THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
12. SEMBUH



...HAPPY READING...


15 Maret 2020


Hendra dan Mira membawa vino ke ruangan dokter Gibran, dokter Gibran adalah dokter psikologinya vino. Jika kalian bertanya, kenapa hendra dan Mira membawa vino ke dokter psikolog? tentu saja jawabannya karena vino memiliki trauma. Kejadian 13 bulan yang lalu benar benar membuat mental vino terguncang, bagaimana tidak seperti itu? kalian bayangkan saja anak berumur 12 tahun harus mengalami hal yang sangat menyeramkan. Vino melihat tangannya sendiri yang di gores oleh benda berkilat bernama pisau, vino melihat sahabatnya yang di tusuk menggunakan benda mengkilat itu juga, vino melihat darah yang tidak bisa di katakan sedikit menetes dari tangannya dan dada sahabatnya sehingga mengotori lantai ruangan itu. Kalian bisa membayangkan seberapa menyeramkannya itu?.


Setelah kejadian itu vino benar benar syok, kesehatannya menurun drastis. Ia bahkan sempat koma selama 2 bulan dan saat tersadar dirinya sudah di selimuti ketakutan, ia menutup telinga dengan mata di pejamkan sambil berteriak teriak memanggil nama Hamdan dan davka, ia juga tidak ingin di sentuh oleh siapapun. Karna peristiwa tersebut vino terpaksa harus di amankan untuk melakukan terapi bagi psikisnya. Dan hari ini adalah jadwal terapinya untuk yang kesekian kalinya.


Setelah Hendra, mira, dan vino sampai di ruangan itu, mereka di sambut oleh beberapa petugas di sana. Ketiganya langsung masuk ke dalam dan di ikuti beberapa suster di belakangnya.


Hendra dan Mira berbincang bincang sebentar dengan dokter Gibran


" Gibran, Lo yakin kan kali ini bakal berhasil? " Tanya Hendra pada sahabatnya. Yap Gibran adalah sahabat masa SMA nya Hendra.


" Gue kali ini yakin dra, di lihat dari terapi kemarin yang sudah menunjukkan perkembangan gue benar benar yakin vino pasti sembuh " Jawab Gibran mencoba meyakinkan Hendra


" Saya minta tolong ya bran, saya gak tega kalau harus lihat vino dengan kondisi seperti itu terus " Ucap Mira dengan nada memohon nya.


" Iya mir saya akan berusaha semampu saya untuk membantu vino melewati masa sulitnya " Balas Gibran dengan senyumnya


" Makasih bran, Lo emang sahabat gue " Ujar Hendra sebelum memeluk gibran. Gibran pun membalas pelukan Hendra kemudian melepaskannya.


" Gue yakin vino pasti bisa " Galih menepuk pundak hendra dua kali dan di balas anggukan oleh Hendra.


Setelah nya Hendra dan Mira pun keluar dari ruangan itu meninggalkan vino dengan tatapan kosongnya.


Gibran melangkah mendekati vino, menariknya pelan untuk duduk di sebuah kursi. Tatapan vino masih lulus dan kosong ia bahkan tak mengucapkan kata apapun dari tadi.


Gibran berjongkok di hadapan vino.


" Tenang oke, kau pasti bisa melewatinya " Ucap Gibran menenangkan vino. Setelahnya dia menyuruh suster yang membantunya untuk mematikan lampu dan menyisakan lampu yang hanya mengarah pada vino dan Gibran.


Gibran memandang vino lekat lalu mendekatkan wajahnya ke telinga kanan vino. Ia membisikkan kalimat yang hanya bisa di dengar oleh vino.


" Ikuti aku, pejamkan matamu " Dan terlihat vino memejamkan matanya mengikuti instruksi dari Gibran.


" Gurumu menyekapmu di gudang sekolah dan davka......."


Kalimat kalimat tersebut terus berlanjut membuat vino sedikit bergerak gelisah tapi ini tidak ada apa apanya dengan bulan bulan yang kemarin. Dulu saat terapi seperti ini vino terus memberontak menjerit jerit tak jelas, menangis meraung raung bahkan Gibran dan perawat lainnya di buat kewalahan dengan kondisi vino itu.


Vino terus bergerak gelisah dalam pejamnya, kejadian itu menjadi memori terburuk dan terunggul di otak vino. Semuanya masih terekam jelas seolah mengambil alih pikiran dan jiwa vino.


