THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
9. MASALAH DAVKA



" Jadi gitu ceritanya " Ucap Davka mengakhiri cerita panjang lebar dan tinggi nya


" Jadi pak Ridwan yang ngabarin orang tua aku? " Tanya vino kepada davka dan di balas anggukan oleh davka


" Tapi kok mamah sama papah bisa langsung nurut gitu sih, padahal ya kemarin kemarin aku nyuruh mereka pulang susah banget "


" Gak tau, di jampe kali sama pak ridwan "


" Di kira dukun apa di jampe " Mereka berdua pun tertawa, merasa konyol dengan apa yang di ucapkan mereka barusan.


" Btw Vin gue minta maaf ya, gue sempet gak suka sama kedatangan orang tua lo. Gue cuman gak mau lo sakit hati lagi akibat mereka " Ujar davka menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena sempat berburuk sangka pada orang tua vino. davka merasa bodoh


" Gak papa santai aja, aku tau kamu pasti punya alasan kenapa berpikir kayak gitu "


Vino tidak berbohong berkata seperti itu. Ia memang yakin davka pasti punya alasan mempunyai pikiran seperti itu dan davka juga tidak salah sepenuhnya akan pemikirannya, ia memang merasakan sakit hati lagi saat melihat orang tuanya ada sisinya tadi sebelum ia memutuskan untuk memberikan kepercayaan sekali lagi pada orang tuanya.


" Davka " Panggil vino. Namun, davka tetap diam. Entah apa yang di pikirkan olehnya tapi vino yakin kalau davka memang mempunyai masalah


" Davka "


" I-iya " Ucap Davka terbata berusaha menetralkan rasa terkejutnya.


" Kamu kenapa ngelamun? "


" Nge-ngelamun? " Tanya davka masih dengan nada terbata batanya. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia lupa kalau sekarang ia sedang bersama vino.


" Masa sih gue ngelamun? " Lanjutnya. Seolah ia tak melakukan hal yang di katakan vino


" Iya kamu ngelamun, buktinya aja aku panggilin dari tadi kamu gak jawab "


" Gak kok, gue gak ngelamun "


" Kamu ngelamun davka "


" Gak ngelamun "


" Iya, iya deh terserah kamu. Yang penting sekarang sekarang aku punya pertanyaan buat kamu "


" Pertanyaan? apaan? "


" Kamu beneran punya masalah kan? "


" Masalah? "


" Gak usah pura pura gak paham deh dav, kamu sendirikan yang tadi bilang gak mau cerita sama pak Ridwan. Sekarang kamu bisa cerita sama aku " Ujar vino kesal. Ia bukan ingin memaksa hanya saja ini pertama kalinya ia berteman, jadi yang bisa lakukan vino hanyalah berusaha agar kehadirannya berguna.


" Dav aku ini sahabat kamu kan? kamu percanya kan sama aku? " Vino dapat melihat davka yang mengangguk pelan walau masih menunduk


" Kalau gitu kamu mau kan cerita sama aku? "


Vino bukan nya tega pada davka, ia sebenarnya juga tidak tega memaksa laki laki di hadapannya ini untuk bercerita, melihat bagaimana davka yang hampir saja menangis. Hanya saja berteman dengan davka beberapa hari sudah membuat vino mengetahui sedikit tentang sifat laki laki ini.


Vino yang peka dan davka yang mudah di baca membuat keduanya begitu serasi dalam berteman. Namun, masalahnya di sini. Davka sahabatnya vino ini bukan orang yang mudah bercerita, ia tidak akan mau mengatakan masalahnya jika tidak di paksa. Jadi, apa salah kalau vino memaksa davka untuk menceritakan masalahnya kepada vino?.


