The Rise Of Rim

The Rise Of Rim
Bab 5 - Membangun rumah



Ras rim bisa memakan apa saja, namun tidak semuanya. Mereka bisa memakan daging mentah sama seperti seekor naga, tapi rasanya tidak akan sama dengan yang dirasa oleh para naga.


Lidah rim bercampur dengan naga dan manusia, namun sisi manusia lebih dominan sehingga mereka kadang lebih suka memakan daging yang sudah dipanggang menggunakan api, tapi bukan berarti mereka tidak bisa memakan daging mentah.


Di tempat awalnya, setelah Louis membawa sapi iblis ke tempatnya, ia membuat sebuah pisau pendek dari ranting kayu yang ia kumpulkan dengan sistem untuk mengupas bagian-bagian dari tubuh sapi iblis.


Ia memisahkan daging, organ dan kulit sapi iblis tersebut dan menumpuknya di area yang berbeda. Setelah itu, ia beralih ke daging sapi iblis.


"Ini terlihat menjijikkan."


Louis memegang salah satu potongan daging sapi dan enggan untuk memakannya. Terlihat menjijikkan di matanya karena ia tidak terbiasa memakan daging mentah, namun ia sendiri sangat lapar dan tidak bisa menahannya.


Mari mencobanya, itulah yang ia pikirkan. Ia membawa potongan daging sapi ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan-lahan. Satu gigitan tidak membuatnya merasakan apapun.


Dua gigitan setelahnya membuatnya merasakan sesuatu yang aneh namun gigitan selanjutnya mulai terasa kuat.


Hingga gigitan-gigitan setelahnya, ia dapat merasakan daging sapi iblis dengan penuh rasa hambar.


Itu tidak enak.


"Rasanya biasa saja, mungkin karena lidah kami campuran naga dan manusia. Hmm... Bagaimana jika itu dipanggang? Apakah rasanya tetap biasa saja di lidahku?"


Setelah itu, ia membuang pikiran itu. Karena beberapa saat yang lalu, ia mencoba membuat api, namun karena hutan ini berbeda dengan hutan salju pada umumnya, ini sangat dingin yang bahkan membuat api tidak bisa membesar dan bertahan lama.


Alhasil, ia terpaksa harus memakannya mentah-mentah.


"Seharusnya aku bersyukur bisa makan sekarang."


Meski terasa biasa saja, potongan daging itu masih bisa ia telan. Ia harus mensyukuri yang ada saat ini dan tidak mengeluh hanya karena makanannya tidak enak.


Ketika pikirannya mulai tercerahkan, ia menerima semua potongan daging di mulutnya dan mengunyah mereka satu demi satu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian, daging sapi iblis sudah habis ia makan dan ia merasa kenyang saat ini. Rasa kenyang itu dapat bertahan lama, ia harus memanfaatkan hal itu untuk membangun rumah.


Karena tak mungkin ia tidur di tengah-tengah hutan yang dipenuhi monster.


Setelah makan, ia membuat kapak lagi dan memotong batang kayu satu demi satu hingga membentuk potongan rapi. Itu menjadi lebih cepat dan mudah karena perutnya terisi.


Namun, hanya 30 batang kayu masih belum cukup membuat rumah sederhana. Louis membuat banyak kapak kayu dari ranting yang tersisa, dengan itu ia memotong batang pohon di sekitar hingga itu dapat mencukupi kebutuhannya.


Setelahnya, batang pohon yang ia tebang, ia potong lagi membentuk potongan rapi.


Satu potongan, dua potongan, tiga, empat dan seterusnya, itu terus berlanjut hingga itu cukup untuk membuat rumah.


Setelah semua batang pohon ia potong, ia mulai untuk membuat rumahnya sendiri.


Ia mengangkat potongan kayu dan mulai membuat dasar-dasarnya hingga pondasi dan melengkapi isinya dari samping, bawah dan atas.


Pekerjaan membuat rumah itu bertahan cukup lama, karena itu tidak mudah karena ia kadang salah menempatkan potongan kayu karena pengukurannya yang salah dan tidak akurat.


Namun, itu tidak masalah karena staminanya kuat dan tidak pernah lelah. Ia kadang bingung dengan itu, ia tidak pernah merasakan lelah, itu adalah faktor utama yang membuatnya bisa membangun rumah dengan cepat.


Biasanya, membuat rumah membutuhkan waktu yang tidak singkat, itu karena kekuatan fisik dan staminanya yang tidak memungkinkan itu dikerjakan sesegera mungkin.


Namun, Louis punya semua yang dibutuhkan, stamina, fisik yang kuat dan pengukuran yang akurat, walaupun itu kadang salah, tapi hanya dalam setengah jam, bangunan rumah itu sudah setengah jadi dan beberapa jam lagi akan tercipta menjadi rumah yang sempurna.


Setelah beberapa jam kemudian, rumah yang ia bangun dari pagi hingga sore pun jadi dan berdiri dengan kokoh.


"Rumah yang sederhana, tapi ini adalah benteng yang kuat."


Biasanya, isekai-isekai fantasi yang dianugerahkan sistem membuat rumah, desa lalu kota, bukankah itu hebat? Louis berfikir ia bisa melakukan semua itu.


Mulai dari rumah yang kecil lalu perlahan-lahan menciptakan desa-desa lalu kota dan harem hingga mempunyai seorang anak, ini impian seorang pria.


Louis tersenyum lalu dengan senang mengatakan, "Isekai ternyata menyenangkan seperti yang kuduga, aku pasti adalah tokoh utama yang diberi plot armor super tebal,"


Kesenangan memenuhi hatinya, ia memandangi rumahnya dengan kagum berfikir bahwa itu adalah mahakarya yang hebat.


