THE LIFE STORY OF DAVINO

THE LIFE STORY OF DAVINO
1. DI MULAI



..." Mereka tidak tahu bagaimana aku berusaha untuk terus hidup di tengah tengah kegelapan "...


...DAVINO...


15 MARET 2020


09.25


Sepasang suami istri dengan seorang anak laki laki di gandengannya melangkah pergi ke suatu tempat. Setibanya di sana ketiganya langsung masuk ke dalam di ikuti oleh beberapa orang di belakang mereka.


Sepasang suami istri itu terlihat berbincang bincang sebentar dengan seorang pria berumur 35 tahun, beberapa menit kemudian sepasang suami istri itupun keluar tanpa seorang anak laki laki yang mereka bawa tadi.


Sedangkan, anak laki laki itu tidak bersuara sedikitpun pandangannya lurus dan kosong, pria tadi menghampiri anak tersebut dan menariknya pelan lalu menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi. Anak itu hanya menurut masih dengan kebisuan dan pandangan kosongnya.


Tiba tiba lampu yang ada di ruangan itu mati menyisakan satu lampu yang mengarah pada anak laki laki dan pria itu.


Pria itu berjongkok di hadapan anak itu mendekatkan wajahnya ke sebelah kanan tepat di telinga anak laki laki yang berusia 13 tahun tersebut.


Membisikkan kalimat yang hanya bisa di dengar oleh anak yang ada di hadapannya itu. beberapa saat kemudian reaksi mulai terjadi anak itu memejamkan matanya dan semuanya gelap.


...****************...


01 JANUARI 2019


06.00


Di sebuah kamar yang cukup luas terdapat seorang pemuda yang masih betah tidur dengan posisi yang tidak elitnya. Selimut yang sudah di bawah bersama bantal bantal dan gulingnya menambah kesan acak acakan kamar itu.


Tok


Tok


Tok


Suara pintu di ketuk dari luar tapi sang pemilik kamar tidak merasa terganggu sama sekali, ia masih sibuk berkelana dalam mimpinya.


Sementara di luar kamar seorang wanita paruh baya masih berusaha membangunkan sang majikan.


Wanita itu menghembuskan napas kasar saat lagi lagi tak mendapat jawaban dari sang majikan, ia pun memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamar tersebut.


Cklek


Pintu di buka dan wanita tadi yang melihat kondisi kamar saat ini hanya bisa tersenyum dan menghela napas pelan sebelum berjalan kearah jendela dan membuka tirainya.


Srreeekkkk


Suara tirai jendela di buka pelan oleh wanita itu. Cahaya matahari yang langsung masuk dan tepat mengenai pada wajah sang pemilik kamar yang tertidur pulas.


" Eughh.... " Lenguh sang pemilik kamar yang merasa tidurnya terganggu.


Ia kemudian langsung menarik selimut untuk menghalangi cahaya matahari yang masuk dan mengganggu tidurnya.


Wanita tadi kembali tersenyum dan berjalan ke sisi ranjang lalu menarik selimut tersebut.


" Bangun tuan muda kau ingin terlambat ke sekolah hah " Ujar wanita tadi lembut.


" Ahk bibii, bibi mengganggu tidurku tau " Balas pemuda tersebut tanpa membuka matanya.


" Ayolah tuan muda DAVINO SAPUTRA ini sudah siang "


" Aku tidak mau sekolah bi "


" Loh kenapa? kau punya masalah di sekolah "


" Tidak, aku tidak punya masalah di sekolah "


" Lalu? kenapa kau tak mau sekolah? "


" Tidak papa aku hanya malas saja, aku akan segera mandi bi nia keluarlah nanti aku menyusul "


" Baiklah bibi tunggu di bawah ya " Pemuda itu hanya mengangguk.


Biar ku perjelas, DAVINO adalah anak tunggal dari pasangan HENDRA SAPUTRA dan MIRA AULORA. Mereka berdua sama sama seorang pengusaha yang perusahaannya di mana mana, membuat mereka menjadi seseorang yang sangat sibuk sehingga melupakan buah hatinya.


