
Khawatir, itu pasti.
Rasa bersalah juga sudah menyeruak dalam hati. Harusnya ia tak meninggalkannya kemarin. Ingin sekali mengucapkan kata maaf, tapi kini kata itu terhambat karena orang itu sedang memejamkan matanya damai.
Davka sudah sampai di rumah sakit 20 menit yang lalu. Tadi saat dirinya sudah sampai di rumah sakit ia langsung menuju ke ruangan vino. Namun, saat sampai di sana dia tidak melihat siapa pun selain vino yang terbaring di ranjang nya dengan mata tertutup.
Davka masih duduk di kursi samping ranjang vino, memandang wajah vino yang begitu damai saat tertidur. *B*enarkah vino tertidur? ahk mengingatnya saja membuat davka semakin merasa bersalah.
Dia sangat kaget saat mendengar vino di rumah sakit, bukankah semalam dia bilang baik baik saja? lalu apa ini? apa ini yang di sebutkan baik baik saja? rasanya davka ingin memukul otaknya vino.
Ceklek
Suara pintu di buka membuat davka langsung menoreh ke asal suara dan mendapati gurunya yang berjalan ke arahnya.
" Pak Ridwan " Panggil davka yang langsung berdiri dan menyalimi punggung tangan sang guru.
" Baru nyampe? "
" Dari tadi kok pak, tapi pas ke sini gak ada siapa siapa "
" Oh saya ke kantin dulu tadi. maaf ya? "
" Gak papa kok pak, tapi pak sebenarnya vino kenapa? kok bisa di rumah sakit? sama bapak lagi "
" Kemarin vino di bully lagi sama Niko dan dua temannya "
" Mereka lagi? "
" Hmm "
Ridwan menjelaskan kronogi kemarin pada davka. terlihat davka sangat emosi mendengar penjelasan Ridwan.
" Mereka tuh sebenarnya kenapa sih? seneng banget kayaknya gangguin vino "
" Mereka tuh berandal sekolah yang suka bully anak anak lain "
" Saya tau kok "
" Terus? "
" Pertanyaan sekarang gini, kenapa bapak gak laporin mereka ke kepala sekolah? "
" Saya udah pernah laporin mereka ke kepala sekolah, guru lain juga sama udah pernah laporin mereka bahkan orang tua mereka juga sudah pernah di panggil ke sekolah sering bahkan "
" Terus kalau udah sering kenapa saya gak pernah denger mereka di skor atau di keluarin gitu dari sekolah kan lebih bagus. Tapi ini, boro boro di skor apalagi di keluarin di hukum sekali aja saya gak pernah liat tuh. Padahal saya sering liat mereka bolos, gangguin murid lain, ngebantah sama guru. "
Ridwan tersenyum melihat bagaimana davka berprotes, dia bisa melihat davka yang begitu emosi. Dalam hatinya ia mengucapkan rasa syukur akhirnya muridnya itu yang tak lain adalah vino bisa mendapatkan teman seperti davka.
" Orang tua Niko salah satu donatur terbesar di sekolah kita "
" Donatur terbesar? "
" Hmm, kenapa? "
" Ya aneh aja. Karna orang tuanya donatur terbesar, dia jadi bebas gitu. Gak adil banget "
" Ya mau gimana lagi, semuanya tergantung kekuasaan "
" Uang menjadi raja sekarang "
" Ya seperti kata orang orang no money no life "
" Hmm "
Hening tiba tiba melanda keduanya sebelum terdengar suara ketukan langkah kaki yang mendekati mereka. Langkahnya terdengar tergesa gesa dan lebih dari satu orang.
Ridwan dan davka yang terganggu dengan langkah tersebut langsung menoleh ke arah dimana suara itu terdengar.
Di sana, terdapat laki laki dan wanita dengan pakaian formal namun tampilan mereka kacau. Dan di belakangnya ada empat laki laki berbadan kekar dengan pakaian yang serba hitam.
Laki laki dan wanita itu berjalan mendekati Ridwan, sedangkan davka ia hanya bisa diam dengan kebingungannya dan untuk 4 bodyguard tadi sepertinya mereka di tugaskan untuk menjaga di depan ruangan.
