THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
5. KEMBALI DI BULLY



..."CUKUP!! Katakan padaku sekarang juga. apa salahku? "...


...DAVINO...


Hendra dan mira sedang berdiri di pintu sebuah ruangan yang tertutup dengan perasaan yang gusar. Mira terus menangis memandang pintu yang ada hadapannya itu, sedangkan hendra yang berperan sebagai kepala keluarga tetap berusaha menenangkan sang istri. ' Dia tidak boleh lemah, dia harus kuat untuk istri dan anaknya '. Itulah kalimat yang menjadi penguatnya.


Sedangkan di dalam sana jeritan dan teriakan kesakitan dari seseorang terdengar begitu menyayat hati membuat orang yang mendengarnya dapat merasakan betapa menyakitkan hidupnya.


" Udah ya mir, kita berdoa aja semoga ini yang terakhir kalinya kita ada di tempat ini "


...****************...


Pagi kembali datang dan sang Surya kembali menyapa dengan sinarnya.


Vino sudah siap siap dengan seragam SMP nya, dirinya berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut hitam legamnya.


Sesaat, netra indahnya terpaku pada pantulan cermin yang menampakkan wajahnya


" Apa hariku akan seindah kemarin? semoga "


Setelah merasa semuanya selesai, vino mengambil tas ranselnya dan buku kecil yang ada di atas meja belajar lalu memasukkannya kedalam saku celana.


Setelahnya vinopun turun kebawah di sana sudah ada bi nia yang menunggunya. Vino tersenyum tangan kurusnya bergerak untuk mencium punggung tangan wanita itu.


" Bi vino berangkat sekarang ya "


" Loh gak sarapan dulu? "


" Nanti deh di sekolah, takut telat "


" Yaudah hati hati ya di jalannya "


" Iya bi assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


...****************...


Nyatanya harapan hanyalah sebuah harapan, semuanya akan kalah pada takdir. Warna kelam menjadi warna yang mendominasi harapannya yang palsu nan semu. Karna pada akhirnya semuanya kembali lagi ke keadaan semula. Gelap dan sepi.


Vino yang lagi lagi di sambut oleh puluhan tatapan sinis dan ujaran kebencian, orang orang yang tak menyukai kehadirannya meluapkan semuanya dengan sebuah cibiran. Tanpa mereka peduli bahwa ada hati yang sedang tergores oleh perkataan mereka, ada orang yang merasa putus asa akan lontaran lontaran mereka.


Andai saja bunuh diri tak dosa, vino yakin dia pasti sudah melakukannya. Vino benci pada dirinya, Vino kecewa pada dirinya, Vino marah. Kenapa orang orang begitu tak menginginkannya? apa ia tak pernah di harapkan? lantas kenapa ia di hidupkan?.


Ingin rasanya vino berkata dan bertanya pada mereka, apa salahnya? kenapa kalian begitu membenciku? apa kehadiranku memang sebuah kesalahan?. Namun, bibirnya terasa kelu semua untaian kata kata yang sudah vino rangkai sebaik dan Serapi mungkin kini hanya sebuah angan semata. Semuanya tidak akan pernah berubah vino yang akan tetap di benci dan mereka yang membenci.


Langkah vino terhenti tepat di bangkunya, disana sudah ada davka yang tersenyum kearahnya.


" Baru datang? "


Vino tersenyum ini pertama kalinya ia di sapa saat berada di kelas " Hmmm "


" Yaudah cepet duduk, mau berdiri sampai kapan? "


" Hehehe iya iya "


" Jadi? "


" Ya gue sebangku sama lo sekarang " Ujar davka seakan tahu apa yang akan di ucapkan vino.


Davka sempat tercetak dengan apa yang vino ucapkan, dia sudah tau tentang murid murid yang membencinya termasuk salah satu guru yang tidak menyukai vino.


Davka menoleh pada vino memandang lekat lekat wajah anak itu. Ini pertama kalinya ia begitu peduli pada seseorang, dia seperti menemukan sebuah kenyaman yang tidak pernah dia dapatkan dari orang lain termasuk orang tuanya.