Sedangkan Mira di luar sana sudah menangis. 13 bulan yang lalu saat ia mendapat telpon dari wali kelas vino yang mengatakan jika vino di bawa ke rumah sakit Mira langsung menghubungi suaminya dan pergi ke rumah sakit tempat vino di bawa.


Di sana Mira dan Hendra terkejut dengan fakta bahwa selama ini putranya adalah korban bully teman temannya dan korban kekerasan guru olahraganya. Hendra dan Mira merasa sangat gagal menjadi orang tua, mereka lalai dalam memantau kehidupan anaknya bahkan hal separah ini mereka tidak tahu.


Mira terisak semakin keras saat mengingat kejadian itu, ia sangat menyesal telah meninggalkan anaknya demi pekerjaan dan berakhir dengan vino yang menderita. Hendra tetap merangkul sang istri untuk menenangkan nya, ia kepala keluarga di sini ' aku tak boleh lemah aku harus kuat untuk istri dan anakku ' kalimat itu yang menjadi penguatnya sekarang.


" Udah ya mir, kita berdoa aja semoga ini yang terakhir kalinya kita berada di tempat ini "


Dari luar mari kita beralih ke dalam ruangan. Vino terlihat mulai tenang ia tak bergerak gelisah lagi dan tidak berteriak kembali membuat Gibran tersenyum. Dia yakin vino pasti sembuh sekarang.


" Davka, davka, davka "


" Vino, sekarang buka matamu " Vino langsung membuka matanya saat mendengar intrupsi dari Gibran. Ia memandang Gibran dengan senyum dan mata berkaca kaca


Gibran ikut tersenyum lalu menyodorkan segelas air putih yang di terima oleh vino lalu menegaknya hingga tandas. Dengan tangan yang masih gemetar vino memberikan gelas yang sudah kososng itu kembali pada Gibran.


" Kau berhasil Davino, kau berhasil melewati masa sulitmu, kau berhasil melawan trauma mu. Sekarang istirahatlah aku akan bicara dulu dengan orang tuamu " Ucap Gibran sambil mengusap air mata vino dengan lembut.


Cleck


Suara pintu dibuka, Mira dan Hendra langsung menghampiri Gibran


" Bagaimana? apa sekarang berhasil? " Tanya mira dan di balas anggukan oleh gibran


" Lo serius? " Kali ini Hendra yang bertanya dan lagi lagi di balas anggukan oleh gibran.


Hendra menitikkan air matanya, ia sangat bersyukur akhirnya penantian dan usahanya dalam menyembuhkan vino dari trauma nya tidak sia sia.


" Kalian bisa masuk dan lihat vino sekarang " Tanpa membuang buang waktu lagi Hendra dan Mira langsung masuk kedalam.


" Vino " panggil Hendra dan Mira bersamaan. Vino menoleh lalu tersenyum ke arah mereka, lagi lagi air mata mereka berdua menetes.


" Mamah, papah " Panggil vino pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka. Hendra dan Mira langsung memeluk vino dengan erat.


" Sayang kamu udah sembuh nak "


" Iya mah vino udah sembuh sekarang, vino mungkin belum bisa sepenuhnya menghilangkan trauma vino. Tapi, vino akan berusaha buat sembuh total dari trauma ini "


" Makasih sayang, makasih udah mau berjuang "


" Harusnya vino yang makasih karna papah sama mamah selalu nemenin vino " Hendra dan Mira mencium kening vino bergantian.


" Mah, davka gimana? "


" Davka masih koma sekarang "


" Koma? "


" Iya, kamu tenang dulu ya mamah yakin davka gak papa "


" Aku mau ketemu davka "


" Iya nanti kita ketemu davka yah "


" Hmm "


GIMANA?


**MAAF YA KALAU ADA TYPO


OH YA, AKU MAU TANYA SAMPAI DI PART INI KALIAN PAHAM GAK SAMA ALURNYA


KALAU GAK NANTI AKU BAKAL JELASIN SEDIKIT TENTANG ALURNYA BIAR KALIAN JUGA NYAMAN BACANYA.


KALIAN BISA KOMEN YA


KALAU ADA KESALAHAN JUGA KALIAN BISA KASIH TAU AKU


MUNGKIN ITU AJA DULU YANG MAU AKU KASIH TAU


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, SAMA VOTE NYA YA


SEE YOU


THANK YOU**