Davka masih tak bergeming. Dia tetap menunduk dengan kebisuan dan keraguannya. Davka sendiri bukannya tidak ingin bercerita, ia memang sudah menganggap vino sebagai sahabatnya bahkan saudaranya. Hanya saja pertanyaan ' apa dengan gue bercerita tidak akan menambah beban pikiran vino? apalagi sekarang masalah keluarga vino udah membaik ' kalimat tersebut selalu saja membuat untaian kata yang davka siapkan menghilang begitu saja. Davka terlalu kalut dalam menghadapi masalhanya, dia tidak punya siapa siapa lagi yang dapat di percaya selain vino. Tapi, ia juga tidak ingin mengahancurkan kebahagiaan vino karna masalahnya.


" Dav gak papa kalau lo gak mau cerita, gue gak akan maksa lagi. Gue cukup sadar diri kok "


Davka langsung mendongak mendengar perkataan vino. Bukan, bukan ucapannya tapi nada bicaranya yang berubah sinis dengan embel embel ' gue ' bukan ' aku ' membuat davka semakin di rundung rasa bersalah. 'Apa vino marah? '


" Vin gue...."


" Udah gak papa dav gak usah, gue sadar kok gak seharusnya gue maksa Lo kita kan temenan juga baru beberapa hari "


" Vin hiks..." Vino menoleh saat mendengar isakan kecil dari bibir davka. Dia jadi merasa bersalah sudah membuat davka menangis.


" Dav aku..."


" Gue bakal cerita Vin "


...****************...


Sekarang ini vino tengah bersiap siap untuk pulang, seharusnya ia masih tetap harus di rawat karna ice bucket challenge dari Niko dan kedua temannya kemarin membuat tubuhnya benar benar berada jauh dari kata baik baik saja. Tapi tenang saja, Davino tetaplah Davino dengan segala rengekan dan alasannya yang mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya dan dokter yang mengizinkan vino pulang lebih cepat dan tentu dengan syarat pula.


Dan vino semdiri, dia bukan tanpa alasan merengek pulang. Seperti kata kata davka masih jelas membekas di pikirannya. Mungkin, yang di bilang davka benar juga ini akan jadi beban baru untuk otaknya vino. Itu semua terlihat jelas dari vino yang dari tadi terus memandang keluar jendela dengan tatapan kosong sambil menunggu orang tuanya membereskan barang barang miliknya. Dan ngomong ngomong soal davka, ia sudah vino usir alias suruh pulang dari tadi. Setelah davka menceritakan masalahnya tadi vino sempat menenangkan davka karna dia yang terus menangis. Saat suasana hati davka sudah lumayan membaik vino langsung menyuruhnya untuk pulang tentu saja untuk beristirahat karna vino tak ingin davka menjadi salah satu pasien dari tempat yang saat ini vino singgahi 2 hari ini.


" Sayang, kamu udah siap? " Tanya seorang wanita pada vino. Siapa lagi kalau bukan sang mamah, MIRA AULORA.


Mira terlihat berjalan mendekati vino, sedangkan vino ia memandang Mira dengan senyum hangat. Setelah berada di dekat vino Mira duduk di sampingnya, tangannya terangkat untuk mengusap surai rambut sang anak.


" Kenapa Hmm? ada yang sakit? jangan pulang sekarang ya? rawat dulu beberapa hari lagi " Ucap Mira kepada vino dengan nada khawatirnya.


Mira benar benar khawatir akan keadaan anaknya ini. Sekelebat rasa penyesalan selalu menghantuinya, walau semuanya sudah baik baik saja dan vino sudah memaafkan mereka tetapi tetap saja ia selalu merasa gagal menjadi orang tua. Ia terlalu lalai dalam memantau kehidupan anaknya.


" Gak kok mah, vino gak papa. pulang sekarang ya? " Mira tersenyum lalu mengangguk membuat vino ikut tersenyum lebar. Ia merasa hari ini hari kebahagiaanya di mulai. *N*amun, benarkah memang seperti itu? apa vino memang akan bahagia? bukankah hidup itu misteri? siapa yang tau?.


" Kita tunggu ayah dulu, sebentar lagi beres kok "


SEE YOU NEXT PART