" Gue temen Lo sekarang, lo gak sendiri lagi " Ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah vino.


" Aku bersyukur bisa ketemu kamu "


...****************...


" Vin lo serius gak mau bareng sama gue? " Tanya davka kepada vino


" Iya bawel banget sih kamu " Balas vino kesal, pasalnya sudah hampir 5 menit davka terus menanyakan perihal vino yang tidak mau di antar olehnya


" Serius? " Tanyanya untuk kesekian kalinya


" Iya davka 2 rius bahkan " Jawab vino dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


Vino bukan tidak ingin di antar davka, dia hanya tidak mau merepotkan davka karna jalur rumah keduanya yang tak searah.


Davka hanya bisa menghela napas lalu mengangguk, dia menyerah meladeni sikap keras kepala vino kemudian pergi dan masuk ke mobil bersama supirnya meninggalkan vino dengan bersama sepedanya.


Jika kalian bertanya tanya kenapa vino tidak di jemput supir juga, jawabnnya Karna dia menolaknya. Hendra dan mira sudah pernah menawarinya untuk antar jemput oleh supir tapi vino bilang katanya ia lebih suka pake sepeda. Jadi Hendra dan mira bisa apa?.


" Kak niko? "


Vino berbalik saat merasakan seseorang menepuk pundaknya. Menemukan niko dan dua temannya sudah berdiri di belakang.


" Hay, vino. teman lo itu mana? "


" Kakak mau ngapain? "


" Hmm mau, mau apa ya? mau main main sama anak yang telantar " Ucap niko sebelum menarik vino pergi


Vino tak lagi bisa memberontak saat mereka mengunci tubuhnya dan membawanya pergi. Kekuatan mereka tidak akan sebanding dengan kekuatannya seorang diri.


Langkah mereka terhenti di kamar mandi belakang sekolah, tempat yang biasa di pakai oleh pembersih sekolah untuk membuang bekas air pel. Suasana sore yang sangat sepi membuat mereka lebih leluasa melakukan aksinya tanpa takut ada orang memergokinya. So don't blame them, mereka bebas melakukan apapun pada vino.


Terakhir yang vino rasakan adalah sebuah guyuran air di iringi balok balok yang dingin, seperti serangan es batu. Vino merasakan dingin dari atas kepala hingga ujung kakinya. Sungguh, dia berani bersumpah belum pernah merasakan guyuran sedingin ini sebelumnya.


Vino tak mampu sepenuhnya membuka mata, namun samar dia bisa melihat Geri yang berjalan mendekat ke arahnya setelahnya dia bisa merasakan cengraman yang kuat di dagunya membuat ringisan baru keluar dari bibir pucat pasinya. Dia juga bisa mendengar suara gelak tawa dari Niko dan Marion.


Pertanyaannya hanya satu, apalagi salahnya?


" Gimana kejutannya? ini akibatnya kalau lo coba berani ngindarin kita. Paham Lo? " Bentak geri tepat di wajah vino.


Vino pasrah sekarang ia sudah tidak mampu melawan, badannya sudah sangat lemas dan dingin dia bahkan kesulitan untuk membuka matanya. Sekarang yang vino harapkan hanyalah sebuah pertolongan, berharap ada seseorang yang bisa membantunya keluar dari situasi mengerikan ini.


Sampai pada kesadaran terakhirnya ia mendengar teriakan seseorang yang familiar di telinga, dia tidak mungkin salah.


" BERHENTI!! apa yang kalian lakukan? datang ke ruangan BK besok, tidak ada bantahan " Bentak orang itu membuat Niko, Geri dan Marion menunduk takut.


" I-iya pak " jawab ketiganya dengan suara yang bergetar. Setelahnya Niko, Geri dan Marion pun pergi dari hadapan sang guru dan vino yang sudah tak sadarkan diri.


SEE YOU IN THE NEXT PART