Rumah sederhana yang Louis bangun tidak besar juga kecil, itu adalah ukuran yang sedang. Selain itu, bangunannya berbentuk kotak dan atapnya terbuat dari kayu. Tidak ada kaca di jendelanya, ia membuat potongan kayu kecil dan panjang untuk menutupi sebagian dan sisanya untuk membuat udara masuk.


Bertepatan dengan rumahnya, hari mulai gelap dan hutan yang misterius mulai mengeluarkan suara-suara aneh yang berdecik kadang membuat Louis takut.


Louis berjalan di tumpukan salju memasuki rumahnya yang gelap tanpa adanya cahaya. Setelah masuk ia berbalik untuk menutupi pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian, di malam hari yang gelap dengan adanya badai salju yang kencang. Rumah kayu yang berada di tengah-tengah hutan misterius diterjang oleh kerasnya angin malam.


Hingga membuat rumah itu runtuh sebagian yang membuat bagian atasnya berlubang. Salju yang dingin masuk memenuhi rumah tersebut hingga tidak ada ruang yang tersisa.


Di dalam rumah tersebut, Louis yang tadinya tidur dikejutkan dengan keruntuhan rumahnya. Matanya melebar karena tidak tau harus melakukan apa.


Wajahnya membeku, ia ingin berbicara, namun mulutnya tidak bisa bergerak, selain itu tubuhnya kehilangan keseimbangan dan otaknya tidak terkendali.


"A-aku... membangun rumah ini ... dari pagi." Ketika mulutnya berusaha untuk terbuka, ia hanya bisa mengulangi kata-kata itu terus menerus.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya, bukanlah hari yang indah bagi Louis. Setelah rumahnya hancur diterjang oleh badai salju, rumah itu hancur menjadi kepingan-kepingan kayu yang berserekan di hutan.


Semalam ia juga tidak bisa tertidur karena lelah memperbaiki rumahnya yang runtuh. Karena keruntuhan rumahnya, kini ia belajar satu hal, membangun rumah di hutan ini bahkan tidak ada dalam pilihan.


"Sial! Jika aku tau harus seperti ini, maka aku tidak akan membangun rumah itu."


Di tengah-tengah hutan, Louis berjalan dengan kesal. Setelah rumahnya runtuh, ia berfikir untuk pergi ke desa terdekat untuk bertahan hidup.


Tujuannya adalah kota oirat di Utara.


[Kota oirat]


Setelah berjalan cukup jauh, ia sampai di kota oirat dalam waktu setengah jam. Disana, ia tidak bisa masuk seenaknya.


Ia memandangi 2 penjaga di depan gerbang yang memakai baju besi dengan pedang di pinggang mereka. Wajah mereka sangat berbeda dengan Louis, namun tubuh mereka memiliki kesamaan.


Para penjaga itu adalah rim.


Louis berjalan kearah mereka, dengan bermodalkan pedang kayu di tangannya. Ia hanya memakai celana pendek tanpa pakaian.


Para penjaga yang melihat Louis berjalan ke arah mereka segera terkejut, mereka berfikir Louis adalah budak yang lari dan seorang pengemis karena melihat Louis yang tidak membawa apa-apa selain pedang kayu dan celana pendek.


Para penjaga itu segera bertanya dengan sopan namun tegas. "Anak muda, siapa kau? Kenapa kau hanya memaka celana pendek, apa kau dirampok?"


Louis tidak yakin apakah ia bisa masuk ke kota itu, tapi selama ia dengan sopan menjawab pertanyaan mereka, ia pasti bisa masuk. Louis menjawab, "itu benar, saya berasal dari desa yang jauh. Di perjalanan, saya dirampok oleh sekumpulan bandit, kuda dan uang saya diambil, tak hanya itu, pakaian saya juga diambil dan hanya menyisakan celana pendek ini,"


Setelah mendengar itu, 2 penjaga yang tadinya berwajah tegas kini memudar karena bersimpati pada Louis. Segera, mereka menjadi marah dan mengutuk para bandit itu.


"Jadi begitu, anda memiliki hari yang buruk, masih beruntung nyawa anda selamat,"


"Para bandit itu memang pantas mati, mereka seenaknya saja merampas harta orang lain..."


Louis dalam diam menyimak kata-kata mereka, ia tidak ingin berbicara lebih panjang.


"Jadi, siapa namamu?" Tanya penjaga.


Louis menjawab, "Nama saya adalah Louis, dari Dhoren."


Dhoren adalah nama kota yang berada jauh dari sini, ia sengaja menyebut nama kota itu agar identitasnya tak mudah dibongkar.


"Dhoren? Jauh sekali, kau pasti ketakutan nak,"


"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan ini. Tuan-tuan, apakah saya bisa masuk ke desa ini, saya perlu makan dan menghangatkan diri,"


"Apa yang anda katakan? Tentu saja anda bisa masuk, menolong orang adalah tugas kami,"


Fyiuh, Louis bisa menghela nafas sekarang, dengan persetujuan dari dua penjaga itu, maka ia sudah aman untuk sekarang.


"Benarkah? Saya sungguh berterimakasih, semoga dewa Hector memberkatimu."


Dewa Hector? Itu adalah kepercayaan di dunia ini. Masing-masing ras punya kepercayaan, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Louis mendapatkan informasi ini di dalam ingatannya.


Setelah menyakinkan para penjaga, Louis diizinkan untuk masuk ke dalam kota tersebut.


To be continued...