Sedangkan bi NIA adalah orang yang sudah bekerja lama dengan keluarga saputra, dia juga yang sudah merawat davino dari kecil karena orang tua davino yang super sibuk dan jarang pulang.


Setelah selesai mandi vino segera memakai seragam smpnya. Dia meraih tasnya dan berjalan menuju ruang makan. Di ruang makan tersebut, vino mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu dan beberapa detik kemudian menghela napas


" Huft, selalu saja begini " Gumamnya.


" Tuan muda, segeralah sarapan! nanti kau terlambat sekolah " Perintah bi nia yang tiba tiba datang dari dapur.


" Iya bi, oh iya bi mamah sama papah belum pulang?"


" Belum tuan, kemaren nyonya bilang katanya mereka tidak bisa pulang dalam waktu yang dekat "


" Kok mereka gak bilang sama aku " Kentara nada kecewa di sana.


Ini bukan satu kali atau dua kali mereka seperti ini dan bisa dibilang vino sudah terbiasa akan hal seperti ini.


Tetapi tetap saja ada rasa kecewa dan tentunya sakit di hatinya, ' Apa aku tak sepenting itu sehingga mereka lebih mementingkan pekerjaannya ' kalimat itulah yang selalu ada dalam pikirannya. Dia ingin sekali bertanya pada orang tuanya tapi kapan?, mereka saja jarang pulang.


" Sudahlah, segeralah habiskan sarapanmu agar tidak terlambat " Vino hanya menurut dan mulai menghabiskan sarapannya.


Setelah menghabiskan sarapannya ia pun pamit pada bibi nia. Namun, sebelumnya dia menyempatkan dirinya untuk mencium punggung tangan wanita itu.


Vino sudah menganggap bibi nia sebagai ibunya begitupun sebaliknya, bibi nia yang telah merawat vino dari kecil selalu memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya.


...****************...


Sesampainya di sekolah, vino segera turun dari sepedanya. Dia berjalan di koridor sekolah dengan wajah yang menunduk.


Vino seharusnya sudah tidak asing dengan hujatan hujatan orang orang kepadanya. Namun hatinya tidak pernah biasa untuk mendapatkan ujaran kebencian itu dari mereka. Mengapa semua orang selalu mempermasalahkan tentang hidupnya, toh masalahnya juga tidak merugikan mereka. Tapi begitulah manusia.


Tidak ada yang berubah dari apa yang semesta tunjukkan padanya. Pagi yang kadang selalu menciptakan luka dalam, nyaris membuat vino membenci hari harinya. Tapi, tidak ada yang bisa membuatnya mundur. Semuanya harus dia hadapi bukan?, sebagai resiko keputusannya untuk turun menjadi sesosok manusia.


Tatapan sinis semua siswa menjadi pemandangan pertama yang menyambut vino saat memasuki kelas 7-2. Ahk.. sepertinya dia akan menjadi bahan gosipan lagi hari ini, walau hampir setiap hari memang seperti itu.


" Lihatlah anak terlantar itu kembali sekolah "


" Hahaha biarkan saja sepertinya dia ingin menjadi bahan bullyan lagi "


" Yah padahal aku sudah nyaman tidak ada dia "


Semua kata kata menyakitkan itu seakan menusuk kuat ke hati dan pikiran vino. Membuatnya hanya diam tak melakukan apapun. Memerintahkan telinganya tetap mendengar kata kata penuh luka itu.


" Kenapa harus balik lagi sih, kenapa gak pergi aja? "


Itulah kata terakhir kali vino dengar, sebelum guru matematikanya masuk ke dalam kelas dan merangkul bahu vino lalu menyuruhnya untuk duduk di kursinya.


Sekedar informasi, vino duduk di bangku paling belakang sendiri tanpa teman sebangku.


" Cepat keluarkan buku matematika kalian dan kerjakan tugas yang ada di halaman 40, 15 menit harus sudah selesai " Ucap guru tersebut tegas tanpa ingin di bantah.


SEE YOU IN THE NEXT PART