perlu disebut lagi karena itu sudah menjadi umum di bumi untuk mengenal ras fantasi seperti orc, goblin dan elf.


Di dalam game tersebut, ia selalu memilih ras yang berbeda seperti, orc, elf, iblis bahkan dwarf dan ras-ras lainnya, ia cukup bosan untuk mengingatnya, namun disini ada ras 'Rim' yang tidak ia ketahui.


"Rim terlihat menarik, saya memilih Rim!"


Tabel tranparan mulai berubah kembali membentuk rangkaian kata yang berbeda.


[Memulai evolusi ras...].


"Eh... Apa ini?"


Tubuhnya yang tidak merasakan apa-apa mulai terasa panas, kepalanya juga keras dan tubuhnya mulai berangsur-angsur rusak dengan tulang yang robek dan patah.


Cahaya biru seperti urat, putus dan tubuhnya mengeluarkan lendir biru dari sekujur tubuhnya. Yang lebih mengagetkannya, bagian dalam tubuhnya terasa terkoyak dan kacau seperti air yang deras mengalir di sudut-sudut tubuhnya.


Ia kaget dan selanjutnya panik hingga ia terjatuh di atas salju tanpa bisa berkata apa-apa dengan bola mata yang melebar.


To be continued...