Davka semakin mengeryitkan keningnya, ia bingung dengan orang asing di depannya ini ' *P*utra? Apa mereka orang tua vino? '.
" Keadaannya sudah membaik, anda bisa mengeceknya sendiri " Balas Ridwan dengan senyumnya
" Apa tidak ada yang serius? " Kali ini giliran laki laki itu yang bertanya
" Tidak ada yang serius kok, bapak dan ibu tenang saja. Kalau kalian kurang percanya, kalian bisa menanyakannya pada dokter "
" Syukurlah kalau memang tidak ada yang serius. Kami sangat berterima kasih kepada pak Ridwan yang sudah mau menemani vino "
" Tidak papa pak, saya senang kok dengan vino. Dia anak yang baik "
" Ya kami sangat menyesal atas tindakan kami, kami tidak akan mengulanginya lagi "
" Ya saya harap begitu, bagaimana pun putra bapak lebih berharga dari pada apapun "
" Hmm, kami akan memperbaiki semuanya, sekali lagi kami berterimakasih kepada anda "
" Sama sama pak, kalau begitu saya permisi dulu pak Bu "
" Ya silahkan "
" Ayo " Ujar Ridwan sambil menarik lengan davka. Davka hanya menurut ia masih syok dengan apa yang barusan terjadi.
Ridwan membawa davka ke taman rumah sakit, dia tahu davka pasti akan meminta penjelasan padanya. Mereka duduk di salah satu kursi yang ada disana, keduanya masing terdiam seolah hanyut dalam dunianya masing masing.
" Mereka orang tuanya vino " Ucap Ridwan memecah keheningan. Davka langsung menoleh ke arah sang guru
" Udah tau "
" Terus? " Tanya Ridwan. dia merasa bahwa davka tak menyukai kedatangan kedua orang tua vino
" Kenapa mereka harus balik? "
" Lah emangnya kenapa? "
" Mereka udah ninggalin vino demi pekerjaan mereka sampai sampai vino di katain anak telantar, dan sekarang dengan mudah nya mereka kembali "
Davka bukan tidak ingin vino bertemu orang tuanya, tapi ia juga tau bagaimana rasanya menjadi anak yang di nomor duakan setelah pekerjaan mereka. Dan davka yakin walaupun orang tuanya kembali rasa sakit tidak akan hilang.
Ridwan masih menatap davka, ia bingung dengan sikap davka yang seolah tidak menyukai kehadiran orang tuanya vino. Ia juga bingung, banyak pertanyaan yang muncul saat setelah davka berbicara seperti itu ' Apa davka juga bernasib sama seperti vino? Apa dia juga mempunyai masalah dengan keluarganya? ".
" Davka " Panggil ridwan membuat davka langsung menoleh
" Apa kau ingin bercerita padaku? " Lanjutnya
" Bercerita? " ucap davka heran
" Hmm "
" Tentang? "
" Kehidupanmu, mungkin "
Deg
Davka tidak bergeming atas apa yang di lontarkan gurunya itu. Ia ragu, apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Ia baru bertemu beberapa hari dengannya, walau laki laki di hadapannya ini wali kelasnya tapi tetap saja davka tak terlalu mengenalnya di tambah dia juga murid baru. Jadi apa dia harus jujur ?.
" Dav..."
" Anda hanya guru saya. Jadi, jangan ikut campur dengan kehidupan saya " Ucap Davka memotong perkataan Ridwan.
Davka menatap dalam ridwan. Sebelum ia bangkit dan melenggang pergi dari sana, meninggalkan Ridwan dengan pertanyaan pertanyaan nya.
Ridwan mengusap wajahnya kasar, kenapa jadi gini?. dia tidak bermaksud ikut campur, ia hanya ingin tau apa muridnya itu memang mempunyai masalah dengan keluarganya. Kalau memang benar, ia hanya tidak ingin davka membenci keluarganya melihat bagaimana reaksinya barusan bertemu dengan orang tua vino. Apa Ridwan salah?
FLASHBACK OFF
SEE YOU NEXT PART